
Gunawan menutup pintu mobil,lalu melangkah cepat menuju ke teras rumahnya.
"Assalamualaikum..."
Tok tok tok tok
"Ibuuuu"seru Gunawan agak Lantang.Ia menengok ke dalam melalui kaca jendela.Terlihat kelibat seseorang yang menghampiri.
CEKLEK
"Ibu..."Gunawan menyalami wanita yang melahirkan nya.Bu Malika tak mengatakan apapun,ia masuk ke dalam diikuti oleh Gunawan .
"Mana Vienna dan anak-anak Bu??"
"Mereka sedang tidur,jangan diganggu"jawab Bu Malika dengan ketus,ia duduk di kursi tamu dalam keadaan lampu tak dinyalakan.Karena takut mengundang perhatian tetangga.
Gunawan duduk di sebelah sang Ibu,ia sudah menyiapkan diri menerima kemarahan sang Ibu.
"Benar kau menikah lagi Gun??"Bu Malika memulai interogasi nya.
"Emm anu Bu... Gunawan..."
"Jadi semua itu benar...Ibu nggak nyangka kamu bisa tega menyakiti istri mu Gun...Apa kurang nya Vienna ?hah?"
Gunawan menundukkan wajahnya.
"Kamu nggak kasihan sama Vino dan Viviek ???"
Gunawan tak berani membantah.
"Ibu kecewa sama kamu Gun"
"Maafkan Gunawan Bu..."
"Kok bisa sih Gun??Apa yang membuat kamu terpikat dengan perempuan itu ??Ibu nggak mau tahu, pokoknya kamu harus tinggalkan perempuan itu secepatnya.Ibu nggak mau kalau sampai kamu kehilangan Vienna gara-gara perempuan tidak tahu malu seperti dia"Bu Malika begitu emosi.
"Maafkan Gunawan Bu,Gunawan tidak bisa melakukan itu"
Bu Malika terperanjat,ia tidak mengira jika Gunawan yang amat sangat patuh kepada nya menjadi berontak seperti ini.
"Gunawan tidak bisa meninggalkan Norma yang tengah hamil Bu"
"Apa???!!Bu Malika bagai tersengat aliran listrik,ia berdiri tegak dengan dada naik turun.
"Maafkan Gunawan Bu"Gunawan meluruh ke lantai, bersujud di kaki sang Ibu yang amat sangat ia hormati.
Bu Malika tak bergeming, hatinya sangat hancur menghadapi kenyataan ini.
Vienna yang menguping di balik pintu kamarnya hanya bisa tergugu menangis dalam diam.Ia menakup mulutnya agar tidak bersuara.
Tak ada yang bisa dikatakan lagi,nasi sudah menjadi bubur.Bu Malika pergi tanpa kata meninggalkan Gunawan yang masih bertekuk lutut di atas lantai yang dingin.
"Bu...Ibu....ampuni Gunawan Bu..."Seru Gunawan menghiba,namun tak ada tanggapan apa-apa.
Gunawan tak tahu harus berbuat apa sekarang?dalam hatinya sedikit kesal dengan sikap yang diambil oleh Vienna .
__ADS_1
Langkahnya gontai menuju kamarnya,tapi tak ada siapapun disana.Pasti ada di kamar Isa,Gunawan mendorong pintu yang tak terkunci.Ia menemukan Vienna duduk di sana dengan mata masih basah.
"Puas kamu sekarang ?"
Vienna mengesat air matanya,ia bangkit lalu duduk di bibir kasur.Menggosok sedikit punggung Vino.
"Kenapa kamu mengambil sikap yang gegabah Vien??kenapa kamu ngadu sama Ibu??"
Bola mata Vienna terangkat.
"Lalu aku harus diam saja suamiku bersama dengan wanita lain ??"
"Bukankah hal ini sudah kita bicarakan?"
"Aku tidak pernah setuju dengan semua kebijakan mu Mas,kau hanya mementingkan kebahagiaan mu sendiri,bukan anak-anak "
"Aku yakin kita akan bahagia Vien,jika kamu bisa ikhlas dimadu "
"Itu tidak akan pernah terjadi Mas, kalau kamu memaksa??maka jangan salah kan aku..."Vienna tidak melanjutkan kata-katanya.
"Kau mau apa?Kau mau mengancam ku sekarang ?"
Vienna membuang muka.
"Kau terlalu egois Vien"
Vienna terhenyak,
"Kau bilang aku egois Mas???bukan nya kamu yang egois ??"
"Apakah maafmu bisa menyelesaikan masalah Mas??"
"Aku akan berperilaku adil Vien!aku janji..."
"Janji apa?Adil seperti apa yang kamu angankan Mas?? Kebahagiaan yang kamu bayangkan di otakmu hanya untuk diri kamu sendiri,bukan untuk aku!bukan untuk anak!!"
"Lalu aku harus bagaimana ???tidak mungkin aku meninggalkan Norma,kau tahu kan dia tengah mengandung anakku...darah daging ku"
"Kau menciptakan masalah sendiri yang mempertaruhkan aku dan anak-anak "
Gunawan menyangga kepalanya dengan kedua tangannya ,semua masalah seperti berputar-putar di tempat saja.Membuat kepalanya pusing tujuh keliling.
"Aku pulang dulu,kau tinggal disini dulu bersama Ibu...besok aku jemput"
Gunawan bangkit lalu keluar tanpa mendengar jawaban apapun dari istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gunawan merasa ngeblank,tidak bisa mengerjakan apapun di depan meja kerjanya.
"Kamu kenapa bro??aku lihat wajah mu terlihat kusut sekali"tanya Rival teman sekantor Gunawan yang mejanya bersebelahan.
"Entahlah...aku terlalu banyak masalah belakangan ini "Gunawan mulai mengeluh.
"Masalah apa? kalau kamu tak keberatan cerita lah... mungkin aku bisa berbagi pengalaman "
__ADS_1
Gunawan menghela nafas dalam-dalam..
"Aku nikah lagi.."
"What's ???nikah lagi??waaaah ini masalah serius bro..kau seperti melompat ke dalam jurang api..sama siapa?"
"Pelanggan "
"Pelanggan ??siapa?"
"Ibu Norma..."
"Ibu Norma ???"Rival mengulang nama yang disebut oleh Gunawan .
"Ooohh pelanggan yang baru setahun ini bergabung dengan kita?"
Gunawan mengiyakan.Rival manggut-manggut dengan bibir manyun.
"Dan sekarang istri mu tidak terima dengan pernikahan mu ini??iya kan??"
"Iya..dia pakek ngadu sama Ibu lagi...habis aku semalam kena marah sama Ibu"
"Baguslah kalau dia ngadu sama Ibu kamu,kalau dia ngadu sama Ibunya sendiri,bukan dimarahi,tapi pasti dia akan dijemput paksa "
"Tapi niat aku kan baik Bro..aku akan adil sama mereka,toh tidak ada ruginya untuk Vienna .karena Norma tidak pernah nuntut belanja ini dan itu.Dia kan pengusaha kuliner,jadi masalah ekonomi bukan hal utama untuk nya.Aku akan tetap pulang ke rumah seperti biasa,Norma paling hanya minta aku makan siang bersamanya,atau makan malam bareng sekala-sekala.Bukan tiap hari..Norma tu pengertian Bro..beda sama Vienna ..Vienna terlalu memaksakan kehendaknya.Tidak memikirkan hal yang lain.. Alasannya anak-anak..Padahal dirinya sendiri yang egois "Gunawan membebel panjang lebar.Rival hanya mengangguk menanggapi cerita Gunawan .
"Pusing aku Bro"Gunawan memicit pelipisnya.
"Yang memulai keegoisan ini adalah kamu Bro..kamu tidak bilang kan pas mau nikah lagi?"
"Iya...tapi aku sudah minta maaf "
"Tidak semua masalah bisa selesai hanya dengan minta maaf,,, contoh nyaaaa..emmm pekerjaan kamu,jika kamu melakukan kesalahan dalam pekerjaan,sepertiiiii sebuah pengkhianatan.Sama kan,kamu berkhianat kepada istri mu ataupun berkhianat kepada perusahaan ini.Intinya kamu nyeleweng...terus kamu minta maaf sama Bos.. Apakah Bos bisa memaafkan mu?"
Gunawan terdiam.
"Jawabannya pasti kamu sudah tahu,kau akan dipecat!! Bagaimana jika Vienna memecatmu jadi suami?emmm pasti mudah bagi Vienna untuk mendapatkan seorang suami,secara dia cantik "
Gunawan tersentap.
"Kau jangan menakuti ku Bro"
"Aku bukan menakutimu..itu real,semua bisa terjadi.Apalagi kamu tetap mempertahankan tindakan mu dalam pembenaran?Vienna pasti akan jengah juga"
Gunawan tercekat,ia kepanasan sendiri.
"Kalau kita membangun sebuah rumah dari nol, itu butuh biaya besar Bro ,butuh pengorbanan yang banyak. Tapi kalau kita punya rumah rusak ,kita perbaiki yang rusak, itu biayanya nggak seberapa .Artinya rumah tangga kamu yang kamu bina itu, seburuk apapun , sebaiknya kamu perbaiki .Daripada kamu membina rumah tangga yang baru yang kamu belum tahu bagaimana nanti ke belakangnya . Kamu sama ibu Norma kan baru kenal Bro ,sedangkan sama Vienna udah kenal dia dari ujung rambut sampai ujung kaki ,dari luar dalamnya ,seluk-beluknya. Kamu tahu dia! kalau ibu Norma kamu kenal dia satu tahun bro, kita tidak tahu apa yang kamu lihat itu dirinya sebenarnya atau hanya topeng"
Gunawan menelaah ucapan Rival dengan baik.
"Jadi lebih baik kamu pikirkan baik-baik apa yang aku katakan barusan "
"Tapi masalahnya,Norma sedang hamil sekarang Bro...aku tidak bisa meninggalkan nya"
Rival geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Itu sama halnya kamu sedang mencari jarum di tumpukan jerami "