
Sore pun tiba, tapi mas Gibran belum juga pulang ke rumah. Padahal ini sudah lewat setengah jam ketika dia pulang dari kantor. Tapi tak mengapa, Aku akan selalu menunggunya dengan sabar. Hingga magrib menjelang, mas Gibran juga tak kunjung datang. Aku meneleponnya berkali-kali tapi sama sekali tidak ada jawaban darinya. Lagi-lagi tubuhku lemas dan pikiran buruk mulai mengganggu.
Hingga kini malam pun tiba, Aku tetap menunggu suamiku dengan sabar. Aku menyiapkan hidangan yang Aku masak di meja makan, kalau-kalau mas Gibran memakannya saat pulang nanti. Aku berharap malam ini mas Gibran tidak mengecewakan Aku. Dimana Aku sudah taat pada suamiku atas perintahnya, namun jika dia masih tidak berubah, maka dia sudah tidak menghargai perjuanganku untuk membuat rumah tangga kami bahagia.
"Angkat dong, Mas!" gumamku lirih sembari mencoba menghubungi suamiku.
Jujur Aku sangat kesal karena berkali-kali Aku menghubungi nomor ponselnya, namun tidak ada jawaban sama sekali. Padahal, panggilanku terhubung ke nomor ponselnya, namun tidak ada jawaban satu kali pun. Mungkin sengaja mas Gibran melakukan ini padaku. Pikiran buruk selalu saja menghampiri dikala terjadi hal seperti ini.
"Dimana kamu, mas? Please, jangan buat Aku kecewa untuk kesekian kalinya," sungguh Aku sudah menyerah untuk menghubungi dirinya.
Beberapa jam berlalu, dan kini sudah pukul 9 malam, tapi mas Gibran belum juga pulang ke rumah. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku terisak, sakit dan pedih Aku rasakan. Sesak di dada sudah mengisi luka ku. Malam semakin larut, jujur Aku sangat takut karena sekarang Aku sendirian di rumah sebesar ini.
Keheningan membuat bulu kudukku merinding. Sunyi, sepi dan sendiri. Pikiranku mulai tak karuan. Padahal mas Gibran tahu jika Aku tidak bisa ditinggal sendirian di rumah yang sangat sepi, tapi dia malah membiarkan dirinya berada di luar sepanjang hari sampai selarut ini.
Aku sudah sangat lelah, maka Aku tempelkan kepalaku di atas meja sambil tak henti melihat layar ponselku, berharap ada notif atau panggilan dari mas Gibran, hingga tanpa sadar Aku ketiduran di sana, di ruang makan dengan beberapa hidangan yang sudah tersedia di meja.
Aku begitu nyaman dalam tidurku, seperti menemui kedamaian, kehangatan dan kebahagiaan. Setidaknya mengusir rasa takut yang melanda diriku sejak tadi.
"Aku mencintaimu, sayang. Hatiku sakit saat kau beranggapan kalau aku adalah suami yang jahat. Maafkan aku, ya. Ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu. Tak ada yang berubah dari diriku. Cintaku selalu untukmu."
CUP
__ADS_1
CUP
CUP
"Aku sangat mencintaimu, sayang!"
Suara yang begitu Aku rindukan terdengar lembut di telingaku. Aku sangat mengenalnya. Ya, itu suamiku.
"Mas Gibrannn!" Aku bangkit dan berteriak memanggil namanya.
Mataku berjelajah ke sekeliling ruangan dimana Aku berada. Sayang seribu sayang, nyatanya tidak ada siapapun di sekitarku, hampa dan sunyi. Aku hanya melihat ada cahaya masuk di sekitar ruangan. Lalu siapa yang membuka semua gorden, sedangkan semua pelayan tidak ada satu pun yang tinggal di rumah ini lagi? Apakah mas Gibran yang melakukannya?
Aku langsung mengambil ponselku dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Aku begitu frustasi, Aku menangis saat mengetahui mas Gibran sudah tidak ada di kamar maupun di rumah kami sekarang. Mungkin mas Gibran sudah pergi ke kantornya sejak tadi.
"Kenapa kamu tega membiarkan Aku tidur di luar sendirian, mas? Bahkan makanan yang Aku sediakan juga tidak kamu sentuh apalagi kamu makan sedikitpun, hiks...hiks...," tangisku terisak.
Ketika aku memilih diam, aku memiliki petir yang tersembunyi. Aku ini sabar. Tapi lebih baik jangan menguji kesabaranku. Istri yang sabar tentu selalu mentaati perintah suaminya dan tidak pernah menyakiti atau melawan suaminya.
Bukankah buah dari kesabaran adalah kesuksesan? Karena Aku yakin, saat Allah menciptakan kesedihan, di sana juga Allah menciptakan kebahagiaan. Saat Allah menciptakan kesulitan, di sana juga Allah menciptakan kemudahan seperti dalam janji-Nya.
Kadangkala terasa berat rasa hati ini bila harus selalu mengalah terhadap suami, namun itulah sesuatu yang menjadi kewajiban kita. Diri kita harus selau melatih dan berlatih untuk mengalah. Karena mengalah bukan berarti KALAH, namun dengan mengalah sesungguhnya itulah salah satu kemuliaan hati seorang istri yang ingin mendambakan surga sebagai bukti kesabarannya.
__ADS_1
Tapi kali ini Aku sungguh lelah dan ingin istirahat sejenak, membiarkan pikiranku tenang dari masalah yang rumit ini.
"Baiklah, jika ini mau kamu, mas. Aku akan pergi sejenak menenangkan hati dan jiwaku yang luka karena mu," gumamku lirih.
Aku ingin lihat seberapa pentingkah diriku di hati mas Gibran. Apakah dia akan mencari ku atau bahkan dia malah tak peduli padaku. Aku berharap mas Gibran hanyalah jenuh sesaat padaku. Jika berkelanjutan, maka hubungan kami memang sudah diambang kehancuran.
Aku mengemasi pakaianku seperlunya. Aku berjalan ke luar dari rumah setelah Aku mengunci pintunya. Ya, karena Aku masih punya hak sekaligus nyonya di rumah ini. Aku pun pergi dari rumah tanpa pesan ataupun sepucuk surat pada suamiku.
"Dengan kepergianku, Aku harap hatimu mencair dan sadar atas perlakuanmu padaku, mas. Aku juga berharap kamu akan mencari ku, mas."
Aku menatap bangunan rumah megah dan besar di hadapanku. Aku teringat dengan kenangan ku bersama mas Gibran saat pertama dia membawaku ke rumah ini setelah kami menikah. Dia membeli rumah ini sebagai hadiah pernikahan kami. Aku bahagia sekali kala itu. Tidak terasa air mataku telah mengalir begitu saja di pipiku yang ke sekian kalinya.
Aku masuk ke dalam mobil taksi yang telah Aku pesan. Rencananya Aku akan menginap di hotel untuk beberapa hari, tergantung mas Gibran mencari ku atau tidak. Aku pergi bukan untuk meninggalkan, tetapi Aku butuh ruang menyendiri untuk merenungkan segala hal yang pernah terjadi antara Aku dan mas Gibran.
"Jalan Pak, nanti saya beri tahu lokasi tujuannya," pintaku sembari memilih hotel yang akan Aku tuju.
"Baik Bu," sopir taksi pun melajukan mobilnya.
Akan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.
Setiap orang butuh untuk dihargai perjuangannya. Pilihannya adalah dia menjadi senang karena telah dihargai atau menjadi luka batin karena tidak pernah merasa dihargai. Karena yang membuat seseorang kecewa itu adalah ketika usahanya tidak dihargai.
__ADS_1