
Jodoh terkadang datang dari arah yang tidak pernah kita sangka sebelumnya. Mencari jodoh memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Terkadang seseorang harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan jodoh yang sesuai harapan.
Perihal jodoh memang sangat misteri dan tidak ada yang mengetahuinya dengan baik. Kita hanya bisa menjalani, dan mempunyai kriteria seperti apa orang yang ingin mendampingi hidup kita. Tak ada salahnya dengan semua kriteria yang telah ditetapkan. Hanya saja, yang baik menurut kamu belum tentu juga baik menurut Sang Pencipta.
Tapi bagaimana dengan yang sekarang ini. Aku melihat wanita yang dulunya mencari perhatian pada mas Gibran, yang memang saat itu mas Gibran tidak pernah memiliki perasaan apa-apa terhadap dirinya selain teman. Namun sekarang kenyataannya berbeda. Kenapa mereka malah akan bertunangan?
Ada orang bilang bahwa "janganlah membenci seseorang, bisa jadi kamu akan jatuh cinta padanya."
Dulunya mas Gibran membenci Claudia karena tingkahnya yang selalu tebar pesona pada setiap lelaki terutama mas Gibran tentunya. Dan sekarang, apakah mungkin mas Gibran telah jatuh cinta pada Claudia hingga mereka memilih untuk bertunangan? Sungguh tidak bisa dipercaya.
"Tidak, tidak mungkin. Bagaimana bisa mas Gibran memilih Claudia sebagai tunangannya? Aku nggak percaya!" ucapku yang belum bisa berhenti mengomel sejak tadi. Dadaku terasa sakit dan merasa kecewa. Tiba-tiba kepalaku menjadi pusing.
Awalnya Aku masih tenang dan mencoba untuk menguatkan hatiku agar tidak terluka. Tapi saat Aku melihat Claudia, hatiku seperti terbakar dan tak rela bila mas Gibran bersatu dengan wanita tebar pesona itu. Sangat bertolak belakang sekali sifat mereka.
"Udah, mending lihat saja dulu, baru komplain. Jangan banyak pikiran, ntar stres loh, Mbak!" Dewi begitu tenang dan santai menanggapi pertunangan mas Gibran. Aku merasa heran.
"Sebelum datang kemari saja Mbak sudah stres. Kamu kok bisa tenang gitu sih, Wi. Kamu senang ya kalau mas Gibran bertunangan dengan perempuan lain?" Tanyaku kesal.
"Ya, nggaklah Mbak. Lagian mereka juga belum menikah, baru mau tunangan. Jadi ada kesempatan besar untuk Mbak Manda bersatu kembali dengan mas Gibran," ujar Dewi yang masih saja santai menanggapi.
Aku hanya menghela nafas kasar dan tak merespon ucapan Dewi. Semakin lama berbicara sama Dewi, semakin membuatku kesal. Tingkahnya sejak tadi begitu santai dan seperti tak ada masalah. Dia anggap pertunangan mas Gibran hanyalah hiburan baginya. Tapi buatku adalah racun dalam rumah tanggaku, apalagi saat melihat calon tunangannya adalah Claudia.
Aku memang tak bersemangat untuk menonton acara pertunangan mereka sejak tadi. Lebih baik Aku pulang ke rumah, bisa makan, tidur dan nonton TV. Tak ingin berlama-lama, Aku pun mengambil tas dan hendak melangkah pergi dari kamar hotel yang sudah dipesan itu. Terserah Aku tak peduli.
"Eh, eh Mbak Manda jangan pulang dulu. Sebentar lagi acara besarnya akan dimulai, seru loh!" Dewi mencegahku untuk pulang sembari membujukku.
__ADS_1
Tubuhku ditarik kembali ke sofa dan dihadapkan lagi pada laptop yang merekam jalannya acara pertunangan yang akan dimulai, dan menurutku sangat tidak layak untuk ditonton.
"Apa lagi sih yang harus dilihat? Mbak muak dengan tontonan itu!" kesal ku.
"Bentar lagi, please! Tuh, tuh lihat ke depan. Seru banget kali," ucap Dewi antusias.
Pandanganku pun beralih menuju laptop dengan seksama apalagi saat mas Gibran terekspos dengan jelas dan mulai berbicara sesuatu. Aku jadi penasaran.
"Selamat sore semuanya. Terima kasih atas kedatangan kalian, teman-teman sekalian. Sengaja saya mengundang kalian di hotel ini, sebenarnya sudah sangat lama saya nantikan. Sebelum acara dimulai, izinkan saya untuk menampilkan sesuatu yang sangat penting. Sebenarnya ini adalah sesuatu yang pribadi, tapi saat ini adalah momen yang tepat untuk di perlihatkan agar tidak ada kesalahpahaman. Sebelumnya saya minta maaf pada pihak yang terkait nantinya," mas Gibran membuka acara sambutan yang terlihat seperti sebuah pesan. Hanya dia saja yang terlihat menonjol. Aku semakin penasaran.
Tak lama kemudian, semua mata tertuju pada layar yang cukup besar berada di belakang mas Gibran.
Video sedang diputar.
"Apa yang kau lakukan, Bram? Hentikan trik kotor mu itu untuk mendapatkan Amanda dengan cara pecundang. Jika kau lakukan itu, maka hidupnya akan hancur."
"Amanda wanita baik-baik, jangan kamu curangi dia dengan cara licik kamu, Bram. Seharusnya kamu bersyukur memiliki Manda yang polos seperti itu."
"Hei Gibran, kamu tahu kan sebentar lagi aku mau ke luar negeri untuk mengambil alih perusahaan papaku? Jadi untuk berjaga-jaga, aku harus mendapatkan Amanda seutuhnya agar dia tidak bisa pergi dari pria lain. Aku tidak rela bila Manda mendapatkan pria selain diriku. Makanya aku menggunakan cara kotor seperti ini. Sudahlah, jangan ikut campur urusanku,"
Video durasi dipercepat.
"Sialan kau Gibran. Obat itu hanya satu dan sekarang kau menghancurkannya. Dasar gila kau. Kau ini sahabat atau musuhku, hah? Atau jangan-jangan kau menyukai Amanda? Dasar brengsek kau!"
Video durasi dipercepat.
__ADS_1
"Baiklah, aku minta satu hal padamu. Selama aku di luar negeri, aku ingin kau jagakan Amanda untukku. Jangan sampai Amanda di dapatkan pria lain. Setelah perusahaan ayahku dialihkan padaku, aku akan melamarnya."
"Baiklah Aku setuju."
"Deal?
"Deal."
Pemutaran video selesai.
DEG
Semuanya telah terungkap dan siapa yang harus disalahkan. Di video itu sangat jelas Aku lihat dan dengar tanpa ada yang terlewati sedikitpun. Aku melihat mas Gibran dan Bram saling berkelahi. Wajar saja saat aku datang ke apartemen malam itu terlihat wajah mereka berdua babak belur. Mereka pun tak berbicara jujur padaku, dan bodohnya Aku percaya pada mereka. Namun sekarang Aku tahu kenyataannya. Jadi artinya mereka berkelahi karena diriku.
Air mataku tak berhenti mengalir. Aku memegangi dadaku yang merasakan sakit. Aku sangat bodoh dan menyesali sesuatu. Dulu Aku pernah menyesali perbuatanku karena mengkhianati Bram, tapi pada akhirnya Aku sadar bahwa Bram adalah lelaki yang memang harus Aku hindari sejak dulu. Seharusnya waktu itu Aku peka saat tau mas Gibran melarang ku untuk tidak selalu percaya pada Bram yang notabenenya adalah lelaki yang jahat, egois dan mesum.
Nyatanya suamiku, mas Gibran adalah pahlawan bagiku sedari dulu. Dia menyelamatkan Aku dari Bram si lelaki pengecut, walau mungkin keadaannya saat itu mas Gibran terpaksa untuk menikahi ku. Tapi tetap saja mas Gibran telah berbuat baik dan peduli padaku. Namun Aku yakin bahwa mas Gibran sejak saat itu mulai ada rasa padaku dan sampai detik ini suamiku itu hanya mencintaiku seorang. Ya, mas Gibran pasti mencintaiku.
"Mbak, are you ok?" tanya Dewi yang terlihat mengkhawatirkan Aku. Dia menepuk-nepuk pundakku pelan seolah menenangkan ku.
Aku hanya mengangguk dan menghapus air mataku perlahan.
"Mbak harus menemui mas Gibran, sekarang!" Aku hendak bangkit berdiri.
"Jangan pergi, acaranya belum selesai, Mbak. Masih ada lanjutannya. Sayang kalau dilewatkan. Bakal seru nanti," Lagi, Dewi mencegahku untuk pergi.
__ADS_1
"Apa lagi?" Aku mengernyit heran.