
Bahagia yang dirasa bukan hanya dengan orang di sekitar melainkan bertemu dengan sahabat lama. Terkadang rasa rindu itu ada walau sudah tak lagi sering kami berjumpa, tak lagi sering berjabat tangan. Aku bahagia sekali bisa bertemu dengannya, mengenang masa-masa indah saat bersama dulu. Canda dan tawa menghiasi hari-hari.
Dan kini akhirnya Aku sendiri lagi. Menatap bangunan mewah yang megah, tapi sayang sedikit sekali penghuninya. Hanya sepi dan hening yang dirasa membuat suasana menjadi suram terkadang ketakutan. Aku pun mulai berjalan memasuki halaman, kemudian memasuki rumah dengan langkah malas. Jam pun sudah menunjukkan pukul 6 menjelang magrib. Lalu Aku masuk ke dalam kamar.
CEKLEK
"Huaaaaa, ngantuk!" gumamku sambil menguap.
Aku duduk di pinggir ranjang dan menjatuhkan tubuhku di sana. Aku memejamkan mataku sejenak, tak berniat untuk tidur karena sebentar lagi juga adzan akan segera berkumandang.
BRAKKK
"Astaghfirullahal'adzim," pekikku terkejut.
Aku langsung bangkit dari ranjang. Dan betapa kagetnya pula Aku melihat sosok lelaki yang terlihat baru saja membasahi tubuhnya dengan air. Dia lah mas Gibran yang rupanya baru saja selesai mandi dan dengan sengaja mendobrak pintu kamar mandi dengan keras supaya Aku terbangun dari ranjang. Dia kira Aku tidur, padahal kenyataannya tidak.
"Pelan-pelan saja kali, Mas tutup pintunya. Lagian aku nggak tidur beneran kok," ujarku menatap mas Gibran yang sedang memakai bajunya di depan cermin. Dia hanya diam, entah mendengarkan atau tidak.
Aku berjalan hendak menghampiri mas Gibran.
"Mas, tadi aku ketemuan sama...."
"Sssttt, aku tidak mau mendengarkan cerita kamu. Diam dan jangan ganggu aku!" ujar mas Gibran yang langsung memotong perkataanku.
"Tapi, tadi aku...."
"Diam kataku! Aku tidak peduli kamu bertemu dengan siapa, paham. Jangan ganggu aku!" Bentakannya kali ini sungguh membuatku menitikkan air mata. Sungguh kejam mas Gibran.
Aku langsung berjalan masuk ke kamar mandi.
BRAKKK
Hiks...hiks...hiks
Rasanya aku sudah tidak tahan lagi berhadapan dengan mas Gibran. Dia sudah menjadi orang asing bagiku, orang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya. Sifatnya semakin hari semakin menyebalkan dan memuakkan. Setiap kali aku dibuat sakit olehnya.
__ADS_1
Menikah cukup lama membuat Aku mengenal suamiku luar dalam. Ini memang hal yang bagus, tetapi ada juga efek negatif dari 'terlalu kenal' dengan suami. Ketika sudah menikah dan tak lagi menjaga image, tentu setiap orang akan merasa lebih nyaman menjadi diri sendiri. Sayangnya, kenyamanan ini dapat menyebabkan melupakan hal-hal kecil saat pasangan tidak begitu mengenal satu sama lain.
Ketika dihadapkan dengan situasi yang membuat stres, terkadang lupa hanya untuk sekadar berbasa-basi, atau sering menunjukkan antusiasme, pendapat, hingga apresiasi kepada pasangan. Tutur kata menjadi sedikit lebih tajam, dan terkadang cenderung lebih sering mengkritik dan mengeluh pada pasangan. Sejatinya, perlu menghindari kecenderungan untuk berperilaku seperti itu ketika hubungan dengan pasangan tidak berjalan lancar.
*******
Keesokan harinya, masih di rumah kediaman Gibran Radhika.
"Buatkan aku kopi, cepetan!" titah mas Gibran setelah dia pulang dari kantor.
Saat itu dia pulang jam 8 malam, menemui ku yang tengah menonton TV. Ya, sengaja Aku berada di sana karena rasa bosan melanda. Lalu, ada angin apa mas Gibran memintaku membuatkan kopi untuknya? Apa mungkin karena Aku cuek dengan kepulangannya? Tidak menyambutnya sama sekali. Ya, Aku sudah tidak peduli lagi dengan mas Gibran. Masa bodoh dirinya mau marah atau apalah padaku.
"Woiiiii, buatkan aku kopi. Kamu budeg atau apa sih!" titahnya lagi, kali ini mas Gibran sudah sangat keterlaluan. Bahkan tidak lagi menyebut namaku malah menghinaku.
"Astaghfirullahal'adzim," batinku lirih, mataku mulai berkaca-kaca.
"Kalau diperintahkan oleh suami itu nurut, jangan diem aja, kayak nggak punya mulut aja kamu," katanya dengan gaya mengejek.
"Jangan lupa, ya Mas. Aku seperti ini juga karena perlakuan semena-mena kamu ke aku!" Tegas ku menahan tangisan.
Aku pun bergegas ke dapur membuatkan suamiku kopi pesanannya sesuai dengan kesukaannya.
"Nih kopinya," dengan sopan Aku meletakkan kopi itu tepat di hadapannya.
Tanpa mengucapkan terima kasih dan tanpa menatapku, mas Gibran langsung mengambil kopi buatanku itu dengan cara sedikit menyeruputnya.
CUIHHHH
WEKKK
"Kopi apaan nih, rasanya nggak enak. Kamu mau bunuh aku, hah?" Mas Gibran menaruh cangkir berisi kopi itu ke tatakan piring kecil dengan sangat kencang.
"I-itu kopi yang biasa aku buat untuk kamu kok, Mas. Mana mungkin aku mau bunuh suami aku sendiri," Aku menyangkal dengan suara gugup.
"Coba aja sendiri, tuh!"
__ADS_1
"Kopinya masih panas, Mas."
"Halahhhh, dasar kamu nggak becus jadi istri."
"Astaghfirullahal'adzim, kamu keterlaluan banget ngatain aku Mas."
"Ya sudah, sana cobain kopinya!" pintanya lagi dengan lantang.
Aku pun dengan hati yang tak karuan langsung mengambil kopi tersebut. Aku semakin penasaran dengan rasanya. Apakah benar yang dikatakan oleh mas Gibran bahwa kopi buatanku itu tidak enak atau hanya akal-akalan dia saja untuk menyalahkan Aku?
Pelan-pelan Aku menyeruput kopi itu sambil melirik mas Gibran dengan pandangan nanar.
"Ini enak, kok. Rasanya nggak aneh sama sekali, malah sama persis seperti biasa aku buat untuk kamu," Aku sangat kesal sekali pada mas Gibran seolah dia mempermainkan Aku, istrinya sendiri.
"Jelas enaklah, orang kamu sendiri yang bikinnya," bantah mas Gibran tidak mau kalah.
"Nih, kamu minum lagi kalau nggak percaya," Aku menyodorkan secangkir kopi tadi ke mas Gibran.
"Halahhh sudah basi, males aku minumnya!" mas Gibran menepis kopi itu hingga setengah airnya tumpah ke lantai.
"Astaghfirullahal'adzim, Mas ... kamu...!"
"Apa ... apa, hah? Mau marah sama aku?" Mas Gibran melototkan matanya padaku.
Aku menaruh secangkir kopi ke tempat semula. Lalu Aku menatap mas Gibran dengan hati yang sangat kecewa.
"Aku kira hati kamu saja yang berubah, nyatanya otak sama indra perasa kamu juga ikut-ikutan error," kataku menyinggungnya.
"JUJUR, AKU SUDAH NGGAK TAHAN SAMA SIKAP KAMU, MAS!" Tekan ku dengan mata berkaca-kaca.
Aku langsung melangkah pergi meninggalkan mas Gibran sendirian dengan ditemani TV yang masih menyala dan juga secangkir kopi yang dianggapnya aneh itu.
"SILAHKAN PERGI DARI SINI JIKA KAMU SUDAH NGGAK TAHAN SAMA SIKAP AKU," Teriaknya dengan sangat lantang.
Perkataan kasar pasangan bukanlah hal yang pantas untuk dilakukan karena istri pada dasarnya memiliki hak untuk dihormati, dihargai dan diperlakukan dengan pantas. Cukup, sudah cukup Aku sakit dibuatnya. Aku sudah lelah dengannya. Kini sudah waktunya Aku harus bertindak.
__ADS_1