Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Perlakuan Buruk


__ADS_3

Dua bulan berlalu, kini hubunganku dan mas Gibran benar-benar sudah diambang kehancuran. Beberapa kali Aku mencoba berbicara padanya mengenai permasalahan yang sekarang kami hadapi, tapi suamiku itu tetap saja berdiam, dingin dan marah-marah padaku. Aku selalu bersabar menghadapi sikap buruknya itu.


Entah siapa yang salah atau masalah apa yang sedang mas Gibran hadapi sekarang, Aku ingin tahu agar Aku bisa membantunya, tapi malah Aku mendapatkan kecaman buruk yang sangat menyakiti hatiku dari mas Gibran.


Aku tidak bisa berdiam diri. Sebagai seorang istri, Aku harus bisa tegar. Ya, ini adalah ujian pertama dalam rumah tangga kami yang paling membuat diriku frustasi.


Ujian dalam rumah tangga bisa hadir sebagai bentuk pembersihan dosa atau teguran atas sikap manusia yang penuh kesalahan. Jika pasangan tidak diberi ujian dalam kehidupan rumah tangga maka susah untuk bersyukur dan berubah ke arah yang lebih baik. Saat ujian datang, upaya untuk mempertahankan hubungan juga sangat dibutuhkan.


Hari ini Aku akan ke kantor mas Gibran untuk menemui dia dengan alasan membawakan makan siang sekaligus makan berdua di kantornya. Jujur, Aku merindukan masa-masa dulu saat kami awal-awal menikah setahun lalu. Aku sering makan siang dengan mas Gibran di kantor sambil membawakan request makanan kesukaannya.


TOK TOK TOKKK


Dadaku bergemuruh hebat saat mengetuk pintu ruangan mas Gibran. Padahal ini bukan yang pertama kalinya, bahkan berulang-ulang kali, dan parahnya Aku semakin gugup dengan sikapku yang seolah baru pertama kali berkencan dengan seorang pacar. Owh my God.


"Masuk," ucap mas Gibran dari dalam ruangannya.


Sebelum Aku membuka pintu, sejenak Aku menarik nafasku agar tidak canggung dan berharap mas Gibran senang dengan kedatanganku.


CEKLEK


"Mas Gibran," sapaku saat melangkah ke dalam.


BRAKKK


Seketika Aku kaget dengan pukulan keras yang mas Gibran layangkan pada tangannya ke meja.

__ADS_1


"Ngapain kamu datang ke sini? Mau ganggu aku kerja, hah?" bentak mas Gibran, matanya melotot ke arahku.


"A-aku hanya membawa makan siang untuk kamu kok, Mas!" Aku berjalan cepat ke depan dan menaruh rantang makanan di hadapan mas Gibran.


"Aku nggak nyuruh kamu untuk bawa makan siang ke sini. Lagi pula aku sudah makan, aku kenyang. Sana bawa lagi makanan ini," bentak mas Gibran sekali lagi dengan alasannya, dan dengan kasar pula menyodorkan kembali rantang makan siang yang Aku bawa.


Aku diam sejenak menatap rantang makan siang itu, Aku sedih dengan apa yang terjadi sekarang ini. Sampai-sampai mas Gibran tidak sudi menerima apa yang sudah Aku siapkan demi menyenangkan hatinya, namun kenyataannya suamiku ini malah tidak menghargai apa yang sudah Aku lakukan untuknya.


"Ngapain bengong? Nih bawa makanannya dan pulang sana. Kayak nggak ada kerjaan saja. SUDAH SANA PULANG!" dengan lantang mas Gibran mampu membuatku menjatuhkan air mata. Sungguh sakit hatiku.


Aku mencoba tegar dan menghapus air mataku dengan cepat.


"Aku memang nggak ada kerjaan di rumah. Bukannya Mas sendiri yang menyuruhku berhenti bekerja?" Aku memberanikan diri untuk protes.


"Owhhh, kamu ingin bekerja? Ya, silahkan saja. Kali ini aku tidak melarang kamu untuk kerja. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau," ujar mas Gibran dengan entengnya.


"Sana pulang dan jangan lagi kamu datang ke kantorku jika aku tidak menyuruhmu, paham!" perintah mas Gibran begitu sangat menusuk hatiku, sakit rasanya, perih.


Tanpa membalas sepatah kata pun, Aku langsung membawa kembali rantang berisi makanan. Aku pun melangkah pergi tanpa menatap wajah mas Gibran.


BRAKKK


Aku menutup pintu ruangan mas Gibran cukup keras. Seharusnya tidak baik Aku melakukan hal itu, tapi itulah caraku untuk memperlihatkan pada mas Gibran bahwa Aku marah padanya, Aku kesal padanya, Aku benci dengan sikapnya yang sekarang.


Aku bersandar di pintu itu, sejenak Aku mengistirahatkan pikiran dan hatiku agar bisa bernafas dengan lega. Ya, sejak di dalam tadi sulit sekali bagi diriku untuk bernafas dengan benar kalau sudah berhadapan dengan mas Gibran.

__ADS_1


"Bu Amanda, Ibu baik-baik saja?" tanya Lala, dia sekretaris suamiku.


"Hem, saya baik kok," sahutku mencoba tersenyum dengan ramah.


"Maaf Bu Amanda kalau saya lancang. Akhir-akhir ini pak Gibran sering marah-marah di kantor dan meeting pun sering nggak fokus. Apa ada masalah sama pak Gibran? Sekali lagi saya minta maaf, Bu. Jujur, saya sangat kewalahan menghadapi sikap pak Gibran yang tempramen. Sepertinya ... saya ingin mengundurkan diri saja," ungkap Lala dengan suara pelan dan sangat hati-hati untuk merangkai kalimatnya.


Sontak Aku terkejut. Aku kira, sikap mas Gibran berubah hanya padaku, tapi rupanya dengan karyawannya juga. Apalagi sekretaris seperti Lala yang sudah bekerja cukup lama dengan mas Gibran saja, dia menyatakan ingin berhenti bekerja. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mas Gibran. Jika bukan ada masalah di kantor, lalu masalah apa yang membuat sikap mas Gibran berubah buruk seperti ini?


"Tahan saja dulu, mungkin saja pak Gibran hanya emosi sesaat," ucapku beralasan.


"Tidak Bu Amanda, sikapnya berubah sudah beberapa bulan lalu. Tekadku sudah bulat. Aku ingin mengundurkan diri secepatnya," ujar Lala menyorotkan mata sedih.


Lala adalah salah satu karyawan mas Gibran yang cukup dekat denganku. Karena mas Gibran sering menitipkan pesan untukku lewat Lala, sang sekretaris. Aku tidak menyangka jika sikap mas Gibran membuat karyawan yang loyal seperti Lala bisa dengan mudah ingin mengundurkan diri dari kantor.


"Saya harap kamu pikirkan lagi sebelum menyesali keputusan kamu, Lala!" ujarku pada Lala.


"Saya menyerah, Bu!" kata Lala sambil menggelengkan kepalanya.


"Baiklah, terima kasih atas keluhanmu tadi, karena itu aku bisa merasakan kejanggalan-kejanggalan atas perubahan sikap suamiku."


"Sama-sama, Bu Amanda!" Lala mengangguk.


Kemudian Aku pun melangkah pergi dari kantor mas Gibran dengan hati yang sangat kecewa dan terluka. Baru kali ini Aku diperlakukan sebagai orang asing, padahal Aku adalah istri seorang pengusaha terkenal, Gibran Aditya.


Dalam perjalanan pulang, Aku teringat perkataan Lala yang akan mengundurkan diri dari kantor mas Gibran. Seketika itu Aku mendapatkan ide. Entah ini baik atau buruk, yang pasti Aku harus melakukan sesuatu untuk mendapatkan jawaban yang menjadi keraguanku dan membuatku penasaran.

__ADS_1


Mungkin Aku bisa memanfaatkan situasi ini. Aku bergegas mengambil ponselku dari dalam tas, lalu Aku menghubungi seseorang kenalanku.


"Hallo."


__ADS_2