
"Mama...apa nanti kita akan main lagi sama Bu gulunya Kak pino??"Celutuk Viviek.Yang refleks membuat Vienna tersedak.
UHUK UHUK UHUK
Gunawan cepat mengambil kan air putih untuk istrinya.
"Pelan-pelan sayang..."
Vienna mengangguk,ia menegak segelas air putih itu sampai habis.
"Memangnya kalian kapan jalan-jalan sama Bu guru ?"tanya Gunawan nampak senang mendengar celotehan Viviek.
"Kemalin Pa...selu Pa...asyik banget"Viviek nyengir memperlihatkan giginya yang tanggal.
"Ohya???Papa mau ikut dong"
"Ndak boleh,Mama aja nggak ikut"
Gunawan langsung menoleh ke wajah istrinya.
"Kamu nggak ikut ??"
"Ah nggak Mas...aku ngambil barang yang ada di rumah Lion.Mumpung dia nggak ada di rumah"
"Oh...udah kamu ambil semua ?"
Vienna menjawab dengan anggukan,namun ia tak berani menatap mata suaminya.Ia takut ketahuan jika ia berbohong.
"Kamu udah nggak pernah ketemu berduaan sama Lion kan sayang ??"
"Hem...???"Vienna Mengangkat wajahnya,
"Ah nggak Mas...aku sekarang... kalau jemput Vino, nunggu di halte.Kerja pun aku sudah berhenti "
Gunawan tersenyum mendengar jawaban istrinya, perlahan jemari Gunawan membungkus tangan Vienna .
"Makasih ya sayang...aku janji kita akan hidup jauh lebih baik dari sebelumnya...ok?"
Vienna tersenyum kelat,
*
*
Gunawan bersama Rival Keluar dari lift untuk makan siang bareng.Mereka tampak sedang bercanda, terlihat dari raut wajah keduanya yang begitu sumringah.
"Gun..."Rival menahan langkah sahabat sekaligus atasan nya itu.
"Ada apa ??"
Rival menjawab dengan gerakan kepala yang menunjuk satu arah.Gunawan mengikuti gerakan kepala Rival.Eh ternyata ada Norma yang tengah duduk di kursi lobby.
"Mungkin dia menunggu mu"Rival menepuk pundak sahabatnya,Gunawan mengangguk mengerti.Ia pun menghampiri Norma.
"Kau sedang apa disini ?"
__ADS_1
Norma sedikit kaget,ia langsung membalikkan badannya ke samping.
"Eh...aku ingin bertemu dengan mu"
Gunawan duduk berhadapan dengan jarak Meja bulat sedikit lebar.
"Ada apa?"Gunawan langsung bertanya.
"Emmm...aku... aku..."Norma sangat canggung "Aku...ingin tahu... bagaimana tentang kita?"
Gunawan menatap lekat wajah istri keduanya itu,ia menghela nafas dalam-dalam.
"Kau sangat kejam Nor... menggunakan perasaan ku sebagai landasan balas dendam mu.Padahal aku sungguh-sungguh mencintai mu"
Norma menundukkan kepalanya..
"Maafkan aku..."Jari jemari Norma saling menjentik satu sama lain.Ia terlihat gugup.Gunawan menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Aku sudah memaafkan mu,tapi aku tetap tidak akan menceraikan mu"Gunawan bangkit dari duduknya.
"Kalau itu keputusan mu ..maka perlakukan aku sebagai istri mu"
Ucapan Norma membuat langkah kaki Gunawan terhenti.
"Aku merindukan mu"Norma tak sanggup Mengangkat wajahnya.Ia menunduk sangat mendalam.
Hati Gunawan terenyuh,ia berbalik.
"Aku akan datang nanti malam... tunggu aku"
"Aku akan menunggumu"
*
*
Vienna menunggu Vino dengan gelisah,ia takut untuk bertemu dengan Lion.
Tiit tiiiit...
Vienna tersentak kaget, ternyata di depannya ada sebuah mobil Fortuner berhenti.Kaca pintu mobil turun secara perlahan.
"Masuklah..."
Kepala Lion terlihat menengok.Vienna menggeleng cepat.
"Mama..."Kepala Vino juga menengok dari kursi belakang.
"Vino..."Vienna membulatkan matanya.Lion tersenyum tipis,ia menggerakkan kepalanya lembut.Mau tidak mau Vienna terpaksa mendekat.Karena ingin mengajak Vino keluar.
"Vin...ayo keluar Nak...kita pulang"
Vino menggeleng..
"Vino mau main di rumah Pak guru Ma"
__ADS_1
Vienna menatap Lion yang tersenyum nakal padanya.
"Please Lion...aku harus pulang..aku bawa motor "
"Nggak apa-apa,nanti aku suruh orang untuk mengantar motor mu ke rumah "Lion menjawab alasan Vienna dengan tenang.
"Ma...mau ikut kak pino..."Viviek malah merengek minta ikut.
"Lihat... anak-anak suka bermain dengan ku"goda Lion,Vienna benar-benar dibuat tak berkutik.Ia ingin menolak,tapi anak-anak justru sebaliknya.
Lion membuka pintu mobil dari dalam,ia tidak ingin menunggu Vienna berpikir lebih lama.Akhirnya Vienna terpaksa masuk ke dalam mobil Lion.Pria itu sangat senang karena bisa me-skak mate wanita disampingnya.
Viviek pindah ke belakang,ia duduk bersama dengan Kakaknya.Tanpa segan,tangan Lion langsung memegang pa-ha Vienna yang dibalut dengan daster dan dilapisi jaket jeans.Vienna menepis tangan itu,tapi Lion justru menangkap tangan Vienna lalu di tarik nya untuk memegang barang nya.Vienna terbelalak,ia menariknya cepat.
"Hahahahahaha ...."Lion tertawa lepas, ia mengemudikan mobilnya dengan cepat.
"Vino dan Viviek mau main apa nanti di rumah Pak guru?"
"Apa saja Pak guru,asal tidak ada Tante jahat "jawab Vino dengan polosnya.
"Ok ....Pak guru jamin Tante jahat tidak akan berani lagi marah-marah sama Vino dan Viviek..Ok!!"
Vino mengangguk senang.
*
Pupil mata LiLa melebar saat melihat Vienna turun dari mobil majikannya.Dan tidak ketinggalan dua anaknya juga turut serta.Lion nampak senang,ia kejar-kejaran dengan dua bocah itu masuk ke dalam rumah.Justru berbeda dengan raut wajah Vienna ,ia sangat gugup sekali.Dan senyum nya sangat getir saat menyapa LiLa yang sedang menyiram tanaman.
"Vien... ayo"Lion tiba-tiba muncul kembali,ia menarik tangan Vienna masuk ke dalam rumah nya.Vienna terpaksa menurut.
Keduanya menemani Vino dan Viviek main game di dalam kamar tempat mereka menginap dulu.Saat tengah fokus memperhatikan layar kaca, tiba-tiba tangan hangat menelusup ke dalam bajunya.Vienna terkesiap,Lion menggerilya seluruh le-kuk tubuh Vienna dengan penuh naf-su.Ia menarik Vienna lebih dekat lagi.Kini Vienna duduk diantara dua kali Lion yang terbuka.
Lion menci-umi Tengkuk Vienna dengan nafas yang berat.Vienna berusaha mengelak,tapi posisi nya sudah terjepit.
"Ada anak-anak jangan macam-macam"bisik Vienna mencoba menakut-nakuti.Lion tersenyum tipis, ia melepaskan rengkuhannya seperti yang diharapkan oleh Vienna .Tapi bukan berhenti di situ,Lion justru menarik tangan Vienna untuk bangun.
"Mau kemana ??"Vienna menautkan kedua alisnya.
"Ayo..."paksa Lion,
"Nggak aku mau disini..."Vienna menolak,saat itu Vino menoleh ke belakang.
"Ada apa Ma??"tanyanya.
"Ah ini Vin...Pak guru mau minta tolong Mamamu untuk mengusir kecoa,Mama kamu kan pemberani"jawab Lion asal.
"Ohhh ya udah Ma.. bantuin Pak guru,Vino nggak berani Ma sama kecoa.Kalau Vino berani pasti Vino yang bantu pak guru"
Lion tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban Vino.Tapi Vienna justru mendengus kesal, akhirnya mau tidak mau Vienna terpaksa bangun mengikuti langkah Lion.
Pria itu menarik Vienna masuk ke kamar mandi,lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
"Kau mau apa Lion??"
Lion menyekat tubuh Vienna ke dinding,ia melahap dua garis tipis itu dengan penuh gai-rah.Meskipun Vienna melakukan penolakan,tapi Lion terus menyerang hingga Vienna terbawa suasana secara perlahan.
__ADS_1