
Keesokan paginya, sengaja Aku berpakaian rapi dan berdandan yang cantik. Saat mas Gibran bersiap-siap ke kantor Aku pun menunggunya di meja makan. Ya, walau sekali pun mas Gibran tidak ingin sarapan denganku, tidak apa-apalah. Yang penting Aku sudah bersiap terlebih dahulu dari mas Gibran. Rencananya sih hari ini Aku mau ikut mas Gibran ke kantornya. Dan semoga mas Gibran membolehkan Aku untuk ikut dengannya.
"Mas sarapan dulu," seperti biasa Aku menyapanya untuk sarapan bersama.
Mas Gibran yang tadinya melangkah ke arah depan kini dia menghentikan langkahnya. Dia sesaat terpaku melihatku. Seperti inilah tatapan yang biasa mas Gibran perlihatkan saat dia terpesona oleh diriku. Aku sangat mengenal mata indahnya saat menatapku seperti itu. Aku sangat senang sekali. Apakah hatinya mulai mereda membaik padaku?
"Mas Gibran," sapaku membangunkan lamunannya.
Tapi seketika itu mas Gibran malah mengalihkan pandangnya ke arah lain.
"Ekhem, aku langsung berangkat kerja saja," tatapannya nanar seolah gugup tertangkap basah mencuri pandang padaku.
Aku tersenyum simpul. Lalu mas Gibran melanjutkan langkahnya. Dan Aku mengikutinya di belakang hingga masuk mobilnya.
"Ngapain kamu ikut masuk?" mas Gibran kaget.
"Aku ikut kamu ya, Mas. Aku bosen di rumah. Sekalian aku bantuin kamu di kantor," pintaku manja.
"Turun!" perintah mas Gibran.
"Pokoknya aku ikut kamu, Mas!" bantahku.
"Turun nggak!" perintahnya lagi.
"Nggak mau!" Bantahku tak menuruti perintah mas Gibran.
__ADS_1
CLING CLING CLING
Aku mengedipkan mata genit ku sambil tersenyum pada mas Gibran. Sontak mas Gibran kaget dan menggelengkan kepalanya dengan raut muka masam.
"Hei kau ... baiklah, kalau itu mau kamu!" Akhirnya mas Gibran menyetujui permintaanku walaupun terlihat ada keraguan di wajahnya, dan tak lama kemudian mas Gibran melajukan mobilnya.
Tidak ada percakapan di antara kami berdua di perjalanan. Sunyi, sepi dan tak ada musik yang menemani. Sungguh membosankan, ada orang tapi seperti tak ada orang. Di sapa namun tak ada jawaban. Walau Aku yang banyak bertanya padanya, namun mas Gibran lagi-lagi hanya diam saja. Hem, Aku semakin kesal dengannya.
Aku diabaikan olehnya, Aku seperti patung baginya, seperti boneka yang dipajang di lemari kaca rumah. Arghh, rasanya ingin Aku teriak sekencang-kencangnya di hadapannya. Namun Aku harus bersabar menghadapi sikapnya saat ini.
Akhirnya Aku bungkam, diam saja saat tidak ada respon apa-apa dari mas Gibran. Aku lelah jika sendirian yang mengoceh sejak tadi, mungkin telinga mas Gibran panas mendengarnya. Dan sebelum dia memarahiku lebih baik Aku juga diam seperti dia yang saat ini sedang fokus menyetir. Melihat wajahnya saja begitu tenang tapi tersirat menyeramkan.
Karena bosan, Aku mulai menyandarkan kepalaku ke belakang kursi, ku pejamkan mata hingga lama kelamaan Aku tertidur. Perjalanan begitu cukup panjang tapi Aku tidak menyadarinya. Tak lama kemudian Aku terbangun. Sontak Aku terkejut lalu melihat jam di pergelangan tanganku. Betapa terkejutnya diriku bahwa jam menunjukkan pukul 09.00, itu artinya Aku ketiduran selama satu jam. Dan mas Gibran sama sekali tidak membangunkan Aku.
Aku gelagapan, masih setengah sadar. Aku memastikan keadaan sekitar. Suasana tampak hening. Dan Aku mengarah pada jalanan. Aku heran lalu mengucek mataku untuk memastikan kembali daerah yang sedang ku singgahi dengan mas Gibran saat ini. Aku bingung karena daerah ini mengarah bukan tempat dimana kantor mas Gibran berada, melainkan ke tempat pusat perbelanjaan.
Aku langsung menoleh dan alangkah terkejutnya Aku bahwa mas Gibran masih duduk di depan kemudi seolah mengawasi ku. Aku benar-benar tidak sadar bahwa mas Gibran masih setia menemaniku. Lalu kenapa dia tidak langsung melajukan mobil ke kantornya saja? Bukankah ini sudah melewati jam kerjanya dia? Kenapa dia masih betah menungguku sampai Aku terbangun? Lalu kenapa mas Gibran nggak bangunin Aku sampai dia rela telat ke kantornya?
"Ma-maaf aku ketiduran, Mas. Tapi kenapa kita ke sini? Kenapa kita nggak langsung ke kantor saja, Mas?" tanyaku dengan permohonan maaf, jujur ada rasa takut di hatiku.
"Turun kamu! Aku sudah telat ke kantor karena kamu nggak bangun-bangun dari tadi, cepetan!" Aku bisa melihat wajah kesal dan marah mas Gibran padaku.
"Tapi ini bukan kantor kamu, Mas?" protes ku.
"Kalau kamu bosen di rumah, tinggal jalan-jalan saja ke Mall, lagi pula dari awal aku nggak niat ngajak kamu ke kantor, aku sibuk kerja dan aku nggak mau kamu ganggu aku di sana."
__ADS_1
"Tapi Mas...," protes ku lagi.
Bukannya mendengar, Mas Gibran malah ke luar dari mobil lalu jalan memutar membuka pintu sampingku, kemudian memaksaku untuk turun dari mobilnya.
"Turun!" ucapnya lagi.
"Aku nggak mau. Aku pengennya sama kamu, Mas!" Aku menepis tangan mas Gibran tapi sayangnya tenagaku tidak cukup kuat untuk mencegah mas Gibran menarik lenganku.
Alhasil Aku ke luar dari mobil atas paksaan mas Gibran.
"Kamu tega ninggalin aku di sini, Mas!" lirihku melihat sekitar.
"Lagian siapa yang ngajak kamu ke kantor? Udahlah, kamu nggak usah manja banget jadi perempuan. Taksi banyak kalau kamu mau pulang. Aku sibuk, nggak mungkin antar kamu balik lagi ke rumah," ketus mas Gibran dan dia langsung melangkah hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Mas ... mas aku ikut, please!" Aku mengejar mas Gibran dan menahan lengannya.
"Nggak usah ikut-ikut aku kerja, ribet tahu nggak!" mas Gibran menepis tanganku dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Mas ... Mas ... Mas tunggu!" Aku memukul-mukul kaca mobilnya sembari berjalan mengikuti gerakan mobil melaju, lama kelamaan mobil melaju cepat dan Aku tak sanggup mengejarnya.
Aku menghela nafas dengan kesal. Mas Gibran memang sudah tidak peduli lagi denganku apalagi dengan rengekan dan tangisanku.
Mas Gibran sama sekali tidak merasa bersalah telah meninggalkan Aku sendirian tepat di depan pusat perbelanjaan. Dasar suami tidak punya hati, pikirku.
"Benar-benar keterlaluan kamu, Mas Gibran. Nggak punya perasaan kamu, Mas!" Aku berteriak dengan kencang, tak peduli ada banyak mata yang melihatku dengan iba.
__ADS_1
Aku menahan tangisanku, sungguh sakit rasanya melihat suami yang tidak peduli lagi pada istrinya. Sebenarnya kenapa sih sampai segitunya mas Gibran nggak bolehin Aku datang ke kantornya? Padahal Aku nggak pernah ganggu dia kerja walau Aku ada di sana, malah Aku ngebantuin dia buat ngetik laporan atau nyusun berkas-berkas yang sedang menumpuk di ruang kerjanya. Namun sekarang berbeda, jangankan untuk melihatnya dan mengantarkan makanan, dia sama sekali tidak mengizinkan Aku datang ke kantornya lagi.
"Dasar ngeselin banget kamu, Mas!" ocehku dengan kesal.