Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Percaya Padaku


__ADS_3

Suara yang sangat Aku kenal itu tepat sekali berada di belakangku. Aku ingin berbalik, namun sulit sekali tubuh ini digerakkan. Jika Aku berbalik, lantas apa yang akan Aku katakan? Sedangkan diriku cukup malu untuk berhadapan dengan mas Gibran. Aku merasa bersalah karena pergi meninggalkan dirinya saat statusku masih menjadi istrinya walau surat gugatan sudah dilayangkan oleh mas Gibran padaku.


"Kau mencari ku?" Tanya mas Gibran lagi yang kali ini sudah beralih tepat di hadapanku.


"Emm...," Aku sedikit kaget dan tak tau apa yang harus Aku katakan padanya.


Aku sekilas melirik mas Gibran setelah itu menunduk malu. Sungguh canggung sekali rasanya, seperti saat kencan pertama kali dengannya dulu.


"Ayo masuk, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu!" Pinta mas Gibran yang melangkah duluan masuk ke dalam rumah.


Aku kehabisan kata-kata, ingin rasanya Aku pergi dari rumah. Tapi Aku tidak ingin lari dari masalah seperti kemarin.


"Bu Amanda, ayo silahkan masuk. Biar Bibi yang bawakan kopernya ke dalam kamar," ucap Bibi pelayan.


"Ya, makasih Bi."


Aku pun masuk ke dalam dan melangkah terus sampai di depan kamar. Aku menatap kamar yang aku tempati bersama mas Gibran dulu, sungguh Aku merindukannya.


"Ayo masuk, kenapa hanya berdiri di situ," titah mas Gibran yang sepertinya sejak tadi menungguku.


Lalu Aku masuk ke dalam setelah Bibi pelayan ke luar menaruhkan koperku di kamar. Perlahan Aku melangkah dan duduk di sisi ranjang sedangkan mas Gibran masih berdiri menatapku tiada henti. Aku bisa melihat tatapan matanya mengarah padaku dengan intens, seperti ada sesuatu yang tersimpan di dalam pikirannya.


"Apa kau lelah? Kalau begitu kau istirahat saja dulu. Nanti aku kembali," kata mas Gibran yang hendak pergi melangkah.


"Tidak Mas!" sahutku cepat.


Entahlah, rasanya Aku tidak rela jika mas Gibran harus pergi dari hadapanku sekarang. Baru saja bertemu sudah mau pergi lagi. Apakah Aku tidak penting baginya? Hah, Aku lupa jika dia Minggu depan akan bertunangan.


"Lalu kenapa kau diam. Wajahmu juga terlihat pucat?" tanya mas Gibran.


"Emm ... i-ini Aku memang nggak memakai riasan saja," Aku langsung menyentuh kedua pipiku. Memang sejak Aku berangkat dari luar negeri, Aku lupa untuk memakai makeup saking buru-burunya pulang ke Indonesia.


"Oh, gitu. Lalu bagaimana dengan perjalananmu hari ini? Melelahkan bukan? Jika kau ingin istirahat, ya silahkan saja. Jangan dipaksa. Aku bisa menunggu, kok!" Lagi, mas Gibran mengingatkan tentang lelahnya diriku.


Apa sepucat itukah diriku di matanya? Atau jangan-jangan wajahku dan penampilanku terlihat kucel dan kacau? Pasti gara-gara Aku stres dan tidak tidur semalaman, jadi terlihat tidak menarik di mata mas Gibran. Ya Tuhan, kenapa Aku bisa ceroboh sekali sih.


"Emm ... ya a-aku ingin istirahat sebentar saja," ucapku sedikit gugup.


"Baiklah, nanti aku kembali," ujarnya dan melangkah pergi.


"Mas!" lanjut ku memanggilnya.


"Ya?" langkahnya terhenti sejenak.


Aku jadi serba salah. Aku hanya diam tidak tahu apa yang akan Aku katakan. Padahal ingin sekali Aku mengatakan 'tetaplah di sini bersamaku' tapi Aku tidak berani. Dasar tidak tahu malu Aku.

__ADS_1


"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" Tanyanya seakan menawarkan bantuan.


"Ti-tidak!" sahutku sambil menggelengkan kepala.


Mas Gibran hanya mengangguk pelan, setelah itu dia berlalu pergi.


Aku langsung bergegas bangkit dan masuk ke kamar mandi. Jujur kali ini Aku benar-benar speechless di hadapannya. Mendengarkan suaranya yang begitu lembut membuat jantungku berdetak kencang seperti saat dulu pertama kali Aku menjalin hubungan dengannya. Romantis sekali kala itu. Andai rumah tanggaku dan mas Gibran baik-baik saja, pasti hidupku selalu bahagia bersamanya.


Aku beralih melihat diriku di cermin, dan betapa terkejutnya Aku bahwa benar saja wajahku terlihat kusam, pucat dan bermata panda. Wajar saja bila mas Gibran beranggapan jika Aku butuh istirahat. Aku pun terlihat kucel sekali.


"Amanda, memalukan sekali penampilan dirimu!" gumamku lirih.


Aku membersihkan diriku dengan aroma terapi, merilekskan pikiran agar diriku merasa lebih tenang. Cukup lama Aku berendam di dalam bathtub, kemudian sudah rapi dengan pakaian santai ku. Aku duduk di atas ranjang menatap sekeliling ruangan kamarku yang begitu rapi dan bersih. Aku yakin pasti bibi pelayan yang selalu membereskan kamar ini.


Kamar yang selalu Aku rindukan kini sudah kembali menjadi milikku lagi. Aku pun memeluk bantal guling sebagai rasa nyaman melepas rindu. Suasana begitu damai, hingga tak sadar Aku pun ketiduran. Aku merasa tidurku nyenyak sekali.


HOAMMM


Aku merenggangkan otot tanganku kala terbangun dengan mata yang masih sayu dan sedikit perih karena terkena cahaya lampu di kamar. Sepertinya hari sudah malam. Lalu siapa yang menyalakan lampu di kamarku?


"Sudah bangun?" Tanya seseorang membuatku kaget.


"Astaga, Mas Gibran ... kamu di sini sejak kapan?" Aku langsung beralih ke arah pintu balkon di mana mas Gibran berdiri saat ini.


"Sejak tadi, aku kira kau sudah bangun. Ternyata masih tidur," Mas Gibran mendekatiku dan duduk di tepi ranjang.


"Oh ya, apa yang ingin Mas bicarakan denganku tadi?" Tanyaku mengingatkan, Aku berusaha tenang.


"Nanti, sekarang lebih baik kamu makan dulu," ujar mas Gibran sembari mengambil nampan berisi makanan dan minuman yang telah dia taruh sebelumnya di atas nakas. Aku baru menyadarinya.


"Kamu yang menyiapkan makanan ini, Mas?"


"Iya," jawabnya.


Mas Gibran mulai menyendokkan satu nasi beserta lauknya, laku menyodorkannya ke hadapanku.


"Makanlah, kau terlihat kurus sekarang ini. Apa makan mu tidak terjaga selama di luar negeri, Hem?" tanya mas Gibran seolah menyindirku.


"Jangan sok peduli padaku. Aku bisa makan sendiri," Aku kesal padanya.


"Sudah, makan saja. Aku suapin," kekeuh mas Gibran.


"Aku tidak mau!" Aku menyingkirkan tangan mas Gibran ke bawah.


Mas Gibran mulai melepaskan sendoknya ke atas piring.

__ADS_1


"Aku tahu kamu masih marah sama aku. Namun aku nggak mau kamu sakit," ucapnya dengan lembut penuh perhatian.


Aku merasa kali ini perlakuan mas Gibran berbeda. Aku jadi mengingat sifatnya kembali saat pertama kali mengenalnya. Inilah mas Gibran yang Aku kenal sejak dulu, yang baik, bicaranya lembut dan perhatian. Tapi kenapa perlakuannya berubah kembali menjadi baik? Apa dia menyadari kesalahannya saat Aku pergi darinya? Atau hanya sekedar mengingatkan perlakuan dirinya terhadapku sebelum kami berpisah? Sungguh Aku nggak bisa menebak perubahan mas Gibran yang sering berubah-ubah begini.


"Jangan sok peduli padaku jika hanya baikmu kau perlihatkan untuk perpisahan!" ucapku.


"Kau ingin perpisahan kita terjadi?" Mas Gibran bertanya.


"Kau sendiri yang menceraikan aku, Mas. Apalagi sebentar lagi kau akan bertunangan dengan perempuan lain. Itukah selingkuhan mu? Baiklah, aku akan segera menandatangani surat gugatan darimu, Mas!" Ucapku dengan mata berkaca-kaca hingga bersusah payah merangkai kalimat.


Aku bangkit dan mulai mencari surat gugatan di dalam nakas yang pernah mas Gibran berikan padaku. Tapi anehnya surat itu hilang. Aku yakin terakhir kali Aku menaruhnya di sekitar sini.


"Kau mencari apa?" Tanyanya.


"Surat gugatan itu, aku menaruhnya di sini tapi tidak ada sekarang," jawabku dengan tangan yang masih mencari-cari, mungkin saja terselip dengan kertas lain.


"Sudah, lupakan surat itu. Sekarang makanlah dulu!" Pinta mas Gibran menghalangiku mencari surat itu.


"Tapi...."


"Apa kau ingin kita bercerai, hah?" Tanya mas Gibran lagi.


"Kau sendiri yang menginginkannya, Mas. Hiks hiks hiks," Ucapku kali ini sambil menangis.


Mas Gibran mengambil tubuhku lalu dia dudukan Aku di atas ranjang kembali.


"Sekarang tenangkan dirimu."


"Bagaimana aku bisa tenang sedangkan kau akan bertunangan," Aku marah padanya.


"Dengarkan aku, semua akan baik-baik saja, ok. Sekarang makan dulu. Sejak kau pulang dari luar negeri belum ada makanan yang masuk satu pun. Ayo makan, please!" Bujuknya dengan lembut. Aku terhipnotis hingga Aku menurut apa maunya.


Aku melahap satu suapan sendok makanan ke mulutku dari tangannya. Perlahan Aku mengunyah makanan itu dengan susah payah karena sambil menangis.


"Sudah, aku kenyang!" Aku menghentikan suapan ke empat dari mas Gibran.


"Sekarang kau istirahat, jangan berpikir macam-macam. Percaya padaku, nggak akan terjadi sesuatu yang buruk pada kita," Mas Gibran menyentuh kedua pipiku, lalu ditatapnya wajahku. Aku melihat ada ketulusan dari kedua matanya.


Dia seolah memberikan bantuan agar beban masalah semuanya dilimpahkan hanya kepadanya. Aku hanya perlu percaya padanya saja.


"Aku nggak bisa percaya sama kamu, sedangkan dirimu akan menikah nanti," ucapku yang mungkin terlihat tidak suka di mata mas Gibran.


"Menikah? Sepertinya kau ingin sekali aku madu, hah?"


UHUK UHUK UHUKKK

__ADS_1


Aku tersedak kala mendengar kata 'Madu', satu kata itulah yang selalu menghantuiku hingga kini.


__ADS_2