KASIHKU, ANAKKU

KASIHKU, ANAKKU
EPS 32


__ADS_3

Vienna menangis memeluk tubuh,air shower mengucur deras menyirami tanpa henti.Menemani air mata membasahi wajah nya.


Tok tok tok tok


"Vien...ayo cepat, Viviek dan Vino tertidur di dalam mobil.Mereka kelelahan bermain"seru Lion dari luar kamar mandi.Mendengar nama kedua anaknya,Vienna segera bangkit.Ia mengesat air matanya dan gegas membersihkan diri. Bathrobe dipakai nya usai menyelesaikan ritual mandi.


Lion tersenyum tipis melihat rambut sebahu yang indah basah karena habis dibersihkan.Ia menelan saliva, hasratnya tergoda kembali.Vienna jadi risih mendapatkan Tatapan sedemikian rupa.Ia berjalan dengan gugup, mengambil pakaian nya.


"Apa kau akan tetap memperhatikan diriku seperti itu?"ucap Vienna , dipeluknya pakaiannya itu.Ia canggung sekali jika harus berganti pakaian didepan Lion.


"Kenapa ??toh tadi kita habis perang bersama"Lion menghampiri,Vienna menarik mundur kakinya.


"Kau masih malu-malu,padahal tadi kau begitu menikmati.Kau begitu menggoda Vien..."nafas Lion terdengar berat, seperti menahan sesuatu yang siap meledak.


"Tolong jangan..."Vienna tidak berani mengangkat wajahnya,ia memeluk bajunya dengan erat.


"Kau begitu menggemaskan dengan sikap mu yang seperti ini Vien"


"Anak-anak dimana?"Vienna mencoba mengalihkan perhatian.


"Mereka dibawah, Tantri baru saja sampai"


"Siapa dia ?"Vienna bertanya,Lion tersenyum ia membelai pipi lawan bicaranya.


"Kau tidak usah cemburu,dia guru seni di sekolah.Yang kebetulan juga ikut andil dalam projects game terbaru ku.Karena itu Vino mau saja diajak Tantri jalan-jalan "


"Siapa yang cemburu!! cepat keluar!!aku mau pakai baju dulu"


Lion hanya tersenyum penuh arti, sebenarnya ia enggan untuk keluar.Ia ingin terus memperhatikan Vienna tanpa jeda.Tapi sepertinya wanita itu akan bertambah marah jika Lion melakukan hal itu.


Akhirnya ia keluar dari kamar,dan menunggu Vienna di ruang tamu bersama Tantri.


Tak lama kemudian,Vienna datang.Ia disambut dengan senyuman oleh Lion dan Tantri.


"Anak-anak sedang tidur Bu di dalam mobil"Tantri menjelaskan saat ia bersalaman dengan Tantri.


"Terimakasih sudah menjaga Vino dan Viviek"


"Tidak usah sungkan Bu,saya senang bisa ada kerja sampingan"jawab Tantri yang disambut tawa oleh Lion.Vienna menautkan kedua alisnya, ia tak mengerti dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Tantri.


"Sudah lah...ayo cepat kita pulang!!Gunawan akan segera datang "Lion bangkit,ia menerima kunci mobil dari Tantri.Dan Tantri sendiri mengambil kunci mobil nya Lion.Sepertinya mereka tukaran mobil.


*


Sepanjang perjalanan,Vienna lebih banyak diam.Pandangannya kosong keluar mobil,jalanan tidak terlalu macet sehingga mereka bisa cepat sampai.


Vienna membuka pintu mobil dan hendak keluar,tapi tangan nya dicekal oleh Lion.Keduanya saling bertatapan dengan intens.


"Aku harap..tadi bukan yang terakhir untuk kita"

__ADS_1


Vienna menggeleng tak percaya.


"Kau sudah gila "Vienna menepis tangan Lion, namun pria itu justru menarik Vienna hingga wajah mereka lebih dekat.


"Lepasin Lion,banyak orang disini"


"Aku tidak perduli..."


Vienna melebarkan kedua pupil matanya.


"Aku sekarang tidak perduli dengan apapun,aku hanya ingin kamu Vien..hanya kamu!!"


"Aku sudah bersuami "


"Tapi kita bisa tetap melakukannya Vien...jangan khawatir...asal kita mau"


"Itu tidak boleh Lion...itu kesalahan besar "


"Tidak ada yang salah jika itu mengenai perasaan.Aku tahu kau juga masih mencintai ku"


"Mama..."Vino mengeliat bangun,menyela percakapan serius diantara Vienna dan Lion.


"Iya sayang...Mama disini"Vienna menggunakan kesempatan itu untuk melepaskan diri dari Lion.Ia keluar mobil lalu membuka pintu mobil bagian tengah.Vienna menggendong Vino, sedangkan Lion mengambil Viviek yang nyenyak sekali.


"Bu Vienna ..."Seorang wanita menghampiri.Ia melihat Vino dalam dekapan Vienna dan Viviek yang digendong orang yang tak dikenalnya.


Vienna tersenyum simpul.


"Iya Bu Bella... terimakasih sudah mau menjaga Viviek.Tadi saya ada masalah serius,jadi saya minta tolong kepada guru Vino untuk menjemput Viviek "Vienna memberikan alasan sekedarnya.


"Ohh begitu,,ya sudah Bu saya cukup lega karena Viviek berada di tangan yang tepat "


"Iya Bu..."


"Saya permisi dulu Bu..."


Vienna menjawab dengan anggukan kepala.Setelah tetangga Vienna pergi,Ibu dua anak itu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah diikuti oleh Lion.


Setelah Vino dan Viviek selamat di baringkan.Vienna dan Lion melangkah keluar kamar dengan hati-hati.


"Aku pulang dulu ya"Lion berpamitan,Vienna mengangguk saja.


"Kapan kita bertemu lagi ??"


Vienna membuang muka,enggan untuk menjawab.


"Jangan memaksa ku bertindak diluar kendali Vien"


Vienna menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

__ADS_1


"Pulang lah Lion..."Vienna tidak berani bertentangan mata dengan pria itu.


"Ya aku akan pulang,aku capek sekali.Badanku perlu di istirahat kan, kecuali kau ijinkan aku untuk istirahat disini"


Dua mata Vienna melotot memancing tawa Lion.


"Jangan marah ...aku hanya bercanda...lebih baik kau kerokin leher dan dada kamu.Agar bekas merah itu tersamarkan "Lion menjeling dengan pandangan menggoda.Lalu ia berbalik pergi.


Vienna menutup pintu,ia berlari masuk ke dalam kamar nya.Memeriksa tanda merah yang dimaksud oleh Lion.Benar saja,tanda yang ditinggalkan oleh Lion sangat lah banyak.Ia gegas mengambil uang koin dan minyak kayu putih.Vienna mengerok tubuhnya sendiri untuk menyamarkan tanda itu.


*


Gunawan tiba di rumah,ia memeluk istrinya yang terbaring membelakanginya.Vienna sengaja pura-pura tidur untuk menghindari Gunawan .Ia sangat malu sekali kepada suaminya itu karena merasa telah mengkhianatinya.


"Sayang...kau tidur ???"


Vienna tak menjawab,Gunawan mencium punggung leher istrinya.Lalu mencium pipinya.


"Aku bawa nasi goreng kesukaan mu"bisik Gunawan ,Vienna mengeliat.Ia memberanikan diri untuk membalikkan badannya.Gunawan mengerutkan keningnya melihat leher istri nya yang memerah.


"Kau masuk angin sayang ??"


Vienna mengangguk lemah..


"Udah minum obat ??"


Vienna tersenyum getir, hatinya sakit karena Gunawan begitu percaya padanya.


"Apa perlu ke dokter ??"


Vienna menggeleng...


"Mungkin aku hanya kecapean Mas"


Gunawan mengangguk mengerti.


"Ya sudah kamu lanjut istirahat ya...aku mau mandi dulu "


Vienna mengangguk setuju,Gunawan mengecup kening istrinya sebelum ia bangkit untuk mandi.


*


"Mbok..."


Lion mendatangi dapur,disana Mbok Saripah dan LiLa tengah sibuk menyiapkan makan malam.


"Terimakasih untuk kopi nya...gaji bulan depan aku tambahin bonus..ok!!"Lion tersenyum tipis, ia keluar dari dapur dengan bersenandung kecil.


Mbok Saripah Menatap LiLa,anak gadisnya itu tertunduk sedih.Hatinya begitu terluka,apalagi bayangan kejadian tadi tidak bisa hilang dari ingatannya.

__ADS_1


__ADS_2