
Semua orang pasti mempunyai kenangan masa lalu. Mau itu kenangan manis ataupun kenangan buruk. Terkadang kita merasa bahagia bila mengenang masa-masa indah. Tapi juga terkadang merasa benci mengenang masa lalu yang buruk, ada juga rasa malu yang ingin kita lupakan dari hidup kita. Rasanya kenangan buruk itu harus dilenyapkan dari memori kita. Ya, setidaknya ambil hikmahnya saja atas apa yang sudah kita lewati di masa itu.
Ada kalanya kita merindukan kenangan indah bersama seseorang yang membuat kita bahagia pada masa itu. Ingin kembali di kenangan indah itu, tapi tidak mungkin dan tidak akan pernah terjadi, apalagi bila mengingat kenangan buruk yang terjadi setelahnya. Terkadang kita lupa, bahwa di dunia ini kebahagian dan kesedihan muncul satu persatu dan bisa muncul berbarengan.
Tapi Aku tetap bersyukur, bahwa diriku tetap memilih untuk melupakan masa lalu yang buruk dan bersiap untuk menghadapi masa sekarang, masa yang akan datang. Aku juga harus siap pada kenyataan tentang hubunganku dan mas Gibran selanjutnya.
"Are you ok?"
"Ya, a-aku baik kok. Kenapa sih, emang ada yang aneh dari aku ya?" tanyaku sedikit ragu.
"Nggak kok, cuma aku perhatikan pertama kali aku ketemu kamu dan kedua kali ini wajah kamu terlihat nggak baik-baik saja, gitu. Ya, itu menurut aku sih."
"Ah, sok tahu kamu. Aku baik-baik saja dan aku sehat," bantahku dan menampakkan senyum terbaik seadanya.
"Kamu bahagia menikah dengan Gibran?" tanyanya kembali.
"Hah, emm ... ba-bahagia, sangat bahagia," ucapku gugup dan berbohong.
Sungguh kali ini suaraku terdengar aneh dan juga mencurigakan baginya. Aku bisa melihat dari tatapan matanya saat melihatku dan menelisik wajahku dengan begitu intens.
"Aku harap kamu jujur, karena aku nggak rela melihat kamu nggak bahagia dengan Gibran. Aku akan murka dan menghajar Gibran dengan tanganku sendiri. Kamu tahu aku, kan?" ungkapnya dengan nada ancaman.
"Ihhh, apaan sih nggak usah sok jagoan deh. Kamu lebay tahu nggak. Selalu saja bikin aku jantungan," ujarku mencairkan suasana.
"Bagus dong. Apa sekarang masih deg-degan kalau berhadapan denganku?"
Jujur, memang ada sedikit getaran saat Aku berada di dekatnya. Tapi Aku tidak tahu harus berkata apa. Namun hatiku kini tidak fokus untuk menjawab karena bayang-bayang imajinasiku selalu tertuju pada mas Gibran.
"Sudah ah, aku pulang nih kalau kamu becanda terus," Aku bangkit berdiri namun tanganku ditahan olehnya.
Dia tersenyum menatapku, senyuman yang sangat teduh Aku rasakan. Hatiku yang sakit oleh mas Gibran kini hilang seketika saat melihat senyuman seseorang yang sekarang berhadapan tepat di depanku.
__ADS_1
"Ok, maaf ... sekarang aku serius. Aku mau jujur sama kamu. Sungguh, rasa penyesalan yang aku rasakan bertahun-tahun lamanya membuat aku tersiksa, Manda. Dulu aku nggak bisa bertahan untuk hubungan kita. Tapi Aku malah memilih mundur." Dia memegang bahuku dan menatap dalam mataku. Memang Aku akui saat Aku melihat wajahnya ada rasa penyesalan dalam dirinya.
"Namun satu hal yang harus kamu tahu, Manda. Bahwa hatiku masih bertahan dengan nama Amanda Wulandari dan itu nggak bisa digantikan dengan perempuan manapun. Andai kamu masih sendiri, apapun akan aku lakukan agar kita bisa kembali bersama." Lanjutnya lagi yang kali ini wajahnya penuh kecewa. Itu terlihat dari helaan nafasnya yang pasrah.
Tak terasa air mataku mengalir membasahi pipiku. Sekilas Aku langsung menghapus air mata itu. Aku sangat menyayangkan kisah hubunganku dengan pria ini, pria yang dulu memang ada di hatiku. Perlakuannya padaku sangatlah sopan dan bijak. Selalu menghargai ku dan memperlakukan aku sebagai perempuan yang baik-baik. Hari-hari yang Aku lalui bersamanya pun sangatlah berwarna dan bahagia. Jujur, Aku sangat merindukan kenangan indah bersamanya. Seketika itu Aku menghapus air mataku dengan cepat.
"Maafkan aku, Amanda. Apakah ada sisa sedikit saja rasa cintamu untukku?"
Aku terdiam. Jujur aku tidak bisa menjawab pertanyaan dia. Satu sisi, statusku adalah istri mas Gibran dan Aku juga mencintai suamiku. Tapi jujur dari hati yang paling dalam, Aku masih merindukan sosok lelaki yang dulu pernah mengisi hari-hariku dengan bahagia.
"Aku...."
Dert dert derttt
Tiba-tiba ada panggilan telepon dan Aku pun langsung menjawabnya dengan perasaan yang tak karuan.
Hallo Mama.
I-iya, Manda pulang sekarang ya, Ma.
Tut Tut tuttttt
Panggilan telepon terputus.
Aku menatap wajah pria itu dengan nanar, begitu memilukan. Hatiku seperti teriris, merasa tak tega. Awalnya biasa saja tetapi semakin lama semakin sakit dan terluka.
"Aku pulang duluan, ya. Mama Seina sudah menungguku di rumah. Terima kasih untuk hari ini," Aku langsung melangkah setelah berpamitan dengannya.
"Tunggu!"
Dia mencegah langkahku.
__ADS_1
"Setelah ini kita masih bisa bertemu, kan?" Dia bertanya dengan ragu.
Aku menoleh ke arahnya dan menganggukkan kepalaku saja.
"Terima kasih," ucapnya tersenyum.
Setelah mengatakan itu, kali ini Aku melangkah pergi meninggalkan dia sendiri di kafe tempat biasa Aku bertemu dengannya.
Jujur, hatiku terasa senang bisa melihatnya kembali tetapi dilain sisi hatiku sedih karena memikirkan nasib kisah rumah tanggaku dengan mas Gibran yang sedang kacau. Setidaknya, suasana hatiku yang awalnya diaduk-aduk oleh mas Gibran telah terobati dengan kehadiran seseorang di masa laluku.
*******
"Assalamu'alaikum, maaf menunggu lama ya, Ma?" Aku langsung menyalami Mama Seina setelah Aku memasuki rumah.
Kebetulan Mama sedang duduk di sofa ruang tamu. Mungkin Mama Seina sengaja menunggu Aku pulang. Makanya dia duduk di ruang tamu.
"Mama mau bicara sama kamu, Manda. Apa benar kamu dan Gibran akan pisah? Memangnya kalian ada masalah apa sampai-sampai kalian akan bercerai?" tanya mama dengan raut wajah yang sedikit kesal.
DEG
Aku lemas seketika. Jantungku mulai berdetak cukup kuat. Aku berharap tidak pingsan di sini. Tapi Aku tidak sanggup untuk menjawab apa yang dikatakan oleh mama Seina. Tapi Aku berusaha tetap tenang dan mengambil nafas dengan benar.
"Ber-bercerai? Maksud Mama ... aku dan mas Gibran tidak akan sama-sama lagi, gitu?" suaraku bergetar menanyakan balik soal pertanyaan yang mama Seina layangkan.
"Iya, apa benar kamu dan Gibran akan bercerai? Katakan, ada masalah apa sebenarnya kalian? Mama pikir hubungan kalian baik-baik saja, kan? Mama nggak setuju kalian pisah. Tolong pikirkan kembali," ujar mama Seina tak henti melayangkan pertanyaan yang tidak masuk akal di otakku.
"Ma-mama tahu dari siapa jika aku dan mas Gibran akan bercerai?" tanyaku dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Gibran sendiri, dia yang bilang sama Mama tadi."
DUARRR
__ADS_1
"A-apa ... mas Gibran?" tanyaku lirih.