
Aku tak berhenti tersenyum menatap mas Gibran saat dia menatapku dengan intens. Ada mata sendu dan kerinduan di mata suamiku itu. Aku merasakannya. Aku sangat yakin, itu adalah mata kerinduannya padaku. Mata yang dulu pernah memberikan ketulusan dan kejujuran saat dia menyatakan betapa dia mencintaiku. Dan saat ini, Aku sangat berharap mas Gibran mengatakan bahwa dia begitu merindukanku dan menyesal telah membuatku pergi dari rumah. Akankah dia mengatakan hal seperti itu?
"Masuk!" seru mas Gibran dengan nada dingin.
Sontak raut wajahku yang tadinya senyum merekah kini berubah menjadi datar. Senyuman yang Aku berikan padanya memudar seketika. Tidak ada balasan senyuman hangat dari mas Gibran untuk ku sama sekali.
"Ayo cepetan masuk!" ucapnya ketus.
Nyatanya mas Gibran belum berubah, perilakunya masih sama seperti hari kemarin, dingin dan ekspresi wajahnya sangar. Aku sedih sekali.
"Gibran, itu Amanda ya? Sudah pulang dia?" tanya seorang wanita yang sangat Aku kenal. Ya, dia adalah mama Seina. Mama mas Gibran alias mama mertuaku.
Mataku langsung tertuju pada wajah mama Seina yang terlihat awet muda diusianya yang menginjak 50 tahun itu.
"Mama," Aku tersenyum lalu mendekatinya dan mencium tangannya.
"Amanda, apa kabar kamu sayang? Mama kangen banget sama kamu. Udah lama kamu nggak main ke rumah Mama sama Gibran," mama Seina langsung memeluk tubuhku. Aku merasakan kehangatan darinya.
"Kabar Manda baik, kok Ma. Mama sejak kapan ke sini? Maaf karena Amanda pulang malam, Ma!"
"Iya, mama tahu dari Gibran. Katanya kamu jenguk temen kamu yang lagi sakit," ujar mama Seina yang membuat Aku bingung plus kaget. Aku tersenyum kikuk.
Aku beralih menatap mas Gibran seolah meminta penjelasannya. Tapi mas Gibran malah mengalihkan ke pembicaraan lain.
"Emm ... ya udah lebih baik kita masuk. Sayang, ayo ... Mama udah nungguin kamu untuk kita makan malam bersama," ujar mas Gibran dengan lembut, dia juga memanggilku dengan panggilan 'sayang' kali ini.
Aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran mas Gibran. Bisa-bisanya dia melakukan sandiwaranya di depan mama seolah hubungan kami baik-baik saja. Padahal Aku berharap bahwa pesan dari suamiku tadi adalah darinya sendiri, rupanya dia menyuruhku pulang karena ada mama Seina yang datang ke rumah kami. Pintar sekali dia menipu. Di sini Aku merasakan sakit yang luar biasa.
"Sayang, tunggu apa lagi. Ayo, aku udah pesan makanan kesukaan kamu juga loh," mas Gibran merangkul pundakku, dia mengajakku melangkahkan kaki mengikutinya.
"I-iya Mas," jawabku dengan senyum terpaksa di hadapan mama Seina.
Kalau tidak ada mama Seina mana mungkin Aku sudi untuk bermain sandiwara seperti ini dengan suamiku sendiri. Aku pun terpaksa mengikuti permainan mas Gibran dengan perasaan kesal, marah dan juga terluka.
"Kalian sudah setahun menikah, apa belum ada tanda-tanda kamu hamil, Amanda?" tanya mama Seina di sela-sela makannya.
__ADS_1
"Emm ... belum Ma," jawabku gugup.
"Kalian sudah periksa ke dokter?" tanya mama lagi.
Aku menatap mas Gibran seolah membuatnya untuk menjawab pertanyaan mama Seina.
"Nanti Ma, rencananya kami akan mencoba progam hamil," ucap mas Gibran membuatku kaget.
Entah perkataan itu adalah kebenaran atau hanya sekedar alasan saja untuk membuat mama Seina merasa senang.
"Bagus dong, Mama setuju dengan ide kalian. Mama do'akan yang terbaik buat kalian. Mama sudah nggak sabar untuk menimang cucu," mama Seina tersenyum lebar.
Setelah makan malam selesai, kami melanjutkan menonton TV di ruang keluarga, karena malam ini mama Seina akan menginap di rumah kami. Kehangatan pun tercipta kala kami berkumpul bersama.
Aku melihat kebahagiaan dan senyuman yang tulus dari mas Gibran. Kami duduk bersebelahan di sofa panjang menghadap TV. Dia juga tidak lepas merangkul pundakku dan sesekali membelai rambutku seperti kebiasaanya sehari-hari kami berdua. Sandiwaranya begitu luar biasa hingga Aku pikir di antara kami tidak ada masalah apa pun.
"Coba kalian untuk bulan madu deh. Kamu juga sekali-kali liburan ajak Amanda ke luar negeri, cuti dari pekerjaan kamu dulu, Gibran!" kata mama Seina membuat suasana menjadi canggung antara kami.
"Emm ... ya, Gibran juga sudah ada rencana sih Ma. Paling bulan depan kalau urusan kantor sudah bisa Gibran lepas pada orang kepercayaan Gibran," jawab mas Gibran terlihat tenang dan meyakinkan.
"Rencananya mau bulan madu ke mana?" mama Seina begitu penasaran.
"Ke Paris, Ma!" ucap mas Gibran seolah meyakinkan.
Ups, Aku tambah kaget mendengarnya. Suamiku ini sungguh pandai sekali acting, membuatku tambah bersemangat. Jadi Aku pura-pura membantunya dengan membuat pemanis sebagai tambahannya.
"Beneran Mas?" sengaja Aku langsung bertanya ke mas Gibran.
Ya sebenarnya Aku sangat berharap sih. Apalagi Paris adalah negara yang ingin sekali Aku kunjungi.
"Ya, sayang. Bukannya dari dulu kamu ingin ke sana? Makanya nanti kita bulan madu sekaligus liburan di sana," mas Gibran menatapku seakan ada kebenaran di matanya. Dia mencium kepalaku dengan lembut bahkan di hadapan mama Seina.
Cih, Aku sangat muak dengan perilaku mas Gibran sekarang ini. Ingin rasanya Aku menjambak rambutnya.
Tapi di lain sisi Aku sengaja memeluk mas Gibran begitu saja. Jujur Aku rindu dengan perlakuan mas Gibran yang perhatian dan romantis seperti ini. Kalau boleh meminta, maka Aku akan meminta biarlah mama Seina tinggal di rumah ini, agar Aku dan mas Gibran selalu ada kehangatan dan kebahagiaan seperti sekarang.
__ADS_1
Pukul 10 malam, kami pun masuk ke kamar dengan sandiwara mas Gibran yang masih beradegan mesra setelah kami berada di depan pintu kamar kami berdua.
Setelah itu, suasana di dalam kamar kembali suram dengan sikap mas Gibran yang langsung melepaskan tangannya dariku begitu saja. Dia seolah tidak menganggap diriku ada di dekatnya. Tanpa mengucapkan selamat malam dan kecupan hangat, mas Gibran naik ke atas ranjang dan tidur membelakangi Aku.
"Mas, bisakah kita mengabulkan permintaan mama untuk dia mempunyai cucu? Kita bahkan sudah lama tidak melakukannya, Mas. Aku ingin hubungan kita kembali harmonis seperti dulu," dengan rasa gugup dan tanpa rasa malu, Aku memeluk mas Gibran dari belakang, berharap ada respon baik darinya.
Di detik kelima, perlahan mas Gibran mengubah posisinya berhadapan denganku. Dia menatap mataku dengan makna mendalam, Aku tahu itu adalah rasa kerinduannya padaku. Dia pun membelai kepalaku, pipiku dan bibirku dengan lembut, lalu di kecupnya sekilas bibirku. Setelah itu mas Gibran memberikan senyuman manis padaku. Aku pun dengan senang hati membalas senyuman itu.
"Aku merindukan kasih sayang darimu seperti ini, Mas. Tolong jangan pernah berubah menjadi sosok suami yang tidak ku kenal. Aku mencintaimu, Mas!" Aku memeluk mas Gibran dan membiarkan kepalaku berada di dadanya.
Perlahan tangan mas Gibran meremas rambutku, lalu di detik berikutnya semakin lama remasan itu semakin aneh. Lama kelamaan remasan itu menjadi tarikan yang cukup kuat Aku rasakan. Sakit, rasanya sakit sekali.
"Apa ini yang disebut kasih sayang? Apa yang seperti ini, hah? Jawab?" Kali ini mas Gibran menarik rambutku dengan sangat kencang, seolah dia melampiaskan kemarahannya padaku.
"Awww, sakit Mas. Tolong hentikan!" Aku mengadu kesakitan, merengek dengan lirih.
"Mulai sekarang, jangan pernah menggoda ataupun berharap lebih padaku. Karena aku tidak akan pernah berbaik hati lagi padamu, mengerti?" Dengan kasar mas Gibran melepaskan tarikan tangannya dari rambutku.
Seketika Aku merasakan pusing.
"Jahat kamu, Mas. Kenapa kamu tega sejahat ini sama Aku, Mas? Hiks...hiks...hiks," kataku dengan tangisan.
"Itu semua karena kamu! Karena ulah kamu, paham!" Tekannya dengan mata yang sangat tajam.
"Apa kesalahanku? Apa Mas, katakan?" Tanyaku seakan memaksa.
"Banyak, salah satunya kamu yang sudah buat aku berubah menjadi lelaki yang buruk seperti sekarang ini, paham!"
"A-apa maksud kamu, Mas?" tanyaku tak berhenti menangis.
"Sssttt sudah, sudah, mending kamu diem deh, nggak usah nangis-nangis terus, pusing aku dengernya," bentak mas Gibran sambil menutup telinganya dengan kedua tangannya.
Mas Gibran malah tersenyum mengejek, tidak ada rasa penyesalan sama sekali. Dia malah menjauhiku dengan tidur di sofa.
"Hiks...hiks...hiks...!"
__ADS_1
"Aku bilang berhenti menangis! Kamu ini tuli atau apa sih, hah!"
Mas Gibran membentak ku dengan kasar, mengatai Aku seenaknya saja, sontak membuat Aku kaget dan seketika Aku berhenti menangis.