
Melakukan kesalahan adalah hal yang wajar dan pasti dialami oleh seluruh manusia. Sebagai makhluk yang tidak sempurna. Manusia adalah makhluk yang tidak pernah luput dari salah dan dosa. Bahkan dapat dikatakan tidak ada satu orang manusia pun di dunia ini yang tidak pernah melakukan kesalahan sekecil apapun kesalahan itu.
Di antara kita sebagai manusia pun, pasti ada yang masih merasa dihantui dengan kesalahan di masa lalu. Tiap kali mengingat kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu, terkadang masih sering merasa sedih bahkan menyalahkan diri sendiri.
Semua yang terjadi di masa lalu tak bisa dihapus atau dilupakan begitu saja. Semua hal dan kejadian yang pernah ada akan menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup. Walau masa lalu tak selalu indah, tapi semua yang pernah kita alami dan jalani senantiasa hadirkan proses pendewasaan diri.
"Kenapa kamu masih peduli sama Aku, Bram?" Aku bertanya pada Bram. Tak sedikitpun olehnya untuk tidak memberikan perhatian lebih padaku. Aku penasaran dibuatnya.
Bram yang tadinya fokus pada makanan di depannya. Kini dia beralih menatap diriku dengan serius.
"Karena cinta!" Jawabnya singkat.
"Cinta?" Aku bertanya balik.
"Ya, karena aku masih cinta sama kamu, Manda!" jawabnya tegas tak ada keraguan.
Sebenarnya Aku tahu bahwa Bram akan mengatakan itu. Tapi Aku hanya memastikan bahwasanya memang benar jika Bram sengaja menawarkan Aku ikut dengannya karena ada alasannya dimana Bram memang masih mencintaiku. Kalau sudah begini, lantas apakah salah bila Aku mengikuti Bram sampai di sini? Kenapa hatiku mengatakan bahwa ini tidaklah benar? Aku takut jika Bram akan beranggapan lain terhadapku.
"Kenapa Bram? Kenapa kamu masih mencintaiku? Padahal dulu Aku yang ninggalin kamu, yang khianati kamu dan nikah sama mas Gibran, sahabat kamu sendiri?" Tanyaku membuka luka lama di masa lalu.
__ADS_1
Tidak semua orang bisa bertahan dengan cinta yang dulu pernah melukai hatinya, mengkhianatinya. Tapi berbeda dengan Bram, lelaki ini masih sanggup untuk mencintaiku dengan segenap hati dan jiwanya. Aku yakin dengan hal itu karena Aku melihat sikap dan matanya ada ketulusan yang dia tunjukan padaku.
"Cinta tidak butuh alasan. Itulah mengapa aku masih bertahan dengan cintaku, karena aku yakin setiap jiwa yang mengkhianati tidak akan pernah bahagia dan bertahan lama, contohnya saja kamu dan Gibran. Kalian akan bercerai, bukan!" balas Bram dengan jawaban sindirannya.
Rasanya Aku mendapatkan tamparan keras dari setiap kalimat yang dilontarkan oleh Bram.
"Jadi kamu pikir dengan bercerainya aku dan mas Gibran ada celah untuk kamu bisa kembali sama aku, gitu?" Jujur Aku sedikit kesal mendengar perkataan dari Bram barusan.
"Ya, apa salahnya jika aku masih bertahan dengan cinta yang sejak lama aku tunggu-tunggu?" Bram menghela nafas sejenak lalu memejamkan matanya. Menatap kembali diriku yang berada di depannya.
"Jujur, memang aku kecewa dan sangat marah saat kalian menikah. Hatiku hancur saat itu. Aku percayakan Gibran untuk menjagamu yang jauh dariku, malah dia menikamku dari belakang. Dari sanalah Aku yakin bahwa pernikahan kalian nggak akan bertahan lama. Dan buktinya sekarang, kamu lihat sendiri kan? Kalian akan berpisah sebentar lagi," Ungkap Bram yang diselimuti sedikit emosi. Matanya sedikit memerah.
"Tapi kamu yang salah, Bram. Ambisi kamu untuk mengambil alih perusahaan ayah kamu lebih besar dari pada hubungan kita. Kamu nggak ada waktu untuk Aku sekedar telepon sehari saja saat kita jauh. Kamu juga menyerahkan tugas ke mas Gibran untuk menjagaku. Jadi wajar saja bila selama itu Aku selalu bergantung dengannya dan mas Gibran selalu ada buat Aku," bantahku membela diri.
"Tapi itu nggak adil buat Aku, Manda. Gibran udah khianati Aku dengan menikahi kamu, seharusnya dia memenuhi perjanjian kami," bantah Bram tak mau kalah. Dan tanpa sengaja Bram mengingatkan kembali kejadian saat hanya dirinya dan Gibran lah yang tahu.
"Perjanjian? Perjanjian apa?" Tanyaku heran.
"Tidak, lupakan!" sahut Bram berkilah.
__ADS_1
Aku jadi curiga dengan sikap Bram yang tak menjawab pertanyaanku. Tapi Aku tak ingin berpikiran buruk.
"Justru nggak adil buat mas Gibran. Kamu di luar negeri sibuk dengan pekerjaan kamu, Aku juga nggak tahu aktivitas kamu selain di kantor. Bisa saja kamu selingkuh dari Aku. Lalu kenapa kamu bilang tidak adil bagi kamu? Bagaimana dengan mas Gibran yang hari-harinya tersita hanya untuk menjagaku? Dia rela menolak setiap wanita untuk menjadi kekasihnya saat itu. Jadi tolong jangan salahkan mas Gibran," kataku dengan segala unek-unek yang ada di hatiku.
"Kamu nggak pantas membenci mas Gibran. Karena yang salah itu Aku, Bram!" Tegas ku.
Bram lagi-lagi menghela nafasnya, dia terlihat sangat kesal dengan ucapanku barusan. Bukan karena Aku membela mas Gibran. Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Sarapan yang sudah tersedia di meja sejak tadi hanya menjadi hiasan perdebatan kami berdua. Pagi hari yang cerah seakan luntur karena perdebatan kami. Suasana menjadi canggung dalam keheningan.
Bram mengusap wajahnya kemudian menatapku, tak lama setelah itu dia menarik tanganku lalu digenggamnya.
"Jujur aku nggak bisa melupakan kamu walaupun kamu sudah khianati aku, Manda. Karena aku belum rela kamu dimiliki oleh orang lain, apalagi Gibran sahabat aku sendiri. Aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Please, menikahlah denganku setelah perceraian kalian selesai," pinta Bram dengan serius. Aku bisa lihat dari matanya ada kebenaran dan ketulusan dari perkataannya.
Aku segera melepaskan tanganku dari Bram. Suasana saat itu benar-benar canggung. Aku seperti masuk ke dalam masa lalu dimana pertama kali Bram meminta diriku menjadi kekasihnya. Namun berbeda sekarang, apa yang dipinta oleh Bram saat ini adalah hal konyol yang dia ucapkan. Percuma, itu akan menjadi sia-sia. Karena perjuanganku dalam berumah tangga bersama mas Gibran sangatlah kuat sejak dulu. Dan menerima Bram kembali dalam kehidupanku adalah hal yang tidak mudah.
"Maaf aku mau mandi, kamu sarapan saja duluan," Jawabku yang langsung bangkit dan melangkah ke kamar mandi.
BRAKKK
Aku mendengar suara cukup keras di arah balkon. Sepertinya Bram memukulkan tangannya ke meja. Mungkin dia kesal denganku yang tidak menjawab pertanyaannya sekaligus permintaannya.
__ADS_1