Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Mencari Tahu


__ADS_3

Sejak mas Gibran tidak mau lagi Aku masakin makanan seafood, sejak itu Aku mulai penasaran. Sebenarnya ada apa dengan mas Gibran. Dia semakin aneh. Bukan hanya sikapnya bahkan makanan kesehariannya pun sudah tidak dia sukai lagi. Lalu bagaimana dengan diriku? Apakah mas Gibran juga sudah tidak mencintaiku lagi?


Pikiran buruk ku kian memuncak. Hatiku gundah. Selalu salah di mata mas Gibran. Sejak saat Aku pergi dari rumah selama dua hari, dari sanalah mas Gibran mulai memecat semua pelayan, lalu Aku di suruh untuk melakukan semua tugas yang biasanya dilakukan oleh pelayanku di rumah. Dari mulai menyapu, memasak dan mencuci pakaian. It's ok, semua itu memang tugas seorang istri, iya kan? Aku juga berharap mendapatkan pahala karena melayani suamiku, yang pastinya melayani dengan tulus.


Di satu sisi, Aku senang karena mas Gibran tidak pernah pulang larut lagi. Tapi tingkahnya mulai aneh saat Aku mendapati mas Gibran tidak menyukai makanan seafood lagi, padahal makanan itu makanan yang paling dia sukai dulu.


Dan parahnya lagi, dari situ mas Gibran mulai perhitungan soal masalah uang dan pekerjaan, lalu yang membuatku benci dari sifatnya yang sekarang yaitu dengan sifat pelitnya. Ya Tuhan, apakah ini sifat asli suamiku yang selama ini dia tutupi dariku? Aku hanya bisa sabar dan berdo'a untuk kebaikan dirinya.


Hallo Mbak, tumben jam segini nelepon, biasa juga sibuk.


Kerjaan Mbak udah beres semua. Ehm ... kamu lagi dimana sekarang? Apa mas Gibran makan di luar?


Aku sama mas Gibran masih di kantor, Mbak. Kenapa emangnya?


Mas Gibran suka pesan makanan seafood nggak?


Ehm ... selama aku jadi sekretaris mas Gibran, belum pernah tuh dia pesan makanan seafood. Biasanya ayam bakar atau ayam goreng gitu, Mbak.


Nanti kamu coba tawarin mas Gibran untuk pesan makanan seafood deh. Kalau sudah, kamu kabari Mbak lagi, ya.


Emang kenapa sih dengan makanan seafood?


Nanti Mbak ceritain, tapi nggak sekarang, ok!


Ok deh!


Panggilan pun terputus. Sembari Aku menunggu kabar dari Dewi, Aku pun mandi sejenak karena gerah sehabis dari mengerjakan tugas rumah sebagai ibu rumah tangga. Ya, nggak buruk sih, menjadi ibu rumah tangga begitu mulia apalagi dikerjakan dengan tulus dan ikhlas.


Dert dert derttt


Beberapa jam kemudian, panggilan telepon dari Dewi, segera Aku mengangkatnya.


Hallo Dewi, gimana yang Mbak minta tadi?


Mbak, ini aku mau ke ruangan mas Gibran sekarang. Ponsel ini aku biarkan menyala biar Mbak bisa mendengar dengan jelas jawaban dari suami kamu, biar Mbak juga nggak penasaran lagi, ok.


Nanti ketahuan loh, Wi?

__ADS_1


Nggak, asal Mbak diam dan hanya mendengarkan saja, ok!


Ehm ... ok deh, hati-hati loh, Wi.


Udah, tenang saja


Baiklah


Dewi pun masuk ke ruangan mas Gibran, terdengar dari derap langkah sepatu high heels berjalan perlahan.


Tok tok tokkk


"Masuk," terdengar suara mas Gibran.


"Selamat siang, Pak!" sapa Dewi basa-basi.


"Hemm," sahut mas Gibran.


"Bapak ingin saya pesankan makan siang?"


"Ehm ... boleh deh. Nasi ayam bakar sama coffee latte."


"Nggak!"


"Kenapa Bapak nggak suka makanan seafood? Padahal enak loh, Pak. Apalagi banyak proteinnya." ujar Dewi menawarkan.


"Hei, kamu ini sekretaris saya atau pelayan restoran, hah? Kenapa pake promosi segala?" Protes mas Gibran seperti tidak suka.


"Eh, ma-maaf Pak. Maklum kebiasaan promosi baju-baju koleksi saya, Pak. Upsss!" Terdengar suara Dewi yang gugup hingga keceplosan.


"Kamu jualan online?" tanya mas Gibran memicingkan matanya.


Ya, seperti yang Aku duga. Dewi keceplosan dengan status dirinya yang mempunyai usaha butik.


"Hah, i-iya Pak. Cari uang tambahan saja, hehe," Dewi bisa menjawab dengan santai walau masih ada kegugupan dari nada suaranya.


Hening sejenak.

__ADS_1


"Ngapain diem di situ? Sana cepat pesan makanannya!" titah mas Gibran ketus.


"Itu foto istri Bapak, ya? Cantik banget. Kapan-kapan ajak ke kantor dong, Pak. Saya mau kenalan, gitu."


Kedengarannya sih, Dewi bertanya tentang diriku. Itu berarti fotoku masih diletakkan di meja kerja mas Gibran. Apa masih ada rasa cinta mas Gibran untukku? Aku merasa bahagia. Tapi tingkah si Dewi semakin kacau karena berani bertanya hal di luar pekerjaan dan itu pula sudah diluar permintaanku.


"Istri saya sibuk di rumah."


"Sibuk apa, Pak? Ngerjain pekerjaan rumahan? Sayang banget loh, Pak. Nanti istri Bapak cantiknya hilang loh."


Dasar Dewi, tingkahnya pasti buat kesal mas Gibran saat ini. Aku hanya bisa berdoa agar Dewi tidak mendapatkan amukan dari mas Gibran.


"Istri saya tetap cantik walau dia kerjanya di dapur, nggak ada yang bisa menandingi kecantikan istri saya, mengerti?"


Wah, Aku tidak menyangka bahwa mas Gibran akan memuji diriku di depan Dewi. Aku bahagia sekali. Aku harap perkataan itu tulus diucapkan oleh mas Gibran.


"Bapak sepertinya cinta banget nih sama istrinya," ujar Dewi menggoda, sepertinya Dewi beneran akan mendapat amarah dari mas Gibran.


"Hey, kamu ini semakin hari semakin sok akrab sama saya, ya. Kamu kira saya kakak kamu, hah? Ingat, kamu itu sekretaris di sini. Sudah sana pergi, sekarang!" Benar saja, mas Gibran membentak Dewi. Aku hanya bisa menahan tawa sambil menutup mulutku.


"I-iya Pak."


Sepertinya Dewi sudah keluar dari ruangan mas Gibran. Auto Dewi pasti kena mental. Dewi langsung melanjutkan obrolan kami yang sempat terpotong tadi.


Hallo, Mbak denger sendiri kan tadi mas Gibran bilang apa?


Hahaha, iya iya ... kamu itu berani banget tau nggak sama mas Gibran. Untung aja kamu nggak dipecat sama dia.


Aku nyaris dipecat sama suami kamu itu, Mbak. Tiap hari aku selalu kesel sih sama suami kamu itu.


Wah parah kamu, Wi.


Yang pastinya, mas Gibran itu masih cinta sama kamu, Mbak. Buktinya dia puji-puji kamu tadi di depan aku. Kamu dengar sendiri kan, Mbak.


Ya, Mbak harap sih gitu. Ya sudah, terima kasih ya, Wi. Selamat melanjutkan aktivitas kamu ya, sayang. Bye...hahaha.


Wah, Mbak ngetawain aku nih. Tega kamu Mbak.

__ADS_1


Panggilan telepon pun terputus. Aku menghela nafas lega. Akhirnya penasaranku terjawab. Aku pikir mas Gibran hanya pura-pura nggak suka makanan seafood buatanku, rupanya memang sekarang ini mas Gibran tidak menyukainya lagi. Tapi Aku heran atas perubahannya itu. Bisa sekaligus berubah pada perilaku dan makanan kesukaan, benar-benar membingungkan.


Dan yang membuat Aku senang hari ini adalah ketika mas Gibran memujiku cantik di depan Dewi. Aku merasa mas Gibran menyembunyikan sesuatu dariku, tanpa Aku sadari walaupun sikap kasarnya yang sekarang padaku, tapi tersimpan sifat jujurnya pula pada orang lain.


__ADS_2