Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Aku Bisa Apa?


__ADS_3

Menjalani kehidupan rumah tangga bukan perkara mudah tetapi bukan berarti susah untuk dijalani. Pasang surut dalam pernikahan adalah hal yang biasa terjadi, seringkali dijumpai pasangan yang tidak dapat mengelola konflik rumah tangga berakhir dengan cekcok hingga masalah menjadi semakin besar dan menjurus ke perceraian. 


"Katakan, kenapa diam saja. Sekarang kita sudah berada di rumah," Aku mencoba membuka percakapan di antara kami berdua. Aku dan mas Gibran sekarang berada di rumah kami.


"Ya, seperti yang kamu tahu dari mama. Itulah keputusanku," mas Gibran seolah santai menjawabnya. Dia malah duduk di sofa sambil berselonjoran kakinya di atas meja. Di tangannya pun memegang ponsel, entah apa yang dia lihat. Sikapnya seperti bos besar saja. Tak mempedulikan Aku sama sekali.


"Kenapa Mas? Kenapa kamu mau pisah sama aku?" Suaraku kini terdengar bergetar. Aku menahan tangisku.


Lama tak ada jawaban dari mas Gibran. Entah apa yang dia lakukan sekarang. Dia sibuk sekali dengan ponselnya. Sedang membaca chat atau membaca email pun Aku tidak tahu. Dia seolah tak mendengarkan Aku bertanya. Atau memang mas Gibran sengaja tidak ingin menjawab pertanyaan dariku.


Sesulit itukah menjawab pertanyaan dariku yang memang dari awal bersumber darinya? Dia sengaja tidak menjawab atau bingung untuk menjawabnya? Padahal Aku hanya ingin penjelasan darinya.


Aku berjalan mendekati mas Gibran dan merampas langsung ponsel miliknya. Lantas dia menatapku dengan wajah yang sangat kesal.


"Kembalikan ponselku," pintanya.


"Jawab dulu pertanyaanku, Mas. Kamu sudah janji sama aku untuk menjawab pertanyaanku sejak di kantor tadi," Aku melemparkan ponsel mas Gibran ke atas kasur.


Mas Gibran mengusap wajahnya dengan kesal, dia memejamkan matanya sambil menyenderkan kepalanya di sofa.


"Aku nggak bisa lagi hidup sama kamu," ucapnya.


"Kenapa?" tanyaku.


Mas Gibran bangkit lalu mendekati ranjang dan mengambil ponselnya yang Aku lempar tadi di sana.


"Ya, aku sudah nggak bisa sama-sama kamu lagi," dia menoleh ke arahku.


"Nggak mungkin cuma itu. Pasti ada alasan lain kenapa kamu mau pisah sama aku. Iya kan?" desak ku.


Mas Gibran menghela nafasnya, dia terlihat gusar.

__ADS_1


"Aku capek dan aku bosan dengan pernikahan kita," ungkapnya, lalu dia melangkah hendak ke luar dari kamar.


"Apa karena aku belum bisa kasih kamu anak?" tanyaku yang membuat langkah mas Gibran terhenti.


Mas Gibran menoleh ke arahku, dia memandangku cukup lama. Seolah dia akan menjawab perkataanku tapi dia menahannya.


"Itu kenapa kamu mau menceraikan aku dengan alasan bosan dan capek. Pasti ada perempuan lain yang bisa memberikanmu anak, atau mungkin kamu sudah memiliki anak di belakangku, memiliki wanita simpanan. Kamu selingkuh di belakangku hingga kamu sering pulang malam. Apa itu benar?" Aku tak berhenti menuduhnya.


Bagaimana bisa diriku tenang, jika suamiku tidak menjawab pertanyaanku dengan alasan yang logis. Dia selalu membuatku berpikiran yang buruk terhadapnya.


HAHAHAHAHA


Tawa mas Gibran pecah saat itu. Dia mendekatiku, lalu menatapku dengan pandangan yang mengejek. Kemudian dia mencekal pipi dan daguku hingga bibirku membentuk huruf V.


"Silahkan saja tuduh aku sepuas kamu, jika itu memang anggapan kamu tentang aku. Lantas, kalau memang itu benar adanya, kamu mau apa, hah?" ujarnya sangat menusuk hati. Aku lemas seketika. Aku langsung menepis tangannya dengan kasar.


Aku mundur beberapa langkah dan menangis dengan terisak. Sakit rasanya. Sedangkan mas Gibran hanya tertawa melihatku menangis. Aku tak bisa berkata-kata lagi.


"Siapa Mas?" tanyaku lagi.


Kini mas Gibran tersenyum hambar dengan arah pandang mata ke arah lain.


"Kamu tidak perlu tahu. Cukup kamu tandatangani surat gugatan dariku saja, paham!" Tekan mas Gibran hingga dia berlalu meninggalkan Aku seorang diri.


"Tunggu Mas. Kita belum selesai bicara!" Aku mencoba untuk mencegahnya pergi namun Aku tak bisa melakukan itu. Mas Gibran malah melangkah dengan cepat untuk menghindar dariku.


Aku menangis sejadi-jadinya, aku berteriak sepuas hatiku. Sakit sekali rasanya, dadaku sesak, pikiranku kacau tak bisa terkendali. Aku melampiaskan kekecewaanku dengan merusak semua isi dari kamarku, tentunya foto-foto Aku bersama mas Gibran. Semuanya berantakan terutama diriku yang tak karuan.


"Kamu tega, Mas. Kamu jahattttt, hiks...hiks...hiks."


Dalam sebuah rumah tangga, rasa bosan, jenuh dan lelah itu wajar, tapi di saat suatu pasangan bisa berkomitmen, mereka harus menjaga dan mempertahankan komitmen itu. Komitmen untuk saling setia, saling mendukung apapun yang terjadi. Padahal komitmen itu sendiri muncul waktu mulai menjalani hubungan.

__ADS_1


*******


Sejak hari itu, Aku tidak pernah lagi bertemu dengan mas Gibran, dan sebaliknya mas Gibran tidak pernah menemui ku. Menginjakkan kakinya di rumah kami pun tidak lagi. Kini sudah satu Minggu kami tidak saling bicara apalagi bertatap. Mas Gibran kini sudah melupakanku.


"Mbak, are you ok?" tanya Dewi ketika Aku menemuinya di rumahnya.


Aku langsung memeluk Dewi, menangis sepuasnya. Terisak tak bisa dibendung lagi. Hanya dia lah satu-satunya orang tempat Aku bercerita dan dia pula bisa mengerti apa yang Aku rasakan saat ini.


"Mbak, kamu yang sabar ya. Semua orang pasti punya masalah. Dan Mbak harus yakin bahwa masalah yang dihadapi pasti ada jalan keluarnya," ujar Dewi sembari mengelus punggungku dengan lembut.


"Semuanya sudah berakhir, Wi. Hubunganku dengan mas Gibran tidak bisa diselamatkan. Tidak ada jalan keluar untuk kami, hiks...hiks."


"Maksudnya apa Mbak?"


Kini Aku menatap sendu wajah Dewi.


"Mas Gibran yang meminta kami untuk bercerai. Mbak bisa apa, Dewi."


Mengucapkannya saja hatiku terasa teriris, apalagi bila perceraian itu terjadi. Aku tidak bisa membayangkannya bila Aku dan mas Gibran benar-benar pisah. Aku tidak ingin hal buruk terjadi pada rumah tanggaku.


"Apa? Apa dia sudah gila? Aku bisa membantu Mbak untuk bilang ke mas Gibran, kalau...." Dewi terlihat kesal.


Aku langsung menggelengkan kepalaku memotong perkataan Dewi.


"Tidak perlu lagi, Wi. Biarkan saja, mungkin ini sudah takdir Mbak tuk pisah sama mas Gibran. Hubungan Mbak dan mas Gibran tidak ada celah untuk bersama-sama lagi," air mataku mulai mengalir kembali dengan isakan yang pilu.


Ini yang pertama kalinya Aku menangis dengan kacau di depan Dewi. Ini sangat memalukan. Karena Aku tahu, pasti Dewi sedang simpati padaku, seperti sosok yang patut dikasihani oleh masalah biduk rumah tangga.


"Memangnya Mbak ikhlas jika pisah sama mas Gibran?" tanya Dewi yang kini bersuara lembut penuh perhatian.


"Entahlah, tapi Mbak tidak bisa mempertahankan lelaki yang sudah tidak lagi mencintai Mbak," lirihku dengan tegar.

__ADS_1


Sebuah tantangan besar saat sudah menjalin hubungan, yaitu melawan rasa bosan, terkadang ketika pasangan bersama dalam waktu yang lama, rasa cinta bisa saja memudar, membuat sebuah hubungan terasa melelahkan apalagi jika hanya satu orang yang berjuang. Jika dia menginginkan berpisah, maka Aku akan melepaskannya.


__ADS_2