
Setelah sukses mengatai Aku parasit kecil, kini mas Gibran sukses pula membawaku ke luar dari kantornya. Dia mengusirku dengan cara cukup kasar. Dia menarik tanganku menaiki lift yang tentunya khusus untuk CEO sepertinya. Lagi pula mas Gibran mana berani kasar padaku di hadapan karyawan lainnya. Hanya Dewi saja yang mengetahui bagaimana sikap mas Gibran terhadapku. Itu saja membuatku sakit apalagi bila semua orang tahu kelakuan mas Gibran terhadapku yang tidaklah baik.
Mas Gibran menggenggam tanganku dengan erat tak terlepaskan, hingga kami berada di parkiran mobil, barulah mas Gibran melepaskan tanganku dengan cara mendorong tubuhku ke depan mobilnya. Aku tahu apa yang ingin dia lakukan padaku. Pastinya menyuruhku untuk pulang ke rumah.
"Naik ke mobil," titah mas Gibran dengan suara dinginnya.
Aku yang merasa kesal padanya hanya tetap diam di hadapannya, tidak beranjak sama sekali. Masa bodoh dia mau marah, ya silahkan. Aku udah kepalang tanggung berada di kantornya dan nyatanya hanya pengusiran yang Aku dapatkan.
"CEPAT NAIK!" teriak mas Gibran mencengkram lenganku, memaksaku naik ke mobilnya.
Tanganku sangat kesakitan sekali karena cengkraman mas Gibran.
"Lepas, aku nggak mau masuk mobil, aku nggak mau pulang!" Bantahku menepis tangan mas Gibran.
"Jangan buat kesabaranku habis, Manda!"
"Terserah, pokoknya aku nggak mau pulang sekarang!" bantahku.
"Kau benar-benar...," geram mas Gibran menggenggam tangannya kuat, menahan amarahnya.
Dert dert derttt
Tiba-tiba dering ponsel mas Gibran berbunyi hingga dia tidak jadi melanjutkan ucapannya padaku. Tapi secepat mungkin Aku langsung merampas ponsel milik mas Gibran saat suamiku itu mengambilnya dari saku jasnya.
"Kembalikan ponselku!" Mas Gibran langsung menarik kembali ponselnya dari tanganku.
"Kenapa? Kamu takut, hah? Memangnya siapa yang telepon kamu, Mas? Siapa? Jawab Mas?" Desak ku sambil menahan air mata.
"Bukan urusan kamu, sekarang pergilah dari hadapanku," kata mas Gibran mengusirku.
DEG
"Kamu udah berubah, Mas. Sekarang aku yakin bahwa tujuan kamu dari awal untuk bahagiakan aku hanyalah omong kosong, semuanya palsu!" ucapku yang sudah mengeluarkan air mata membasahi pipi.
Mas Gibran yang tadinya menatapku kini beralih ke arah pandangan lain. Seperti tidak ingin melihatku menangis, tapi tak lama kemudian dia menyunggingkan senyum miringnya seolah tidak suka.
__ADS_1
Prok prok prok
Mas Gibran menepuk tangannya tiga kali. Aku heran dengan kelakuannya seperti itu. Aku kira dia menepuk tangannya karena sukses membuatku menangis.
Tapi nyatanya, muncul dua orang pria asing berbadan tegap dan memakai kaca mata hitam setelah mendengar tepukan tangan dari mas Gibran barusan.
"Kalian antar dia pergi dari sini, pastikan dia pulang ke rumah, mengerti?" Perintah mas Gibran pada dua orang pria tersebut.
"Baik Tuan," jawab mereka kompak.
"Mas siapa mereka?" tanyaku heran, jujur Aku sangat takut sekali melihat dua orang pria asing tersebut.
"Mereka bodyguard ku, jadi jangan macam-macam kamu, apalagi membantah perintahku, paham!" Jelas mas Gibran sekaligus mengancam.
"Tega kamu, Mas!" gumamku lirih.
Mas Gibran hanya tersenyum penuh kepuasan melihatku dibawa pergi oleh dua orang pria suruhannya. Dasar keterlaluan sekali suamiku. Dia bahkan melambaikan tangannya ke arahku dengan senyum lebarnya. Dia memang sudah tidak menginginkan Aku berada di sisinya lagi.
Seorang istri mungkin diuji dengan keburukan suami, sebab Allah tahu disitulah seorang istri mampu melatih kesabaran. Apa yang sedang dihadapi seorang istri saat ini merupakan ujian dari Allah. Apapun keburukan suami yang kini menyakiti seorang istri yaitu cobaan dari sang pemberi cinta, karena setiap istri mendapatkan ujian kesabaran sesuai dengan kadar kesabarannya masing-masing.
Kediaman Gibran Radhika.
Hallo, Dewi ... mas Gibran masih standby di kantor?
Dia pergi ke luar tadi, Mbak. Tapi aku nggak tahu suami kamu kemana.
Apa ada meeting di luar sore ini?
Nggak ada sih, Mbak. Tapi bisa jadi dia menemui seseorang yang sempat dia batalkan pertemuannya tadi siang, pas saat Mbak datang tadi.
Kamu tahu siapa orang itu?
Emm ... nggak tahu, Mbak. Soalnya mas Gibran nggak terbuka tentang pertemuannya kali ini dengan seseorang itu.
Oh, gitu ya. Ya udah makasih Dewi.
__ADS_1
Tut tut tuttttt
Sore itu, pukul sudah menunjukkan jam 5. Mas Gibran juga belum pulang ke rumah. Seperti biasa Aku menelepon Dewi lagi untuk menanyakan mas Gibran. Dan saat itu Dewi bilang mas Gibran belum kembali sejak dia ke luar dari kantornya. Lantas dimanakah mas Gibran sekarang? Apakah dia memang benar menemui seseorang setelah membatalkan pertemuannya karena kedatanganku tadi siang? Ah, sudahlah positif thinking aja dulu.
Aku sungguh lelah hati, Aku juga benar-benar bosan di rumah, niat hati memang ingin jalan-jalan sebentar. Baru saja berjalan tiga langkah. Tiba-tiba ponselku berdering dengan nomor yang tidak Aku kenal.
Hallo
Hallo Amanda, apa kabar kamu?
A-aku baik, ka-kamu...?
Baik juga, kamu lagi apa sekarang? Sibuk nggak? Ketemuan bentar yuk, aku kangen banget sama kamu.
A-aku sebenarnya mau pergi sih. Emm ... ya udah kita ketemuan di kafe biasa dulu kita jumpa.
Ok, sampai jumpa cantik.
I-iya.
Panggilan telepon terputus. Tiba-tiba hatiku sedikit bergetar. Apalagi mendengar suara seseorang itu. Suara yang sangat Aku kenal dan sampai sekarang tidak pernah berubah. Dan sampai sekarang ini pula Aku pun masih mengingat siapa sosok yang mempunyai suara tersebut.
Yang pasti, Aku nggak nyangka banget bakal ditelepon oleh seseorang yang sudah lama sekali Aku nggak jumpa dengannya. Beruntungnya, disaat Aku lagi bosan, ada seseorang yang bisa membuat kebosanan Aku hilang, ya walaupun sementara.
ini waktu yang tepat untuk Aku melepas kejenuhan, keresahan, kesedihan yang terkadang memilukan setiap hari kurasa. Teman hidupku, mas Gibran sudah tidak bisa diajak untuk berbicara dari hati ke hati. Tidak ada komunikasi yang baik diantara kami. Tidak ada tempat untuk berkeluh kesah lagi Aku pada suamiku sendiri.
Dan saat ini, Aku harus memberikan sejuta senyuman ceria dari wajahku pada orang-orang sekitar. Sekiranya Aku akan menunjukkan bahwa hidupku sangatlah bahagia walau pada kenyataannya tidak.
Tanpa terasa Aku sudah sampai di kafe sesuai dengan perjanjian. Aku pun berjalan masuk dan mencari keberadaan sosok seorang tersebut.
"AMANDA!" teriaknya terdengar olehku. Dia juga melambaikan tangannya ke arahku.
Dari arah yang cukup jauh, dia beranjak dari kursi dan berjalan mendekatiku. Senyumnya terlihat begitu merekah membuat suasana hatiku menjadi lebih baik. Aku bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya. Beruntung, Aku bisa bertemu dengannya kembali. Kehadirannya membuat hatiku sedikit terhibur.
"Ka-kamu...," ucapku sedikit gugup.
__ADS_1
"Hai Manda, ikutlah denganku, cantik!" Dia langsung menarik tanganku mengajak ku ke tempat duduk yang sudah dia pesan.