KASIHKU, ANAKKU

KASIHKU, ANAKKU
EPS 7


__ADS_3

Tatapan Vienna menukik tajam ke dalam anak mata Suaminya.


"Kamu baru pulang dari rumah Norma?atau baru saja ketemuan di hotel bareng dia?"


"Sa-sayang aku nggak ke hotel sama dia"


"Lalu??"Vienna sedikit pun tak melewatkan gerak mata dari suaminya, membuat Gunawan semakin terpojok.


"Eeeemmmm aku...aku...aku datang ke rumah nya"


Vienna tercengang,rumah Norma?? benar kah?? bukankah Norma dekat dengan Mira??


"Emmm Maaf kan aku sayang,aku...aku dapat kabar...ka-ka-kalau Norma ....Norma....hamil"


"Apa?"Vienna seperti terkena setrum,ia kaget bukan main.


"I-iya di-dia hamil..."


Hampir saja Vienna ambruk kalau tidak dia menyandar ke dinding jendela.


"Sa-sayang"Gunawan panik dan reflek ingin menolong,tapi tangan Vienna terangkat menghentikan gerak tubuh suaminya.


"Tidak usah...aku baik-baik saja"


"Sayang...aku minta maaf...aku...aku..."


"Tidak bisa menceraikan nya??"potong Vienna cepat.


"I..i...iya"Gunawan menjawab dengan gemetar.Vienna mengangguk namun wajahnya datar tanpa senyuman.Ia berusaha tegak berdiri, meskipun tungkai kakinya lemas.Tapi ia tidak mau menangis di depan suami nya.Ia pun berjalan pergi dengan langkah terseok-seok, Gunawan mengikuti.Ia beberapa kali melatah karena Vienna hampir jatuh.Tapi tangan ✋ Vienna terus terangkat agar Gunawan tidak melakukan apapun.


Sampai Vienna masuk ke dalam kamar anak-anaknya,dan mengunci pintu dari dalam.Gunawan bingung sendiri harus bagaimana ??Ia sedih melihat respon Vienna yang seperti itu.Ia sadar jika ia sudah menyakiti hati istrinya dengan amat sangat sakit sekali.


*


*


Tubuh Vienna yang menyandar ke pintu perlahan-lahan meluruh ke lantai.Ia memeluk lutut dan membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya itu.Disanalah Vienna menangis tanpa suara.Karena ia tidak mau anak-anaknya terjaga.Hanya tubuhnya yang bergetar hebat oleh guncangan tangisan nya.


Tiba-tiba sentuhan kecil mendarat di lengannya, Vienna mendongak.Rupanya Vino bangun dari tidurnya.


"Mama .."

__ADS_1


"Sayang... kenapa Vino bangun?"Vienna bergerak cepat mengesat air matanya,namun tangan kecil anaknya itu perlahan membelai pipinya.Seolah-olah turut membersihkan sisa-sisa air matanya.Hati Vienna terenyuh sakit, kepedihan itu kembali menggenang kan air matanya yang susah payah ia kesat.


"Kalau Papa jahat sama Mama,yuk kita tinggal di rumah nenek saja Ma.Papa pasti nggak bakalan berani jahat lagi sama Mama"


Vienna tersenyum tipis.


"Nggak sayang...Papa nggak jahat kok"


"Terus kenapa Mama menangis ??"


"Emm Mama sedih aja, mungkin lama nggak ketemu sama Eyang putri dan Engkong"


"Kalau begitu,ayoo kita kesana Ma..Vino juga pengen banget ketemu sama Uti dan Kong.Papa nggak usah ikut aja Ma,nanti Mama pasti makin sedih"Vino begitu bersemangat sekali.Vienna mengangguk.


"Iya sayang, weekend ini kita pergi ke rumah Uti dan Kong yah"


Vino mengangguk senang.Vienna menarik putra sulungnya itu ke dalam pelukannya.Ia sedikit tenang bila merasakan pelukan kecil anaknya tersebut.


*


*


Sedangkan hubungannya dengan Norma semakin hangat.Meskipun berbeda jauh ,tapi Gunawan sama sekali tidak berniat untuk mengambil kesempatan dengan tinggal di rumah Norma.Karena ia tidak ingin semakin menyakiti hati Vienna.


Gunawan tetap bersikap seperti biasa,kalau sempat ia akan makan siang di restoran Norma.Jika tidak,malamnya sepulang kerja ia akan makan malam di rumah Norma.


Dan malam ini, Gunawan pulang lebih awal karena siang tadi dia sudah bertemu Norma.Dia ingin mengajak Vienna bicara,karena sudah tidak tahan dengan suasana yang sangat tidak mengenakkan seperti ini.


Tok tok tok tok tok


"Sayang...kamu sudah tidur ??"Seru Gunawan dari luar kamar anak-anak.


"Sayang...."


Sekali lagi Gunawan mengetuk pintu.


CEKLEK


Gunawan tersenyum karena akhirnya Vienna membukakan pintu untuknya.Namun begitu bertatapan dengan mata dingin itu,tubuh Gunawan terasa menggigil.


"Sa-sayang...aku..aku pengen kita bicara"

__ADS_1


Vienna menghela nafas seraya melipat tangan di dada.


"Mau bicara apa lagi Mas?"


"Tentang kita..Aku,kamu dan Norma"


Vienna melirik ke dalam kamar,Vino dan Viviek terlihat asyik main game.Vienna pun keluar dan tak lupa menutup pintu kamar anaknya rapat-rapat.


Kedua pasutri yang sudah tak lagi romantis itu berjalan menuju ruang tamu.Vienna duduk menjauh dari tempat Gunawan duduk.


"Cepat katakan apa yang mau kamu bicarakan ?"Tanya Vienna tanpa menatap wajah suaminya.


"Emmmm sayang...Kamu kan sudah tahu,Norma hamil.Jadi...aku...aku tidak bisa menceraikannya..Kamu ngerti kan sayang ??"Gunawan sangat berhati-hati sekali dalam berucap.Namun hal itu tetap menyakitkan bagi Vienna,ia hanya mampu menahan perasaan dengan memejamkan matanya sesaat seraya menarik nafas dalam-dalam.


"Kalau aku mengikuti perasaan ku,aku ingin kita baik-baik saja dan mencerai kan Norma.Tapi...dia sedang mengandung anakku sayang,aku tidak bisa melakukan hal sekejam itu "


Vienna tetap bungkam,ia memilih untuk mengatur emosinya dari pada menjawab argumen-argumen dari Gunawan yang pasti sudah tersusun rapi di otak pria tersebut.Itulah monolog Vienna.


"Jadi ...kamu mau kan sayang? menjalani hidup bahagia bersama kita bertiga ?"


Vienna memutar bola matanya perlahan, menatap suaminya yang tengah memperhatikan dirinya.


"Tidak!!!"Jawab Vienna datar , tenang namun berhasil menjadi palu yang menghantam kepala Gunawan.


"Sayang... jangan gitu dong,kita harus juga memikirkan bagaimana anak-anak ?"Gunawan menanggapi jika Vienna akan minta bercerai dengan nya.


"Lalu? Apakah kamu memikirkan bagaimana anak-anak Mas? Bagaimana psikis anak kita jika teman-temannya mengatakan bahwa dia punya dua Ibu?Ibumu yang mana Vin ??kamu mikir Nggak Vino bakal ngerasa gimana ?? Nggak kan? yang ada dalam otak kamu hanya kebahagiaan kamu Mas, bagaimana bahagianya seorang Gunawan memiliki dua orang istri? Apalagi istri pertamanya menerima di poligami ??Pasti setiap mengkhayal kannya ,kamu akan senyum-senyum sendiri kan Mas?"


Gunawan tak dapat membantah,semua apa yang diucapkan Istrinya hampir kesemuanya benar adanya.Vienna tersenyum ketus.


"Sabtu besok,aku akan pulang ke rumahku"


Gunawan tersentap.


"Ja-jangan gitu dong sayang... masalah kita ya kita hadapi bersama.Jangan ada orang luar ikut campur "


Vienna menjeling suaminya dengan tajam.


"Kau pikir aku pulang untuk ngadu?cetek sekali pikiran mu Mas,kalau memang aku ingin ngadu?lebih baik aku ngadu sama Ibu kamu disini.Karena beliau pasti tidak akan segan untuk menegurmu.Kalau aku ngadu sama Orang tua ku,mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa "


Gunawan menelan saliva.Ia semakin dipojokkan oleh keadaan.Vienna bangkit dan berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2