
Semua orang yang telah menikah tentunya ingin memiliki rumah tangga bahagia. Kunci rumah tangga bahagia tentunya harus dilakukan oleh dua belah pihak dan menjadi tujuan yang diidamkan oleh setiap pasangan yang menjalani kehidupan pernikahan. Mewujudkan rumah tangga bahagia juga adalah tugas sepanjang hidup yang mungkin tidak mudah bagi sebagian pasangan. Ini merupakan hubungan yang didasarkan pada saling mencintai, menghargai, dan menghormati satu sama lain.
Namun setelah menikah dan menjalani bahtera rumah tangga, selain bahagia tentulah semua pasangan menginginkan rumah tangga yang harmonis. Keinginan tersebut tidak selalu terwujud dengan mudahnya. Dalam rumah tangga tentu akan ada beberapa masalah dalam menuju perjalanan rumah tangga yang bahagia dan harmonis, juga tidak dapat terjadi tanpa adanya proses dan pembelajaran dari masing-masing pasangan.
Kita dan pasangan pasti pernah berbuat kesalahan dan saling menyakiti. Namun, penting sekali untuk dapat saling memaafkan setelah masalah selesai dan melanjutkan hidup tanpa terus mengungkit masa lalu.
Apa pun masalah yang pernah terjadi, pasangan dengan rumah tangga bahagia akan menyelesaikannya dan meninggalkannya di masa lalu tanpa menyimpan dendam dan mengungkitnya terus-menerus.
"Pagi sayang," sapa mas Gibran membangunkan tidurku.
Ternyata hari sudah pagi. Permainan semalam membuatku tidur dengan nyenyak. Mataku belum terbuka sempurna. Wajar, karena melakukannya saja semalaman sampai subuh. Makanya hingga saat ini Aku merasakan ngantuk yang sangat berat.
"Hemm ... pagi sayang," balasku dengan suara yang sangat malas. Aku hanya mengerjab-ngerjabkan mataku yang belum mampu terbuka lebar.
"Hei, ayo bangun sayang. Mandi gih. Setelah itu kita sarapan, jalan-jalan lalu pulang," ucap mas Gibran sambil mengacak-acak rambutku.
"Sebentar lagi, Mas. Aku masih ngantuk," ucapku sangat pelan tak bertenaga.
"Ayolah sayang. Lihatlah tubuhmu ini, aku sudah menahannya, jangan sampai aku hilang kendali untuk memangsamu lagi."
"Sepuluh menit lagi, ya please!" pintaku memohon.
"Punyaku sudah mulai panas dingin loh, sayang. Jika kelamaan nunggu kamu, aku nggak bisa toleransi lagi, loh. Jangan salahkan Mas!" Mas Gibran tak main-main dengan perkataannya, dia membuka selimut dari tubuhku. Sontak membuatku kaget hingga Aku bangkit dari tidur.
"Ok, ok aku bangun. Aku mandi sekarang, ya. Please, tolong dikondisikan Mas. Semalam saja aku sudah kelelahan karena ulahmu, Mas!" bergegas Aku langsung melangkah ke kamar mandi.
Mas Gibran hanya terkekeh melihat ku yang buru-buru pergi meninggalkannya.
Jujur, sebenarnya tubuhku sangat lesu sekali untuk melangkah. Namun Aku tidak bisa berdiam diri tidur di kasur dengan posisi yang masih mengundang juniornya mas Gibran bangkit kembali. Jika itu terjadi maka jangan harap ada celah untuk menyudahi secara sepihak.
__ADS_1
Aku yakin semangat mas Gibran begitu membara. Wajar sih, karena sudah lama kami tidak melakukannya. Rindu serta merta membuat suasana yang romantis saling mengisi kebahagiaan tiada tara. Itulah mengapa walaupun Aku merasa kelelahan, tapi Aku tulus melayani suamiku dengan penuh cinta demi kebahagiaan kami berdua.
Kunci kebahagiaan rumah tangga pun akan membentuk ikatan yang kuat antara suami dan istri, di mana kedua belah pihak merasa aman, terpenuhi, dan diterima dalam suatu hubungan.
Satu jam berlalu, kini Aku telah rapih dengan pakaianku begitu juga dengan mas Gibran. Saat ini kami akan menuju restoran untuk sarapan pagi setelah itu dilanjut dengan menonton film di bioskop. Banyak sekali aktivitas yang telah kami lewatkan kemarin dan sekarang kami akan mewujudkannya secara sederhana dengan bersenang-senang.
"Are you happy, honey?" Tanya mas Gibran mencium puncak kepalaku setelah kami berada di dalam mobil.
"Ya, I am so happy. Thank you, Mas!"
"Mas yang harus berterima kasih sama kamu, sayang. Karena kamu sudah banyak bersabar dan bertahan atas sikap Mas yang kemarin. Kamu juga mau memaafkan Mas. Jadi, Mas lah yang sangat berterima kasih sama kamu. Thank you, sayang ... muachhh!" Mas Gibran memelukku dan berkali-kali mencium ku. Aku begitu terharu dengan perlakuannya.
Faktor penting terciptanya rumah tangga bahagia salah satunya adalah romantisme. Mempunyai waktu luang untuk quality time bersama pasangan berdua saja. Kegiatan itu tidak hanya mampu melepas penat dari semua masalah rumah tangga, tapi juga akan memperkuat perasaan dan komitmen pada satu sama lain.
Inilah mas Gibran ku yang sesungguhnya. Mas Gibran ku telah kembali seperti dulu dengan sikapnya yang lembut, perhatian dan selalu memberikan kasih sayangnya kepadaku dengan tulus.
"Sekarang kita pulang, ya. Aku mau melanjutkan kembali permainan kita yang semalam," ucap mas Gibran menggoda.
Bergegas mas Gibran melajukan mobilnya menuju rumah kami. Rumah yang selalu membuatku merindukan kebersamaan dengan suamiku. Memadu kasih dan sayang setiap hari di sana.
Tak lama kemudian, kami telah sampai di halaman rumah kami. Namun ada yang berbeda. Sekarang ini rumah kami sedang kedatangan tamu. Entah siapa yang datang. Aku dan mas Gibran heran. Jika dilihat, mereka bukanlah keluarga dari kami berdua. Aku dan mas Gibran saling melempar pandang. Akhirnya kami pun tahu siapa yang berada di hadapan kami saat ini.
Sepertinya, kepulangan kami ke rumah tidaklah sesuai dengan apa yang kami harapkan. Seharusnya, kami tetap berada di hotel saja. Mau putar balik pun percuma. Kami bukanlah pecundang.
TOK TOK TOKKK
"Keluar!" teriak seorang lelaki menggedor pintu kaca mobil di samping mas Gibran.
"Keluar sekarang, atau saya hancurkan kaca ini," lagi, teriak lelaki itu menyuruh mas Gibran untuk keluar.
__ADS_1
"Jangan Mas!" ucapku mencegah mas Gibran yang hendak ke luar dari mobil.
"Kamu tunggu di mobil saja. Aku akan ke luar. Kamu kunci pintunya, ya!" Pesan mas Gibran sembari memberikan kunci mobilnya padaku. Dia tetap kekeuh hendak ke luar dari mobil.
"Tapi jumlah mereka banyak, Mas. Aku takut kamu kenapa-napa. Tetaplah disini, Mas!" Pintaku memohon dengan ketakutan.
"Masalah tidak akan selesai jika Mas hanya berdiam diri, sayang. Tenang saja, anak buah Mas juga nggak kalah dari mereka-mereka, kok!" Ucap mas Gibran meyakinkan. Sebelum ke luar dari mobil, mas Gibran menyempatkan mencium keningku terlebih dulu.
Mas Gibran melangkah maju mendekati Bram. Ya, sekarang ini Bram berada di rumah kami. Dia memasuki kediaman kami dengan jumlah orang yang cukup banyak. Inilah yang Aku takutkan. Bram pasti akan berbalas dendam pada orang yang sudah membuatnya malu dan menghancurkan harapannya. Aku berharap Bram tidak akan melakukan aksi jahatnya pada kami terutama mas Gibran.
"Kedatangan kamu kemari sangatlah tidak tepat, Bram. Pergilah, kau seharusnya memberikan waktu untukku dan istriku bersenang-senang," ucap mas Gibran pada Bram yang sedang berdiri tenang sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Bram tidak langsung menjawab perkataan mas Gibran. Bram malah memandang mobil yang sedang Aku tumpangi. Terlihat jelas matanya mengarah padaku. Tatapan matanya membuatku takut.
"Urusanku denganmu akan aku selesaikan setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Amanda terlebih dulu," Bram tersenyum miring setelah mengatakan itu.
Bram langsung mengkode anak buahnya yang mengarah pada mas Gibran.
"Urus dia," pinta Bram pada anak buahnya yang langsung mencekal kedua tangan mas Gibran.
"Jangan macam-macam pada istriku, Bram. Jika kau menyentuhnya. Aku akan membunuhmu, Bram!" Teriak mas Gibran yang tak bisa berbuat apa-apa.
Anak buah mas Gibran sedang melakukan perlawanan terhadap anak buah Bram yang ternyata lebih banyak dari pasukan anak buah mas Gibran.
Sedangkan Bram, saat ini dia berjalan mendekati mobil yang sedang kutumpangi. Aku sangat takut sekali. Ingin ke luar membantu mas Gibran, tapi Aku harus mentaati apa yang diperintahkan oleh suamiku.
TOK TOK TOKKK
"Buka!" Pinta Bram sambil menggedor-gedor pintu kaca mobil di sampingku.
__ADS_1
"Buka pintunya, Manda!" Pintanya kembali dengan teriakan yang menakutkan.