Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Reuni Sungguhan


__ADS_3

Aku duduk kembali di sofa setelah Dewi membujukku habis-habisan tentang pertunjukan yang akan ditampilkan lagi oleh mas Gibran. Seharusnya itu adalah hari pertunangan mas Gibran dan Claudia si wanita tebar pesona itu. Tapi kalau melihat acaranya kacau begitu, lalu apakah pertunangan mereka akan berlanjut?


Rasanya Aku ingin sekali pergi untuk menemui mas Gibran dan Bram tentunya. Aku ingin tahu dan mendengar apa yang sebenarnya terjadi beberapa tahun yang lalu dari mulut mereka langsung. Sebenarnya ini adalah aib bagi mereka berdua. Tapi kenapa harus diperlihatkan oleh mas Gibran pada semua orang. Lantas apa tujuan mas Gibran memperlihatkan aib tersebut?


Aku saja merasa malu, lalu bagaimana dengan mas Gibran dan Bram? Bahkan Bram yang paling bersalah, disudutkan seperti itu di depan orang banyak, pasti dia merasa kesal dan marah. Lalu apakah Bram akan mempunyai muka setelah ini? Aku yakin Bram tak akan tinggal diam begitu saja. Pasti dia akan membalas perbuatan orang yang sudah membuat dia malu di depan semua orang.


Tapi dimana Bram? Nggak mungkin mas Gibran mempertunjukkan video itu jika orang yang bersangkutan seperti Bram tidak ada. Namun sejurus kemudian, lampu sorot tertuju pada lelaki yang memakai setelan jas hitam, sedang berdiri santai dan tersenyum ke arah seseorang. Aku yakin seseorang itu adalah mas Gibran.


Bram terlihat tenang sebagaimana dia tidak ingin memperlihatkan emosinya di depan semua orang. Bram sangat menjaga image, seperti yang dia lakukan padaku. Di depan dia begitu sayang dan perhatian padaku tetapi di belakangku dia mempersiapkan sejuta cara untuk mendapatkan ku dengan cara licik.


"Kau terlihat santai sekali, Bram. Bagaimana kejutan dariku? Sikap tenang mu seperti itu lebih menakutkan. Apa kau tidak marah padaku atau memukulku? Atau kau sedang membuat rencana untuk membalas ku, hah?" ucap mas Gibran pada Bram yang memang terlihat tenang dan santai, tapi ada senyuman tipis yang terpancar. Tipis sekali.


"Kau telah menyatakan perang padaku, Gibran," ucap Bram penuh penekanan.


"Ya, karena aku akan mempertahankan rumah tanggaku dengan Amanda sebagaimana janji kami dulu yang akan selalu bersama dalam keadaan apapun. Sekarang Amanda sudah tahu semuanya. Jadi kau harus terima jika Amanda adalah milikku selamanya," ucap mas Gibran dengan bangganya.


"Cih, Terima? Hahaha, Bramantyo tidak kenal yang namanya KALAH, paham. Aku akan membuat perhitungan denganmu, Gibran!" Bram menunjuk tangannya ke depan dada mas Gibran dengan angkuh.


Dengan percaya diri dan tanpa rasa malu, Bram berbalik dan melangkah pergi dari tempat acara yang dibuat oleh mas Gibran. Dia berjalan seperti orang yang tidak mempunyai salah, begitu santai dan tidak peduli pada pandangan semua orang yang tertuju padanya.


"Bram tunggu! Bagaimana denganku?" Teriak Claudia memanggil-manggil Bram. Namun Bram tetap melangkah tak peduli padanya.


"Gibran, kita jadi bertunangan kan, sayang?" Tanya Claudia yang terlihat takut pertunangannya batal karena masalah video yang diputar barusan.


"Berhenti memanggilku sayang, aku bukan kekasihmu. Hari ini tidak ada pertunangan sama sekali, paham!" Gibran langsung melengos melewati Claudia.

__ADS_1


Tapi Claudia langsung mencekal lengan mas Gibran meminta penjelasan.


"Tapi acara ini, bukankah kau lakukan untuk pertunangan kita?" Tanya Claudia memastikan.


"Hahaha, ini bukan acara pertunangan, tapi acara reuni. Lihatlah para undangan di sini semuanya adalah teman sekampus kita," kata Gibran memperlihatkan kepada Claudia untuk melihat dengan teliti sekumpulan orang-orang di sekitar mereka.


Pandangan mata Claudia tertuju pada sekumpulan tamu undangan, dan benar saja Claudia terlihat malu dan juga sedih.


"Sialan, kau mempermainkan aku," ujar Claudia tak terima.


"Kau yang bodoh dipermainkan oleh Bram, jadi silahkan kau komplain pada Bram, bukan padaku," balas mas Gibran tersenyum dengan puas. Dia terlihat bahagia sekali.


Claudia pun pergi meninggalkan acara reuni tersebut. Dia berlari sambil menutup wajahnya dengan tangannya. Dia merasa malu karena banyak teman-teman kampus yang mentertawakan dirinya. Karena memang sejatinya kebanyakan orang-orang yang berada di sana tidak menyukai Claudia yang terkenal dengan julukan si tebar pesona dikalangan anak-anak kampus seangkatan kami.


"Wow, acara ini terlaksana dengan baik apalagi pertunjukan video tadi. Gua nggak nyangka sifat Bram selicik itu. Oh ya, dimana Amanda? Gua nggak lihat istri loe dari tadi?" Ucap salah satu teman mas Gibran yang bernama Anton.


"Itu, Amanda sedang melihat kita sekarang," mas Gibran langsung menunjukkan wajahnya pada Anton yang mengarah ke kamera dimana Aku sedang melihatnya jelas di layar laptop.


"Hallo, Manda apa kabar?" Anton melambaikan tangannya ke arah kamera.


"Sayang tunggu aku, ya!" Ucap mas Gibran yang melambaikan tangannya juga dengan senyuman manisnya.


Aku tersenyum karena perlakuan mas Gibran begitu tidak terduga. Sungguh rencana ini pasti telah disiapkan dengan sempurna oleh mas Gibran. Lihat saja diriku yang dibuatnya syok, belum lagi Bram dan Claudia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kesal dan marahnya mereka berdua dipermalukan di depan umum.


"Cie...cie...cie yang lagi bahagia. Senyum senyum terus dari tadi. Apa nggak capek tuh bibir, senyumnya lebar banget. Hahaha," tiba-tiba Dewi menggodaku. Aku jadi malu.

__ADS_1


"Ih, apaan sih. Kamu tuh pasti ikut andil dalam rencana ini kan?" Tanyaku meminta penjelasan.


"Ya, nggak lah. Aku mah nggak ikutan. Aku cuma ditugaskan untuk membawa Mbak ke hotel ini doang. Soal pertunjukan itu cuma sebatas pesan mas Gibran untuk Mbak Manda saja, selebihnya aku nggak ikut campur," ungkap Dewi menjelaskan.


Aku setia menatap layar laptop menikmati acara reuni secara live, hingga pukul 5 sore acara itu selesai. Mendadak dadaku berdebar-debar. Pikiranku tertuju pada mas Gibran. Aku merasa seperti kembali ke masa saat-saat pertama kencan dengannya dulu membuatku deg-degan.


Tiga puluh menit kemudian.


"Mbak, aku disuruh mas Gibran pulang sekarang. Jadi aku tinggal Mbak sendirian di sini, nggak apa-apa kan?" Dewi mendadak berpamitan padaku.


"Loh, apa mas Gibran sudah ada di sini?" Tanyaku semakin deg-degan.


"Ya, mungkin saja!" sahut Dewi. Dia pun melangkah pergi meninggalkanku sendiri di kamar hotel sampai mas Gibran datang menemui ku.


Gelisah, gugup ditambah deg-degan membuat hatiku semakin tak karuan. Semakin lama aku pandangi jam di ponselku, semakin besar pula rasa gugup ku.


Lima menit hingga sepuluh menit Aku menunggu, tapi mas Gibran tak kunjung datang. "Kenapa lama sekali?" Aku merasa tak sabaran.


Hingga di menit ke lima belas, Aku mencoba mengusir rasa gugup ku dengan berjalan ke arah jendela untuk mengambil udara segar sembari melihat pemandangan.


HUP


Tak lama kemudian pandanganku menjadi gelap. Rupanya ada tangan yang menutupi kedua mataku. Aku meraba tangan itu.


"Mas Gibran!" Tebak ku begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2