
Dalam menjalani kehidupan, tidak semua orang selalu merasa bahagia, pasti ada saja pasang surut kehidupan. Saat sedang merasakan kebahagiaan dalam hidup, rasanya selalu berharap agar kebahagiaan itu tidak akan pernah berakhir. Namun, kehidupan tidak selalu berjalan mulus, ada kalanya kita harus merasakan kesedihan di kemudian hari.
Pada dasarnya, kesedihan dan kebahagiaan merupakan dua hal yang pasti akan dialami dan dilalui oleh seorang manusia. Ada masa di mana kita merasakan perasaan sedih dengan berbagai permasalahan hidup.
Selama kita tidak menyalahkan keadaan atau mencari kambing hitam atas situasi yang kita hadapi, maka yakin saja akan ada kebahagiaan yang bisa diperoleh di depannya. Walau saat ini masih bergumul dalam rasa sedih, ke depannya pasti ada rasa bahagia yang akan hadir. Hati yang lapang dan ikhlas akan lebih mudah menyambut kebahagiaan baru.
TOK TOK TOKKK
"Buka pintunya, Manda. Jangan sampai kesabaranku habis!" sedari tadi Bram tak hentinya menggedor-gedor pintu kaca mobil sembari mengancam ku.
Aku ketakutan sekali. Wajahnya yang kulihat kini adalah wajah orang yang penuh marah dan dendam. Semua urat-urat diwajahnya dan tangannya terlihat seperti monster yang sedang dilanda emosi.
Aku tidak berani untuk membuka pintu mobil, bila kelakuan Bram saja sudah membuat Aku berpikir jika Bram seakan membunuhku. Aku juga berpikir bahwa Bram akan melakukan hal yang buruk terhadapku.
BRAKKK
ARGHHH
Dan benar saja, tiba-tiba Bram melakukan aksi nekatnya. Dia memecahkan kaca mobil di bagian pengemudi dengan mudahnya menggunakan batu berukuran cukup besar yang memang ada di sekitar halaman rumah. Kemudian Bram dengan beraninya masuk dari sana. Tidak peduli pecahan kaca yang mengenainya, dia melewatinya begitu saja tanpa meringis kesakitan.
Dan sekarang Aku sudah tidak bisa berkutik lagi. Kunci mobil yang berada di tanganku pun jatuh akibat Aku panik. Aku mencari-cari kunci mobil di bawah kursi, saat Aku mendapatkannya tiba-tiba pula Bram mengambil alih kunci mobil itu dari tanganku.
"Kembalikan kunci mobilnya, Bram. Biarkan aku keluar dari sini, please!" Pintaku memohon sembari menangis.
Tapi Bram sama sekali tidak merespon apa yang Aku pinta darinya. Dia seolah tak mendengar. Bram malah menghidupkan mobil dan melajukannya ke luar dari halaman rumah.
"Bram, Bram hentikan!" Teriakku.
Aku sangat cemas karena Bram membawaku meninggalkan mas Gibran. Lantas Aku akan dibawa oleh Bram kemana?
Aku bergegas membuka kaca mobil di sampingku lalu Aku mengeluarkan kepalaku dan tanganku melambaikan ke arah mas Gibran yang sekarang di cekal oleh kedua anak buah Bram.
"MAS GIBRAN ... MAS GIBRAN...!!" Teriakku sambil memanggil-manggil suamiku.
__ADS_1
"AMANDA ... BERSABARLAH, MAS AKAN MENOLONG MU," Teriak mas Gibran dengan lantang.
"Mas Gibran, hiks...hiks...," gumamku pelan.
Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku sudah pasrah dengan keadaan saat ini. Aku hanya berharap semoga mas Gibran dilindungi oleh Allah dimanapun dia berada. Dan berharap Bram tidak akan melakukan hal yang buruk terhadap mas Gibran.
"Percuma kau memanggil namanya, karena Gibran tidak akan mungkin menolong mu, Manda!" Ucap Bram yang mulai bersuara.
"Hentikan mobilnya, Bram. Tolong jangan pisahkan Aku sama mas Gibran. Jangan sakiti mas Gibran, please!" Aku membujuk Bram.
"Kau selalu memikirkan perasaan Gibran. Sedangkan aku, kau sama sekali tidak peduli padaku, Manda!" Tuduh Bram.
"Itu hanya pemikiran kamu saja, Bram. Aku masih peduli padamu. Makanya, aku tidak memperpanjang masalah yang dulu saat kau ingin memasukkan obat perangsang itu ke dalam minumanku. Aku marah dan aku kecewa padamu. Tapi aku masih mau untuk memaafkan kamu, Bram!" Ungkap ku jujur.
Bram hanya tersenyum miring dan fokus melajukan mobil yang tidak Aku ketahui kemana Bram akan membawaku.
"Bram, kau akan membawaku kemana?" Tanyaku ragu-ragu.
Bram tak membalas pertanyaanku. Dia malah melajukan mobil dengan kencang. Aku hanya menutup mataku berharap tidak terjadi hal buruk. Percuma bertanya pada orang yang sedang dalam suasana hatinya dipenuhi emosi. Ingin bertanya kembali, namun Aku takut Bram akan semakin marah dan malah menabrakkan mobil ini pada sesuatu.
"Kenapa kau membawaku kemari, Bram? Jangan berani macam-macam padaku. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan kamu kali ini, Bram!"
Aku menahan langkahku dengan sangat kuat. Namun Bram mengancam ku dengan sesuatu yang membuatku takut.
"Ikuti saja aku, atau kau tidak akan pernah melihat Gibran lagi," tekan Bram yang membuatku langsung mengikuti kemanapun kakinya melangkah.
Aku celingak-celinguk seperti orang yang baru pertama kali menginjakkan kakiku ke hotel. Bukannya seperti itu, melainkan Aku takut jika ada orang yang mengenaliku yang memasuki kamar hotel berdua dengan orang yang bukan suamiku.
Aku pun masuk dengan ragu dan takut-takut.
CEKLEK
Bram segera mengunci pintu kamar setelah Aku masuk ke dalam. Bram melangkah melewati ku dengan acuh. Dia duduk di sofa sambil memijat-mijat keningnya seperti orang yang mempunyai banyak masalah. Ya, dirinya sendirilah yang menyebabkan masalah ini terjadi.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan, Bram?" Tanyaku ingin tahu yang sebenarnya.
Bram menoleh ke arahku, lalu bangkit dan berjalan mendekatiku yang masih berdiri tak jauh dari pintu.
"Tidakkah kau berpikir bahwa aku itu sangat mencintaimu, Manda? Aku tahu, aku salah karena pernah berbuat curang padamu karena obat itu, tapi aku menyesal dan itu pun tidak pernah terjadi, bukan? Aku melakukan itu agar kau tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Apa aku salah?"
"Lalu Gibran merebut mu dariku, apa aku yang salah? Kau juga tega mengkhianati aku, apa itu juga aku yang salah, hah?"
Bram mengakui kejahatannya, wajahnya diliputi dengan rasa bersalah. Namun dia mempertanyakan kesalahannya seolah menyudutkan aku dan mas Gibran. Padahal jelas-jelas awal dari sumber masalah ini berasal dari dirinya.
Tapi Aku harus tenang untuk saat ini. Aku tidak ingin membantah perkataannya yang sedang dilanda emosi. Menghadapi Bram saat ini haruslah bersabar. Bila Aku menyangkal pernyataan Bram, Aku takut Bram akan melakukan hal yang buruk padaku.
"Manda, bisakah kau memilihku saja dan tinggalkan Gibran?" Bram meraih tanganku, lalu dia genggam begitu erat. Memohon untuk menjadi kekasihnya.
Hal yang tidak mungkin Aku lakukan. Mas Gibran adalah suamiku yang sangat berarti di hidupku. Mas Gibran adalah masa depanku. Sedangkan Bram adalah masa laluku. Aku tidak ingin kembali bersama orang dalam masa laluku, jika hingga kini mas Gibran adalah tempat ternyaman dan pelipur lara yang bisa membuatku bahagia di setiap hatiku.
"Ma-maafkan aku, ta-tapi aku tidak bisa meninggalkan mas Gibran," jawabku dengan sedikit ketakutan sambil menggelengkan kepalaku, menandakan bahwa Aku tidak bisa memilihnya.
Bram mendecih dan tersenyum miring sembari menatapku tajam.
"Kenapa? Kau sangat mencintainya? Lalu bagaimana denganku yang selalu mencintaimu hingga detik ini, hah?" Bentak Bram dengan sangat marah.
Aku sampai kaget hingga menutup mata dan telingaku sejenak. Tubuhku bergetar ketakutan. Sulit sih, tapi Aku harus berani mengemukakan pendapatku pada Bram.
"Memang berat merelakan orang yang kita cintai untuk bersanding dengan orang lain. Tapi kamu harus sadar, jika cinta tak harus memiliki, Bram!" ujarku pada Bram, berharap dia mengerti.
HAHAHAHA
Bram tertawa keras seolah mengejekku. Aku tahu jika perkataanku barusan sangat tidak masuk akal bagi Bram. Karena sekarang ini pikiran Bram hanya terbuka untuk egonya saja. Dia tidak memerlukan masukan dari orang lain bahkan diriku.
"Kau mengajariku arti sebuah mengikhlaskan, hah? Kau sekarang mulai pintar berkata mutiara sejak bersama Gibran. Tapi itu tidak berguna untukku, cantik!" Bram seakan tak terima, dia malah mendekatiku semakin dekat hingga tak ada lagi jarak antara Aku dan Bram.
Bram menatapku dengan tatapan yang penuh arti. Dia menatap mataku intens hingga jatuh pada bibirku yang sepertinya menggoda nafsunya.
__ADS_1
"Hentikan, Bram!" Teriakku sembari mendorong tubuhnya sekuat tenaga.