Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Reuni atau Pertunangan


__ADS_3

Hari ini Aku tak bersemangat, ya bisa dibilang sangat buruk. Semalaman Aku nggak bisa tidur karena memikirkan mas Gibran. Karena hari ini merupakan hari bahagianya mas Gibran yang beberapa jam lagi acara pertunangannya akan dilaksanakan. Aku gelisah karena itu. Sebagai seorang istri, Aku sangat malu mempunyai suami yang masih berstatus menikah, tiba-tiba saja dia bertunangan. Apa kata orang nanti.


Dasar buaya darat. Apa tidak bisa menunggu ketika kami sudah bercerai saja, baru mereka bertunangan? Atau memang dia sudah tidak bisa menahannya karena takut calon istrinya itu diambil orang? Memang secantik apa calon tunangannya mas Gibran? Kenapa tidak menikah saja sekalian, dari pada harus bertunangan, buang-buang uang saja.


Aku mengomel sedari tadi tak henti. Karena Aku sangat kesal dan sangat sangat marah pada mas Gibran. Aku merasa tertipu oleh kelembutan mas Gibran yang sudah begitu perhatian dan peduli padaku sejak dulu. Ternyata dia melakukan itu hanyalah untuk menarik diriku dalam pesonanya. Sial, sial, sial. Pikiranku mulai buruk tentangnya. Hiks...hiks...hiks... Aku menangis terisak hingga mataku sembab.


TOK TOK TOKKK


"Bu Amanda, boleh Bibi masuk?" Tanya bibi dari balik pintu kamarku.


Aku tak menjawab, karena Aku yakin pasti bibi pelayan sedang membawakan sarapan untukku. Aku malas dan Aku hanya ingin sendiri, tidak mau diganggu untuk saat ini.


"Bu Manda, Bibi masuk ya? Ada sesuatu yang ingin Bibi kasih sama Ibu Amanda, penting!" suara bibi kali ini terdengar lantang. Lagi-lagi dia membujuk diriku.


Aku sama sekali tidak bergeming. Sekarang saja tubuhku terasa lemas, apalagi mulutku yang saat ini malas sekali untuk digerakkan karena suaraku yang mungkin akan terdengar serak karena tangisan.


CEKLEK


Aku mendengar suara pintu dibuka, tapi Aku hanya membiarkannya saja. Aku malas untuk merespon. Aku tahu bibi pasti menghawatirkan Aku sejak tadi. Makanya dia terpaksa dengan lancang masuk tanpa seizin dariku. Aku pun pura-pura tertidur agar bibi berhenti berbicara.


"Maaf Bu Manda ... Bibi lancang masuk ke kamar Ibu. Tapi Bibi hanya membawakan sesuatu penting yang harus Ibu Manda ketahui," kata Bibi yang masih saja kekeuh membujuk diriku. Sepertinya bibi tahu bahwa Aku sudah bangun sejak tadi. Terlihat dia berbicara terus walau Aku tidak merespon.


"Ini dari pak Gibran, loh Bu!"


DEG


Apa Aku tidak salah mendengar kata mas Gibran dari mulut bibi pelayan? Atau hanya sekedar untuk membuatku terhibur, jadi bibi membuat lelucon yang tidak masuk diakal?


"Bu Amanda, coba lihat dulu. Ini ada bingkisan dari pak Gibran untuk Ibu. Pesan bapak, Ibu harus membukanya segera," ucap bibi lagi.


Bingkisan apa yang bibi maksud? Dari mas Gibran? Hah, Aku masih saja tak mengindahkan perkataan bibi pelayan.


"Kalau Ibu nggak mau membukanya. Terpaksa Bibi akan memberitahukan pak Gibran, biar nanti bapak ke sini langsung membujuk Bu Manda," ucap bibi pelayan yang seperti nada ancaman.


No, itu tidak mungkin. Hari ini Aku nggak mau bertemu dengan mas Gibran. Aku benci padanya.


"Jangan Bi, aku nggak mau ketemu sama mas Gibran!" Aku langsung bangkit dari pembaringan dan sekarang menghadap bibi pelayan.


Bibi tersenyum ke arahku dan menaruh bingkisan yang sangat cantik di ranjang ku.


"I-ini apa Bi?" tanyaku gugup.


"Bibi nggak tau. Itu dari pak Gibran. Sopirnya yang mengantar langsung ke sini tadi. Bukalah segera Bu."

__ADS_1


"Tapi ini apa, Bi?" Tanyaku lagi dengan penasaran.


"Bibi juga nggak tahu. Hanya saja pak Gibran berpesan untuk Ibu segera membukanya. Di dalam juga ada pesan singkat dari bapak. Bibi hanya memastikan bahwa titipan dari bapak sudah sampai ke Ibu Manda. Kalau begitu Bibi ke dapur dulu, Bu."


Aku hanya mengangguk, lalu bibi pelayan pun ke luar dari kamarku.


"Apa ini? Kenapa dia memberiku ini? Apa ini kejutan yang mas Gibran bilang padaku?" gumamku sambil membayangkan apa isi di dalamnya.


Apa perlu Aku membukanya? Jika isinya sesuatu yang tidak mengenakkan bagaimana? Pikirku.


"Dibuka tidak, ya?" tanyaku bimbang.


BIP BIP BIPPP


Satu pesan masuk di ponselku. Aku pun mengambilnya. Ternyata itu dari mas Gibran. Aku pun membuka pesan dari mas Gibran.


"Bukalah bingkisan itu. Jangan kau lihat saja. Ada sesuatu yang akan aku tunjukkan sama kamu. Please, percayalah padaku sampai akhir, ya."


Seakan dia tahu Aku sedang bimbang untuk membuka bingkisan darinya. Aku menjadi bingung dengan isi pesan mas Gibran. Apa yang sebenarnya dia maksudkan untuk percaya sampai akhir? Membingungkan sekali menurutku.


Aku melirik bingkisan itu, lalu perlahan Aku membukanya. Sebenarnya Aku sangat penasaran apa isinya.


"Nggak mungkin bom, kan?" gumamku berpikir buruk.


"Astaghfirullah, kenapa serumit ini. Dia yang bertunangan, seharusnya aku yang memberikan bingkisan untuknya, tapi malah dia yang memberiku bingkisan. Dasar aneh!" Ocehku tak berhenti.


"Pakailah baju itu dengan cantik dan pergilah dengan Dewi yang akan mengantarmu ke sesuatu tempat. Tunggu aku di sana."


Mataku berkaca-kaca hendak menangis, seakan tak percaya atas apa yang tertulis pada isi catatan kecil ini. Sebenarnya apa yang akan mas Gibran lakukan padaku? Aku semakin dilema.


Kini hari pun sudah begitu siang. Aku belum melakukan apapun. Aku tidak tahu apa yang harus Aku lakukan dengan baju ini. Apakah dia akan membuatku menjadi pendamping calon tunangannya di atas altar. Hah, sungguh keterlaluan. Pokoknya Aku tidak mau menuruti apa kemauannya.


CEKLEK


"Mbak Manda, kenapa belum siap-siap? Sebentar lagi kita akan pergi loh!"


Aku terkejut mendengar suara Dewi setelah masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


"Dewi, kau mengagetkanku," ujarku sambil memegangi dadaku.


"Ayo sekarang Mbak ganti pakaian!" Dewi menarik tanganku untuk turun dari ranjang.


Aku menahan tanganku untuk tidak menuruti Dewi. Itu sama saja menuruti kemauan mas Gibran.

__ADS_1


"Kau sekarang beralih untuk menjadi pengikut mas Gibran, ya? Dasar pengkhianat!" umpat ku dengan ketus.


"Ya ampun Mbak. Nggaklah, aku tetap mendukung Mbak Manda kok. Aku cuma ditugaskan mas Gibran untuk mendandani Mbak agar tampil cantik," ungkap Dewi.


"Nggak perlu. Yang bertunangan itu mas Gibran dengan perempuan lain, bukannya Mbak. Apa dia ingin Mbak dipermalukan di sana? Mbak nggak mau pokoknya," Aku tetap dengan pendirianku.


"Gini deh, sekarang Mbak ikut aku aja. Dijamin Mbak nggak bakalan kecewa," Dewi mencoba menghiburku.


Dengan lembut dan penuh kesabaran Dewi menjelaskan padaku. Akhirnya Aku mau untuk mengikuti apa yang dia katakan.


"Cantik Mbak!" ujar Dewi memujiku. Aku sih hanya tersenyum hambar.


Aku sudah tampil cantik dengan riasan dan baju yang dipilihkan oleh mas Gibran. Kini saatnya Aku dan Dewi pergi ke suatu tempat.


"Loh, bukankah hotelnya di depan sana? Kenapa kita berhenti di hotel sini?" Tanyaku dengan heran. Karena Dewi mengajakku ke hotel yang berbeda dari tempat acara pertunangan mas Gibran.


"Ya, memang di sini tempatnya. Kita nggak akan melihat langsung proses pertunangan mereka di sana," jawab Dewi.


"Ini maksudnya apa sih. Mbak semakin bingung dengan tingkah kalian. Apa jangan-jangan kamu sekongkol ya sama mas Gibran, hah?" Aku mulai kesal.


"Udah Mbak ikutin aja, pokoknya nggak bakalan nyesel, deh. Aku jamin!" Dewi tetap menarik tanganku hingga masuk ke kamar hotel yang ternyata telah di booking. Sepertinya ini sudah disiapkan sebelum kedatanganku kemari.


DERT DERT DERTTT


Aku mendapatkan telepon dari Bram. Saat Aku akan menjawab panggilannya, ponselku dirampas oleh Dewi.


"Mbak, jangan bilang ke siapapun kalau kita di sini, apalagi pada Bram!" ujar Dewi.


"Kenapa?"


"Pokoknya jangan!" ucap Dewi tanpa memberikan alasan.


Saat Aku sudah memasuki kamar, Dewi membawaku duduk di sofa, dia pun duduk di sebelahku dengan memperlihatkan laptop di depan. Aku bingung, ada apa sebenarnya.


"Mbak, kita lihat pertunjukannya dari sini saja," ucap Dewi sambil mengklik sesuatu yang terhubung di sana.


Tampaklah layar penuh di laptop itu. Ada mas Gibran yang memakai baju berjas hitam bersama dengan teman-temannya yang tak asing lagi buatku. Ya, itu adalah teman-teman satu kampusku dulu.


"Ini acara pertunangan mas Gibran, tapi kenapa seperti acara reuni? Lalu kemana mama Seina? Dan calon tunangan mas Gibran mana?" Tanyaku heran.


"Tonton saja dulu, Mbak. Nggak usah komplain, ok!" ujar Dewi dengan santai. Dia sama sekali tidak ada rasa iba terhadapku. Dasar sepupu durhaka.


Tak lama kemudian, tampak pembawa acara mengumumkan acara pertunangan dan pertukaran cincin. Entah kenapa hatiku tak merasakan sedih ataupun sakit hati. Aku malah berpikir bahwa saat ini mas Gibran sedang mengadakan acara reuni, jauh dari acara pertunangan. Tapi Aku masih penasaran dengan sosok perempuan yang akan menjadi tunangan mas Gibran.

__ADS_1


Dan saat-saat yang Aku tunggu tiba. Aku melihat ada perempuan yang memakai baju bergaun merah berjalan dan tersenyum menghampiri mas Gibran. Lalu setelah itu dia menggandengkan tangannya di lengan mas Gibran. Di sinilah hatiku mulai panas, dan Aku benar-benar melihat jelas wajah dari perempuan itu.


"Claudia? I-itu Claudia? Kenapa mereka bisa bertunangan? Nggak mungkin!" Aku syok dan lemas seketika.


__ADS_2