
Tersentak kaget Zul dan Kejora,
apalagi Kejora yang masih kaget dengan pengakuan Zul, ditambah kehadiran orang
lain yang sedang melihat Zul mengungkapkan Perasaannya pada Kejora, Zul
langsung menatap tajam kearah orang itu dengan raut wajah emosi, sedangkan
Kejora hanya diam membeku tak bergerak, dia bingung harus bersikap apa, untuk
saat ini.
“Beny“ ucap Kejora kaget.
“Beny“ ucap zul sambil menggeretakan
giginya.
“Kenapa kaget Zul?“ tanya Beny.
“Gak, aku udah prediksi walaupun
sedikit meleset.“ jawab Zul
“Hmmm... otakmu udah mulai sedikit
ada gunanya ternyata, aku bawa hadiah buat kamu.” Ucap Beny membuat Zul heran.
“Hadiah?“ tanya Zul.
“Lena“ panggil Beny.
“Zul, kenapa kamu pilih Kejora di
banding aku? “ tanya Lena.
“Beny sialan ini bahaya, Kejora gak
suka Lena. ” pikir Zul.
“Zul apa maksud Beny, apa hubunganmu
sama Lena?“ tanya Kejora.
“Aku gak ada hubungan apapun dengan
Lena, aku bersumpah Ra.“ jawab Zul.
“Terus maksud Lena tadi apa Zul?“
tanya Kejora.
“Aku gak tau Ra.“ jawab Zul.
“Apa maksud kamu Ben? kenapa kamu
bawa Lena? dia gak ada hubungannya?“ tanya Zul.
“Hmmmm... gimana ya? biar seru aja
gak membosankan.“ Jawab Beny.
“Ini bukan permainan Ben.“ teriak
Zul.
“Aku tau...“ jawab Beny, “Tapi aku
juga suka sama Kejora, gak cuma kamu aja yang suka dia.“ Ucap Beny.
Kaget sekaget-kagetnya Kejora
mendengar ucapan Beny, tidak menyangka bahwa Beny menyukai Kejora, ternyata
selama beberapa hari Beny bermain Ke rumah Zul adalah ini, dan apa yang di
katakan Zul waktu itu benar, Kejora mengira bahwa Zul sedang bercanda, atau
asal menebak, atau mungkin memang dia sudah tau.
“Sekarang Kejora siapa yang kamu
pilih, aku atau Zul?“ tanya Beny pada Kejora.
“Zul, aku juga suka sama kamu Zul.“
ucap Lena.
“Lena maaf, tapi hatiku udah milih
Kejora, walaupun dia belum menjawab perasaanku, aku gak menyerah, aku akan
tunggu jawaban dari Kejora, karena aku yakin Kejora punya rasa yang sama
denganku, Lena aku gak punya perasaan yang aku rasakan pada Kejora sama kamu,
aku harap kamu bisa mengerti Len!“ jawab Zul
“Kenapa Zul? apa karena Kejora lebih
pintar dari aku? apa karena dia lebih cantik dari aku? apa karena dia lebih
kaya dari aku? apa alasannya? “ tanya Lena sambil meneteskan air mata.
“Aku gak punya.“ jawab Zul.
“Liat Ra dia itu cuma mainin kamu,
dia aja gak bisa jawab kenapa bisa suka sama kamu, aku bisa, beda Ra sama aku,
aku punya alasan bisa suka sama kamu“ ucap beny.
“Ben cinta itu tak terdefinisi,
cinta itu tak terhingga, emang aku gak punya alasan kenapa bisa suka sama
Kejora, tapi kalo liat Kejora Senyum aku jadi bersemangat lebih dari biasanya,
kalo Kejora Sedih aku lebih sedih lagi dari dia, saat dia akrab dengan orang
lain aku takut, aku marah, aku takut dia lebih dekat dengan orang lain selain
aku, aku marah sama orang yang lebih dekat dengan Kejora daripada aku, kalo
kamu butuh alasan yang Rasional dan logis aku suka sama Kejora, aku gak punya,
tapi kalo pertanyaanmu kenapa aku suka sama Kejora, aku punya jawabannnya,
karena aku mencintai dia.“ tegas Zul.
“Zul.“ ucap Kejora.
“Nah Ra, kamu pilih siapa? aku atau
Zul Ra?“ tanya Beny.
“Maaf Ben, aku udah anggap kamu
sebagai sahabat, anggap kamu jadi teman, aku gak ada perasaan seperti yang kamu
rasain ke aku, aku minta maaf Ben, aku gak bermaksud untuk bikin hati kamu
sakit, aku gak ada maksud sama sekali, kalo selama ini aku baik sama kamu itu
di salah artikan sama kamu aku minta maaf Ben, aku baik Ke kamu sebagai seorang
sahabat bukan sebagai pasangan.“ jawab Kejora.
“Zul ayo pulang! aku terlalu kaget
dengan kejadian ini.” kata Kejora.
“Ra tapi.“ jawab Zul terhenti
“Zul aku mohon!“ ucap Kejora
memelas.
“Beny, maaf sekali lagi, aku harap
kita masih bisa jadi sahabat yang baik.“ ucap Kejora.
Beny dan Lena Pergi meninggalkan Zul
dan Kejora, Beny tak menjawab Kejora tak ada satu kata pun keluar, Kejora yakin
Beny mendengarnya tapi Kejora juga tahu Beny pasti sangat sakit saat ini,
hingga bibirnya tak dapat di gerakkan. Zul dan Kejora pun diam tak mengucapkan
satu patah katapun sampai ke dalam rumah, wajahnya tak berekspresi.
Zul pun langsung masuk Ke kamarnya
tak berucap apapun, berbeda dengan Kejora yang berusaha menyembunyikan masalah
tadi, didepan orang tua Zul. Meski masih kaget dan tidak percaya, ini tetap
pilihan yang berat bagi Kejora, walaupun dia ingin mengatakan iya aku mau, tapi
bibirnya benar-benar berat mengucapkan kata-kata itu, dia yakin Zul
mengatakannya dengan jujur, tapi Kejora masih merasa terganjal oleh sesuatu
yang sangat penting baginya.
Zul langsung membuka jendela
kamarnya menatap langit malam dengan jutaan bintang, sinar bulan terhalang oleh
awan hitam tidak terlihat dengan sempurna, tapi bukan bulan titik yang ia
pandang melainkan bintang Kejora, seharusnya sebentar lagi bintang itu akan
menghilang dan akan kembali menampakkan wujudnya saat pagi menjelang.
Badannya terasa lelah dan mengantuk
walaupun malam belum larut ingin rasanya tidur dan bermimpi, tapi matanya terus
__ADS_1
terbuka dengan lebar tak dapat di pejamkan. Kejora yang tidak mengatakan apapun
membuatnya tidak dapat tenang, dan gelisah terus mengganggunya. Saat matanya
terpejam dan kesadarannya hampir hilang, suara seseorang membuat kesadarannya
kembali.
“Zul kamu udah tidur ya?“ tanya
Kejora yang sudah beberapa kali memanggil Zul dan tak mendapat balasan, ia pun
berbalik badan melangkahkan kaki menjauh dari pintu kamar Zul, tapi sebuah
tangan yang besar dan kuat menggenggam erat lengannya.
“Kamu belum jawab Ra, aku gak bisa
tidur dengan tenang “ ucap Zul yang membuat Kejora perlahan menoleh kearahnya.
“Maaf Zul.“ jawab kejora
“Ah... ternyata Kejora tidak membalas
perasaanku, aku terlalu berharap.“ pikir Zul. sambil mengendurkan genggamannya
“Gak papa Ra, kamu punya hak.“ jawab
Zul membalikkan badannya dan melepas genggaman Lengan Kejora tapi.
“Aku belum bisa jawab sekarang, I
need time.“ jawab Kejora menarik lengan Zul.
“I need apa tadi aku gak tau
artinya?“ tanya Zul.
“Aku belum bisa jawab sekarang, Zul
maaf ya.“ ucap Kejora tersenyum.
“Gak masalah aku tau kamu masih
kaget sama kejadian tadi, aku tau ini pilihan berat buat janji jadi pasangan
seumur hidup itu gak mudah, kamu mantepin jawabanmu aku gak akan memaksa
jawabanmu apa, aku gak masalah, tapi Ra aku butuh kepastian.“ tanya Zul.
“Kepastian tentang apa?” tanya
Kejora.
“Kapan aku bisa dapet jawabanmu?“
tanya Zul.
“Besok.“ jawab Kejora mantap.
“Gak usah buru-buru juga aku gak
masalah Ra, tapi lebih cepat itu lebih baik.“ ucap Zul.
“Aku gak peduli jawabanmu apa, aku
gak akan nyerah sampai kamu bilang iya Ra.“ ucap Zul dalam hati.
“Aku udah pikirin baik-baik,'aku
janji aku bakal jawab itu besok, aku harap apapun jawabanku nantinya, aku mau
hubungan kita tetap seperti sekarang.“ jawab Kejora.
“Aku janji.“ jawab Zul sambil
mengarah ke tempat tidur dan menunjukkan jari kelingkingnya tanpa menghadap ke
arah Kejora.
“Makasih Zul.“ jawab Kejora sambil
menutup pintu kamar Zul.
Senang dan cemas dalam hati Zul,
senang karena akan mendapatkan jawaban dari ungkapan perasaan Zul besok, cemas
karena apa yang akan menjadi kejawaban Kejora besok tidak sesuai dengan
ekspetasinya, hanya akan ada dua jawaban besok hanya kemungkinan baik dan
kemungkinan buruk, serta jawaban baik dan jawaban buruk, meski jawabannya
adalah jawaban buruk Zul akan terus berusaha mengubahnya menjadi baik, tapi
bohong rasanya jika dia tidak cemas, tidak mungkin hilang sepenuhnya.
Malam terasa lebih panjang dari
biasanya, mata terpejam namun tubuhnya hanya berguling kesana-kemari, untuk
masih sepenuhnya sadar tidak terlelap, bahkan hanya sedetik pun. Tadi malam Zul
merasa malam lebih lama dari biasanya, tapi saat pagi hari menjelang dia merasa
kenapa hari ini terlalu cepat berganti, untuk menenangkan pikirannya dia
membuka jendela kamarnya di waktu yang hampir pagi ini, memandang kelangit dan
melihat bintang Kejora, ia pandangi terus bintang it terus-menerus tanpa
bergeming ke arah lain.
Tok… tok… tok…
“Iya siapa?“ tanya Zul tersadar dari
lamunannya
“Zul udah mau pagi kamu mau jogging
gak?“ tanya Kejora.
“Jangan-jangan dia mau jawab pas
jogging.“ pikir Zul bersemangat.
“Iya Ra, tunggu.“ jawab Zul yang
bergegas, memakai pakaian joggingnya dengan terburu-buru hingga menimbulkan
suara berisik yang terdengar oleh ibu Zul.
“Zul kamu ngapain sih? Berisik
amat.“ tanya Ibu Zul.
“Mau jogging, lagi pake baju kenapa
Bu?“ jawab Zul.
“Bisa gak pelan-pelan, jangan
berisik ayah masih tidur!“ perintah Ibu Zul.
“Iya Bu.“ jawab Zul sambil keluar
dari pintu kamarnya.
“Kenapa sih? mau jogging aja
berisik?“ tanya Ibu Zul heran.
“Gak kenapa-kenapa, emang berisik
ya?“ tanya Zul
“Bisa gak kerasa sama kamu, ayah
kecapean masih tidur, kamu malah berisik.“ Ucap Ibu Zul memarahi Zul.
“Bu aku kasih tau sesuatu.“ ucap
Zul.
“Apaan sih?“ tanya Ibu Zul.
“Cowok itu gak suka sama cewek yang
pagi-pagi udah marah-marah.“ jawab Zul.
“Sok tau kamu, gak usah ngajarin ibu
soal kayak gini.“ ucap Ibu Zul.
“Tapi aku cowok lo Bu, pasti ayah
pikirannya sama kayak aku.“ jawab Zul menggoda Ibunya sambil pergi.
“Zul anakku ganteng,tunggu bentar!“
panggil Ibu Zul tersenyum merayu Zul.
“Eh, tumben baik, ada apa nih sampe
muji-muji segala.” jawab Zul tersenyum.
“Ah, kamu kok kayak gitu sih, biar
ayah makin lengket sama Ibu gimana ya? Zul kamu kan cowok pasti ngerti kan
maksud Ibu?“ tanya Ibu Zul.
“Minta duit.“ jawab Zul.
“Cih...“ ucap Ibu Zul spontan.
“Hmmm... gitu ya padahal aku tau caranya,
__ADS_1
ternyata gak butuh, yaudah deh, aku mau Jogging dulu.“ jawab Zul.
“Ah, kamu kok jadi gampang
tersinggung sih, kan ibu cuma becanda segini cukup?“ tanya Ibu Zul sambil
menunjukkan uang pecahan 100 ribu sebanyak dua lembar.
“Sebenernya sih kurang, tapi gak
papalah, demi Ibuku tersayang ini ,aku kasih tau deh.“ jawab Zul
“Terus gimana?“ tanya Ibu Zul.
“Ayah itu orangnya agak dingin, Ibu
harus agresif, Ibu yang inisiatif, aku saranin bangunin ayah sekarang, suapin
makan, dan habis itu, Ibu bisa improvisasi sendiri.” ucap Zul sambil pergi.
“Eh, beneran cuma gitu aja?“ tanya
Ibu Zul.
“Semangat!“ jawab Zul.
Zul pun langsung menghampiri Kejora.
“Lama amat, ngomongin apa sama Ibu?“
tanya Kejora.
“Bisnis.“ jawab Zul tersenyum.
“Bisnis apaan?“ tanya Kejora.
Zul mendekatkan wajanya ke telinga
Kejora dan berbisik.
“Rahasia.“ ucap Zul
“Ih kok gitu.“ jawab Kejora.
“Udah ayok lari, nanti pulangnya
keburu panas.“ ucap Zul sambil memulai joggingnya.
“Jangan rahasia-rahasiaan dong?“
tanya Kejora penasaran.
“Tanya aja, nanti sama Ibu.“ jawab
Zul.
“Kenapa gak kamu aja sih yang
ngomong, aku jadi penasaran.“ ucap Kejora yang semakin penasaran.
Zul berhenti sejenak...
“Aku juga penasaran sama jawaban
kamu.“ dengan wajah tersenyum menatap Kejora dan melanjutkan larinya.
Kejora terdiam dengan wajah tersipu
malu karena tatapan Zul, jantungnya berdegup kencang, memang dia sedang berlari
namun dia rasa ini lebih kencang dari biasanya, saat dia sedang berlari bersama
Zul. Belum lagi senyum Zul terlihat sangat indah di mata Kejora, membuat ia
terpukau, takjub dengan senyuman Zul.
Merekapun akhirnya berhenti,
beristirahat di tempat yang sama saat Zul menyatakan perasaannya pada Kejora,
masih terbayang Kejadian pada malam itu, yang tadinya hanya dua orang remaja
yang duduk di situ dan menyatakan perasaanya, bercabang bertambah menjadi dua
orang remaja yang menyatakan perasaannya kepada orang yang telah membuat mereka
jatuh cinta, dan masih menunggu satu jawaban yang belum didapatkan oleh Zu,l
dia masih menanti jawaban Kejora.
“Zul“ ucap Kejora..
“Hmmm...“ jawab Zul sambil meneguk
air mineral.
“Aku belum bisa jawab sekarang, aku
udah putusin untuk jawab itu, nanti malem apa kamu mau nunggu sampe malem?“
tanyaKejora.
“Gak masalah mau selama apapun? itu
tetep kutunggu.“ jawab Zul.
“Kamu bisa ke rumahku, nanti malem
aku butuh tempat yang privasi, dan gak ada yang ganggu.“ ucap Kejora.
“Emang boleh sama pak Jon, sama bi
Maryam?“ tanya Zul.
“Boleh tenang aja, aku yang ngomong
ke mereka, kamu tinggal dateng kesana aja.“ jawab Kejora meyakinkan Zul.
“Oke kalo gitu.“ jawab Kejora,
“Aku habis sarapan, pulang Kerumah.“
ucap Kejora.
“Yaudah nanti kuanter.“ jawab Zul.
“Gak usah, aku sendiri aja, aku
pengen sendiri dulu.“ jawab Kejora.
“Yaudah kalo itu mau kamu, aku gak
bisa maksa.“ ucap Zul.
“Makasih Zul, udah mau ngerti aku,
selama ini aku seneng.“ jawab Kejora
“Kalo kamu seneng, aku lebih seneng
dari kamu.“ jawab Zul.
Dan akhirnya merekapun pulang untuk
sarapan di rumah Zul. Setelah itu kejora berpamitan untuk pulang kerumahnya.
Kejora bingung hatinya terus mengatakan dan memaksa bibir Kejora bergerak untuk
berkata Iya, tapi dipikirannya masih terganjal sesuatu yang tidak kalah
pentingnya tentang perasaannya, jika dia menjawab tidak sama saja dia bohong
pada dirinya sendiri.
Malampun telah tiba, Kejora makin
gugup dadanya serasa ingin meledak, apa ekspresi Zul nanti saat mendengar
jawabannya. Kejora sudah memberi pesan pada pak Jony jika Zul datang, langsung
temui Kejora di balkon atas rumahnya, tempatnya cukup tertutup terhalang
rimbunnya pohon, dan kebun rumah Kejora di tambah dengan tempatnya yang cukup
luas, dan dapat dapat melihat langit malam dengan jelas.
“Hai Pak Jon.“ sapa Zul yang membuat
pak Jony kaget.
“ Bkin kaget aja, ke balkon atas
langsung!“ jawab Pak Jony.
“Gini pak, kan Rumahnya ini luas
udah kayak hotel, balkon atasnya yang mana ya pak? saya gak tau?“ tanya Zul.
“Nanti dianter bi Maryam, dia ada di
ruang tamu, dan saya harap kamu gak amnesia.“ tegas pak Jony.
“Bapak bisa percaya sama saya, saya
udah janji“ jawab Zul.
Dan Zul pun diantar Bi Maryam Ke
balkon atas Rumah Kejora.
“Makasih Zul udah mau dateng.“ ucap
Kejora.
“Gak mungkin, aku gak dateng buat
sesuatu yang sangat penting kayak gini.“ jawab Zul.
“Iya Zul, aku gak mau lama-lama Zul
__ADS_1
jawabanku.“ ucap Kejora terhenti.