
Setiap orangĀ yang membina rumah tangga pasti akan merasakan kebahagiaan, kesedihan dan berbagai cobaan hidup. Salah satunya adalah ujian yang terkadang kita jumpai, karena hakikatnya hidup ini adalah ujian untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam perjalanan rumah tangga terkadang ada suatu hal yang menguji keimanan dan kesabaran seorang istri, misalnya tentang sifat atau perilaku suami yang terkadang membuat sakit hati atau merasa tidak mendapat hak sepenuhnya sebagai seseorang yang dihidupi dan dilindungi.
Seorang istri erat dengan kewajibannya sebagai seseorang yang mengabdi, yakni yang melayani suami dalam segala keperluannya, menyediakan makanan untuk suami, serta menuruti perintah suami selama suami memerintah suatu urusan yang sesuai dengan syariat islam. Istri selalu berada pada peringkat kedua atau di bawah suami karena memang sudah menjadi kodratnya.
"Baiklah, Aku akan mulai dari menyapu halaman, lalu membersihkan rumah dan terakhir memasak. Aku akan lakukan semuanya, semangat Amanda, kamu harus bisa, fighting!" Aku menyemangati diriku sendiri, berjalan ke halaman depan rumah sambil memegang sapu.
Ya, saat ini Aku akan menyapu halaman rumah dari depan hingga belakang. Semoga Aku bisa melakukannya dengan baik.
Aku menjalani kehidupan seorang istri yang sesungguhnya, inilah kehidupanku yang sekarang. Aku harus terbiasa walau diri ini sebenarnya belum terbiasa dan memang tidak terbiasa sebelumnya. Ya, hidupku dulu nggak gini-gini amat, tapi sekarang kenapa Aku merasa seperti banyak beban bahkan pekerjaan. Namun sebisa mungkin Aku menjalaninya dengan ikhlas.
"Loh, tumben Mbak Amanda yang bersih-bersih halaman, biasanya juga pelayan?" salah satu tetanggaku menyapa dan bertanya soal pekerjaan yang Aku lakukan saat ini.
"Oh, itu karena semua pelayan ambil cuti pulang kampung, Bu!" jawabku berbohong.
Tidak mungkin kan jika Aku mengatakan yang sebenarnya, bahwa suamiku lah yang memecat semua pelayan dan sekarang pekerjaan rumah dilimpahkan semuanya padaku. Kalau Aku bercerita jujur, maka semua orang akan beranggapan buruk terhadap mas Gibran. Ya, padahal memang kenyataannya begitu.
"Owalahhh, cantik-cantik berubah profesi toh. Hati-hati loh, Mbak nanti kena panas jadi hitam mukanya," ucapnya, entah memberi semangat, menghiburku atau menghinaku. Aku nggak peduli.
"Ya, Bu terima kasih," sahutku dengan seramah mungkin.
Wajar saja bila ada tetangga yang berkata seperti itu, karena mereka tahu sehari-hari biasanya pelayan yang mengerjakannya. Mungkin mereka heran kenapa harus Aku yang mengerjakan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh pelayan, apalagi halaman rumahku dan mas Gibran mempunyai halaman seluas rumah orang kaya pada umumnya. Aku berharap tetanggaku tidak berpikir yang aneh-aneh.
Aku harus bagaimana jika sudah seperti ini. Aku juga tidak mungkin melanggar perintah suamiku. Tapi dalam hatiku, jujur Aku sangat kecewa atas apa yang mas Gibran lakukan padaku akhir-akhir ini. Dia seenaknya saja menyuruhku ini dan itu. Janjinya tidak semanis dulu dan tak seindah yang kubayangkan saat bersamanya di awal pernikahan.
__ADS_1
Yang Aku yakini sekarang adalah kekecewaan tidak dimaksudkan untuk menghancurkan, namun dimaksudkan untuk memperkuat diri sendiri.
Jadi seorang istri haruslah bersabar dan menerima suami apa adanya, sebab itulah yang menjadi niat awalnya ketika menikah yakni menjadi seorang istri yang taat sehingga dapat menjadikan pernikahannya sebagai jalan menuju surga.
Dalam membina rumah tangga, seorang istri juga harus bisa menahan dirinya dari keluh kesah terhadap sikap suami, perlakuan suami, serta ujian yang datang menghampiri. Meski tidak mudah, namun kita diperintahkan untuk tetap melatihnya.
Dert dert derttt
Astaga, Aku baru sadar bahwa ada panggilan telepon dari Dewi, yang hari ini mulai resmi bekerja menjadi sekretaris mas Gibran di kantor. Pasti Dewi mau memberitahu sesuatu padaku.
Hallo Mbak kemana saja dari tadi aku telepon nggak diangkat. Ini yang ke 7 kali panggilan dariku loh.
Ya, maaf Mbak banyak kerjaan tadi, jadi ponselnya disimpan di kamar.
Banyak kerjaan? Kerja apaan, Mbak?
Nggak ada, aku cuma mau tanya, mas Gibran sampe siang gini belum ke kantor lagi, padahal dia keluar dari jam 10 pagi. Apa mas Gibran pulang ke rumah untuk makan siang? Setengah jam lagi ada meeting, nih. Aku teleponin dia juga nggak diangkat sama suami kamu Mbak.
Dia nggak ada pulang ke rumah, Wi. Mending kamu siapin saja semua berkas-berkas meeting nya terlebih dahulu, biar nanti nggak ribet banget kalau mas Gibran balik kantor.
Ok deh, Mbak.
Namun belum sempat sambungan telepon kami terputus, ada suara bariton yang cukup menggema sampai ke telingaku. Dewi juga belum sempat mematikan ponselnya.
"Dewi, siapkan semua bahan meeting ke ruangan saya," ucapnya, Aku tau banget ini adalah suaranya mas Gibran.
__ADS_1
"Eh, i-iya Pak," jawab Dewi terdengar gugup.
"Kamu lagi teleponan?" tanya mas Gibran mendominasi.
"Ah, enggak Pak. Saya tadi mau telepon Bapak, eh rupanya Bapak datang," ucap Dewi beralasan.
"Ya sudah, cepat siapkan berkasnya sekarang juga. Aku nggak mau sampai telat meeting nya nanti," perintah mas Gibran yang terdengar dingin dan Aku mendengar samar-samar langkah mas Gibran pergi meninggalkan Dewi.
"Huh, hampir saja!" gumam Dewi menghela nafasnya dengan lega.
Aku yakin pasti Dewi cemas setengah mati, hampir saja ketahuan bahwa Dewi berteleponan denganku. Semuanya akan terbongkar dan mas Gibran pasti marah besar nanti.
Hallo Dewi, kamu baik-baik saja?
Ah, iya Mbak. Jantungku hampir aja copot mendengar mas Gibran sudah ada di belakangku tadi. Untung saja dia nggak denger kita bicara Mbak.
Lain kali hati-hati, lihat dulu situasi di sana. Memang terkadang mas Gibran datang dengan tiba-tiba.
Ok, deh Mbak. Aku tutup teleponnya dulu. Aku mau kasih berkas meeting sama mas Gibran sekarang. Bye Mbak Amanda.
Bye Dewi.
Telepon pun terputus. Aku tersenyum hambar teringat suara mas Gibran dari seberang sana. Walau jarak kami jauh, Aku senang mendengar suaranya. Tapi sayang sekali, suara ramah dan lembutnya yang dulu tidak lagi terdengar, melainkan dingin dan ketus.
"Aku rindu kamu, mas. Aku rindu suara kamu saat memanggilku dengan kata sayang, aku rindu belaian kamu dan kasih sayang kamu ke aku, mas!" gumamku lirih, tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipiku.
__ADS_1
"Ya Allah, tolong kembalikan mas Gibran kepadaku seperti dulu dengan sikap dan perilakunya yang hangat dan tulus," Aku berdo'a semoga hubunganku dan suamiku membaik seperti sedia kala.
Seberapa pun besarnya sebuah luka dan kekecewaan, semua itu merupakan cobaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Pada saat itulah kita bisa mendapatkan pelajaran dari sebuah kesuksesan. Sebaik-baik cinta adalah pernikahan. Dan sebaik-baik mencintai adalah saling mendo'akan.