
"Ih ihh ihhh"Norma meremas kuat ponselnya,ia benar-benar marah karena Gunawan untuk kesekian kalinya menon-aktifkan ponselnya.
"Kalau bukan karena dendam,tak mau aku diperlakukan seperti ini oleh mu Gunawan ..kayak kegantengan saja kamu,ih😠😠"Norma mengomel melampiaskan kekesalannya.
Entah harus bagaimana lagi,dia menjerat Gunawan agar bisa takluk padanya.Segala cara sudah ia lakukan,tapi tetap saja.Hasilnya sama saja.
Norma duduk selonjoran di atas kasur,ia menyandarkan punggungnya ke hulu tilam.Untuk mengurangi kejenuhan, iseng-iseng ia membuka Facebook.Sudah lama ia tidak mengintai Lion yang berada di luar negeri.
"Hah??"Dua bola matanya membulat.
"Lion sudah di Indonesia ???Dimana ini??"Ia menemukan Lion mengunggah foto yang berlatar belakang sebuah sekolah.
"Di kampung kah???"
Norma terus memeriksa unggahan-unggahan pria yang menjadi alasannya dendam kepada Vienna .
"Nggak...dia tidak tinggal di kampung,jadi dia dimana ??"
Norma sangat ingin tahu sekali,tapi dia harus bertanya kepada siapa??
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vienna menjemput Vino ke sekolah dengan Viviek yang ikut serta.Karena masih kurang dari jam 10.00,jadi Vienna menunggu di tempat yang sudah disediakan khusus oleh sekolah tempat menunggu para murid.
Disana juga ada taman bermain,jadi Viviek bisa bermain sambil menunggu.Pada saat Viviek main perosotan,kakinya terkilir saat menaiki anak tangga.Ia terjatuh dan menangis. Vienna terkejut,ia bangkit lalu berlari menghampiri.Rupanya ada seseorang yang lebih dulu membantu Viviek.Dan Viviek langsung diam dari tangisannya saat di apusi oleh orang tersebut.
"Maaf Mas..."sapa Vienna ,pria itu menoleh.Vienna terhenyak tak percaya.
"Lion???"pekiknya,Lion tersenyum.
"Kamu kok ada disini ??"
"Aku ngajar disini"
"Hah???"
"Kenapa sampai mengap gitu??"
Ah....Vienna membuang muka sembari menakup mulutnya.
"Sini biar Viviek aku yang gendong..."Vienna mengambil alih anaknya.
"Mau main Ma"Viviek berontak dari pelukan Vienna ,ia melorot dan berlari main lagi.
"Yuk duduk di sana"ajak Lion,Vienna mengangguk setuju.Keduanya berjalan beriringan menuju sebuah gazebo kosong.
"Kamu serius ngajar disini ??"tanya Vienna masih ragu.Lion mengiyakan.
"Kenapa??"
"Belajar jauh-jauh sampai ke luar negeri cuma untuk menjadi seorang guru SD?Itu lucu sekali..."
"Apa yang kamu maksud kan adalah? belajar jauh-jauh sampai mengorbankan hubungan kita,tapi hanya menjadi seorang guru SD -?"
Vienna melengos dengan senyuman tersembunyi.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat ??"Lion menatap langit yang cerah membiru"Dulu aku pernah bilang kan bahwa cita-cita ku ingin menjadi seorang guru seperti Ayahku"
Vienna seolah digiring kepada kenangan masa lalu.
"Tapi aku kalah oleh keinginan orang tua ku yang ingin melihat ku sukses melebihi mereka "
"Lalu?? sekarang bagaimana ??"Vienna bertanya.
"Aku bisa mencapai apa yang orang tuaku inginkan,ku boyong mereka ke Rumah yang sudah ku beli dengan hasil jerih payahku.Dan sekarang, aku ingin mencapai apa yang menjadi cita-cita ku.Yaitu menjadi seorang guru"
"Terus... bisnis mu??"
"Itu hanya diujung jari, semua aku lakukan melalui ponsel.Sekarang zaman sudah canggih Nona"
Vienna tersenyum tipis.
"Kau memang orang yang genius,jadi semuanya akan lebih mudah bagimu "puji Vienna .
"Apa kamu berminat untuk kerja sama dengan ku??"
"Hah???hehehehe kau ada-ada saja,itu tidak mungkin "Vienna tergelak,dan gelak tawa itu seperti genderang yang bertabuh dalam sanubari.
"Kenapa tidak mungkin ??Aku yakin kamu pasti bisa, tinggal aku ajari saja sedikit.Pasti selebihnya kamu bisa melakukannya sendiri"jawab Lion yakin.
"Emang apa sih kerjaannya ??"
"Membuat Game"
"Game???"Vienna seperti tak percaya.
"Jadi kamu merintis bisnis itu??"
"Iya .. yang aku incar adalah mereka yang suka bermain,semua orang pasti suka bermain game kan??"
Vienna tercengang,ia begitu takjub.
"Kalau kamu mau bekerja sama dengan ku,akan ku sediakan lapangan kerja untuk mu"
Vienna tersenyum tipis...
"Saat ini aku masih terlalu banyak masalah Lion,jadi... nanti-nanti lah kalau pikiran ku sudah tenang"
"Justru kalau otakmu bekerja,kamu akan melupakan masalah yang sedang kamu hadapi sekarang "
Vienna terdiam, masalah yang sejenak lalu terlupakan.Kini teringat kembali.
"Mamaaaa...."Suara mungil yang begitu akrab ditelinga mengalihkan perhatian keduanya.Vienna berdiri,ia merentangkan tangannya menyambut kedatangan Vino yang berlari ke arah nya.
"Eh Pak guru...Mama kenal Pak guru??dia guru baru di kelas Vino Ma"
Vienna tercekat, tatapan tak percaya bergulir ke arah pria itu.
"Vino sudah mau pulang ?"tanya Lion.
"Iya Pak guru,Ini Mama Vino...Mama kok bisa kenal Pak Guru??"Vino mendongak ke atas.
__ADS_1
"Emm kebetulan kami teman sekolah dulu"jawab Lion.
"Ohya??waaaah nanti aku akan ceritakan sama teman-teman.Pasti mereka iri sama aku karena Mama ku temenan sama Pak guru"
"Begitu kah??"sambut Lion,Vino mengangguk yakin.
"Ya udah Vin,kita pulang yuk...ajak adek pulang ya..."Vienna menimpali keakraban anaknya dengan mantan kekasihnya.
"Baik Ma..."
Vino berlari menghampiri Viviek.
"Aku pulang dulu ya Lion"
"Besok-besok kalau mau jemput Vino,datanglah lebih awal.Agar kita lebih banyak waktu untuk mengobrol"
Vienna tersenyum sumbang,kedua anaknya sudah datang menghampiri.Ia pun pamit pulang untuk kesekian kalinya.
Lion menatap kepergian wanita yang masih bertahta di hatinya itu.Ia cukup senang karena akhirnya bisa melihat wanita itu setiap hari.
*
Gunawan Mengangkat ganggang telfon di sudut mejanya.
"Hallo ??"
"Pak Gunawan ...ada seorang perempuan datang mencari anda,dia sedang berada di lobby sekarang"Jawab petugas resepsionis di ujung talian.
"Oh... baiklah Terimakasih"
Gunawan meletakkan kembali ganggang telepon nya.Ia sudah bisa menebak siapa wanita yang dimaksud.Helaan nafas berat tak sengaja di dengar oleh Rival.
"Kenapa Bro ??"
"Hemm...Norma..."
"Dia kesini ?"Terka Rival langsung,Gunawan mengangguk lemah.
"Jangan kurang semangat gitu dong Bro,pas waktu memutuskan untuk nikah lagi kan pastinya kamu semangat sekali.Sekarang malah gitu..."Rival mulai mengintimidasi.Gunawan semakin kesal,ia bangkit dengan sedikit memukul meja kerjanya.Rival hanya senyam-senyum saja.
*
"Kamu ngapain datang kesini ??"tanya Gunawan saat ia sudah duduk di Lobby bersama Norma.
"Aku tahu kamu nggak akan pulang ke rumah,jadi aku bawakan makan siang kamu kesini "Norma menyodorkan rantang makanan yang dibungkus pakai tas kain.Gunawan terenyuh..
"Makanlah...jaga kesehatanmu baik-baik...jika kamu Sudah punya waktu untuk pulang ke rumah.Datanglah...aku akan selalu menunggu"Norma bangkit dan hendak pergi.
"Sayang..."
Gunawan berdiri menahan langkah istri keduanya.Norma tak bergeming.
"Terimakasih...maafkan aku"
Ia hanya bisa mengangguk lalu pergi tanpa menoleh lagi.Gunawan menatap kepergian Norma dengan perasaan bersalah.Ia merasa telah menyakiti wanita yang tengah hamil anaknya itu.Tapi apa yang harus ia lakukan,Gunawan juga tidak mau kehilangan Vienna .Vienna sangat berharga baginya.
__ADS_1