Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Amanda Milikku


__ADS_3

Flashback On


Satu pesan diterima oleh Gibran. "Temui aku di apartemenku setelah kau pulang dari kantor. Aku tunggu. Jika kau tidak datang, maka tau sendiri akibatnya."


Apa yang dikhawatirkan oleh Gibran kini muncul kembali. Dulu setelah pernikahan Gibran dan Amanda terlaksana dengan baik. Tiba-tiba Gibran mendapat pesan ucapan selamat yang bernada ancaman, tak hanya itu bahkan pesan yang diterima Gibran hampir setiap hari. Dan telepon masuk yang selalu dia dapatkan juga bertujuan untuk mengingatkan dirinya.


Namun kala itu Gibran selalu tak peduli dengan hal tersebut. Tapi di bulan-bulan berikutnya Gibran semakin hari semakin was-was hingga dia tidak bisa fokus dengan hari-harinya di kantor bahkan bersama dengan Amanda sekalipun. Hal itu membuat hubungan Gibran dan Amanda memburuk. Gibran juga sudah memasrahkan bila suatu saat rumah tangganya bersama Amanda hancur.


Kali ini, Gibran tidak bisa berkutik lagi karena orang yang mengirim pesan itu sudah berada di Indonesia. Orang itu sengaja bersembunyi dari Gibran dan selama ini pun orang itu memata-matai Gibran beserta Amanda dengan menyewa orang kepercayaannya. Gibran sama sekali tidak mengetahui hal itu. Sehingga lama kelamaan orang itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertatapan langsung dengan Gibran, hanya Gibran saja yang akan dia temui bukan Amanda.


"Arghhh sial, seenaknya dia pergi lalu datang kembali saat aku baru merasakan kebahagiaan bersama Amanda. Cih, kali ini ancaman apa lagi yang akan dia berikan padaku," ujar Gibran terlihat sangat gelisah dan kacau.


Sepulang dari kantor, Gibran pergi ke apartemen sesuai dengan pesan yang dia dapatkan. Sebenarnya dia malas untuk menemui orang itu. Namun Gibran tak ingin dicap sebagai pecundang yang tak berani menemui orang brengsek yang tak punya adab, itulah pemikiran Gibran.


"Long time no see, Brother!" sapa seorang lelaki yang hendak memeluk Gibran.


Gibran langsung memundurkan tubuhnya ke belakang, dia serasa tidak sudi untuk bersentuhan dengan lelaki itu. Lelaki brengsek yang selama ini dia menamainya.


"Tidak udah basa-basi, bahkan aku tidak sudi berjabat tangan denganmu!" seru Gibran melotot sempurna ke arahnya.


"Cepat katakan, kenapa kau menyuruhku datang kemari?" tanya Gibran ketus.


"Santai, Bro jangan marah gitu dong. Ayo silahkan masuk dulu. Apa kau tidak merindukan sahabat lamamu ini, hah?" tanya lelaki itu dengan santainya.


Gibran mendecih kecil. Jangankan rindu, melihat wajah lelaki itu saja serasa muak apalagi berlama-lama di dalam apartemennya, Gibran tidak akan pernah betah di sana.

__ADS_1


"Langsung ke intinya saja. Aku nggak ada waktu banyak," ucap Gibran sok angkuh.


"Wow, begini kah cara bos besar menyapa sahabat lamanya? Hahaha, kau sudah banyak berubah Gibran Radhika," tawanya dengan renyah.


Gibran tak merespon tawa lelaki yang berada di hadapannya itu. Dia hanya geram sambil mengepalkan tangannya kuat. Rasanya Gibran ingin sekali memukulnya, tapi sebisa mungkin dia tahan.


"Cih, sahabat? Sahabat nggak akan pernah merusak rumah tangga sahabatnya sendiri. Dan persahabatan kita selesai saat kau melakukan hal hina menjijikkan waktu dulu, paham!" Tekan Gibran mengingatkan dengan kasar.


Lelaki itu menyentuh kedua bahu Gibran dengan tatapan yang penuh arti. Lagi-lagi Gibran tak sudi disentuh olehnya.


"Menjijikkan katamu? Kita lupakan dulu kejadian itu. Jadi begini, apa aku harus menceritakan kembali setelah kejadian yang kau bilang menjijikkan itu beberapa tahun lalu? Kalau saja ada mesin waktu yang bisa membuat kau mengingat semuanya di hari itu, maka aku akan membawamu ke sana. Sekarang aku ingin menagih janji padamu, bukannya mengancam, Bro!" Lelaki itu menyunggingkan senyum mengejeknya kepada Gibran, secara dia pun mengingatkan Gibran.


Gibran menepiskan tangan lelaki itu dengan kasar. Dia seolah tak sudi melihat ekspresi senyuman yang terpancar di wajah lelaki itu. Gibran sangat tahu sekali bahwa lelaki yang di hadapannya itu pasti akan menagih janjinya yang dulu. Tapi apalah daya Gibran. Seolah Gibran tak bisa memenuhinya.


Gibran pun langsung berbalik hendak melangkah pergi dari hadapan lelaki yang bernama Bram itu.


"Kau ingat baik-baik, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan membalas rasa sakit ku berpuluh-puluh kali lipat padamu, Gibran!" Ancam Bram yang membuat langkah Gibran sejenak terhenti dan membuatnya menoleh ke arah Bram.


"Silahkan, kalau kau bisa!" seru Gibran menantang.


"Sialan, Amanda itu milikku!" Bram membuat pengakuan dirinya sendiri.


"Dan sekarang Amanda milikku, dia istriku, suami dari Gibran Radhika. Kau harus ingat di otakmu!" Gibran menunjuk-nunjuk jarinya di kepalanya seakan mengejek Bram.


"Sialan kau, Gibran!" umpat Bram dengan geram, dia mengepalkan tangannya dengan kuat.

__ADS_1


Gibran tak peduli, dia hanya tersenyum puas ke arah Bram dan melanjutkan langkahnya kembali meninggalkan Bram.


Bram sangat kesal dan amarahnya memuncak.


"Lihat saja nanti, permainanmu sebentar lagi akan tamat Gibran," gumam Bram penuh dendam.


Bramantyo Wilson atau yang sering disapa dengan Bram, merupakan sahabat lama Gibran dan Amanda saat semasa kuliah dulu. Bram juga mempunyai perusahaan warisan ayahnya di luar negeri. Usianya sama dengan Gibran 26 tahun. Bram memiliki sifat yang baik tapi juga dia mempunyai sifat yang tak ingin dikalahkan. Ambisinya sangat kuat sehingga sampai menyakiti perasaan orang lain dan bahkan membuat hancur kehidupan orang lain.


Saat perjalanan pulang, Gibran kembali mendapatkan pesan dari Bram. Lantas Gibran menepi sejenak dan melihat isi pesan dari Bram tersebut. Karena tidak main-main, Bram tipikal lelaki yang sangat keras dan serius dalam ucapannya. Apalagi jika dia sudah mengatakan suatu ancaman maka bisa jadi orang yang diancamnya itu berakhir dengan kehancuran.


Maka dari itu Gibran selalu waspada akan hal yang buruk menimpa dirinya apalagi Amanda. Gibran tidak ingin Amanda kenapa-napa. Gibran tidak ingin Amanda mendapatkan kehancuran dua kali karena dirinya. Cukup, cukup untuk kali ini saja Bram mengotak-atik rumah tangga mereka. Namun Gibran berharap Amanda baik-baik saja dengan kehidupannya saat ini.


Pesan Bram : "Aku kasih waktu 3 bulan untukmu menceraikan Amanda bagaimanapun caranya, aku tidak peduli. Jika kau tidak melaksanakannya maka siap-siap untuk menerima kehancuranmu dan Amanda yang akan menjadi korban."


ARGHHHHH


BUGH


BUGH


Teriak Gibran sambil memukul-mukul setir mobilnya. Apa yang selama ini Gibran takutkan terjadi. Bram seolah tahu kelemahan dari Gibran, yaitu Amanda. Gibran pun tidak bisa mengelak lagi dengan ancaman yang diberikan oleh Bram. Apalagi menyangkut keselamatan Amanda.


"Sialan kau Bram. Aku menyesal pernah mengenal dirimu, dasar brengsek!" umpat Gibran menahan amarahnya.


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2