
"Semuanya akan ku balas berkali-kali lipat Vien"
Wajah Vienna mengeras,ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Kamu tunggu aja bagaimana balasan ku nanti ? siapkan mental mu sayang "Norma mencuil dagu Vienna , kemudian berbalik pergi.
Vienna memegang kusen pintu,ia hampir saja roboh karena merasa tungkai kakinya lemas.Tangannya gemetar mengambil ponsel di saku celananya.
"Hallo..."
"Ya sayang...kamu udah sampai rumah ?"balas Lion dari seberang.
"Lion... Norma.."suara Vienna gemetar.
"Norma ??kenapa dengan dia?"
"Dia...dia sudah tahu tentang kita"
"Terus ??"
"Aku takut... sumpah aku takut banget dia akan ngadu sama Mas Gunawan "
"Kamu jangan panik Ok!!kita akan pegang kartu as nya dia juga"
"Maksud mu...??"
"Kamu Jangan takut ya...jangan panik..serahkan semuanya sama aku.Aku akan melindungi kamu sayang "
Vienna mengangguk, hatinya sedikit tenang meskipun masih gemetaran.
*
"Hemmmm... sekarang aku sudah memegang kartu As nya Vienna .Tinggal bagaimana aku mencari celah kelemahannya agar dia merasakan penderitaan yang tiada Tara.Akan ku buat kamu menangis darah Vien"Norma mencengkram steering mobil dengan kuat.Ia merasa tinggal sedikit lagi untuk mencapai kemenangan.
Di tempat lain,Gunawan kepikiran dengan video yang dikirim oleh Norma.Ia pun menyempatkan diri untuk menelpon.Tapi tak kunjung ada tanggapan dari seberang.Hingga ke tiga kalinya, barulah Vienna angkat.
"Iya Mas"
"Sayang...kamu dimana ?"
"Di rumah..."
"Vino udah pulang ?"
"Udah.."
"Kamu jemput dia sayang...?"
Vienna diam tak menjawab,hatinya kalut karena takut Norma sudah mengadu.
"Vien..."
"I-i-iya Mas"
"Kamu jemput Vino kan tadi??"Gunawan mengulang pertanyaannya.
"I-iya"
"Sama siapa?"
"Sendiri"Vienna menjawab dengan jujur.
"Kenapa Viek nggak dibawa?"
__ADS_1
"Emmm aku takut Mas,karena Viek selalu merengek minta main di dalam area sekolah "
"Oh begitu...terus kamu titipkan Viek sama siapa ?"
"Sama Bu Bella..."
"Oh ya udah kalau gitu,aku lanjut kerja dulu ya"
Vienna mengangguk dan Gunawan tidak melihat hal itu dari seberang.Tapi ia tetap mematikan talian.
"HUUUFFFF..."Gunawan menghela nafas lega, akhirnya ia bisa bertanya tanpa menimbulkan kecurigaan istri nya.Sedangkan Vienna juga menghela nafas lega karena Gunawan belum tahu atau lebih tepatnya,Norma belum mengadu.
Vienna segera memberi tahu tentang ini kepada Lion melalui telfon.
"Kamu tenang sayang,kita udah pernah mengalahkan Norma.Kali ini dia pasti akan lebih berhati-hati sayang untuk mengadukan mu.Selama dia tidak bertindak,aku masih punya kesempatan untuk mencari kelemahan nya..."
"Sampai kapan kita akan begini ??aku takut Lion"Vienna menangis.
"Kau jangan takut sayang,kalau saja kamu mau bercerai dengan Gunawan .Kita tidak harus seperti ini "
"Aku hanya mikirin anak-anak...tapi aku juga takut..."
"Vien...aku kesana ya sekarang "bujuk Lion.
"Nggak usah...aku ingin sendiri dulu"
"Tapi kamu lagi sedih sayang,aku tidak bisa mendengar mu seperti ini "
"Aku baik-baik aja kok..."
"Vien..."Lion memanggil dengan lembut.
"Hem??"Vienna hanya menjawab dengan dengungan.
Vienna terdiam,ia merasa Lion seperti biasa membaca apa yang ada di dalam otaknya.
"Jawab Vien...jangan diem"Sambung Lion.Vienna tetap bungkam...
"Apa kamu berpikir untuk meninggalkan aku??"
"Aku takut Lion"
"Aku sudah bilang kamu jangan takut,aku akan selalu ada untuk kamu sayang..."
"Kalau Mas Gunawan tahu...dia ceraikan aku,dia bisa memisahkan aku dengan anak-anak "
"Itu nggak akan terjadi sayang, percaya deh..."
"Tapi tadi Norma ngancem akan membuat aku menangis darah.Dan satu-satunya yang menjadi kelemahan aku adalah anak-anak.Aku nggak akan sanggup untuk berpisah dengan mereka "Vienna sesenggukan.
"Aku kesana sekarang..kita jangan bicara di telfon.Tunggu aku ya"
"Lion..ja......"
TUUUUUUT
Belum sempat Vienna menyelesaikan kalimatnya, talian sudah terputus.Ia meninju bantal karena geram akan sikap Lion yang semakin berani datang ke rumah nya.
*
Sepuluh menit berselang, terdengar ketukan pintu.Vienna melihat dua anaknya yang tertidur pulas.Ia ingin memastikan mereka takkan bangun selama Lion datang.
Kretek!
__ADS_1
Daun pintu terbuka,
"Kok lama banget sih bukanya sayang"Lion masuk dan segera menutup pintu di belakang punggung nya.Vienna tak menjawab, ia berbalik tapi Lion malah menarik dan membalikkan badannya lagi.
"Matamu sembab,kau habis menangis ?"
Vienna seperti tak bergairah menyambut kedatangan Lion.
"Anak-anak udah tidur ??"Sambung Lion lagi,Vienna mengangguk lemah.Tanpa buang waktu lagi,Lion langsung main nyosor bibir Vienna .Wanita itu menolak,tapi Lion justru mengunci pergerakan nya dengan menahan kedua tangan Vienna di balik punggung.Lion melu-mat habis penuh naf-su dua garis melengkung nan lembut.Lama kelamaan Vienna jadi ter-ang-sang juga.Lion menyudutkan tubuh Vienna sampai terbaring di sofa,dan disanalah dua pasangan non halal itu melakukan perse-tubuhan.
Lion menggigit leher Vienna saat ia mencapai puncak.Dan membiarkan tubuhnya yang hampir bug-il menin-dih tubuh Vienna .Vienna membiarkan saja,ia pun cukup lelah.
TOK TOK TOK TOK
Vienna terkejut,ia cepat-cepat mendorong tubuh Lion.Dan menengok di celah gorden melihat siapa yang datang.Ternyata Bu Malika dan putrinya Isa adik Gunawan .
Vienna menakup mulutnya,ia menahan nafas karena terkejut.
"Siapa?"bisik Lion dengan santainya merapikan pakaiannya.
"Sttt...ada ibu mertua"
"Hah???Ibuku??"
Vienna memukul Lion karena geram.
"Bukan... Ibunya Mas Gunawan .."
"Ohhh tak kirain Ibuku"
"Ishhh... cepat kamu pergi..."
"Kemana ??"
"Terserah...cepat"
Keduanya bercengkrama dengan suara sekecil mungkin.Lion kecewa,ia pun melangkah pergi melalui pintu belakang.
TOK TOK TOK TOK
"Vienn "Bu Malika berseru lagi.
"Iya Buuuu"Jawab Vienna setenang mungkin.Ia membuka pintu rumah nya dan menyambut kedatangan sang mertua dan adik ipar.
"Ibu..."Vienna mencium tangan mertuanya,ia juga bersalaman sambil cipika-cipiki dengan adik iparnya.
"Vino dan Viek kemana Kak?"tanya Isa yang memang berniat untuk bertemu dengan dua ponakan lucunya.
"Di kamarnya ...baru saja tidur.."jawab Vienna tersenyum tipis seperti tidak terjadi apa-apa,padahal barang milik nya masih becek belum sempat ke kamar mandi.
"Tu kan Bu...kita terlalu kesiangan sampai Mereka udah pada tidur "gerutu Isa kesal.
"Ya mau gimana lagi,Ibu kan masih ada arisan "jawab Bu Malika membela diri.
"Ya udah ayo masuk aja dulu,bentar lagi pasti udah bangun Kok"Vienna menjawab..
'
"Iya Kak... Nanti kalau mereka sudah bangun ? bolehkan saya bawa Vino dan Viviek Keluar jalan-jalan "tanya Isa.
"Boleh kok"
Jawaban Vienna mampu membuat Isa tersenyum senang.Ia pun berlari kecil menuju kamar Vino dan Viviek.
__ADS_1