
POV Gibran Radhika
Satu minggu saja hidupku terasa sepi tanpa Amanda. Tak ada dirinya membuat hidupku semakin kacau. Aku ingin sekali bertemu dengan Amanda. Ketika Aku merindukannya, sering kali yang benar-benar Aku rindukan adalah bagian dari diriku yang ada pada dirinya. Rasa rindu akan semakin pahit, jika disaat Aku terbangun dan tidak menemukan apapun mengenai Amanda.
Merindukan seseorang itu sulit, tetapi membuat dia berdiri di sampingku dan tidak dapat menemukan kata-kata untuk memberi tahu dia betapa Aku merindukannya adalah sebuah penyiksaan. Memikirkannya setiap detik, menit, jam dan hari adalah obat untuk penyakitku karena merindukannya. Membuatku mengenang obrolan terakhir kami berdua dan itu membuatku tersenyum tentang betapa baiknya kami bersama.
Bahkan saat Aku memejamkan mata, aku selalu terbayang wajahnya. Lalu saat aku membuka mataku, aku merindukannya lagi, lagi dan lagi. Aku selalu berharap untuk dapat hadir di setiap mimpi indahmu. Kemudian, Aku akan mengatakan bahwa Aku selalu merindukanmu, sayang.
Tapi si Bram itu membuatku sulit untuk menemukan lokasi mereka berdua berada. Ternyata perusahaan Bram bukan hanya satu atau dua, melainkan ada perusahaan lainnya lagi yang tidak Aku ketahui di luar negeri.
Dasar sialan Bram, karena yang Aku tahu dari informanku, bahwa Bram mengambil alih perusahaan yang mempunyai hutang besar kepadanya. Dia pun sengaja mengajak Amanda ke kota yang tidak Aku ketahui dimana perusahaan itu sekarang berada. Itu semua karena ulah Bram yang sangat berambisi untuk menjadi milyarder.
"Permisi, Pak Gibran ini ada titipan paket katanya dari rekan bisnis Bapak, dititipkan langsung oleh resepsionis kita di lobi," Dewi masuk ke ruanganku dengan membawa satu bingkisan kecil yang dia taruh di atas meja kerjaku.
"Dari siapa?" Tanyaku heran sembari mengambil bingkisan tersebut mencari nama pengirimnya.
"Emm ... saya kurang tahu, Pak. Tapi kata resepsionis kita, dia sering datang menemui Bapak di kantor, kok" jawab Dewi menjelaskan.
Aku langsung mengingat-ingat siapa yang sering datang ke kantorku, tapi tetap saja Aku masih belum mengetahui siapa orang itu karena bukan hanya satu orang saja, tetapi ada banyak orang yang sering datang menemui ku di kantor.
"Baiklah, terima kasih," ujarku pada Dewi namun Dewi masih berdiri mematung di hadapanku.
Aku menatap Dewi bingung. Dia pun menyadarinya.
"Ada apa lagi?" Tanyaku memastikan.
"Emm ... begini Pak, apakah Bapak sudah tahu kabar istri anda berada?" Tanya Dewi seakan dia ingin tahu.
Ya, saat ini hanya Aku, bibi pelayan dan Dewi yang tahu kepergian Amanda dari rumah. Aku sengaja memberi tahu Dewi karena mungkin saja Amanda menghubunginya. Sebab Dewi dan Amanda terlihat sangat akrab dan mereka saling bertukar nomor ponsel.
"Belum, apa kamu tahu dia di mana?" Tanyaku balik bertanya.
__ADS_1
"Hah, sa-saya? Apalagi saya, Pak. Saya tidak tahu dimana istri Bapak sekarang!" sahutnya gugup.
"Maaf, saya refleks!" ucapku.
"Ya, nggak apa-apa Pak."
Aku lupa, bagaimana mungkin Aku bisa bertanya pada Dewi sedangkan diriku saja tidak mengetahui keberadaan istriku. Ya, aku pikir mungkin saja Dewi tahu tentang Amanda, secara Aku juga tahu kalau sebenarnya Dewi adalah sekretaris yang dipilih oleh Amanda untuk memata-matai Aku di kantor plus Dewi juga adalah sepupunya Amanda. Sebenarnya Aku sudah mengetahui itu sejak lama, tapi Aku pura-pura berlagak tidak tahu apa-apa. Ya, biar mereka tidak curiga dan Aku masih merahasiakannya.
"Kalau begitu saya permisi, Pak. Semoga ibu Amanda segera kembali ya Pak," ujar Dewi kepadaku.
"Hem," responku singkat.
Setelah Dewi keluar dari ruanganku, bergegas Aku membuka bingkisan kecil yang katanya dari rekan bisnisku itu. Aku penasaran dengan isinya. Ternyata ada flashdisk yang berada di dalamnya. Aku pun mencolokkan flashdisk itu ke laptop. Aku semakin penasaran dengan isinya. Baru kali ini Aku mendapatkan paket aneh yang tidak Aku ketahui siapa pengirimnya. Aku mengklik data file di dalamnya. Hanya ada satu file di sana.
KLIK
"Hallo Gibran, apa kabar sahabat lamaku? Aku harap kamu baik-baik saja saat ini. Kau tahu, Aku sangat bahagia sekali di sini apalagi bersama kekasih lamaku yang kau ambil secara pengecut. Aku nggak ingin berlama-lama bercerita apa maksud tujuanku saat ini. Aku hanya minta satu hal padamu. Satu jam lagi nanti ada tamu spesial aku bawakan khusus untukmu. Turuti perintahku jika kau ingin Amanda dalam keadaan baik dan sehat, mengerti? Oh ya, bonus untukmu, aku beri video Amanda untuk mengobati rasa rindumu padanya, HAHAHA."
BRAKKK
"Bagaimana, bagus tidak pemandangan Amanda sedang tidur seperti itu? Wah, cantik sekali wanitaku ini. Kalau begini rasanya aku ingin memangsanya dengan buas, hahaha. Tapi sayangnya, dia masih tidur, tidak mau bangun. Kau tahu kenapa? Karena aku memberinya obat tidur. Lalu bagaimana kalau aku memasukkan kembali obat perangsang yang sempat tertunda waktu itu saja? HAHAHAAAA."
ARGHHHHH
Aku berteriak kesal dan benar-benar marah pada Bram.
"Ingat, jangan macam-macam dan turuti saja semua perintahku, ok. Selamat menikmati hadiah dariku, Brother."
Video yang berdurasi 5 menit itu mati seketika.
BRAKKK
__ADS_1
"Arghhh, dasar bedebah sialan kau, Bram. Berani-beraninya dia mencuri video Amanda saat sedang tidur," umpat ku dengan kesal.
"Kalau sampai kau berani menyentuh Amanda ku, maka nyawamu taruhannya, Bram!" ucapku dengan mengepalkan tanganku kuat.
Ingin rasanya aku menghancurkan Bram saat ini juga. Bisa-bisanya dia mengambil video Amanda saat istriku sedang tidur. Aku tidak akan membiarkan hal buruk terjadi pada Amanda. Dengan kata lain, Bram sudah mengeluarkan ancamannya, maka Aku akan melakukan instruksinya dengan serapih mungkin. Aku tidak akan tinggal diam. Aku bukanlah Gibran yang dia anggap tidak bisa melakukan apa-apa. Lihat saja nanti bagaimana Aku akan bertindak sesuka hatiku seperti apa yang dia lakukan padaku.
KRING KRING KRINGGG
Satu jam kemudian, ada panggilan masuk dari Dewi. Aku langsung mengangkat telepon itu.
"Ya, ada apa?"
"Ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak."
"Suruh di masuk!"
Tut tut tuttttt
Aku pun menutup teleponnya. Aku tahu pasti itu adalah orang suruhan Bram.
TOK TOK TOKKK
"Masuk!" ucapku lantang.
CEKLEK
Aku duduk santai sambil menatap seseorang masuk dengan langkahnya yang anggun dan gemulai dipadu dengan suara sepatu heels yang berirama.
"Hai, Gibran apa kabar?" tanyanya sembari mengulurkan tangannya padaku untuk berjabatan.
"Ah, emm ... aku baik!" Perlahan Aku pun menerima jabatan tangannya.
__ADS_1
Aku sedikit terkejut dan tak pernah menyangka bila akan bertemu kembali dengannya. Apakah orang yang ada di hadapanku ini adalah hadiah yang Bram maksud? Ataukah dia hanya sekedar bertamu dengan alasan tertentu?