
Inilah salah satu cara agar Aku bisa mencari tahu semua yang berkaitan dengan perubahan mas Gibran. Sebagai istri tidak seharusnya berpikiran buruk, tapi di satu sisi masalah ini yang membuat hubunganku dan suamiku renggang. Entah apa yang terjadi. Ingin Aku percaya dengan suamiku, tapi semakin hari perubahan mas Gibran semakin tidak terkendali. Itu yang membuat Aku ingin memata-matai dirinya lewat seseorang.
Ya, seseorang yang sangat Aku percaya. Seseorang yang sangat Aku kenal. Dia adalah Dewi, sepupuku dari sebelah ayah. Dewi adalah wanita yang lumayan cantik dan dia juga wanita cerdas. Usianya 23 tahun. Aku sengaja menelepon dia untuk memberikan satu tugas penting. Kebetulan dia mempunyai usaha butik yang cukup terkenal. Jadi Aku sengaja memberikan dia tugas menjadi sekretaris baru di kantor mas Gibran.
Dan beruntungnya juga, mas Gibran belum kenal dengan Dewi, secara waktu dulu sebelum Dewi membuka butik, dia mengambil kuliah di luar negeri, jadi belum sempat Aku mengenalkan mas Gibran pada Dewi, lagi pula saat acara pernikahan kami pun Dewi masih sibuk dengan skripsinya, jadi dia tidak sempat datang ke pernikahan kami.
Lalu sekarang Aku akan memasukkan lamaran kerja Dewi ke bagian HRD sekaligus meminta bantuan darinya, tentu saja tanpa sepengetahuan mas Gibran. Dan upaya itu sangat disetujui oleh HRD dengan alasan-alasanku. Lagi pula Aku juga kenal baik dengan orang-orang di bagian HRD, jadi Aku mudah untuk melakukan apapun tanpa mengatakan pada mas Gibran terlebih dahulu.
"Wi, tolong kamu bantu Mbak ya. Jika mas Gibran ngebentak kamu, marah-marah sama kamu atau dingin sama kamu, tolong kamu yang sabar ngadepin dia ya," pintaku pada Dewi. Aku menggenggam tangannya sembari memohon.
"Ya, Dewi usahakan tidak akan mengecewakan Mbak deh pokoknya. Tapi tolong pastikan bahwa mas Gibran nggak akan ngenalin Dewi sebagai keluarganya Mbak," Dewi pun membalas menggenggam tanganku, dia tersenyum.
"Kamu tenang saja, Wi. Semuanya aman, kok. Pokoknya Mbak serahin semuanya sama kamu."
"Baiklah, Dewi akan lakukan yang terbaik untuk Mbak, untuk kebahagian Mbak sama mas Gibran."
"Terima kasih ya, Wi. Kamu memang sepupu yang baik," Aku memeluk Dewi senang.
"Sama-sama, Mbak ku sayang!"
"Ya sudah, sekarang kamu turun dan masuk lalu cari perempuan yang bernama Lala, dia akan mengajari kamu bagaimana menjadi seorang sekretarisnya mas Gibran Aditya. Fighting...!" Aku memberikan semangat pada Dewi.
"Ok, fighting!" balas Dewi bersemangat, kemudian dia membuka pintu mobil lalu turun dan melangkah masuk mencari Lala.
Setelah mendapati Dewi telah masuk dengan aman ke kantornya mas Gibran, Aku pun langsung pergi dari sana menggunakan taksi. Sengaja Aku menggunakan taksi agar tidak ada yang mengenali diriku, terutama mas Gibran.
Sampai di rumah, Aku bingung harus melakukan apa. Semua pekerjaan rumah sudah diurus oleh pelayan, masak pun juga sudah beres semua oleh pelayan. Sebenarnya enak sih jadi Aku. Mau apa-apa tinggal disediakan. Kerja udah nggak lagi. Di rumah santai-santai doang.
__ADS_1
Biasanya sih jam segini kalau Aku bosan terkadang Aku main ke kantornya mas Gibran sambil membawa makan siang untuknya kalau dia nggak ada meeting di luar. Tapi sekarang sudah tidak bisa. Mas Gibran pasti akan menyuruhku pulang jika Aku menemuinya.
Akhirnya Aku putuskan untuk baca novel setelah itu menonton TV. Selepas itu Aku mandi dan lanjut nonton TV lagi. Mataku tak lepas dari jam dinding yang selalu aku lirik hingga kepalaku pusing kesana kemari menunggu jam 5 sore.
Bergegas Aku menghubungi Dewi di ujung sana, entah dia masih di kantor atau sedang dalam perjalanan pulang.
Hallo, Mbak Manda.
Dewi, kamu dimana? Bagaimana tadi hari pertama kerja kamu di kantor mas Gibran?
Aku masih di kantor, Mbak. Hari pertama kerja di sini lancar kok, Mbak. Tadi aku hanya perkenalan saja dengan mas Gibran karena aku masih tahap belajar sama Mbak Lala. Maaf belum sempat kasih kabar ke Mbak, soalnya ini sibuk banget dari tadi Mbak Lala nyuruh aku ini dan itu. Kayaknya Mbak Lala udah nggak tahan lama-lama di kantor ini. Mukanya ditekuk terus saat mas Gibran manggil dia, hehe.
Oh ya, kasihan banget si Lala. Emm ... mas Gibran masih di kantor ya, Wi?
Hah, suami kamu udah dari tadi pulang, Mbak. Lebih cepat malah jam 3 deh.
Tapi kok mas Gibran belum pulang ke rumah, Wi. Apa mungkin dia lagi meeting di luar?
Ok, terima kasih ya, Wi. Jangan lupa istirahat yang banyak untuk menghadapi hari esok, hehe.
Habis ini aku mau ke butik ku, Mbak. Mau ngecek kerjaan di sana sekalian.
Oh iya, selain sekretaris kamu merangkap jadi Bos, ya. Hahaha.
Kamu lupa, Mbak. Ini semua demi kamu loh. Keterlaluan deh, hahaha.
Sorry, sorry.
__ADS_1
Ya, dimaklumi kok Mbak.
Setelah panjang lebar kami bercerita, akhirnya aku putuskan untuk menunggu kepulangan mas Gibran di teras sambil membaca majalah. Hingga hampir magrib yang di tunggu-tunggu tidak kunjung pulang, akhirnya aku masuk ke dalam rumah.
Menunggu mas Gibran sama halnya seperti menunggu jodoh yang tak kunjung melamar.
"Aku lupa bahwa akhir-akhir ini memang mas Gibran sering pulang malam," gumamku kecewa, mataku berkaca-kaca.
Tepat jam 9 malam, Aku masih menunggu mas Gibran di ruang tengah. Dan beruntungnya suamiku itu baru pulang. Aku menyambutnya dengan hangat dan senyuman ceria. Ya, mungkin saja sikap mas Gibran bisa kembali normal seperti dulu. Itulah yang selalu Aku harapkan.
"Mas Gibran...," sapaku lembut.
Namun mas Gibran melewatiku begitu saja tanpa menatapku, dia melangkah menuju kamar. Lagi-lagi Aku diabaikan. Tapi Aku tidak akan menyerah. Aku harus tetap membuat mas Gibran menjadi suami yang hangat dan penyayang seperti dulu.
"Mas, tolong jangan abaikan aku. Jangan sakiti aku dengan diam mu. Katakan, dimana letak salahku. Aku mohon jangan buat hubungan kita hancur karena sesuatu yang tidak aku mengerti, Mas. Bukankah kita bermimpi ingin mempunyai keluarga kecil dengan seorang putra dan putri? Ayo kita wujudkan impian kita itu, Mas!" aku mengadu pada mas Gibran dengan air mata yang sudah membasahi pakaiannya.
Aku memeluk mas Gibran dari belakang ketika dia sedang membuka kancing bajunya. Aku menangis sambil mencurahkan isi hatiku, berharap dia simpati padaku.
"Lepas! Sudah aku bilang bahwa aku tidak suka wanita cengeng sepertimu, paham!" bentak mas Gibran memekakkan telinga. Dia tidak menjawab pertanyaanku dan malah menepiskan tanganku dengan kasar.
"Kenapa kamu berubah, Mas? Dulu kamu nggak seperti ini. Dulu saat aku menangis, pasti dirimu selalu menenangkan aku dan memelukku. Tapi kenapa Sekarang kamu malah membenci hal itu, Mas?" tanyaku lirih.
"Aku ini manusia yang suatu saat bisa berubah. Sudah sana minggir!" Dia mendorong tubuhku ke belakang.
Aku sontak terkejut. Sekarang mas Gibran sudah berani berlaku kasar padaku. Disentuh saja dia sudah tidak mau apalagi memadu kasih untuk memiliki seorang anak.
"Aku menangis karena dirimu, Mas!" ucapku lirih.
__ADS_1
"Mulai sekarang jangan berani memelukku dan jangan lagi menangis di depanku, karena aku muak dengan tangisanmu. Membuatku pusing saja tau nggak!" bukannya menyelesaikan masalah, tapi dia malah berbalik dan langsung melangkah masuk ke kamar mandi melewatiku begitu saja seolah Aku tidak ada.
Hatiku sangat sakit mendengar perkataannya. Muak? Sebegitu muak nya mas Gibran dengan tangisanku? Padahal, seorang suami bisa luluh dengan air mata sang istri bila menangis dan akan memeluknya dengan penuh penyesalan bila dia melakukan kesalahan.