Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Setengah dari Biasanya


__ADS_3

Sekarang ini, mas Gibran selalu pulang tepat waktu dan makan masakan yang Aku buat tanpa ada hidangan seafood di meja makan. Tapi perbedaan masih saja sama Aku rasakan, yaitu kami tidak saling bicara. Setiap Aku bertanya ataupun bercerita, mas Gibran sama sekali tidak menanggapinya. Aku tidak dianggap olehnya. Perkataan ku bagaikan angin lalu saja.


Komunikasi adalah salah satu pondasi kehidupan yang paling penting, akan menghadirkan kehidupan yang damai, nyaman, dan selamat kepada seluruh pihak yang terlibat. Terlebih dengan terjalinnya hubungan komunikasi dengan siapapun, silaturahmi juga akan terjaga dengan harmonis.


Dalam hubungan rumah tangga, komunikasi tentu menjadi modal hidupnya keluarga. Suami dan istri harus bisa memiliki pola komunikasi yang baik demi terjaganya keharmonisan rumah tangga. Namun, dalam realitanya ketika pasangan suami dan istri sedang bertengkar. Tak jarang mereka mengikuti egonya dengan tidak saling berkomunikasi, kondisi ini sangat berisiko menyebabkan perpecahan di dalam rumah tangga.


Setiap kali selesai makan malam, mas Gibran langsung pergi begitu saja, kadang menonton TV di ruang keluarga, kadang juga langsung masuk ke kamar. Sikapnya selalu seperti itu selama 3 bulan ini. Aku ada di sampingnya, tapi dia seolah tidak menyadarinya.


Lalu untuk apa Aku berada di dekatnya jika Aku diabaikan? Kalau memang sudah tidak mencintaiku kenapa musti bertahan dengan keadaan seburuk ini? Apa karena Aku yang menjadi Bebannya? Apa harus Aku yang memulai untuk mengakhiri hubungan ini? Sungguh semuanya tidak Aku pahami, hingga Aku rela hatiku selalu disakiti olehnya.


"Mas, sampai kapan kamu mendiamkan aku seperti ini? Apa salahku sampai kamu selalu saja menghindar dariku, Mas?" tanyaku memberanikan diri, saat mas Gibran mengganti pakaian tidurnya.


Hening, tidak ada jawaban sedikitpun dari mas Gibran. Melirik saja tidak, bagaimana dia mau menjawab pertanyaan dariku, bahkan mendengar suaraku saja seperti tidak sudi.


"Mas, tolong jangan bersikap seperti orang yang tidak Aku kenal," ucapku yang kali ini mendekatinya.


Bukannya menjawab, Mas Gibran malah berjalan membuka pintu kamar. Dia tidak peduli dengan perkataanku.


"Kamu berubah, Mas!" ucapku dengan lantang agar mas Gibran mendengar. Syukur-syukur bila dia menanggapi.


Tapi nyatanya nol besar. Mas Gibran masih juga tidak menggubris perkataanku.


Aku menangis melihat kepergian mas Gibran yang meninggalkan aku sendirian di kamar. Sepertinya mas Gibran pindah tidur di kamar tamu. Istri mana yang ingin tidur sendiri atau tanpa ditemani suami? Sebagai istri, rasanya bahagia sekali bisa tidur berdampingan dengan suami. Memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah pasti menjadi dambaan setiap pasangan suami istri.


Bukan hanya bahagia secara fisik atau raga, tetapi juga bahagia secara psikis dan batiniah. Tentunya, itu semua harus diperjuangkan dan dipupuk alias tidak bisa hadir begitu saja. Salah satu cara menjaganya adalah selalu hadir saat dibutuhkan oleh pasangan.

__ADS_1


Tapi sayangnya berbeda denganku, malam ini Aku merasakan sunyi, sepi dan sendiri di ranjang yang biasa Aku dan mas Gibran gunakan untuk berbagi kehangatan, dulu.


*******


"Mas, persediaan bahan makanan sudah hampir habis. Boleh aku minta uang belanja sekarang? Aku mau ke supermarket nanti," pintaku pada mas Gibran sebelum dia berangkat ke kantor pagi ini.


"Biar aku saja yang ke supermarket beli belanjaan," jawabnya dingin.


"Aku ikut, ya Mas!" Aku menawarkan diri.


"Nggak usah!" seru mas Gibran.


Aku sedikit kesal dan memanyunkan bibirku. Suamiku tega sekali, Aku marah padanya.


Nggak biasanya mas Gibran telat memberikan uang bulanan untukku. Entah dia lupa atau pura-pura lupa, Aku hanya berharap tidak disengaja oleh mas Gibran untuk melalaikan tanggung jawabnya padaku sebagai istri.


Aku menatap mas Gibran yang tengah mengelap mulutnya dengan tisu. Mas Gibran tak merespon perkataanku. Mas Gibran seperti biasa, hanya diam. Kemudian dia langsung mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu di sana.


TINGGG


Tak lama kemudian, ada notif masuk di ponselku. Aku pun langsung melihatnya dan membuka notif itu. Ternyata mas Gibran mentransfer uang kepadaku. Tapi seketika Aku kaget dan melongo. Entah Aku yang salah atau mataku bermasalah. Jumlah uang yang mas Gibran beri padaku tidak sebesar dia memberikan jumlah uang sepert biasa di bulan-bulan sebelumnya.


"Loh, mas kenapa uang yang kamu kasih segini? setengah dari yang biasa kamu kasih ke aku?" tanyaku heran, Aku nggak tau kenapa mas Gibran melakukan hal semacam itu. Dia lupa atau memang disengaja.


"Kenapa memangnya kalau aku kasih uangnya segitu? Ada masalah? Bukanya bersyukur malah komplain!" ketus mas Gibran menanggapi.

__ADS_1


"Aku nggak masalah kalau kamu kasih aku uang segini. Tapi selebihnya kemana uang itu? Dan untuk apa, Mas? Setidaknya Aku harus tau dong. Bukannya mengintrogasi, tapi Aku wajib tahu loh, Mas."


"Banyak tanya lagi. Mulai sekarang uang bulanan kamu hanya segitu, paham!" Mas Gibran bangkit dari duduknya. Dia hendak melangkah pergi.


"Mas, jujur sama aku. Kenapa kamu kasih uang ke aku cuma setengah dari biasanya? Aku cuma ingin tahu saja," Aku mencegat mas Gibran di depannya.


"Ya, terserah aku lah. Yang kerja aku, yang punya perusahaan juga aku, jadi terserah aku mau kasih kamu uang berapapun semauku, PAHAM!!!" bentak mas Gibran di akhir katanya penuh penekanan. Aku tersentak kaget dibuatnya.


Mas Gibran pun melanjutkan langkahnya kembali. Sungguh Aku tak terima jika mas Gibran tidak menjawab pertanyaanku dengan benar. Aku yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan dari suamiku padaku.


"KAMU SELINGKUH, MAS?" Teriakku sebelum mas Gibran melewati pintu rumah.


Seketika mas Gibran langkahnya terhenti, dia menoleh ke arahku.


"Apa kamu sudah gila? Selingkuh? Kamu menuduhku selingkuh, hah? Kalau kamu nggak suka sama uang yang aku kasih, jangan asal nuduh orang sembarang tau nggak!" ucap mas Gibran dengan kesal, sorot matanya tajam menatapku.


"Karena alasan kamu nggak masuk akal, Mas. Kalau bukan selingkuh, lantas kenapa uang bulanan aku kamu kurangi setengah, hah? Lalu kemana uang setengahnya? Kamu beri ke siapa? Kamu pakai untuk apa, hah?"


"CUKUP AMANDA!!" teriak mas Gibran menggema, dia terlihat menahan amarah.


"Jangan memulai debat denganku selagi aku masih bisa menahannya untukmu, kalau tidak ... aku bisa saja menghabisi mu!" Kata mas Gibran mengancam. Baru kali ini suamiku itu mengatakan hal yang tidak pantas dikatakan pada seorang istri.


"Astaghfirullahal'adzim. Kamu tega, Mas ... hiks...hiks...hiks."


Aku hanya bisa menangis. Mas Gibran kali ini sudah di luar batasnya. Dia mulai berani berkata kasar, apalagi mengancam tentang nyawaku untuk menghabisi ku. Lantas, apakah mas Gibran akan berani melakukan kekejamannya padaku bila Aku tetap pada kebenaran?

__ADS_1


__ADS_2