Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Mendatangi Kantor


__ADS_3

Hari ini entah mengapa hatiku merasa tidak enak. Ada yang mengganggu pikiranku sejak tadi. Mas Gibran adalah salah satu alasan pikiran dan hatiku jadi kacau. Ada banyak argumen-argumen yang melekat di kepalaku hingga menjadi tidak tenang. Padahal Aku sudah menelepon Dewi tentang keadaannya mas Gibran saat ini. Namun Dewi mengatakan bahwa suamiku dalam keadaan baik-baik saja. Lantas kenapa perasaan ini begitu tidak tenang?


Sebenarnya Aku terlalu jauh memikirkan sesuatu yang buruk terhadap suamiku. Seharusnya Aku percaya padanya. Tapi di satu sisi Aku tidak bisa tenang karena sikap mas Gibran akhir-akhir ini semakin aneh dan semakin keterlaluan padaku. Bahkan kata-katanya lebih pedas dari sebelumnya.


Dulu Aku masih positif thinking pada mas Gibran, namun untuk sekarang ini Aku tidak bisa diam saja. Aku harus tahu yang sebenarnya, setidaknya Aku berusaha agar keutuhan rumah tanggaku terjaga.


Aku sudah pasrah bila memang ada sesuatu yang tidak Aku inginkan terjadi. Aku pun pasrah bila memang mas Gibran nyatanya sudah tak mencintaiku lagi. Jika memang suamiku mempunyai wanita lain, paling tidak Aku ingin tahu siapa wanita itu. Mungkin wanita yang menjadi selingkuhannya lebih baik dariku, maka Aku akan mengikhlaskan mas Gibran untuk kebahagiaan dirinya terlebih lagi diriku agar tak merasakan luka yang lebih dalam lagi.


Tok tok tokkk


"Masuk!" ujar mas Gibran dari dalam ruangan kerjanya.


"Pak, Pak gawat Pak!" pekik Dewi antusias.


Sungguh dia bisa memainkan perannya untuk mengelabui mas Gibran. Tidak salah Aku memilihkan Dewi sebagai sekretarisnya mas Gibran sekaligus mata-mata.


"Ada apa? Gawat kenapa? Kamu seperti dikejar hantu saja," tanya mas Gibran.


"I-itu Pak ... ada istri Bapak di luar, dia marah-marah ingin menemui Bapak sekarang," ucap Dewi dengan nada yang dibuat-buat gugup.


"Apa? Kan saya sudah bilang, siapa pun jangan terima dulu tamu untuk temui saya terutama istri saya, gimana sih kamu!" Bentak mas Gibran, dia bangkit dari kursi kerjanya.


Aku bisa melihat wajah suamiku itu sedang marah, dan terlihat sekali dia sangat kesal. Dan sekarang Aku yakin pasti mas Gibran sebentar lagi amarahnya meledak-ledak.


BRAKKK


"Arghhh, sialll," umpat mas Gibran sambil menendang kursinya dengan kuat, dan itu membuat Dewi kaget.


Aku tahu karena sekarang ini, Aku berada tepat di depan pintu ruang kerja mas Gibran yang kebetulan tidak di tutup rapat oleh Dewi, supaya Aku bisa mendengar dan melihat langsung reaksi mas Gibran atas kedatanganku ke kantornya hari ini.


Ternyata harapanku tidak sesuai dengan apa yang sudah dibayang-bayangi di kepalaku. Sedikit kecewa sih, karena mas Gibran tidak menginginkan Aku datang ke kantornya. Jujur Aku sangat kecewa dan sakit hati sekali pada suamiku itu.


"Usir dia sekarang!" perintah mas Gibran.

__ADS_1


"Hah, usir istri Bapak maksudnya?"


"Iya, siapa lagi," bentak mas Gibran lagi.


"Bapak nih gimana sih, istri datang bukannya senang tapi malah marah-marah. Lagi pula istri Bapak galak banget tadi, saya nggak berani mengusirnya. Mending Bapak saja!" ujar Dewi dengan santainya, dia begitu berani menantang mas Gibran. Dasar Dewi somplak.


"Hei, kamu itu sekretaris saya, kenapa jadi kamu yang ngatur-ngatur saya, hah?" Bentak mas Gibran yang kesekian kalinya. Dia benar-benar marah dengan Dewi.


"I-iya sih Pak, tapi pokoknya saya nggak mau ngusir istri Bapak. Saya takut dimaki-maki sama dia lagi. Istri Bapak galak banget!" bantah Dewi dengan ketus.


"Hei, sepertinya kamu lebih takut sama istri saya daripada dipecat sama saya, hah?" ancam mas Gibran semakin marah.


Sebelum mas Gibran memaki dan mengeluarkan sumpah serapahnya terhadap Dewi, Aku harus bertindak lebih cepat agar hal yang buruk dapat terhindari.


"Kamu mau pecat sekretaris kamu, Mas? Apa karena dia tidak menuruti perintah kamu, hah? Katakan!" Aku memasuki ruang kerja mas Gibran begitu saja tanpa disuruh. Aku berjalan mendekati Dewi dan juga mas Gibran.


"Ngapain kamu di sini? Aku sedang kerja, sana pulang!" titah mas Gibran dengan suaranya tertahan menahan amarah.


"Aku bilang pulang ya pulang. Turutin apa kata suami kamu," ucap mas Gibran.


"Aku maunya di sini sama kamu, Mas!" bantahku tak mau kalah.


"SANA PULANGGG!!" teriak mas Gibran menggema di ruangannya.


Sontak Aku dan Dewi terkejut. Yang Aku tidak habis pikir bahkan mas Gibran tega membentak ku di depan Dewi yang mas Gibran akui sebagai sekretarisnya. Aku sangat kecewa. Untung Dewi sepupuku. Di depan Dewi saja Aku sudah merasa malu, apalagi orang lain.


Aku pun menoleh ke arah Dewi. "Kamu, keluarlah!" Aku menyuruh Dewi untuk ke luar dari ruangan.


"Iya, Mbak...," sahut Dewi keceplosan memanggilku dengan sebutan 'mbak'.


Aku langsung melotot melihat Dewi, mengkode agar Dewi meralat panggilanku dengan menggunakan panggilan 'Ibu' saat di kantor.


"Eh, ma-maksudnya Ibu. Maaf, habisnya muka Ibu Amanda muda banget, cocok kalau dipanggil Mbak," ucap Dewi beralasan.

__ADS_1


"Sana cepat keluar!" pekik mas Gibran.


Aku mengangguk pelan ke arah Dewi sebagai kode untuk menuruti apa yang diperintahkan oleh mas Gibran.


"CEPAT KELUAR! Dasar sekretaris durhaka," umpat mas Gibran kasar.


"I-iya saya keluar nih, Pak!" Dewi pun bergegas pergi meninggalkan Aku dan mas Gibran berdua di dalam ruangan.


Mas Gibran menatapku tidak suka. Dia sepertinya sangat frustasi. Ada apa sebenarnya? Padahal Aku hanya mendatanginya, tapi kenapa mukanya sangat tidak menginginkan Aku. Segitu bencinya mas Gibran padaku sekarang.


"Kamu juga pulang sana. Kepalaku pusing jangan ditambah pusing, paham!" Mas Gibran mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


"Aku di sini saja," Aku berjalan lalu duduk di sofa.


"Tidak, kamu harus pulang. Nanti aku suruh sopir ngantar kamu pulang," Mas Gibran menarik tanganku.


"Aku nggak mau, Mas!" Aku menepis tangan mas Gibran, memberontak.


"Aku sibuk, ada meeting setelah ini."


"Nggak apa-apa aku tunggu di sini saja," Aku tetap kekeuh membantah.


"Kamu....!" ucap mas Gibran terhenti.


Dert dert derttt


Mas Gibran langsung mengambil ponselnya dan melihat nama panggilan di layar tersebut. Dia pun menjawab panggilan itu di depanku.


Hallo, maaf kita harus membatalkan pertemuan kita hari ini, karena di kantor saya sedang ada parasit kecil yang harus saya tangani. Nanti saya hubungi lagi.


DEG


What? Parasit kecil? Jadi Aku ini adalah parasit baginya. Tega sekali mas Gibran, apalagi dia mengatakannya pada seseorang. Aku tidak tahu siapa orang yang baru saja menelepon mas Gibran. Tapi kenapa hatiku tidak tenang, bahkan mas Gibran rela membatalkan pertemuannya yang entah siapa orang itu. Mungkin Aku adalah ancaman baginya.

__ADS_1


__ADS_2