
"Sayang..."
Norma merebahkan tubuhnya di lengan Gunawan yang kokoh.
"Iya sayang..."
"Aku ingin menunjukkan sebuah foto padamu, tapi kamu jangan marah ya"
"Foto apa sih??"
Gunawan sangat penasaran, dengan senyuman licik Norma menunjukkan ponselnya kepada suaminya itu.Gunawan terbelalak,ia beringsut duduk dan mengambil alih ponsel Norma.Ia ingin melihat dengan lebih jelas lagi.
"Kamu dapat dari mana foto ini??"
"Tidak perlu kau tahu Mas,tapi itu benar istri mu kan?"
"Iya dia Vienna ...lalu siapa pria ini?kenapa dia begitu akrab sekali ??Dan sepertinya ini di sekolah Vino"
"Hemm kau tanyakan saja pada istri mu yang baik itu"Norma sengaja tidak memberi tahu meskipun dia tahu, karena bisa jadi masa lalu akan terungkap.Biarlah sekarang Vienna yang jatuh ke dalam jurang sendirian.
Gunawan menyibak selimut yang menutupi tubuh nya.Ia bergegas memakai kembali pakaiannya.Norma tersenyum licik,ia yakin perang dunia ke dua akan segera dimulai,hehehehehe.
*
Denting jam begitu lambat terasa,Gunawan tak sabar menunggu jam pulang tiba.Ia bekerja pun tak fokus.
"Kamu kenapa Gun??Kok gelisah sekali"
"Aku lagi pusing Val,pengen cepet-cepet pulang"
"Kenapa?Ada masalah lagi??"
Gunawan mengeluarkan ponselnya,lalu ia tunjukkan foto yang dikirim oleh Norma ke ponselnya tadi atas perintahnya.
"Hemm Apa aku bilang ?? Sekarang bagaimana kamu menyingkapi masalah ini"
"Ya dia salah lah bro...aku kan sudah halal"bantah Gunawan .
"Yah.. itulah menangnya seorang laki-laki, berselindung dalam pernikahan siri untuk menyakiti.."
"Maksud mu??"
"Kau harus berpikir realistis, bayangkan jika kamu diposisi Vienna .Jangan gegabah,atau kau akan kehilangan dia selama nya"
Gunawan terdiam,ia seperti disudutkan dalam suatu ruang yang gelap gulita.
*
Gunawan memasukkan mobilnya ke dalam garasi mini di teras rumah nya.Ia masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam.Tujuannya langsung ke kamar anak-anak,karena Vienna pasti ada disana.
Vienna tersentak kaget,saat tiba-tiba daun pintu terbuka lebar.
__ADS_1
"Mas???"
"Aku mau bicara sama kamu"Ucap Gunawan sengit,ia kemudian pergi.Vienna mengerutkan keningnya,tak biasanya Gunawan bicara sedatar itu padanya.Ada apa ini?
Vienna bangkit,ia mengatakan agar Vino dan Viviek melanjutkan mainnya.Sedangkan ia akan menemui Ayahnya terlebih dahulu.
"Ada apa Mas?"Vienna duduk bersebelahan dengan Gunawan . Gunawan menyodorkan ponselnya.Vienna menerima tanpa curiga.
"Siapa itu?"
Vienna tercekat, ia heran dari mana suaminya mendapatkan foto itu ?
"Ini...Ini..."
"Kenapa gugup?? tinggal jawab saja,kan gampang"Gunawan memotong kalimat istrinya dengan Begitu sinis.
"Mas kamu menuduh ku selingkuh ?"
"Aku tidak menuduh,tapi aku bertanya.Siapa laki-laki itu ?kenapa ada di sekolah Vino ?"
"Karena dia gurunya Vino"balas Vienna dengan nada agak tinggi.
"Ohh jadi begitu rupanya,setiap guru laki-laki kau akan sedekat ini dengan mereka ?"
"Jaga bicaramu Mas"
"Seharusnya kau yang harus jaga dirimu,jaga martabat mu, jangan tebar-tebar pesona kemana-mana "
"Ohh...Jadi karena itu kamu minta ijin untuk kerja ??hemm rupanya ada udang di balik batu"
"Aku bukan kamu Mas... yang mudah selingkuh "
"Jangan malah menyalahkan aku Vien...disini kamu yang salah"
"Apa salahku Mas??Apa aku berada di tempat tertutup berduaan ??berciuman?? berzina ??Lihat dengan jelas foto itu Mas, kami hanya membahas masalah kerja,di tempat umum!"Vienna tak mau kalah,karena ia merasa dirinya benar.
"Mama..."
Tiba-tiba Vino berdiri di ambang pintu kamarnya menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya.
"Vino"Suara Vienna langsung melunak,Vino berlari memeluk Ibunya.Begitu pun Viviek yang ikut-ikutan Kakaknya.
"Kenapa nggak main di kamar sayang??"Vienna membelai pipi kedua putranya.
"Vino takut Papa akan mukul Mama"
Vienna dan Gunawan saling berpandangan.
"Nggak sayang...Papa nggak akan mukul Mama kok"Gunawan langsung menjelaskan.Tapi Vino justru menggeleng kuat.
"Papa sekarang jahat,bukan Papa Vino yang dulu. Papa sekarang suka buat Mama menangis"Vino meluahkan isi hati kecil nya secara jujur.Gunawan tercekat, pandangannya terangkat mencari wajah istrinya.Akan tetapi Vienna melengos menutupi kesedihannya.
__ADS_1
"Maafkan Papa ya sayang..."Gunawan berjongkok di hadapan kedua putranya.
"Papa memang banyak salah sama Mama,sama Vino dan Viviek... Maafin Papa ya"
Gunawan menarik kedua putranya kedalam dekapannya,Vienna mengesat air matanya.Setangguh apapun seorang Ibu,jika itu masalah hati seorang anak.Pasti akan menangis jua.
"Ya udah sekarang Vino sama Viviek tidur sama Papa Ya..Papa akan membacakan dongeng yang bagus sekali...Mau kan??"Gunawan ingin mengambil hati kedua putranya kembali.Karena sudah lama ia tidak bersama kedua putranya itu.
Vino mengangguk,sedangkan Viviek bersorak senang.
"Aku mau menidurkan anak-anak dulu Vien"
Vienna menjawab dengan anggukan kecil,Viviek digendong oleh Gunawan sedangkan Vino dituntunnya masuk kembali ke dalam kamar.
SEBUAH PESAN MASUK MELALUI PESAN WHATSAPP.
"Sudah tidur??"
Vienna tersenyum tipis
"Belum.."
"Udah sampai dimana tema gamenya?"
"Belum dapat sebait"
"Perlu bantuan??"
"Terimakasih..Aku mau berusaha dulu.Sekarang masih mau menidurkan anak-anak"
"Ohhh..."
Vienna diam tak membalas lagi pesan dari Lion.Ia berusaha menenangkan diri agar bisa menyelesaikan masalah yang sekarang ia hadapi.Entah dari mana Gunawan bisa mendapatkan foto nya dengan Lion??Apa dari Norma??jika benar dari dia, berarti Norma tahu kalau Lion sudah kembali.Kenapa Norma tidak mengatakan siapa Lion?Emmm berarti dia juga takut ketahuan jika terkuak siapa Lion sebenarnya.Karena jika Gunawan tahu, pasti Norma merasa kalau Gunawan akan menyadari niat jahatnya.
"Hemmm baiklah Norma,kau mau main-main dengan ku??kau lupa jika diantara aku dan Gunawan ada dua anak yang tidak bisa Gunawan abaikan begitu saja..Akan ku balas kamu Norma.. lihat saja nanti!!"Vienna begitu dendam kepada Norma.Karena perempuan itu semakin menundukkan taring nya dengan cara licik.
Tak lama kemudian Gunawan keluar dengan hati-hati dari kamar anaknya.Ia mendekati Vienna yang tetap duduk di tempat semula.
"Kita ke kamar yuk... kalau kita bicara disini, anak-anak takut dengar "ajak Gunawan ,Vienna mengangguk setuju.Keduanya berjalan beriringan menuju peraduan.
"Vien... bisakah kamu berhenti kerja.. Kalau uang belanja kurang ?aku bisa tambahin"Gunawan membujuk dengan suara lunak.
"Bukan masalah uang belanja kurang Mas,aku hanya mencari kesibukan..Kamu pikir bagaimana hatiku saat kau tidur dengan wanita lain disana?Dan disini aku dipaksa untuk ikhlas Mas,kamu bisa bayangkan tidak gimana perasaan aku??.Kalau aku kerja,aku punya kesibukan,otakku tidak akan hanya memikirkan kamu saja.Otakku bisa berjalan kemana-mana,tidak mentok di ranjang pengantin kalian"
Gunawan terdiam,ia berusaha memahami perasaan Vienna .Tapi jujur ia tidak suka jika Vienna harus dekat dengan pria lain.
"Aku takut Vien.."
"Kamu takut Mas,karena kamu sudah melakukan sesuatu yang aku takutkan..Jadi kamu khawatir aku akan melakukan hal yang sama..iya kan??Mas ...Mas...cukuplah kamu saja yang mengecewakan anak-anak,aku tidak akan melakukan hal itu "
"Ok...Ok..."Gunawan mendekati istrinya lalu ia tarik dalam dekapan nya.
__ADS_1
"Maafkan aku..kali ini aku yang salah..tapi tolong,,,jaga kepercayaan ku Vien..aku tidak mau kehilangan kamu sayang "bisik Gunawan lirih,Vienna diam tak menjawab.Ada sesuatu yang janggal dalam hatinya.