
Tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Oleh karena itu, laki-laki dan perempuan harus bisa saling melengkapi. Tapi rasanya aku sudah lelah dengan perilaku mas Gibran akhir-akhir ini. Bagaimanapun aku berusaha untuk tetap mempercayai dia, namun sayangnya aku tidak bisa menahan rasa kecewaku dan sakit hatiku padanya.
Terkadang emosi dan kemarahan membuat seseorang lupa akan tindakan-tindakan yang dia lakukan, dan betapa bodohnya kesalahan yang dia lakukan saat itu.
Aku sudah melakukan yang terbaik, tapi itu percuma. Ya, karena tidak ada gunanya mempertahankan cinta yang sudah tidak sama lagi. Di mata mas Gibran sepertinya Aku sudah tidak ada artinya. Benar kata suamiku itu, lebih baik Aku pergi darinya. Lagian di rumah ini Aku sudah tidak lagi dihargai. Status saja sebagai istri tapi nyatanya Aku seperti musuh baginya.
"Yakin kamu mau pergi dari sini?" Mas Gibran menarik tanganku saat Aku melewati dirinya dengan acuh.
"Bukannya ini yang kamu mau, Mas? Kamu ingin aku pergi dari kehidupan kamu, kan? Kamu sukses sudah buat aku sakit dan hancur, Mas!" Aku menepis tangan mas Gibran, air mataku mengalir kembali saat menatap matanya.
Hening sejenak. Aku bisa melihat mata mas Gibran mulai memerah. Entah dia menahan amarah atau ingin menangisi Aku yang akan pergi dari rumahnya. Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena dia sudah berubah menjadi suami yang dingin dan kasar.
"Masuk!" seru mas Gibran mengkode dengan kepalanya pula.
"Kamu yang nyuruh aku pergi dari rumah ini tadi dan sekarang aku akan pergi. Jangan halangi aku!"
"Biar aku yang pergi dari sini," ucap mas Gibran.
"Ini rumah kamu, bukan rumahku," ucapku.
"AKU BILANG MASUK," tekan mas Gibran sedikit keras.
Mas Gibran langsung menarik tanganku mundur ke belakang seolah meminta Aku kembali ke dalam kamar.
"Aku nggak bisa tinggal sendirian di rumah sebesar ini, aku takut. Biar aku saja yang pergi," Aku melangkah kembali hendak pergi.
Namun kemudian mas Gibran langsung menarik tanganku yang kali ini dia menarik ku menuju kamar.
"Nanti sekretarisku yang akan menemani kamu sementara di sini sampai pelayan kembali ke rumah ini lagi," ujar mas Gibran menjelaskan.
Apa Aku tidak salah dengar? Mas Gibran sampai segitunya untuk memanggil kembali pelayan ke rumah ini. Dia juga rela pergi dari rumahnya sendiri. Ada apa sebenarnya dengan dia? Yang awalnya dia mengusirku kini dia malah membiarkan Aku yang tinggal di rumahnya. Aku yakin mas Gibran masih waras. Apa mungkin dia ingin menjadi pahlawan sebelum kami berpisah? Atau dia telah menyesal karena sudah mengusirku? Ah, tidak bisa dipercaya.
"Aku tidak mengerti dengan cara berpikir kamu, mas. Diamnya aku itu bukan berarti membiarkan kamu berbuat sesuka hati kamu," gumamku dengan lirih.
__ADS_1
Sebagai kepala keluarga, suami seharusnya jadi sosok yang mampu mengayomi dan membimbing sang istri. Akan tetapi pada kenyataannya, tak sedikit suami yang justru bertindak sebaliknya. Ada sebagian suami yang justru egois dan mau menang sendiri. Selain itu, ada pula suami yang menyakiti hati istrinya, sesakit sakitnya dan sehancur hancurnya.
Tak lama kemudian, satu jam berlalu.
Tok tok tokkk
"Mbak Manda, ini aku Dewi."
CEKLEK
"Masuk Wi," dengan cepat Aku menarik tangan Dewi masuk ke kamar.
"Mbak, kalian itu sebenarnya ada apa sih? Kenapa mas Gibran nyuruh aku datang ke sini nemenin Mbak?" tanya Dewi heran.
"Mas Gibran sudah pergi?" Aku malah balik bertanya pada Dewi.
"Udah kok, pas aku datang tadi mas Gibran langsung pergi pakai mobilnya."
"Terus dia bilang apa?" tanyaku antusias.
"Hanya itu saja?" tanyaku seolah tak percaya.
"Iya," jawab Dewi.
Aku menghela nafas dan hanya pasrah bila memang mas Gibran menjauh dariku, pergi dari rumah ini. Mungkin itu sudah menjadi keputusannya.
"Mbak, are you ok?" tanya Dewi membangunkan lamunanku.
"Ya, Mbak baik kok. Ya udah temenin Mbak tidur sini sampe besok pagi, ya!" kataku sambil tersenyum kecil.
Sebelum tidur kami pun bercerita banyak hal. Dari kelakuan dan sifat mas Gibran di kantor yang diceritakan oleh Dewi selaku sekretaris suamiku.
*******
__ADS_1
Pagi sekali Aku bangun dan hendak ke dapur membuat sarapan untukku dan Dewi sebelum dia berangkat ke kantor. Namun ketika Aku melewati meja makan, terlihatlah hidangan yang sudah berada di atas sana. Aku tertegun dengan masakan itu. Aku sangat mengenal masakan itu. Lalu Aku berpikir sejenak kemudian pergi ke dapur. Dan benar saja, sudah ada pelayan di sana. Pelayan yang biasa mengerjakan tugas di rumah ini.
"Bibi, kapan Bibi datang?" tanyaku penasaran.
"Itu Bu, tadi Pak Gibran yang jemput Bibi ke rumah, lalu diantar ke sini di suruh balik kerja lagi di rumah ini," jawab pelayan dengan ramah.
"Mas Gibran ada di sini?" tanyaku sedikit kaget.
"Bapak sudah pergi lagi tadi, Bu."
"Terus, mas Gibran bilang apa ke Bibi?" tanyaku ingin tahu, kalau-kalau mas Gibran memberi pesan untukku lewat Bibi pelayan ini.
"Emm ... nggak ada, Bu. Bapak cuma bilang jaga rumah beserta isinya, gitu aja Bu," ungkap bibi dengan suara yang terdengar kaku.
DUARRR
"Apa? Jaga rumah beserta isinya? Dia kira aku ini apaan? Pajangan rumah, gitu?" Aku benar-benar kesal dengan mas Gibran. Pagi-pagi sudah membuat suasana hatiku buruk. Dasar, suami tidak berprikemanusiaan, pikirku.
Lidah itu sangat kecil dan ringan. Tapi bisa mengangkat kamu ke derajat yang paling tinggi dan bisa menjatuhkan mu ke derajat paling rendah.
Bibi terlihat menunduk, dia merasa tidak enak denganku karena ucapannya barusan, padahal itu sama sekali bukan salahnya bibi, melainkan mas Gibran yang otaknya rada-rada error.
"Maafkan Bibi ya, Bu. Seharusnya Bibi nggak jawab seperti itu."
"Biarkan saja, Bi. Kalau Bibi jawabnya lain berarti Bibi berbohong dong. Aku juga nggak tahu apa ucapan mas Gibran yang sebenarnya," ujarku mencoba tenang.
"Iya, maaf ya Bu."
"Nggak apa-apa, Bi. Ya udah, aku ke atas dulu panggil Dewi turun ke bawah untuk sarapan."
Aku pun melangkah menuju kamarku sambil merutuki mas Gibran.
"Dasar mas Gibran, dia pikir aku ini apa? Seisi rumah ini bukan hanya barang perabotan, tapi juga ada manusia, aku ini istrinya. Enak saja samain aku dengan semua isi rumah. Beraninya ngomong di belakang sama bibi pelayan, nggak berani bilang di depan aku. Awas saja dia kalau ketemu. Arghh, aku kesel, kesel, keselllll sama mas Gibran!" Gumamku tak henti mengoceh.
__ADS_1
Diam ku sebagai seorang istri bukan berarti membiarkanmu berbuat semakin menyakitiku dan semau kamu, sungguh aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu wahai suamiku.