Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Mau Ikut Aku?


__ADS_3

Tak ada manusia yang sempurna, tak ada hubungan yang benar-benar sempurna juga. Ada pasangan yang tak bisa terus bersama karena ada hal-hal yang terjadi di luar kendali mereka. Perpisahan kadang diambil karena tak ingin menyakiti atau disakiti. Tentu saja tak mudah, tapi perpisahan kadang perlu dipilih agar bisa sama-sama membuka jalan yang lebih baik lagi ke depannya.


Kini sudah satu Minggu lamanya setelah pertemuanku yang terakhir dengan mas Gibran. Surat gugatan pun baru saja Aku dapatkan. Aku hanya perlu menandatangani surat gugatan itu. Tapi rasanya sulit sekali tangan ini untuk bergerak membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu. Ingin sekali Aku robek kertas itu. Tapi Aku juga tak ingin membuat malu diriku sendiri.


Aku menatap kamar tidur yang menjadi saksi bisu percintaan Aku dan mas Gibran saat kami masih bahagia dulu. Sungguh Aku tak menyangka bila akan berakhir menyakitkan seperti ini. Ternyata Aku masih tak rela bila harus berpisah dengan mas Gibran.


Tok tok tokkkk


"Bu Amanda," panggil pelayan dari luar kamar.


"Ya Bi, masuk saja!" sahutku mengarah ke pintu kamar.


Pelayan pun masuk dan mendekatiku perlahan.


"Bu Amanda, tadi pak Gibran telepon Bibi ... terus dia bilang kalau ... surat yang bapak kasih kemarin harus ditandatangani secepatnya," ucap pelayan dengan sedikit ragu, kalimatnya pun dia ucapkan dengan sangat hati-hati.


Aku tahu bila pelayan ini begitu menyayangkan hubunganku dengan mas Gibran yang berakhir dengan perceraian. Sebenarnya dia tidak menginginkan Aku dan mas Gibran berpisah.


"Ya, bilang padanya bahwa aku akan segera melakukan apa yang dia mau," kataku dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.


Jujur saja Aku tidak bisa menahan rasa sakit hatiku hingga rasanya air mataku tak bisa dibendung lagi. Apalagi mas Gibran yang terlihat menginginkan perpisahan di antara kami cepat berakhir.


"Yang sabar, ya Bu Amanda. Bibi hanya berdoa, semoga ada kebahagian dan kebaikan baru yang bisa kalian berdua dapatkan setelah ini. Memang tidaklah mudah ketika mengambil keputusan untuk berpisah, tapi jika itu pilihan yang harus diambil maka lakukan demi kebaikan kalian bersama," pesan bibi pelayan yang sangat bijak. Hanya dia lah di rumah ini yang selalu menghiburku dikala Aku bersedih.


Aku mengangguk memandang sendu matanya. Betapa menyedihkannya diriku saat ini. Aku memeluk bibi pelayan dengan berlinangan air mata.


"Terima kasih, Bibi sudah menemaniku sampai saat ini. Jujur ini bukan keinginanku untuk berpisah dengan mas Gibran, hiks...hiks," Aku menangis tersedu-sedu.


Aku memeluk bibi pelayan dengan erat, tak ada lagi tempat bersandar yang bisa berbagi kesedihan dengan ku sekarang. Hanya dia, bibi pelayan yang peduli padaku saat ini.


*******

__ADS_1


Sore hari Aku tak berhenti menatap surat gugatan yang akan Aku tandatangani saat ini. Sulit rasanya menerima semua perlakuan mas Gibran terhadapku. Ingin sekali Aku memohon pada mas Gibran untuk membatalkan perceraian ini, tapi Aku bisa apa? Aku juga tidak mungkin melakukannya.


Permasalahannya adalah bahwa kenyataannya mas Gibran tidak mencintaiku lagi. Dan Aku tidak bisa menahan seseorang berada di sisiku bila dia tidak menginginkannya. Aku juga tidak ingin egois. Lagi pula Aku tidak ingin mengemis cinta darinya. Aku juga bukan tipe wanita yang ingin dikasihani jika nyatanya Aku tidak bersalah.


Bip bip bippp


Ada pesan masuk dan Aku membukanya. "Mau jalan cari angin biar nggak stres di rumah? Buruan temui aku di tempat biasa. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, penting."


Rupanya pesan dari seseorang yang selama ini membuat suasana hatiku lebih baik. Keberuntunganku untuk bisa bertemu dengannya. Waktu yang sangat pas untuk Aku bisa melepaskan penat di hatiku.


Aku pun bergegas menemuinya di tempat biasa kami bertemu. Aku mencoba untuk tersenyum walau hatiku tidak baik-baik saja. Namu Aku tak ingin mengumbar hancurnya rumah tanggaku. Walau bagaimanapun, Aku masih berstatus istri seorang Gibran Radhika.


Dari jauh sudah Aku lihat wajahnya yang manis tersenyum ke arahku. Wajah itulah yang langsung mengubah hatiku menjadi bahagia, walaupun sesaat.


"Ada hal penting apa yang akan kamu katakan padaku?" Tanyaku dengan membalas senyum darinya.


"Santai, kamu baru saja sampai, loh. Nih minum dulu, capuccino latte kesukaan kamu," ujarnya menyodorkan minuman yang sudah dia pesan terlebih dulu sebelum Aku memesannya. Rupanya dia masih mengingat minuman kesukaan ku.


Kami mulai mengobrol asik hingga satu jam lamanya. Aku mengakui jika mengobrol dengannya selalu saja ada keceriaan. Aku merasa hatiku damai. Sampai-sampai Aku lupa dengan masalahku saat ini.


"Oh ya, bagaimana kabar Gibran?" tanyanya tiba-tiba.


Aku terdiam, seketika Aku mengingat wajah mas Gibran dengan rasa sedihku. Sejak tadi memang Aku belum menyinggung persoalan hubunganku yang akan kandas.


"Are you ok, Manda? Kenapa setiap kali Aku menanyakan Gibran selalu saja guratan wajahmu tidak ceria? Kalian berduaan baik-baik saja, kan?" tanyanya lagi dengan rasa penasarannya.


Sebenarnya Aku malu mengungkapkan kebenaran soal rumah tanggaku padanya. Tapi apa boleh buat.


"Emm ... sebenarnya aku dan mas Gibran akan bercerai," ungkap ku dengan keraguan.


"Oh ya, bukannya kalian saling cinta dulu?Apa kamu yakin bisa hidup tanpa Gibran?"

__ADS_1


Aku memejamkan mataku dan menghela nafas dalam. Lalu Aku mengangguk pelan.


"Pasti," ucapku tegar.


Aku tersenyum kepadanya walau hatiku tak sejalan dengan situasi saat ini.


"By the way, hal penting apa yang akan kamu katakan padaku, hah? Ayo jawab, jangan buat aku penasaran," Aku mengubah topik lain yang kebetulan teringat soal pesan yang dikirimkan olehnya.


Hening sejenak. Dia terlihat ragu untuk mengatakan sesuatu. Aku semakin penasaran dibuatnya.


"Besok, aku akan pulang ke luar negeri," ungkapnya.


"Secepat itu?" Aku kaget.


Dia menganggukkan kepalanya pelan.


"Ya, karena pekerjaanku di sini sudah selesai, jadi aku harus pulang."


Entah mengapa aku merasa kesepian bila kali ini dia pergi. Ditambah perpisahan ku dan mas Gibran yang sebentar lagi akanĀ  membuat hidupku hampa, tidak ada lagi tempatku berkeluh kesah dan bersandar ketika Aku sedang lelah atau bersedih. Seperti sepasang sepatu, berdua namun tetap satu. Karena satu saja tidak akan berguna.


"Apa tidak bisa ditunda kepulangan kamu?" Tanyaku lirih dan mungkin terlihat sedih.


Dia menggelengkan kepalanya menandakan bahwa memang besok dia harus meninggalkan Indonesia.


"Di saat Aku akan bercerai dengan mas Gibran, kamu malah pergi. Aku benar-benar sendirian sekarang," Aku menangis begitu saja di hadapannya.


Dia pun menghapus air mataku dan langsung memelukku untuk menenangkan.


"Kamu tidak akan sendirian. Tersenyumlah dan berhentilah menangis, karena air mata yang kamu teteskan hanya akan membuat kamu bertambah sakit dan kakimu akan sulit untuk melangkah," Dia menepuk-nepuk pelan pundakku.


"By the way ... apa kamu mau ikut aku ke luar negeri?" tanyanya menawarkan.

__ADS_1


__ADS_2