
Dalam kehidupan yang kita jalani ini tak selamanya sesuai dengan keinginan atau bahkan harus menghadirkan rasa sakit yang sulit untuk dihilangkan. Salah satunya adalah hal yang bisa membuat kita merasa sakit dan sangat terpukul ketika orang yang kita cintai lebih memilih orang lain untuk menjadi pasangan hidupnya. Dengan kata lain, ditinggal nikah sang kekasih dan harus ikhlas merelakan mantan kekasih hidup bersama pilihannya.
Mungkin ada beragam faktor penyebab seseorang harus pergi menjauh dari kehidupan kita. Apalagi jika orang tersebut adalah sosok spesial yang kita cinta, tentu terasa berat untuk melepasnya.
Rasa sedih, kecewa, dan galau tentunya menyelimuti hati kita ketika merelakan orang yang kita cintai bersama orang lain. Terlebih jika kita masih menyimpan rasa, pastinya sulit sekali untuk benar-benar move on.
"Jangan lakukan apa yang seharusnya tidak pantas kau lakukan, Bram. Aku sudah menikah. Dan tolong jangan melewati batas," Aku memaki Bram lagi setelah mendorongnya menjauh dariku.
Aku kesal saat dia hampir saja mencium ku. Aku tak ingin bibirku ternoda oleh lelaki yang bukan suamiku. Awalnya Aku nyaman saat Bram kembali ke Indonesia, apalagi saat dia menghiburku ketika hubunganku tidak baik dengan mas Gibran. Namun itu rupanya sudah diatur sebaik mungkin oleh Bram. Semakin Aku tahu kelakuan buruknya yang tersembunyi maka hal itulah membuatku untuk menjaga jarak dengannya.
"Apa susahnya tinggalkan Gibran, lalu kita kembali bersama seperti dulu. Aku janji akan membuat kamu bahagia. Sekarang aku sudah mempunyai segalanya. Hanya satu yang kurang, yaitu kamu Manda. Kamu pelengkap hidupku. Jadi, ikutlah aku ke luar negeri, ya!" Lagi Bram memohon dengan menggenggam kedua tanganku. Bram begitu sombong dan percaya diri dengan ucapannya itu.
Perlahan Aku melepaskan tanganku dari Bram. Sangat tidak benar jika Aku menerima permintaannya. Lalu bagaimana Aku mengatakan yang sejujurnya bahwa Aku menolaknya? Aku takut menyinggung perasaannya. Saat ini yang dibutuhkan oleh Bram adalah perhatian dengan tutur kata yang baik. Jika Aku salah dalam berkata maka perdebatan yang akan muncul. Itu malah akan membuatnya kesal dan semena-mena terhadapku.
"Ada saatnya kamu merelakan seseorang yang kamu cintai saat kamu tahu kalau dia lebih bahagia dengan orang lain, Bram!" ucapku dengan suara lembut.
Bram menatapku tajam, lalu dia mengacak-acak rambutnya. Aku melihat jika saat ini Bram terlihat frustasi. Tapi sebisa mungkin Aku harus tenang menghadapinya.
"Terkadang kamu harus merelakan seseorang yang tidak bisa kamu miliki. Meskipun sulit, namun itu adalah hal yang terbaik untuk dirimu, Bram. Percayalah!"
"Ssstttt...kamu berisik! Aku pernah bilang dulu, setelah perusahaan ayahku dialihkan padaku dan semuanya menjadi milikku, maka aku akan melamar kamu. Dan sekarang sudah aku penuhi, bukan? Jadi please, ikut aku ya, cantik!" Bram semakin terlihat tidak stabil. Mata dan ekspresi wajahnya, Aku tahu dia menahan sebuah amarah.
"Bram, a-aku sudah menikah. Mas Gibran suamiku," tekan ku dengan gugup. Sebenarnya Aku sangat takut untuk mengatakan itu.
HAHAHAHA
Bram tertawa keras seperti orang yang sedang kehilangan kesadaran. Aku semakin takut melihatnya.
"Si brengsek, Gibran. Hahaha, dia yang mengacaukan segalanya. Dia yang merebut mu dariku, Manda. Dia itu sahabat yang paling brengsek yang pernah aku kenal. Aku menyesal telah menitipkan kamu padanya. DIA JAHAT, BUKAN? GIBRAN JAHAT, BUKAN?" Teriak Bram lantang sambil mengguncang-guncang tubuhku dengan kencang.
__ADS_1
Aku menahan tangan Bram dan mencoba menenangkannya.
"Bukan seperti itu, Bram. Sebenarnya bukan hanya mas Gibran yang salah. Tapi aku juga yang termasuk mengkhianati kamu. Tolong buka mata hati kamu. Jangan selalu menyalahkan satu orang jika ternyata semuanya adalah kesalahan kita, Bram!" Sangkal ku dengan kata sehalus mungkin.
PROK PROK PROKKK
Bram bertepuk tangan dan tersenyum dengan sangar.
"Wow, kau membela lelaki brengsek itu, hah? Kau sangat mencintainya? Seharusnya aku membunuh Gibran saat tahu dia menikahi kamu waktu itu," ujar Bram.
"Jangan lakukan itu, Bram. Hidupmu tidak akan tenang jika masih ada dendam di hatimu. Bunuh saja aku, jangan bunuh mas Gibran."
"Berhenti membela dia, Manda. Telingaku sakit jika kau selalu menyebut namanya. Tidakkah kau memikirkan perasaanku sedikit saja, hah?" Bram mendelik tajam ke arahku.
"Maafkan aku, Bram?" Seketika Aku menunduk.
Merelakan orang yang kita cintai hidup bersama orang lain tentunya tidaklah mudah. Sebab, diperlukan kesabaran dan keteguhan hati saat melihat dia tak lagi ada di dekat kita. Sungguh menyedihkan dan menyayat hati.
"Menerima kenyataan tentang perpisahan kita saja membuatku gila, apalagi melihatmu kini sudah menjadi milik orang lain. Aku selalu menahan untuk tidak membunuhnya," ungkap Bram dengan mata yang merah berkaca-kaca.
"Tuhan menempatkan seseorang di dalam hidupmu karena sebuah alasan. Dan jika kamu kehilangannya maka itu karena sebuah alasan yang lebih baik, Bram. Jika Tuhan tidak mengizinkanmu bahagia bersamaku, pasti Tuhan mampu mewujudkan keinginanmu untuk melihatku bahagia, Bram!" Aku memberinya sedikit pengertian.
"Tidak usah sok menceramahi aku, Manda. Aku tidak butuh itu. Tapi aku butuh kamu," tegasnya.
Aku tak peduli dengan perkataan Bram. Aku hanya mengemukakan tentang apa yang Aku lakukan adalah benar dengan tutur kata yang lembut.
"Ketahuilah bahwa cinta sejati tidak harus saling menyatu, terkadang cinta sejati itu terpisah namun tidak ada yang berubah dari dirimu. Yakinlah bahwa kamu pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari aku, Bram!"
"Berhentilah berbicara, Manda!" Pinta Bram terlihat kesal.
__ADS_1
Tapi sayangnya Aku tak bisa berhenti untuk berbicara seolah Aku lupa siapa yang sedang Aku hadapi saat ini. Aku seakan hilang kendali untuk berdebat dengan Bram. Padahal dia adalah sosok yang harus diberi petunjuk dengan cara yang lembut penuh pengertian.
"Hidup harus terus berjalan, Bram. Suka ataupun tidak suka kamu harus mengikhlaskan aku, Bram. Tidak peduli apa yang telah hilang, selama kamu masih mampu bersyukur pada Tuhan, kamu tidak akan kehilangan apapun, percayalah Bram!" Ucapku lagi.
"BERHENTI BERBICARA, MANDA!!!" Bentak Bram dengan teriakannya yang keras.
Aku terkejut sehingga Aku diam seketika mendengar suara teriakan Bram. Jantungku serasa mau copot dari tempatnya. Dan Bram sukses membuat Aku berhenti berbicara.
"Jangan mengajari aku tentang bagaimana hidup dengan baik. Aku mengerti dengan semua itu, Manda. Cara mengikhlaskan seseorang yang dicintai itu bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk aku dapat menghadapi dan menerimanya, Manda. Kau paham!" Kata Bram dengan menjelaskan cukup panjang tapi tak sepanjang saat Aku berbicara sebelumnya.
"Tapi, Bram...."
"Sssttt, jangan lagi berbicara. Aku pusing mendengar suaramu yang selalu memojokkan aku," Pintanya sambil menggunakan satu jari telunjuknya di depan mulutnya sebagai isyarat Aku harus diam.
Bram berkacak pinggang bersusah payah mengatur nafasnya agar bisa terkontrol dengan baik. Bram pun mulai menghela nafas dengan tenang. Bram tampak berpikir sesuatu. Dia melihat jam di tangannya lalu kembali menatapku.
"Pergilah," ucap Bram.
Aku kaget mendengarnya karena Aku tidak mengerti apa yang dia maksud. Aku mengernyit heran.
"Pergilah dari sini sebelum Gibran aku musnahkan," ucap Bram melanjutkan kalimatnya.
"Ma-maksudnya?" Tanyaku penuh ketakutan.
Kemudian Bram membuka pintu kamar hotel, dia mencekal tanganku lalu didorongnya Aku hingga ke luar dari kamar itu. Dia mengusirku lebih tepatnya membiarkan Aku pergi dari sana.
"Pergilah temui Gibran untuk terakhir kalinya!" Tekan Bram yang mulai Aku pahami maksudnya.
"Bram, jangan bilang kau ... hiks...hiks...hiks," Aku segera berlari dari sana, mencari taksi untuk Aku pulang ke rumah.
__ADS_1
Sungguh Aku tak habis pikir bila Bram benar-benar akan membuat Aku berpisah dengan mas Gibran selamanya. Aku berharap ini hanyalah mimpi.