Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Wanita Pengganggu


__ADS_3

Flashback On


Hari dimana Gibran mendapatkan paket kecil yang berupa Flashdisk dari Bram.


CEKLEK


Gibran duduk santai sambil menatap seseorang masuk dengan langkahnya yang anggun dan gemulai dipadu dengan suara sepatu heels yang berirama.


"Hai, Gibran apa kabar?" tanya seorang wanita sembari mengulurkan tangannya pada Gibran untuk berjabatan.


"Ah, emm ... aku baik!" Perlahan Gibran pun menerima jabatan tangannya.


Gibran sedikit terkejut dan tak pernah menyangka bila akan bertemu kembali dengannya. Apakah orang yang ada di hadapannya itu adalah suruhan Bram? Ataukah hanya sekedar bertamu dengan alasan tertentu?


"Kau tidak mempersilahkan aku duduk, Gibran?" Tanya wanita itu dengan penawaran diri.


"Oh ya, maaf silahkan duduk," sahut Gibran mempersilahkan wanita itu duduk, wanita itu pun duduk tepat di hadapan Gibran.


"Aku baru kali ini ke kantormu dan ini sangat luar biasa, Gibran. Aku bangga sekali padamu. Kau sudah menjadi pengusaha sukses," wanita itu menatap dan tersenyum manis pada Gibran.


Gibran hanya meresponnya dengan sedikit senyuman. Gibran sebenarnya tidak tahu kenapa wanita itu ada di kantornya. Ingin bertanya tapi wanita itu tidak memberikan Gibran kesempatan untuk menanyakan perihal kedatangannya. Wanita itu malah asik matanya memandang sekeliling ruangan dan bertanya ini dan itu.


"Wah, enak sekali ya jadi istri kamu. Bisa betah aku di sini, Gibran!" ucap wanita itu lagi yang entah hanya gurauan atau memang benar dia menginginkannya.


EKHEM


Gibran jadi tersentak kaget mendengar ucapan wanita itu. Istri? Kenapa dia bilang istri? Atau jangan-jangan dia datang ke kantor ada maksud tertentu yang belumĀ  diketahui Gibran. Sesuai prediksi bahwa Gibran bisa memastikan kalau wanita di depannya itu adalah hadiah yang dimaksud oleh Bram.


"Maaf, Claudia kalau boleh tahu kamu datang ke kantorku ada perlu apa, ya?" Tanya Gibran to the point, berharap tidak ada hal buruk yang akan dia dapatkan nanti.


Claudia merupakan teman Gibran satu kampus yang juga adalah teman satu kelas Amanda juga Bram. Hanya saja Claudia tidak begitu akrab dengan mereka bertiga. Claudia mengakui pernah jatuh cinta pada Gibran sejak kuliah dulu, namun Gibran tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Claudia.


Claudia yang sekarang berkecimpung di dunia hiburan tepatnya seorang model yang cukup terkenal. Usianya sama seperti Amanda. Sejak dulu Amanda mengetahui jika Claudia beberapa kali mendekati Gibran dan mengajaknya berkencan, namun Gibran selalu menolak.


"Oh, iya sorry sorry dari tadi aku hanya sibuk mengoceh terus ya, jadi belum sempat ngasih tahu tujuan aku datang kemari," Claudia mengedipkan mata genitnya kepada Gibran.


Lagi-lagi Gibran tersentak kaget dengan tingkah Claudia yang membuatnya tidak nyaman. Gibran beralih dengan kepala yang tertunduk. Tiba-tiba saja kepalanya pusing melihat tingkah Claudia yang tidak sopan terhadapnya.


"Gibran, kedatang aku ke sini karena aku akan bertunangan denganmu. Aku tidak sabar untuk menunggu momen itu, sayang!" Ungkap Claudia yang sekarang sudah beralih merangkul leher Gibran tepat dibelakangnya.

__ADS_1


"Apa? Kamu gila? Aku ini sudah punya istri dan kamu juga tahu siapa istriku," Dengan kasar Gibran menepis tangan Claudia di tubuhnya.


"Ya, aku tahu. Si Amanda itu, dia akan menceraikan mu dan kita akan menikah setelah kalian resmi bercerai," jawab Claudia percaya diri.


"Sebentar, kamu ini sedang acting atau kamu ini sakit, hah? Omongan kamu ini ngelantur tau nggak. Aku akan panggil security," Gibran bangkit dan segera mengangkat telepon hendak menghubungi security kantor.


"Tunggu Gibran. Aku bisa menjelaskan semuanya, ok!" Claudia langsung mengambil alih gagang telepon dari Gibran, lalu ditaruhnya kembali ke tempat asal.


Claudia hampir saja mencium pipi Gibran, namun Gibran masih bisa mengelak sehingga ciuman itu tidak pernah terjadi. Gibran merasa gerah saat Claudia berada di dekatnya. Wajar saja bila kelakuan Claudia semakin lama semakin diluar batas karena pergaulannya yang sering menjadi pusat perhatian orang membuatnya tampil percaya diri tanpa memikirkan bagaimana perilakunya saat ini, baik atau buruk di mata orang sekitarnya.


"Kau menghindari aku? Baiklah, kali ini akan aku tunjukkan sesuatu padamu. Kau tidak akan bisa menghindar dariku lagi," Lagi, Claudia mengedipkan mata genitnya pada Gibran.


"Cepat katakan!" Gibran sangat penasaran.


Tampak Claudia sedang menghubungi seseorang.


"Hallo, sesuai dengan kesepakatan. Aku sudah berada di sini bersama calon tunanganku. Kau harus menepati janjimu, mengerti? Aku akan sambungkan dengan orang yang bersangkutan."


Tak lama Claudia memberikan ponselnya kepada Gibran.


"Nih, seseorang ingin berbicara padamu, penting!" ujar Claudia sambil menyodorkan ponselnya ke hadapan Gibran.


"Angkat saja dulu, nanti kau bakal tahu sendiri," ujar Claudia.


Gibran menerima ponsel Claudia dengan ragu. Perlahan dia melihat di layar ponsel itu dengan nama yang tertera 'Bramantyo'. Gibran pun menghela nafasnya berat. Sudah dia duga bahwa Claudia dan Bram bekerja sama.


"Inikah hadiah yang kau berikan untukku, hah? Pengecut loe Bram!"


"Santai dong, Bro. Jangan ngegas gitu dong. Ini sudah harga yang pas dengan perjanjian kita waktu dulu."


"Tapi tidak seperti ini juga caranya, Bram. Nggak harus bertunangan dengan dia."


"Kalau nggak seperti itu nanti Amanda susah untuk bercerai dari kamu."


"Urusan Manda biar aku yang tangani. Aku akan memberikan Manda padamu tapi tidak dengan bertunangan dengan Claudia."


"Claudia itu mencintaimu, sampai-sampai kau menolak Claudia gara-gara menjaga Manda sejak dulu. Sekarang aku tebus semuanya agar kau bisa bersama dengan Claudia. Sedangkan Manda bersama denganku, deal kan? Hahaha"


"Sialan kau Bram. Aku bersumpah akan menghancurkan mu."

__ADS_1


"Silahkan, asal Manda menjadi milikku."


"Shittt."


Gibran menutup teleponnya dengan kesal. Dia sangat marah dan ingin mengakhiri semua sandiwara yang dia ciptakan bersama Bram.


"Bagaimana, kau sudah tahu semuanya sekarang, sayang?" Tanya Claudia yang sudah menyentuh dada Gibran dengan gayanya yang dibuat gemulai.


"Singkirkan tangan hina mu itu, Claudia. Jangan pernah menyentuhku sebelum aku mengizinkannya, mengerti?" Teriak Gibran sangat marah pada Claudia.


"Kau tidak boleh kasar pada calon tunangan mu, sayang!" Ucap Claudia yang lagi-lagi menyebutnya dengan kata sayang.


"Berhenti memanggilku dengan sebutan sayang. Aku jijik mendengarnya dari mulutmu itu. Sekarang keluar dari ruanganku!" Sentak Gibran mengusir Claudia.


"Tidak mau, aku mau denganmu saja!" Claudia malah bergelayut manja di lengan Gibran.


Gibran langsung menepis tangan Claudia dengan kasar.


"Auuu, kasar sekali kamu Gibran!" Rintih Claudia kesakitan.


"Keluarrrr!" Gibran mencekal tangan Claudia lalu membawa wanita itu keluar dari ruangannya.


BRAKKK


Pintu pun tertutup rapat dan tak lupa Gibran pun menguncinya dari dalam agar Claudia tidak bisa masuk ke ruangannya lagi.


"Dasar, wanita pengganggu!" umpat Gibran kesal.


CEKLEK CEKLEK CEKLEK


TOK TOK TOKKK


"Gibran, buka pintunya. Gibran, buka pintunya!" Teriak Claudia dari luar ruangan Gibran.


Gibran tak peduli dengan teriakan Claudia. Hingga Gibran segera memanggil security untuk mengusir Claudia.


"Dasar licik permainan Bram. Baiklah, Aku juga akan melakukan permainanku dengan licik pula," ucap Gibran.


"Permainan dimulai," gumam Gibran sembari menarik sudut bibirnya.

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2