Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Menginap di Hotel


__ADS_3

Hari ini tepat hari kedua Aku berada di Hotel. Dengan segala rasa sedih, marah, gelisah, gundah dan benci berkumpul menjadi satu. Bayangan-bayangan buruk selalu menghantuiku. Ketakutan pun kini menjelajahi pikiranku.


Apa Aku ini sudah tidak berarti lagi bagi suamiku? Apa Aku tidak menarik di mata suamiku lagi? Apa Aku istri yang membosankan bagi suamiku? Sebenarnya, apa yang salah dan kurang dariku sehingga mas Gibran tidak peduli lagi padaku? Atau jangan-jangan memang ada wanita lain yang sedang mengisi hati mas Gibran? Oh tidak, ku harap tidak seperti itu.


Sejak hari pertama Aku pergi dari rumah, tidak ada sekalipun mas Gibran meneleponku. Aku sepertinya sudah dianggap tidak ada. Kepergianku dia anggap kesempatan untuk kebebasan dirinya. Tidak adanya diriku bersamanya mungkin membuat dia bahagia. Jadi keputusanku pergi dari rumah adalah benar dengan bukti tidak adanya mas Gibran menghubungiku atau mencari ku. Aku sangat kecewa sekali.


Dert dert derttt


Aku bergegas melihat layar di ponselku, Aku berharap bahwa itu adalah mas Gibran. Tapi nyatanya, saat Aku melihatnya malah nama Dewi yang tertera di sana. Aku tersenyum hambar. Tidak seharusnya Aku menunggu telepon dari mas Gibran yang sudah berubah hatinya menjadi batu, keras dan dingin. Dasar bodoh kau Amanda, batinku.


Aku pun menjawab panggilan dari Dewi dengan malas, tidak ada semangat dan gairah. Padahal Aku yang menyuruh Dewi untuk selalu memberi kabar kegiatan sehari-hari tentang mas Gibran di kantor.


Hallo Dewi, ada apa?


Mbak, gawat deh. Mas Gibran sudah dua hari ini dia marah-marah terus. Dan hari ini yang lebih parah, suami kamu itu ngamuk-ngamuk, ruangan kerja dia saja berantakan seperti kapal pecah. Aku rasanya nggak sabar ngadepin bos kayak dia, Mbak.


Apa ada masalah di kantor? Apa perusahaan mas Gibran kalah tender?


Perusahaan aman-aman saja kok, Mbak. Dasar suami kamu aja yang lagi error. Kalian berantem ya, Mbak?


Nggak ada berantem-berantem, kok. Mbak sudah dua hari ini ada di hotel, pergi dari rumah.


Apa? Jadi ternyata permasalahannya itu ada pada kamu, Mbak.


Apa hubungannya sama Mbak?


Ya karena Mbak pergi dari rumah, makanya suami kamu itu marah-marah nggak jelas di kantor. Mending Mbak pulang deh. Sebab aku nggak betah kerja kalau suami kamu ngamuk-ngamuk lagi di kantor.


Nggak mau ah, orang mas Gibran nya aja nggak peduli sama Mbak. Pas hari pertama Mbak pergi dari rumah, dia nggak pernah menghubungi Mbak sekalipun.


Ya udah, sekarang Mbak di hotel mana? Setelah pulang kantor, Aku samperin Mbak ke sana.


Baiklah, nanti Aku share lock ke kamu, Wi.


*******


Ting tong Ting tong

__ADS_1


"Mbak."


"Dewi, ayo masuk," Aku mempersilahkan Dewi masuk ke dalam.


Kami pun duduk di sisi ranjang bersebelahan.


"Mbak, sebenarnya ada masalah apa sih kalian sampai-sampai Mbak pergi dari rumah? Cerita sama aku," tanya Dewi terlihat begitu cemas.


"Huh, ceritanya panjang. Mbak sudah capek rasanya berada di rumah, sudah nggak dianggap lagi sama mas Gibran," Aku menghela nafas berat dengan menekuk wajah murung.


Aku pun bercerita panjang lebar kepada Dewi dari awal tentang kepergianku dari rumah tanpa sepengetahuan suamiku. Dari mulai sikap mas Gibran yang tidak menepati janjinya yang terbukti memecat semua pelayan di rumah sehingga Aku yang menggantikan semua tugas pelayan untuk mengurus seluruh rumah kami yang seluas rumah orang kaya itu. Di tambah lagi mas Gibran yang sering pulang malam hingga membuat masakan yang Aku buat menjadi sia-sia. Jangankan di sentuh, di makan saja tidak.


"Astaga, Mbak ... jadi maksud kamu waktu itu sibuk kerja adalah kamu ngurus rumah sebesar itu? Wah, parah banget mas Gibran. Keterlaluan dia. Aku saja nggak sanggup Mbak," protes Dewi.


"Makanya Mbak pergi dari rumah. Bukan itu saja, sebenarnya Mbak takut banget kalau malam-malam sendirian di rumah," ujarku.


"Kalau sudah begini, aku nggak bisa bilang apa-apa. Tapi karena masalah kalian ini juga aku yang kena imbasnya. Aku jadi tempat pelampiasan kemarahan suami Mbak di kantor. Office Boy aja sampai kewalahan bersihin barang-barang mas Gibran yang berantakan di ruangannya," ungkap Dewi dengan raut wajahnya yang ditekuk.


"Ngapain juga mas Gibran marah-marah karena Mbak pergi dari rumah? Orang mas Gibran nggak ada mencari Mbak, nelepon pun nggak pernah, dia nggak peduli sama Mbak" kataku lirih.


"Mungkin dia gengsi untuk telepon kamu, Mbak. Rasanya aku pengen pukul tuh otak si bos. Mungkin error tuh kepalanya," umpat Dewi terlihat emosi.


Bip bip bippp


Terdengar notif di ponselku, aku malas untuk membukanya, paling itu hanya notif dari orang-orang iseng atau penawaran promo.


"Ada pesan tuh, Mbak!" ujar Dewi.


"Biarin aja," sahutku malas.


"Siapa tahu itu suami kamu loh, Mbak!"


"Nggak mungkin dia, Wi."


Bip bip bippp


Notif selanjutnya berbunyi kembali.

__ADS_1


"Tuh ada pesan lagi, Mbak. Lihat saja dulu," ujar Dewi melirik ke arah ponsel di atas nakas.


"Males ah."


Dewi begitu penasaran hingga dia melihat layar ponselku dan dapat dia lihat siapa pengirimnya.


"Tuh kan, mas Gibran kirim pesan ke kamu Mbak," Dewi begitu antusias.


"Bohong kamu," ujarku tak percaya.


"Ih beneran, lihat sendiri nih," Dewi memperlihatkan ponselku ke arahku.


Aku merasa tak percaya, dan setelah kulihat, ternyata memang benar itu dari mas Gibran.


"Ayo, buka pesannya Mbak," ucap Dewi tak sabaran.


Dengan perlahan Aku membuka pesan dari mas Gibran. Sebenarnya takut sih. Takut kalau mas Gibran malah senang dengan kepergianku. Jantungku berdebar cukup kuat.


Perlahan Aku pun membaca pesan dari mas Gibran.


Pesan pertama. "Kamu dimana? Pulang ke rumah sekarang?"


Pesan kedua. "Cepat pulang sekarang!"


Aku melongo membaca pesan itu. Apakah mataku tidak salah lihat. Mas Gibran memintaku pulang sekarang. Perlahan senyumanku terbit dengan lebar. Ada rasa bahagia di hatiku saat ini.


"Apa isi pesannya Mbak?" tanya Dewi ingin tahu.


"Mas Gibran nyuruh aku pulang ke rumah sekarang, Wi."


"Ya udah, ayo bergegas sekarang Mbak. Nanti aku antar ke rumah kamu biar cepat," Dewi menarik tanganku untuk berkemas pakaian.


"Iya, sebentar!" Dengan semangat Aku mengemasi semua pakaian dan Aku masukkan ke koper.


Aku dan Dewi berjalan cepat menuju mobil dan langsung melaju ke rumahku, rumah indah bersama suamiku, mas Gibran.


Di depan rumah terlihat mas Gibran sedang duduk di teras seperti sengaja menunggu kepulanganku. Aku tersenyum senang ke arahnya.

__ADS_1


"Mas Gibran, aku pulang!"


__ADS_2