Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Keputusan


__ADS_3

Beny telah kembali menjadi sahabat mereka. Zul akhirnya dapat menunaikan janjinya untuk membawa pulang diri Beny yang dulu, dan mengembalikan Beny menjadi bagian dari hidup mereka sebagai sahabat. Kata terima kasih pada tuhan terus terucap dari mulut Zul.


Tidak hanya Beny yang dapat kembali ke dirinya yang dulu, Kejora pun terus mengumbar senyum manisnya pada Zul memberikan senyum terbaik yang ia miliki pada orang yang ia cinta. Berkat kejadian waktu itu hubungan Kejora dan Zul yang tadinya mempunyai dinding tebal berhasil Zul hancur dan tak bersisa sehingga ia dapat dekat dengan Kejora seperti dulu.


Kedekatan yang membuat iri setiap orang yang melihatnya tidak terlalu dekat namun sangat mesra terlihat sudah sebulan Beny kembali bergabung menjadi sahabat mereka hari hari mereka kini jadi lebih menyenangkan dan di hari libur ini tepat hari minggu Zul melakukan rutinitasnya.


“Ra kamu mau jogging gak?“ teriak Zul didepan pintu kamar Kejora.


Namun tak ada jawaban dari kamar Kejora.


“Jangan marah ya nanti! aku udah bangunin lo.“ ucap Zul.


“Kenapa Zul teriak-teriak masih pagi gini?“ tanya Ayah Zul.


“Bangunin Rara dia mau jogging apa gak, tapi gak di jawab.“ jawab Zul.


“Ya banguninlah masuk kedalem, dia semalem kelamaan paling belajarnya!“ perintah Ayah Zul.


“Males ah…“ jawab Zul.


“Zul itu trik dari Ayah… pengalaman adalah guru paling berharga.“ ucap Ayah Zul sambil pergi meninggalkan Zul.


“Hm… coba aja dulu deh, siapa tau berhasil.“ gumam Zul.


Zul membuka pintu Kejora pelan-pelan. Dan ternyata benar Kejora masih tertidur nyenyak. Tubuhnya sekarang membelakangi posisi Zul saat ini, serta memakai selimut, Zul mencoba mendekati Kejora secara perlahan namun tanpa diduga Kejora membalikkan wajahnya kearah Zul dan selimutnya sedikit terbuka. Dan pada saat itu juga Zul langsung sesak nafas diam mematung dengan pemandangan yang ia lihat cukup lama dia diam menikmati pemandangan indah yang terjadi pada saat itulah dunia memang indah ucapnya dalam hati dia terus terfokus pada pemandangan itu.


“Seger matanya?“ tanya Kejora.


“Iya seger banget, ini namanya berkah.“ jawab Zul yang belum sadar bahwa itu suara Kejora.


“Berkah gimana maksudnya?“ tanya Kejora kebingungan.


“Sexy banget.“ jawab Zul spontan dan masih belum sadar.


Kejora langsung menutupi tubuhnya dengan selimut mendengar jawaban dari Zul. Dan Zul kaget dengan gerakan cepat yang terjadi tiba-tiba itu. Dengan spontan dia mengalihkan pandangannya ke arah wajah yang sedang geram dengan tatapan tajam dan giginya bergemelutuk.


“Rara kamu udah bangun, barusan mau kubangunin?“ tanya Zul dengan senyum kaku.


“Bohong.“ jawab Kejora dengan tatapan tajam.


“Beneran, aku sumpah Ra.“ jawab Zul ketakutan.


“Terus maksudnya berkah apaan?“ tanya Kejora.


“Gimana ya, sambil menyelam minum air gitu, tapi pertamanya mau bangunin kamu, mau ajak jogging, nih liat aku udah siap-siap.“ jawab Zul mencoba menjelaskan kepada Kejora.


“Alasan.“ jawab Kejora.


“Beneran Ra, sambil menyelam minum air gitu hahaha…“ jawab Zul mencoba merubah suasana dengan tawa kakunya.


“Keluar!!!“ perintah Kejora dengan tatapan tajam.


“Ra?“ jawab Zul ketakutan.


“Keluar.“ perintah Kejora dengan penuh penekanan.


“Yes My Lady.“ jawab Zul dengan lemas.


Dan saat Kejora menutup pintu.


“Dasar jorok, mati sana seribu kali.“ ucap Kejora dengan tatapan tajam dan menutup pintu dengan keras.


“Rara.“ panggil Zul.


Zul langsung terduduk lemas di depan pintu kamar Kejora. Namun Kejora tak kunjung membuka pintu dan ia pun berjalan dengan tatapan kosong.


“Zul kamu kenapa?“ tanya Ayah Zul.


“Hm Ayah… aku gak kenapa-kenapa aku cuma nyesel aja ngikutin saran Ayah.“ jawab Zul lemas.


“Kenapa gitu?“ tanya Ayah Zul bingung.


“Sesat, gara-gara Ayah Rara marah.“ jawab Zul.


“Mana mungkin?“ jawab Ayah Zul kaget.


“Mati sana seribu kali, gak mungkin kalo dia seneng pasti marahkan?“ jawab Zul meniru suara Kejora.


“Iya Zul, dia pasti marah.“ jawab Ayah Zul dengan tenang.


“Tuh kan, gara-gara Ayah sih.“ ucap Zul menyalahakan Ayahnya.


“Kok gara-gara Ayah, emang Ayah ngapain?“ tanya Ayah Zul.


“Tadi siapa yang nyuruh bangunin Rara?“ tanya Zul.


“Gak ada.“ jawab Ayah Zul.


“Kok Ayah pura-pura lupa.“ ucap Zul

__ADS_1


“Ayah tadi kan gak nyuruh, cuma kasih saran aja.“ jawab Ayah Zul mengelak.


“Cih… dasar gak mau ngaku.“ Jawab Zul kesal.


“Zul kok pagi-pagi udah berantem, mau jogging gak?“ tanya Kejora.


“Zul kata kamu dia marah.“ bisik Ayah Zul pada Zul yang terdiam heran dan bingung.


“Wanita emang susah dimengerti.“ bisik Zul pada Ayahnya.


“Iya Ra, ayo berangkat.“ ajak Zul.


Mereka pun pergi meninggalkan Ayah Zul dan mulai melakukan jogging. Kejora masih diam dan tak mengajak Zul bicara dan ajakan dari Zul pun tak mendapat respon dari Kejora. Kejora hanya menatap kedepan tanpa memerhatikan Zul, wajahnya murung seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan oleh Kejora sesuatu yang mungkin buruk jika dilihat dari ekspresi yang Kejora tunjukkan saat ini.


Zul dan Kejora pun tetap seperti biasa berhenti di taman di bangku yang sama saat ia menyatakan perasaannya pada Kejora. Saat jogging selalu seperti itu dan selalu memilih tempat itu untuk beristirahat.


“Ra kamu marah ya?“ tanya Zul sambil memberikan botol air minum pada Kejora.


“Gak.“ jawab Kejora singkat.


“Terus kenapa kamu diem aja dari tadi? kamu pasti marah, maaf ya aku beneran gak ada niat lain?“ pinta Zul merasa bersalah.


“Anggep aja berkah.“ jawab Kejora dengan memaksakan senyumnya.


“Bener… berarti aku boleh liat lagi dong.“ goda Zul.


“Gak jadi kalo gitu.“ jawab Kejora.


“Cuma becanda Ra biar gak kaku, kamu gak kayak biasanya?“ tanya Zul.


“Kamu tau ternyata.“ jawab Kejora tersenyum.


“Kamu kenapa sih? ngomong kalo ada masalah!“ tanya Zul heran.


“Gini Zul… bentar lagi kan kita lulus sekolah--“ jawab Kejora terhenti.


“Terus kenapa?“ tanya Zul.


“Aku mau kuliah ke Canberra.“ jawab Kejora yang bersiap menantikan reaksi Zul.


“Ah… kamu cuma ngomong gitu aja kayaknya berat amat, bikin aku khawatir aja emangnya kenapa?“ tanya Zul tersenyum.


“Kamu bolehin aku ke Canberra?“ tanya Kejora.


“Kenapa gak boleh, emang Canberra dimana ya? aku gak pernah denger daerah itu di Indonesia?“ tanya Zul tersenyum.


“Oh… di Australia.“ jawab Zul tersenyum, “Hee… kamu berarti mau ke luar negeri?“ tanya Zul kaget.


Dan Kejora hanya mengangguk pelan dengan raut sedih.


“Apa gak bisa kamu tetep di Indonesia? bukannya aku ngelarang Ra, aku seneng sih kamu mau kuliah Cuma aku harap itu disini?“ tanya Zul.


“Maaf Zul, keputusanku udah final.“ jawab Kejora.


“Ya udah kalo kamu memang bener-bener mau kesana, aku rela kok, itu bukan masalah.“ jawab Zul tersenyum namun memendam kesedihan.


“Kenapa kamu gak ikut aku aja kuliah disana?“ ajak Kejora menemukan ide.


“Kalo itu gak bisa Ra.“ jawab Zul lemas.


“Kenapa? kalo masalah uang nanti aku bilang ke Papa, kamu gak usah khawatir.“ ucap Kejora berusaha meyakinkan Zul.


“Bukan masalah uang Ra, masalahnya itu ada di aku.“ jawab Zul.


“Kenapa?“ tanya Kejora.


“Otakku gak bakal sanggup Ra.“ jawab Zul tersenyum.


“Aku bantu kamu belajar.“ jawab Kejora tak mau menyerah.


“Percuma Ra, kamu memang bisa bantu aku sekarang, tapi pas kuliah kamu belum tentu bisa bantu aku terus, kamu mau ambil jurusan astronomi kan, itu bukan mudah ra, mungkin kamu aja gak sepenuhnya yakin kamu bisa selesaiin semua dengan cepat, kamu gak usah pikirin aku kalo kamu mau kesana, aku rela asal kan itu bener-bener kemauanmu, aku gak masalah, aku tetep tunggu kamu disini.“ jawab Zul.


“Zul.“ jawab Kejora lemas.


“Kamu gak usah pikirin aku, cita-citamu sekarang lebih penting dari aku.“ jawab Zul.


“Tapi Zul--“ jawab Kejora terhenti.


“Tenang aku gak bakalan selingkuh, hatiku tetep gak akan berubah Ra, kamu yakin aja sama aku.” jawab Zul.


“Bukan itu Zul.“ jawab Kejora.


“Terus?“ tanya Zul.


“Aku gak mau jauh dari kamu, aku takut kamu gak bisa tunggu aku, situasi dan kondisi merubah keadaan kan, Zul.“ jawab Kejora.


“Baru Australia, kamu ke Mars aja aku tungguin, apalagi cuma Australia kita masih di planet yang sama, kamu gak usah khawatir, aku usahain untuk nengokin kamu terus.” jawab Zul meyakinkan Kejora.


“Kamu tinggal aja disana Zul, kamu gak kuliah gak apa-apa masalah uang buat tinggal disana aku yang ngomong ke Papa.“ ucap Kejora berusaha mengajak Zul.

__ADS_1


“Gak bisa kayak gitu Ra, Papa kamu nanti berpikir kalo aku manfaatin kamu buat hidup enak gak ngapa-ngapain, asal kita saling percaya semua masalah itu terasa mudah kok.“ jawab Zul.


“Zul, jadi kamu mau tetep disini?“ tanya Kejora.


“Gak tau juga, situasi dan kondisi kan merubah keadaan, siapa tau aku dapet pekerjaan disana, kamu berdoa aja.“ jawab Zul memberikan harapan pada Kejora.


“Oke deh… aku selalu berdoa setiap saat, biar bisa sama-sama kamu terus, tapi kamu harus jawab dengan jujur pertanyaanku?“ tanya Kejora.


“Hm… oke kamu mau tanya apa?“ jawab Zul.


“Kamu habis lulus mau jadi apa?“ tanya Kejora.


“Hm… aku mau jadi suami kamu, jadi Ayah buat anak-anak kita.“ jawab Zul tersenyum.


“Aku serius?“ tanya Kejora menatap tajam Zul.


“Oke deh, aku serius, aku mau jadi penulis atau mau buka toko buku, atau mungkin jadi petugas perpustakaan di kota.“ jawab Zul.


“Kenapa?“ tanya Kejora heran.


“Karena kamu suka buku.“ jawab Zul dengan cepat dan membuat Kejora tersentak.


“Aku lagi gak becanda Zul.“ terang Kejora.


“Aku juga gak becanda Ra, aku serius.“ jawab Zul mendekatkan wajahnya ke wajah Kejora.


“Zul kamu beneran?“ tanya Kejora masih tidak percaya.


“Aku beneran, aku gak main-main.“ jawab Zul dengan tegas dan penuh pendirian.


“Kalo itu mau kamu, kenapa gak di Australia aja, kan bisa?“ tanya Kejora.


“Aku gak bisa Bahasa Inggris.“ jawab Zul tersenyum.


“Kan bisa kursus, pasti bisa cepet.“ ucap Kejora yang tidak mau menyerah.


“Bisa cepet itu kalo kamu Ra, aku beda Ra, aku butuh waktu yang jauh lebih lama dari kamu Ra, aku gak yakin bisa cepet, kamu tau pasti kalo aku gak akan menyerah demi kamu, tapi aku gak mau buat kamu kecewa karena terlalu lama nunggu aku.“ jawab Zul.


“Aku bakal bantuin kamu, aku bakal tungguin Zul.“ jawab Kejora.


“Oke aku pikirin lagi, tapi sekarang kita pulang dulu udah waktunya sarapan!“ ajak Zul.


Dan Kejora langsung mengangguk mendengar ajakan dari Zul, Kejora tahu ini berat untuk Zul. Zul mungkin masih bimbang untuk saat ini perkataan Zul semuanya pun benar tadi tidak ada yang salah sama sekali. Kejora pun sebenarnya sangat berat untuk memilih keputusan ini tapi inilah jalan yang harus ia tempuh inilah jalan yang dia pilih untuk menggapai cita-citanya. Zul mungkin terlihat mendukung semua keputusan Kejora tapi Kejora tau sebenarnya Zul menolak dengan keras keputusan ini.


Zul dan cita-citanya sama pentingnya, untuk saat ini, mengejar cita-cita yang selalu dia mimpikan, tapi di sisi lain hati Kejora tidak rela untuk jauh dari Zul, dia ingin Zul berada di dekatnya, dia ingin Zul selalu menyemangatinya disaat dia terpuruk dan buntu tak punya jalan keluar, tapi Kejora juga tidak bisa memaksakan keputusan Zul yang sangat berat untuk dia pilih yaitu tinggal disini dan merelakan Kejora pergi jauh darinya.


Saat malam menjelang Kejora tak dapat memejamkan matanya sama sekali dia gelisah tak tenang dan akhirnya ia memilih untuk ke balkon rumahnya berdiri di sudut yang sama saat ia menjawab perasaan Zul memandang langit dan terfokus ke arah bulan sabit yang berhias jutaan bintang di langit.


“Ra kamu gak tidur?“ tanya Zul mengagetkan Kejora.


“Kamu juga kenapa gak tidur?“ tanya Kejora.


“Karena aku tau kamu gak bisa tidur.“ jawab Zul tersenyum.


“Hmm…“ jawab Kejora kembali memandang keatas.


“Kamu kepikiran dengan keputusanku yang tadi?“ tanya Zul.


“Iya Zul.“ jawab Kejora dengan raut wajah penuh kekecewaan.


“Kamu kecewa dengan jawabanku yang gak sesuai harapan kamu?“ tanya Zul.


“Sedikit.“ jawab Kejora singkat.


“Kenapa kamu kecewa?“ tanya Zul tersenyum.


“Karena aku harus jauh dari kamu “ jawab Kejora menoleh kearah Zul dengan tatapan sayu.


“Aku gak jauh Ra, aku selalu ada di hati kamu, cuma badan aku aja yang jauh dari kamu, tapi cintaku selalu ada dihatimu dan selalu berada di dekat kamu.“ jawab Zul.


“Maksud kamu?“ tanya Kejora.


“Yang pergi itu cuma badan kamu aja Ra, tapi cintamu selalu ada di hati aku, begitu juga dengan aku, cintaku selalu didekat kamu, kamu jangan khawatir atau sedih mungkin raga kita terpisah jauh tapi hati kita selalu di tempat yang sama, selalu berdampingan, ini keputusanku Ra, aku harap kamu bisa terima, anggep aja ini ujian pertama buat cinta kita.“ jawab Zul.


“Tapi Zul.“ bantah Kejora.


“Kamu takut ada yang mengisi posisimu kan, saat kamu jauh, kamu gak usah khawatir walaupun aku ganteng tapi posisimu gak ada gantinya My Sweet Lady.“ jawab Zul tersenyum.


“Gombal.“ jawab Kejora dengan wajah yang terasa panas.


“Aku serius kok, udah tidur aja dulu oke, jangan sampe sakit, nanti aku nangis lo.“ ucap Zul.


“Aku pengen liat kamu nangis.“ jawab Kejora tersenyum.


“Kapan-kapan aja ya, sekarang tidur dulu.“ perintah Zul sambil mendorong badan Kejora menuju kamarnya.


“Iya, iya.“ jawab Kejora.


“Zul aku emang gak salah pilih, aku tambah gak mau jauh dari kamu.“ ucap Kejora dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2