KASIHKU, ANAKKU

KASIHKU, ANAKKU
EPS 15


__ADS_3

Rival baru saja keluar dari toilet,ia hendak istirahat makan siang.Saat itu ia melihat Gunawan menerima telfon dari seseorang.


"Gun...makan bareng yuk"ajaknya,Gunawan mengangkat wajahnya.


"Oh iya tunggu bentar..."Gunawan melanjutkan obrolannya di telfon.Suaranya agak dipelankan.Mungkin segan dengan teman-teman yang lain.Rival menunggu dengan sabar.


"Tolong pahami aku Nor,aku sekarang lagi banyak kerjaan, Pikiran ku semrawut"


"Ya sudah... kalau gitu malam nanti kita makan malam bareng ya Mas ?Di rumah aja nggak usah keluar "


"Nanti malam aku mau jemput Vienna di rumah Ibu"


"Aduuuh Mas... ngapain sih repot-repot jemput Vienna ?"


Gunawan melirik ke tempat Rival menunggu,ia merasa tak enak hati.


"Ya sudah....aku ada urusan sebentar..Bay"Gunawan malas untuk meladeni kebawelan Norma.Ia memilih menghindar dan menon-aktifkan ponselnya.


Rival tersenyum saat Gunawan mendekati, keduanya melangkah beriringan masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai bawah.


_


"Gun...coba lihat ini"Rival menunjuk kan ponselnya ke hadapan Gunawan .


"Hah??Itu kan Facebook Vienna ??"Gunawan nampak terkejut"Sejak kapan kamu berteman dengan istri ku di sosmed ?"


"Sudah sejak lama ..kau lihat bagaimana banyak yang suka sama istri mu?Lihat ini...padahal dia cuma upload foto sama anak-anak,tapi banyak pria yang komen menggoda"


Gunawan mulai tak suka.


"Kalau kamu menyia-nyiakan nya...kau tahu bakal banyak yang akan membahagiakan nya... termasuk aku"


"Apa maksud mu??jadi kau menyukai istri ku?"hardik Gunawan marah.


"Siapa yang tidak suka dengan Vienna Gun??Dia cantik,baik, penyabar kayaknya..kau tahu lah seperti apa Vienna dari pada aku kan?Masih tak percaya kalau kamu tega menduakan nya..."


Gunawan tercekat,ia mulai tak betah duduk disana bersama Rival.


"Kalau kau bosan,jangan begini caranya... lebih baik kamu terus terang saja.Ceraikan dia..."


"Ngawur kamu!! bilang aja kamu mau merebut Vienna dari ku"


"Kalau dia mau,aku tak masalah "balas Rival.Gunawan sudah tidak bisa bersabar lagi,ia mengebrak meja lalu berbalik pergi.


*


Bu Malika berkali-kali menghubungi Gunawan ,tapi nomornya tidak aktif.Pikiran tuanya sudah berpikir macam-macam.Geram,marah,greget bercampur aduk.Ia jadi tidak punya alasan saat Vienna meminta diri untuk pulang tanpa menunggu Gunawan datang menjemput.


Akan tetapi Vienna tidak pulang ke rumah,ia memilih untuk pergi jalan-jalan bersama kedua putranya di sebuah Mall.Ia ingin bersenang-senang dengan Vino dan Viviek agar pikiran nya bisa lebih waras menghadapi setiap masalah.


Saat menunggu Vino dan Viviek bermain, tiba-tiba seseorang duduk di sebelah Vienna .Namun Vienna seakan tak perduli, pikirannya menerawang kemana-mana.


Pria yang duduk di sebelah Vienna hanya senyam-senyum memperhatikan wanita itu.Ia tak menegur ataupun bersuara.Sampai akhirnya,Vienna tak sengaja menoleh.Kedua tatapan mereka beradu.


"Lion???"pekik Vienna tak percaya.Pria itu tersenyum manis sekali.


"Lama tidak bertemu"


"Ka-kau ngapain disini ??"


"Nemenin kamu"jawab Lion santai.Vienna membuang muka, wajahnya panas karena malu.


"Mana anakmu??"

__ADS_1


"A-anak???Ohhh Vino sama Viviek ?Itu..."Vienna jadi gugup sendiri.Lion mengedarkan pandangannya.Ia manggut-manggut menemukan dua anak kecil yang tengah bermain bersama anak-anak seusianya.


"Kok sendiri???mana suamimu ???"


"Emmm...Mas Gunawan lagi kerja"Vienna menundukkan wajahnya bila mengingat tentang sang suami.


"Oh begitu rupanya.."


"Kamu sama siapa?"Vienna balik bertanya.


"Sama kamu"Lion menggoda.


"Apa-apaan sih??"


Lion tergelak renyah.


"Sorry sorry...tak pantas rasanya jika menggoda istri orang"


Vienna menyembunyikan raut wajahnya.


"Aku sendiri...dan masih sendiri...sama disaat terakhir kita bertemu "


Vienna merasa kepalanya sangat berat untuk tegak,ia tertunduk begitu mendalam.


"Banyak hal yang ingin aku tanyakan,tapi sangat tidak pantas jika dibahas sekarang"sambung Lion.


"Maafkan aku"


Lion bangkit dan berbalik pergi,Vienna mendongak seketika.Ia menatap punggung pria yang sempat bertahta dalam hatinya.Getaran itu muncul kembali,Ah!!Vienna menepis semuanya.Mungkin ini hanya getaran penggoda karena keadaannya sekarang.Ataukah getaran yang memang ada mengguncang kembali kenangan dulu? Entahlah...Vienna memejamkan matanya, ia merasa tak pantas merasakan itu semua.Sekarang ia sudah ada Vino dan Viviek, sedangkan Gunawan ??? entahlah...Vienna tak tahu bagaimana ia dan Gunawan nantinya.Ia ingin mempertahankan istana nya.Akan tetapi, sangat sakit hingga hatinya berdarah.


*


Di perjalanan menuju ke rumah sang ibu untuk menjemput Vienna ,Gunawan baru meng aktif kan ponselnya.Banyak sekali panggilan tidak terjawab,termasuk dari Norma Dan Ibunya.Vienna ???tak ada!Vienna sama sekali tidak menghubungi nya.


"Wa'alaikum salam...kamu kemana aja Gun??ibu telfon kok nggak aktif ??kamu sama perempuan itu ya??"Bu Malika langsung nyerocos.


"Ibu...kok ngomong nya gitu...Gunawan kerja Bu"


"Jangan bohong kamu"


"Demi Allah Bu...ini Gunawan baru pulang dan langsung ke rumah Ibu"


"Untuk apa??toh Vienna sudah pulang "


"Hah???"


CIIIIIITTTTT


Gunawan langsung menginjak rem dan banting setir ke bahu jalan.


"Kok ibu ijinkan ?"


"Dia maksa,dan kamu ditelfon malah nggak aktif "


HUFFFF


Gunawan membuang nafas panjang.


"Ya sudah Bu...Gunawan langsung pulang ke rumah saja"


"Iya udah..."


"Assalamualaikum Bu"

__ADS_1


"Wa'alaikum salam"


Talian telfon terputus.Gunawan melajukan kembali mobilnya,ia putar balik ke arah rumahnya.


_


"Vien....Vienna ...."Seru Gunawan lantang.


"Papa .."Viviek berlari ke arah sang Ayah.


"Hey sayang...."Ia menyambut putra bungsu nya dalam dekapan.Gunawan menciumi Viviek bertubi-tubi, sedangkan Vino hanya diam mematung menatap sang Ayah.


"Vino...sini Nak"Gunawan melambaikan tangan.


"Nggak...Papa jahat sudah buat Mama menangis"Ketus Vino,ia berlari masuk ke dalam kamar nya.Gunawan tercekat, Ucapan Vino seperti belati yang menusuk hatinya.


"Papa..."


Panggilan dari Viviek mengalihkan perhatiannya.


"Hem..iya sayang..."


"Apa benar Papa jahat??"


Gunawan seperti tersengat aliran listrik ,ia mematung tak bisa berkata apa-apa.


"Viviek...ayo sini sayang"Vienna berseru memanggil putra bungsu nya dengan lembut.


"Iya Ma..."Viviek beringsut turun dari gendongan Ayahnya.Ia berlari ke arah Vienna .


"Main sama Kak Vino dulu ya di kamar"Vienna membelai lembut pucuk kepala Viviek.


"Ok Mama"


Viviek berlari masuk ke dalam kamar.Meninggalkan kedua orang tuanya.


"Vien...kenapa tidak menunggu ku??kenapa kamu pulang lebih dulu ??"


"Apa aku harus menunggu seseorang yang belum pasti akan datang ?"jawab Vienna ketus.Ia melanjutkan pekerjaannya merapikan meja makan,karena anak-anak baru saja makan.


"Aku kan sudah bilang mau jemput kamu sesudah pulang kerja"Gunawan mulai melunak,ia duduk di kursi kosong.


"Aku nggak yakin,jadi lebih baik aku pulang sendiri saja.Dari pada sakit hati karena menunggu yang tak pasti "


Gunawan memegang tangan Vienna lembut, refleks gerak tangan yang tengah mengelap meja terhenti.


"Maafkan aku sayang..."


Vienna menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan.Tetiba ponsel Gunawan berdering, sekali lagi Vienna hanya bisa menarik nafas.Karena suara deringan itu amat sangat menyesakkan dada.


Gunawan serba salah setelah tahu siapa yang menghubungi nya.


"Angkat aja ..siapa tahu sudah mau melahirkan ??"


"Vienna ...kamu kok ngomong gitu sih??"


"Yah...pasti anak yang masih belum ditiupkan ruh itu yang akan menjadi senjata agar suamiku datang kesana"


Gunawan menggigit bibir bawahnya.Ia dilema...


"Angkat aja!!"ketus Vienna lagi.Gunawan tidak bisa berkata apa-apa,ia merijek telfon itu.Lalu me non aktifkan kembali ponselnya.


"Kamu puas Sekarang sayang ??"Gunawan menunjuk kan ponsel yang sudah mati.Vienna diam tak berkomentar.

__ADS_1


"Aku lapar, tolong sediakan aku makanan"pinta Gunawan lembut ,Vienna tanpa berucap sepatah kata langsung masuk ke dapur.Menyiapkan makanan untuk suami nya.


__ADS_2