Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 1: Awal Mula


__ADS_3

Padat kendaraan lalu lintas sudah pasti terjadi meski waktu baru di pukul 07.15, di hari senin itu adalah hal yang wajar terjadi dan untuk sebagian murid sekolah mereka melangkah dengan gontai dengan berbagai macam sebab, diantara banyak murid tersebut wanita dengan rambut sebahu berjalan sambil membaca buku.


Memakai riasan makeup yang sederhana, bahkan terlihat seperti tidak memakai makeup sama sekali, namun kecantikannya tetap terpancar.


Kejora namanya hanya dengan satu kata yaitu Kejora siswi kelas 2 SMA, Kulit yang putih, bulu mata yang lentik, dan bibir tipisnya, di topang dengan tubuh yang tinggi, sekitar 170 cm, dan berat badan sekitar 50 kg.


Sangat manis, dan mungkin bisa menjadi model professional atau artis jika dia memoles sedikit wajahnya.


Sekawanan murid pria berjalan tepat di belakangnya, sambil asyik bercanda tawa tanpa beban menikmati masa-masa indahnya sekolah, berangkat sekolah bersama teman-teman diiringi candaan yang membuat mereka tertawa lepas seakan-akan tidak ada masalah yang mereka miliki di saat itu.


Hal itu membuat Kejora cukup kesal, karena mengganggu konsentrasinya membaca buku, meski wajahnya tidak menunjukkan ekspresi, namun dalam hati dia mengumpat sekawanan pria tersebut. Kejora pun bertindak seakan tidak memperdulikan mereka, dengan fokus terus menatap buku yang ia pegang.


Braaak...


Badan Kejora tertabrak oleh sekawanan murid tersebut, dan buku yang ia pegang pun jatuh.


“Maaf, aku tadi gak sengaja.” ucap Rahmad, yang tidak sengaja menabrak Kejora, karena asyik bercanda dengan teman-temannya. Rahmad memiliki rambut keriting, berkulit cokelat, tingginya sama dengan kejora, dengan badan yang tegap, cukup populer di kalangan wanita, anaknya pun sangat aktif, siswa kelas 2 SMA.


“Kamu gak papa?“ tanya Rahmad dengan raut merasa bersalah.


“Gak papa.” jawab Kejora dengan tenang dan tanpa ekspresi, sambil mengambil bukunya yang jatuh Kejora angsung pergi meninggalkan mereka.


“Makanya, kalo jalan jangan mundur jadi gak liat kan kalo ada orang.” ucap Ferdy. Salah satu teman Rahmad, orangnya terkesan pendiam, tubuhnya lebih pendek, dan kurus dari Rahmad, namun rambutnya lurus, dengan kulit putih.


“Siapa dia kayaknya dari sekolah kita aku gak pernah liat?“ tanya Zul. Zulfikar pria paling ganteng dan paling populer disekolahnya. Hidung mancung, rambut lurus, tinggi 185 cm, kulitnya putih, alisnya tebal, dan tampilannya stylish.


“Dia anak satu angkatan kita, tapi jarang keliatan aku beberapa kali liat dia di perpus.” jawab Beny. Yang paling pintar dan paling kutu buku diantara mereka, namun tidak terlalu tampan, tapi humoris.


“Wanita yang menarik, aku penasaran sama dia.“ dalam hati Zul.


“Kenapa nanyain cewek, tumben?” tanya Ferdy penasaran.


“Iya biasanya gak peduli sama yang begituan” sambung Beny mencecar Zul.


“Jangan–jangan.” jawab Rahmad dengan seringai meledek.


“Jangan-jangan?" tanya Zul dengan wajah polos dan bingung sambil melanjutkan perjalanan menuju sekolah.


“Suka pandangan pertama." jawab Ferdy kalem.


“Syukur deh Zul, kalo suka sama cewek, ku kira kamu jeruk makan jeruk, haha.” ucap Beny sambil tertawa.


“Hoi... aku bukan orang gila kayak gitu. ” jawab Zul singkat dengan raut kesal.


“Haha... aku aja kadang-kadang takut kalo cuma berdua sama Zul.“ ucap Rahmad sambil mengikik.


“Oke, kita patungan traktir Zul makan cireng nanti di kantin, tenang Zul nanti aku ke perpustakaan nyari info cewek itu buat mu.” ucap Beny.


“Terserah.“ jawab Zul ketus.


“Aku gak ikut patungan, duit jajan ku seminggu udah ku beliin headset.” ucap Ferdy.


“Ya udah ngutang ya.“ jawab Beny.


“Udah gak usah ribut, cepet jalannya! nanti jalan jongkok kita.” sahut Zul.


“Baru juga jam berapa, udah gak sabar mau ngeliat cewek itu lagi ya” ledek Beny.


“Terserah deh.” jawab Zul.


2 hari berlalu sejak hari itu masih terbayang wajah cantik, tanpa ekspresi, tatapan tajam dengan sifat dingin, terlihat tegas, dan cerdas tidak dapat lepas dari memori ingatan.


Dia memiliki pesona lain dari wanita umumnya unik, hal itu yang membuat Zul tertarik dengan Kejora, bukan hanya kecantikan wajah. Namun pesona unik itu menjadi daya tarik tersendiri bagi Zul, membuat dia penasaran ingin lebih mengetahui lebih tentang Kejora, kenapa dia baru tau saat sudah satu tahun bersekolah bahwa dia satu angkatan dengan Kejora.


“Hoi, Zul.“ panggil Rahmad membuyarkan pikiran Zul tentang Kejora.


“Hmmmm...” jawab Zul singkat.


“Masih mikirin cewek itu?” tanya Rahmad.


“Emang dia siapa? kenapa harus ku pikirin?” jawab Zul singkat


“Kejora, dia di kelas XI IPA 1, anaknya kutu buku gak pernah ke kantin selalu di perpus.” jawab Beny.


“Tau darimana Ben? ” tanya Zul kaget.


“Tuh, bener kan.” sahut Rahmad.


“Bener apaan? ” tanya Zul.

__ADS_1


“Masih mikirin cewek kemaren itu, yang ku tabrak.” jawab Rahmad.


“Serah deh Mad, tau darimana kamu Ben? ” tanya zul pada Beny penasaran.


“Aku kemaren ke perpus, aku tanya Petugas perpusnya dan cuma itu yang bisa ku dapet.” jawab Beny


“Lagian, ngapain juga kamu nanya-nanya tentang dia ke orang lain?” tanya Zul.


“Demi temen.“ jawab Beny santai.


“Mustahil, paling mau kamu deketin, pake bawa-bawa temen segala.“ jawab Zul menyelidik.


“Hoi... gak boleh buruk sangka sama temen.” jawab Beny kesal.


“Ya tapi kan, emang niat mu gitu.“ ucap Rahmad.


“Kamu juga ikut-ikut.” jawab Beny kesal


“Ya kan, memang kamu kayak gitu dari dulu.” kata Rahmad.


“Iya juga si.” jawab Beny meringis.


“Tapi tenang Zul, kali ini beneran demi kamu.” sambung Beny dengan tegas pada Zul.


“Terus kalo udah gitu, aku harus gimana? " jawab Zul sambil bertanya.


“Muka ganteng tapi oon.” jawab Rahmad meledek.


“Ngajak ribut?” kata Zul dengan nada tinggi.


“Jujur Zul, kali ini Rahmad bener.” sahut ferdy sambil mencopot headsetnya.


“Aku juga.“ sahut Beny dengan wajah kecewa.


“Eh, kamu bisa denger Fer padahal pake headset?” tanya Rahmad.


“Kan volumenya kecil, ya dengerlah Mad.” jawab Ferdy.


“Nyambung aja kamu Fer, tau apaan kamu? ” tanya Zul masih sedikit kesal.


“Informasi dari beny tadi udah cukup harusnya buat pijakan kamu Zul, kalo kamu mikir pake otak.“ jawab Ferdy dengan percaya diri tingkat tinggi.


“Gak usah muter-muter, langsung aja pointnya apa? ” tanya Zul penasaran.


“Terus? ” tanya Zul bingung


“Ya kalo mau deketin, tinggal ke perpuslah oon.” jawab Rahmad setengah berteriak dengan wajah kecewa.


“Ampun deh, anak ini polosnya kelewatan.“ ungkap Ferdy dalam hati.


“Oh gitu ya, ternyata kamu pinter juga Mad.” kata Zul dengan wajah kagum.


“Dasar kamunya aja yang oon Zul.” umpat Beny dalam hati yang masih kesal dengan kepolosan dari Zul.


“Pengalaman memang guru terbaik Zul.“ jawab Rahmad dengan kesal.


“Oke, besok aku ke perpus.” tegas Zul.


Yang penuh percaya diri dengan modal ketampanannya, Setelah pulang sekolah, Zul masih memikirkan cara untuk mendekat pada Kejora, dia tahu bahwa Kejora bukan wanita yang mudah di ajak berbicara.


Dari ekspresinya dan tatapannya yang kosong terlihat jelas, meski menurut Zul itulah daya tariknya tapi dia tidak tau cara memulainya. Dia terlalu misterius dan penuh tanda tanya hal yang buruk jika tidak mempersiapkannya secara matang dan penuh perhitungan.


Belajar dan meraih mimpinya hanya itu yang selalu Kejora pikirkan, tiada hari tanpa belajar bagi dirinya, waktu istirahat pun dia ke perpustakaan sekolah hal itu selalu dia lakukan sejak lulus SD tidak ada yang dia pedulikan selain itu. Sampai ia mendapatkan julukan Putri Buku karena dia selalu terlihat membaca buku oleh teman sekelasnya, sehingga dia tidak terlalu akrab pada mereka dan berbicara pun sangat jarang.


Pada jam olahraga pun dia masih menyempatkan membaca buku, alasan kenapa tubuhnya proporsional walau dia jarang olahraga, karena dia selalu membaca buku dan lupa untuk makan.


Sebenarnya banyak pria yang mengaguminya, karena dia cantik cerdas dan tubuhnya proporsional seperti model tapi,mereka semua langsung menyerah karena sifatnya yang acuh pada hal seperti itu. Menurutnya cinta itu tidak rasional sehingga menganggap cinta adalah hal yang tidak masuk akal.


Keesokan Harinya, pada saat masuk kelas dan duduk di bangkunya, Kejora ingin meletakkan buku di lacinya namun ada sebuah amplop berwarna pink dengan hiasan hati.


“Lagi-lagi apa mereka gak bosan ngirim ini ke aku sembunyi sembunyi, seharusnya lebih efektif jika bilang secara langsung, gimana aku balas suratnya kalo aku gak tau pengirimnya, sudah lah biarin aja nanti juga bosen.” ucapnya dalam hati dengan heran.


Dia pun duduk dan langsung matanya terfokus ke buku yang ia baca hingga, bel masuk pertama di bunyikan yang menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Dan pada saat istirahat pertama dia langsung menuju ke perpustakaan sekolah karena di kelas akan berisik pada saat jam istirahat . Dia pun merapikan buku dan peralatannya dan berjalan menuju ke perpustakaan namun pada saat di pintu.


BUKKKHH… tabrakan pun tak dapat di hindarkan keduanya sama sama jatuh terduduk.


“Awwwww...” teriak Kejora kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


“Aduh.. liat-liat geh Ra.” teriak Lena. Selena teman sekelas Kejora, cantik namun sedikit lebih pendek, dari Kejora serta langsing, dengan kulit kuning langsat, dan berambut panjang, tapi kecentilan.

__ADS_1


“Kan dia yang nabrak l.” kata Kejora dalam hati.


“Kan kamu yang nabrak ” jawab Kejora sedikit kesal.


“Haaa, kamu nyalahin aku?" ucap Lena dengan nada tinggi.


“Memang kamu yang salah.” balas Kejora


“Mataku gak rabun kayak kamu, yang baca buku terus.” ucap Lena marah.


“Udah salah gak mau ngaku lagi, udah lah ngalah aja gak ada waktu ngeladenin dia aku buru-buru harus ke perpus.” umpat Kejora dalam hati dengan kesal


“Yaudah maaf, aku buru-buru.” jawab Kejora. Berdiri meninggalkan lena dan bergegas menuju perpustakaan.


“Apaan si cewek itu? kerjaanya cuma baca buku aja banyak gaya.” umpat Lena.


“Memang apa salahnya kalo aku baca buku, kan aku juga belajar gak bikin repot dia.” kata Kejora dalam hati sambil menahan amarah.


Sementara itu di perpustakaan, telah menunggu Zul dan ketiga temannya, untuk membantu Zul menghadapi perang pertama Zul yang akan segera di mulai.


“Dia kok belum dateng ya?” tanya Zul penasaran.


“Sabar dikit jadi manusia, percaya aja sama master Beny.” jawab Beny menyombongkan diri


“Oke, tapi Ben?” tanya Zul heran.


“Apaan lagi sabar kenapa, apa susahnya sih Zul?” jawab Beny.


“Bukan itu lo Ben” jawab Zul.


“Terus apa si Zul?” tanya Beny kesal.


"Kenapa ada Ferdy sama Rahmad?“ tanya Zul dengan polos sambil menunjuk kearah Ferdy dan Rahmad.


“Ada buku yang pengen ku baca, kamu gak usah peduliin aku.” jawab Ferdy.


“ Biar mission success.” jawab Rahmad, sambil memberi jempol dengan bersemangat.


“Udah kamu ikut planning kita aja, nurut, gak usah banyak tanya!” jawab Beny dengan kesal.


“Tunggu bentar, kayaknya ada yang salah dari pemikiran kalian.” kata Zul.


“Ngomong apa sih? kita gak bisa mundur sekarang, aku rela tidur jam 4 demi planning ini hargain dikit dong.” jawab Beny sambil melihat situasi.


“Ben?” tanya Zul bingung.


“Apalagi sih Zul, kamu bisa diem gak aku marah lo ini, liat mata ku jadi mata panda udah jelek tambah jelek, demi temen kamu hargain pengorbanan temenmu ini dengan menuruti perkataanku bisa kan?” tanya Beny yang mulai marah karena Zul tidak dapat diam.


“Oke, aku nurut.“ jawab Zul dengan sangat terpaksa dan merasa iba pada temannya.


“Oke, mission started langsung posisi! aku urus Zul dulu.” perintah Beny, pada Ferdy dan Rahmad.


“Yes sir.“ jawab mereka serempak memberi hormat.


“Mission apaan sih?” tanya Zul bingung.


“udah gak ada waktu Zul, dia dateng bentar lagi dia milih buku, kamu ikutin dia abis itu kamu duduk di depan dia, ngerti kan Zul?” tanya Beny kepada Zul dengan cepat dan fokus melihat ke target yang sedang bergerak.


Setelah beberapa detik tiada jawaban.


“Zul kamu denger gak?” tanya Beny kesal, sambil menengok ke tempat duduk Zul.


Ternyata Zul sudah bergerak tanpa mengikuti instruksi dari Beny. Beny yang terus memegangi kepalanya karena khawatir akan kebodohan dari temannya, mulutnya tidak berhenti terus berdoa agar kali ini Zul tidak membuat kesalahan. Kejora menghampiri rak buku perpustakaan untuk mencari buku yang ingin ia baca, dan pilihan pun jatuh di buku tentang tata surya. Dia pun duduk menyendiri dan langsung fokus ke buku bacaannya, tanpa menghiraukan keadaan sekitar, Zul yang sejak tadi duduk di sampingnya pun ia tidak merasakan hawa keberadaannya.


“He, kamu mau jadi astronot?“ tanya Zul.


Yang membuat Kejora cukup tersentak kaget, karena Zul berada disampingnya, membuat fokusnya terpecah, namun tak sepatah katapun keluar dari mulut Kejora, yang kembali lanjut fokus membaca tak memperdulikan Zul.


“Siapa sih dia? ganggu aja “ kata Kejora dalam hati dengan kesal.


“Dingin banget anak ini.“ ungkap Zul dalam hatinya sedikit kesal.


“Aku Zul.“ ucap Zul sambil menyodorkan tangannya dan tersenyum manis.


“Rara.” jawab Kejora dengan singkat tanpa menengok kepada Zul,serta tak membalas salam, masih tetap fokus pada bukunya dan diam tanpa ekspresi.


“Sok, akrab banget.” ungkap Kejora dalam hati.


"Aku lagi ngajak kamu ngobrol lo.“ ucap Zul menekan.

__ADS_1


“Sejak kapan perpus jadi tempat ngobrol?” jawab Kejora dengan kesal


“Bener-bener cocok aku tertarik sama cewek ini.” ungkap Z


__ADS_2