
POV Gibran Radhika
Aku seperti hilang kendali saat mengetahui kedatangan dia kembali ke Indonesia. Sulit rasanya untuk bernafas. Aku pikir pernikahanku dan Amanda akan bahagia selamanya. Bahkan banyak yang menjadi impian kami yang belum terwujud. Rasanya Aku ingin mengulang kembali masa-masa dimana Aku dan Amanda menjalin hubungan tanpa gangguan orang lain.
Karena kehadiran dia, hubunganku dan istriku hancur. Aku terpaksa harus berpura-pura tidak peduli pada Amanda. Berpura-pura marah, bersikap dingin dan jahat padanya. Bukan karena tanpa alasan Aku melakukan itu. Aku melakukannya karena terpaksa agar Amanda membenciku dan meninggalkanku. Itu semua Aku lakukan karena 'DIA'. Dia yang kembali setelah beberapa tahun lamanya meninggalkan Indonesia dan membuka peristiwa di masa lalu.
Saat itu, Aku baru mendapat kabar dari dia, bahwa istriku pergi meninggalkan Indonesia bersamanya, orang yang sangat Aku benci. Aku begitu marah dan bergegas untuk menghubungi Amanda.
"Angkat teleponnya, Manda."
"Ayo angkat, please!" gumamku yang berkali-kali menghubungi istriku, namun tak ada jawaban darinya.
Mungkin Amanda sengaja tidak mengangkat telepon dariku. Karena Aku yakin bahwa dirinya tidak ingin Aku mengetahui keberadaan dirinya, hatinya masih diliputi rasa sakit yang begitu dalam padaku.
Aku mencoba menghubunginya kembali, namun kali ini nomor ponselnya di luar jangkauan. Aku sangat mencemaskan Amanda.
"Arghhh sialllll," umpat ku dengan kesal.
Aku benar-benar berdosa dan sangat menyesal. Dan saat ini Aku harus menerima konsekuensi atas apa yang Aku lakukan terhadap istriku sendiri. Nyatanya dia benar-benar pergi meninggalkan Aku sebelum dia menandatangani surat gugatan perceraian yang aku ajukan. Jujur, niat hatiku tidak menginginkan perceraian ini. Namun Aku dipaksa untuk melakukannya.
__ADS_1
Aku tahu bahwa Amanda belum merelakan perpisahan kami. Sebenarnya Aku bahagia dengan kepergian Amanda yang membuat perceraian kami tertunda, tapi di lain sisi Aku sedih dan menyesal atas kepergian Amanda tanpa sepengetahuanku, apalagi istriku pergi bersama orang lain, orang yang seharusnya Amanda jauhi.
Amanda Wulandari adalah wanita satu-satunya yang sangat Aku cintai dan Aku kasihi. Aku tak bisa membuat dia terluka atas perlakuanku yang tidak adil terhadapnya. Aku jahat padanya. Aku nyatanya tidak layak menjadi suami yang baik baginya. Maka Aku putuskan untuk berpisah dengannya, karena Aku telah melakukan kesalahan besar di masa lalu yang tidak diketahui oleh Amanda. Aku sadar bahwa Aku harus mengembalikan Amanda pada 'Dia'.
Memang ada hal-hal yang rasanya ingin Aku jadikan alasan atas penyebab kesalahan yang pernah Aku buat. Bahkan Aku pernah merasa kesalahan yang Aku lakukan bukan murni karena kecerobohanku sendiri. Di sisi lain Aku harus menyelamatkan kehidupan seseorang dari seseorang yang lain yang akan mencelakainya. Itulah mengapa banyak hal yang tak bisa Aku ungkapkan begitu saja atas apa yang sudah Aku lakukan pada Amanda.
Aku berjalan lesu menghampiri bibi pelayan di rumah. Aku berharap ada tanda-tanda yang bisa Aku ketahui dari kepergian istriku.
"Bi, kapan Amanda pergi dari rumah?" tanyaku penuh kecemasan, apalagi koper yang berada di atas lemari tidak ada pada tempat biasanya.
Aku yakin pasti Amanda membawa sebagian pakaiannya menggunakan koper itu.
"Bibi nggak tau, Pak. Seingat Bibi terakhir kali Bibi bicara sama ibu Amanda itu saat Bibi menyampaikan pesan dari Bapak untuk menandatangani surat itu secepatnya, setelah itu Bibi nggak lagi lihat ibu Amanda di rumah sampai saat ini. Saat Bu Amanda pergi saja beliau tidak pamit sama Bibi," ungkap bibi pelayan dengan bersusah payah mengingat kejadian terakhir kali berinteraksi dengan Amanda.
"Surat ... ya surat itu, surat gugatan dariku," gumamku yang langsung pergi ke kamar.
Aku mencari-cari surat gugatan yang Aku berikan pada Amanda lewat bibi pelayanku di rumah. Aku tidak tahu suasana hati Amanda bagaimana saat itu. Wajar bila dia lelah dengan kehidupan kami sekarang karena ulahku dan kebodohan ku. Seharusnya Aku tidak mendesaknya untuk menandatangani surat gugatan itu dengan cepat, alhasil Amanda pergi dari rumah ini.
Aku duduk di tepi ranjang, menangis meratapi nasib kehidupan rumah tanggaku bersama Amanda yang mungkin tak akan pernah bisa kembali bahagia seperti dulu.
__ADS_1
"Jadi ini keputusan kamu, Manda. Pergi begitu saja dengan meninggalkan permasalahan yang belum kita selesaikan. Aku tau kamu pasti sakit karena ulahku. Tapi tidak seharusnya kamu pergi meninggalkan Aku tanpa sepatah kata pun," Aku meremas surat gugatan yang kutemukan di atas nakas. Aku sungguh menyesal.
"Setidaknya, katakan satu kalimat perpisahan untukku, Manda!" Aku sangat frustasi kala melihat kenyataan bahwa Aku tidak bisa menahan kepergian istriku.
"Asal kamu tahu, hatiku telah hancur berkeping-keping sejak hari pertama dimana aku menyakitimu. Tolong maafkan aku, Manda!"
Dalam mengarungi roda kehidupan, kita mengalami satu momen yang mungkin bisa membuat kita merasakan rasa penyesalan. Bahkan, tak jarang rasa penyesalan tersebut berujung pada kondisi down.
Untuk pertama kalinya aku mulai merasakan penyesalan terbesarku. Perasaan di mana aku berada di antara kasihan pada diri sendiri dan membenci diriku sendiri tentang seluruh hidupku.
Aku sangat frustasi sekali. Aku tidak bisa berpikir jernih saat itu. Ingin rasanya Aku berlari dan mencari Amanda. Tapi kemana? Apakah Aku harus menyewa detektif untuk mencari keberadaan istriku? Bahkan sampai saat ini Aku belum bisa melacak lokasi keberadaan 'DIA' membawa pergi istriku. Dasar pengecut, membawa istri orang sesuka hatinya, umpat ku.
Terkadang kita sering melihat sesuatu itu lebih berharga, saat kita mengetahui bahwa orang yang kita cintai sudah hilang dan dibawa pergi oleh orang lain.
"Aku nggak bisa merelakan kamu pergi bersama dengan dia, Manda. Aku nggak rela."
"Ini semua gara-gara si brengsek itu. Aku nggak akan tinggal diam. Aku pasti akan menemukan kalian, lihat saja nanti."
"Kamu belum tahu bagaimana sifat busuknya dia, Manda. Aku harap semoga kamu baik-baik saja di sana."
__ADS_1
Pada akhirnya kita benar-benar terasing, kamu pergi dengan kekesalan yang Aku buat, lantas aku berbalik dengan segala penyesalanku. Menangisi penyesalanku, aku tahu ini mungkin karma. Ya, Aku terima karma ini, kenyataan jika waktu tidak akan bisa kembali lagi. Di antara deretan panjang penyesalanku, yaitu melepas mu pergi adalah bukan salah satunya.
Namun sekarang, Aku sangat menyesal dan sangat terpukul atas kepergian Amanda kali ini. Dia benar-benar pergi meninggalkanku, pergi dari hadapanku dan entah kapan Aku akan bertemu kembali dengannya. Ternyata Aku sangat merindukannya. Aku tidak sanggup bila jauh darinya. Semua yang ada padanya, Aku menyukainya. Bahkan tawanya, senyumannya, sikapnya yang lembut, Aku jatuh cinta padanya untuk yang kesekian kalinya, tak pernah luntur.