Kamu Berubah, Mas

Kamu Berubah, Mas
Menghilang Sejenak


__ADS_3

Setiap orang punya pilihan sendiri, terlebih apabila ada permasalahan yang rumit dan lelah sekali untuk bertahan. Terkadang jalan satu-satunya adalah pergi, meninggalkan sesuatu yang sedang kacau. Bukan pengecut atau pecundang, melainkan memberi ruang untuk diri sendiri, berpikir jernih yang bisa membuat hati dan pikirkan kita menjadi lebih baik.


Sekarang Aku telah berada di kota lain, jauh dari Indonesia, jauh dari keluargaku tentunya mas Gibran. Jujur, Aku belum sanggup untuk menandatangani surat gugatan dari mas Gibran. Aku kecewa padanya karena Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hubunganku dan mas Gibran. Aku bahkan meminta penjelasan tapi alasan yang dia berikan sama sekali tidak masuk akal di otakku.


Dari lubuk hatiku, mas Gibran masih mencintaiku. Entah kenapa dia menjadi berbeda pasti ada alasan yang disembunyikan olehnya. Makanya Aku memutuskan untuk menghilang sejenak dari mas Gibran. Bukan karena Aku lari dari tanggung jawab yang masih saja menjadi istri mas Gibran, tapi Aku tidak sanggup bila harus berpisah jika permasalahan yang Aku alami dengan mas Gibran tidak Aku ketahui dimana letak kesalahannya.


Jika mas Gibran memang memilih wanita lain dan menceraikan Aku, maka Aku mengikhlaskan dirinya. Tapi Aku harus melihat dirinya terlebih dahulu dengan seorang wanita yang mendampingi dirinya lebih baik dari Aku. Maka Aku bisa percaya bahwa memang Aku tak layak untuknya, dan Aku akan menandatangani surat perceraian kami dengan ikhlas.


"Hei cantik, kenapa kamu bengong? Di sini dingin, Ayo kita masuk ke dalam," ujar Bram menghampiri diriku ketika Aku berada di balkon kamar.


Saat ini Aku berada di luar negeri bersama dengan Bram. Saat dia menawarkan untuk pergi bersamanya ke luar negeri, Aku pun menyetujuinya. Itu pun dengan alasan karena sebenarnya Aku ingin menghindari surat gugatan yang mas Gibran berikan padaku.


Jujur Aku belum sanggup untuk melepaskan rumah tanggaku dengan mas Gibran begitu mudah. Aku harus tahu dulu dimana letak keretakan hubungan kami berdua hingga mas Gibran memilih untuk berpisah. Karena Aku sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa mas Gibran adalah suami yang baik. Dan pasti ada sesuatu yang dirahasiakan olehnya dariku.


"Aku sedang mencari udara segar. Lihat itu indah banget kan bulannya. Kalau dari sini kelihatan banget deh cahayanya, cantik kan?" Aku menunjuk bulan yang sedang Aku pandangi sedari tadi sebelum Bram datang menghampiriku.


"Ya, cantik ... secantik kamu Manda," ujar Bram masih saja dengan panggilan yang selalu dia beri ke Aku saat kami pacaran dulu.


"Ih, apaan sih. Gombalnya mulai lagi deh," ucapku sedikit cemberut.


"Nggaklah, emang kamu cantik kok. Ayo masuk, udara malam ini dingin banget. Entar kamu sakit," Bram menggandeng tanganku dengan erat hendak membawaku masuk ke dalam kamar.


Aku tersenyum melihatnya, namun Aku melepaskan perlahan tanganku darinya.


"Emm ... maaf, Aku nggak sengaja soalnya saat kita berdua begini rasanya aku seperti kembali ke masa dulu kita pacaran," ujar Bram dengan salah tingkah. Matanya nanar menatapku.


Aku tersenyum hambar. Aku bukanlah Amanda yang dipacari oleh Bram seperti dulu. Dan aku harus tahu diri. Bram adalah masa laluku. Tapi saat di dekatnya Aku ingin sekali memeluknya. Ingin rasanya Aku menumpahkan segala keluh kesahku saat ini. Tapi itu tidak mungkin, karena hatiku kacau saat ini. Bahkan untuk melupakan mas Gibran saja Aku belum mampu.


"Nggak apa-apa," Aku menjadi canggung dibuatnya.

__ADS_1


HOAMMM


"Emm ... aku mengantuk. Aku tidur duluan, ya!" ucapku dengan ekspresi wajah mengantuk.


Aku sengaja melakukan itu karena Aku tak suka dengan rasa kecanggungan saat ini. Itu malah membuatku tidak nyaman. Jadi Aku beralasan untuk tidur.


"Ya, silahkan. Tidurlah, kau butuh istirahat," ujar Bram, dia masih terpaku di atas balkon.


"Hei kenapa kau masih di sini, Bram? Aku mau tidur," ucapku yang melihat Bram seperti linglung.


"Ah, i-iya maaf ... aku sedikit speechless sama kamu. Kalau gitu aku akan keluar," gugup Bram hingga dia melangkah hendak pergi dari kamar yang aku tempati.


"Oh ya, Bram. Lain kali ketuk pintu dulu saat kamu mau masuk ke kamarku, ok!" Pesanku padanya ketika dia hendak mencapai pintu.


"Ya ya ya, maaf Aku tadi lupa. Tapi aku tidak akan mengulanginya lagi," Bram berbalik dan tersenyum ke arahku.


"Emm ... bukan sih, tapi statusku adalah...," Ucapku menggantung.


"Tenang saja, aku nggak akan macam-macam sama kamu, Manda!" ujar Bram memotong ucapanku.


"Terima kasih, Bram!" Aku tersenyum kecil ke arah Bram.


"Ya, kecuali saat kau sudah bercerai dengan Gibran," gumam Bram dengan pelan tapi Aku masih samar mendengar perkataannya.


"Apa yang barusan kau bilang, Bram?" tanyaku memperjelas, Aku takut salah dengar.


"Hah, tidak ada. Ya sudah tidurlah, good night," bantah Bram dengan gelengan kepalanya.


"Good night," balasku dengan senyuman kecil.

__ADS_1


Setelah Bram keluar, Aku bergegas mengunci pintu kamar. Bukan apa-apa, tapi Aku takut bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Karena Aku tahu sekali bagaimana dengan sikap Bram sejak dulu. Dia bahkan pernah meminta sesuatu yang sangat berharga dariku, sesuatu yang sangat dijaga oleh semua para gadis. Dan tentu saja Aku menolak ajakan gilanya. Tapi Aku bersyukur hingga sekarang Bram menjagaku dengan menghargai serta menghormati ku sebagai wanita baik-baik.


Keesokan paginya, Aku terbangun karena ada ketukan pintu dari luar. Aku pun bangkit dan berjalan untuk membuka pintu tersebut.


"Good morning, cantik!" Sapa Bram sambil membawakan sarapan ke kamarku.


"Morning," balasku masih dengan nada lesu.


"Sekarang kamu cuci muka, gih. Kita sarapan bareng. Aku tunggu di sana, ya!" ujar Bram sambil membawa sarapan ke arah balkon.


"Mustinya kamu nggak perlu repot-repot, Bram!" ucapku merasa tidak enak.


"Nggak apa-apa, kok. Udah sana cuci muka kamu, cepetan!" ucap Bram setengah teriak.


Aku pun melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, setelah itu Aku langsung ke balkon di mana Bram sudah menungguku dengan sarapan yang dibawanya untuk kami makan bersama. Aku pun duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh Bram sembari menatap hidangan sarapan yang lezat di hadapanku.


"Cantik!" ujar Bram terpana melihatku hingga tersenyum lebar.


"Ih apaan sih, mulai lagi deh gombalnya!" Aku sangat risih dengan pujian Bram itu.


"Beneran kok. Mumpung kamu masih di sini jadi aku bisa puji puji kamu kapanpun aku mau. Ya udah, sekarang kita sarapan!" Bram dengan telaten menyiapkan sarapan untukku.


Perhatian Bram mengingatkan Aku dengan mas Gibran. Dulu suamiku adalah lelaki yang sangat peduli bahkan perhatian mulai dari hal kecil sekalipun. Namun sekarang sudah berbeda. Coba saja mas Gibran perhatiaan seperti Bram saat ini. Pasti Aku nggak akan pergi dari Indonesia untuk menghindari perceraian.


"Bram, boleh Aku tanya sesuatu sama kamu?" tanyaku ragu-ragu.


"Ya, silahkan!" sahut Bram dengan anggukannya.


"Kenapa kamu masih peduli sama Aku, Bram?" Tanyaku kemudian.

__ADS_1


__ADS_2