Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 12 : Keyakinan


__ADS_3

Semenjak Beny memutuskan mengakhiri


persahabatannya dengan Zul kemarin, masih terpikir olehnya apakah pilihannya


salah atau benar. Zul sebenarnya tidak 100% yakin dengan jawaban yang ia buat,


gelas sudah pecah tidak dapat di satukan kembali, sekarang situasi berubah.


Maju, mundur, ataupun diam di tempat hasilnya akan tetap sama. Tidur tak


nyenyak, terus masuk kedalam mimpi, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan


antara mereka bertiga. Terus berulang-ulang kenangan Beny dan Zul yang sudah


tak terhitung jumlahnya.


Malam pun berganti pagi, mata Zul


masih terbuka tidak dapat di pejamkan, tidak bergerak dari tempat tidurnya


terus memandang, ke langit-langit kamarnya. Membuka handphonenya melihat


album-album kenangan antara Zul dan Beny, sedih rasanya, ingin menetes air mata


apakah Beny merasakan hal yang sama dengannya? apakah Beny benar benar tega


melakukan ini ? apakah benar tidak ada cara lain? pikir Zul.


Tidak ada kemungkinan baik terjadi


jika mengikuti pilihan dari Beny, jika hati dan cintanya di korbankan, mungkin


ia tak sanggup untuk bersekolah di tempat yang sama dengan mereka, tak sanggup


untuk melihat mereka bergandengan tangan, berjalan bersama, dan jika dia


mengorbankan kenangan dan persahabatannya dia tidak tahu, apakah masih bisa


didapatkan sahabat seperti Beny yang selalu membantunya, mendukungnya, selalu


menyemangatinya. Zul harus memilih keduanya, tidak bisa salah satu dipilih atau


di korbankan.


“Zul kamu udah bangun?” tanya


Kejora. mengetuk pintu Zul.


“Udah kenapa Ra?” jawab Zul.


“Jogging yuk?“ ajak Kejora.


“Eh, udah pagi ya.“ ucap Zul dalam


hati yang tidak sadar.


“Iya bentar Ra, tunggu aku


siap-siap” jawab Zul.


“Kamu gak tidur apa semalem?” tanya


Kejora saat Zul sudah keluar.


“Hmmm... tidur kok kenapa?“ tanya


Zul.


“Matamu ada kantongnya, biasanya


gak.” jawab Kejora


“Hmm... dia kalo merhatiin orang


sampe sedetail itu ya?“ pikir Zul.


“Masa sih, aneh amat ya?“ ucap Zul


pura pura bingung


“Iya beneran deh.“ jawab Kejora.


“Ah, udahlah biarin, yuk jalan aja.”


ajak Zul


Mereka pun berlari santai sambil


ngobrol diselingi candaan ringan persis seperti sepasang kekasih yang


berolahraga bersama, walaupun tidak bergandengan terlihat sangat mesra. Walau


pakaian tak sama, namun terlihat serasi, bahkan ada yang mengira pengantin


baru, karena Kejora dan Zul sangat terlihat dewasa, padahal mereka adalah bunga


mawar yang baru mekar, masih anak remaja SMA.


“Capek?“ tanya Zul pada Kejora.


“Ya namanya juga olahraga ya capek


lah.“ jawab Kejora tersenyum.


“Ya udah istirahat dulu yuk, udah


lumayan lama juga larinya.“ ajak Zul.


“Aku masih kuat kok.“ jawab Kejora.


“Udah gak papa, kamu tunggu situ


bentar, aku beli minum.“ perintah Zul.


Beberapa saat kemudian.


“Nih minumnya.“ ucap Zul.


“Makasih Zul, kayaknya kamu udah gak


lemes lagi?“ tanya Kejora.


“Udah gak dong, udah istrirahat


geh.“ jawab Zul tersenyum.


“Emang kemaren kamu tuh, lemes


kenapa sih ? “ tanya Kejora penasaran.


“Gak kenapa-kenapa capek karena


belajar terus paling.“ jawab Zul.


“Bener bukan karena aku?.“ tanya


Kejora


“Iya gara-gara kamu juga “ jawab


Zul.


“Gara-gara apa?” tanya Kejora yang


semakin penasaran.


“Kamu ngajarin aku belajar banyak


banget, sampe mau muntah, itu buku kalo bisa di makan ku makan udahan.“ jawab


Zul bercanda.


“Aku serius Zul.” ucap Kejora.


“Aku becanda.“ jawab Zul tersenyum.


“Serius dikit kenapa?“ tanya Kejora


Kesal.


“Pagi-pagi jangan tegang-tegang


dong, Nanti stres.“ jawab Zul.


“Aku jadi penasaran kan.“ ucap


Kejora.


“Aku gak penasaran.“ jawab Zul.


“Zul aku ngambek.“ ucap Kejora.


“Eh, kan kamu yang salah kok, kamu


yang ngambek?“ tanya Zul.


“Serius geh makanya.“ jawab Kejora.


“Yaudah, itu serius jawabannya


sumpah.“ ucap Zul


“Beneran, serius, beneran.” tanya


Kejora.


“Beneran, serius, beneran.“ jawab


Zul.


“Yaudah pulang yuk, aku laper.“ ajak

__ADS_1


Kejora sambil berdiri.


“Cewek gak boleh makan terus lo,


nanti gemuk.“ jawab Zul


“Aku gak peduli sama penampilan.“


jawab Kejora tersenyum


“Aku juga gak peduli kok Ra,


penampilanmu gimana.“ jawab Zul dalam hati.


Mereka pun pulang ke rumah Zul untuk


sarapan bersama. karena matahari sudah hampir menampakkan bulatan penuh,


merupakan penanda mereka untuk kembali pulang dan sarapan bersama.


Saat di depan Pintu rumah Zul.


“Zul nanti temenin aku ke toko buku


ya.” ucap Kejora


“Ngapain? belajar lagi apa? baru


juga berapa hari libur?“ tanya Zul.


“Gak, aku mau beli novel.“ jawab


Kejora malu malu


“Hmmm... kukira kamu gak suka buku


kayak gitu, sukanya buku pelajaran aja.“ ucap Zul.


“Emang kenapa?“ tanya Kejora.


“Ya gak papa sih.“ jawab Zul.


“Yaudah temenin ya, harus mau


pokoknya.“ paksa Kejora


“Emang kenapa geh?“ tanya Zul.


“Hmmmm. aku pertama kali beli


novel.“ jawab Kejora.


“Terus.“ tanya Zul


“Bantuin aku pilih yang bagus.“


jawab Kejora


“Hmm... yaudah aku usahain deh?“


jawab Zul.


Mereka pun sarapan bersama seperti


biasa dengan Ibu Zul yang selalu memojokkan Zul dan menngoda Kejora, serta ayah


Zul sebagai penengahnya, jika keadaan sudah mulai tidak kondusif. Setelah makan


Zul dan Kejora langsung bersiap-siap dan pamit kepada orang tua Zul untuk pergi


ke toko buku.


Saat Di toko buku.


“Zul yang mana yang banyak adegan


romancenya?“ tanya Kejora.


“Gak tau, aku belum pernah baca.“


jawab Zul.


“Terus gimana dong?“ tanya Kejora.


“Yaudah liat-liat aja sinopsisnya


dulu.“ jawab Zul.


“Kalo yang ini gimana?“ tanya Kejora


sambil menunjukan novel.


“Coba liat.“ jawab Zul.


“Novel dewasa 21+.“ baca Zul dalam


hati.


“Kenapa gak boleh?“ tanya Kejora.


“Pokoknya gak boleh.“ jawab Zul.


“Iya deh aku cari yang lain.“ jawab


Kejora.


“Uni gimana.“ jawab Kejora


menunjukkan 5 buku sekaligus dan masih dengan tulisan yang sama.


“Gak boleh semuanya.“ jawab Zul.


“Yaudah kamu pilihin!“ perintah


Kejora Kesal.


“Nih aku udah dapet 3 yang bagus.“


jawab zul


“Yaudah aku beli semuanya.“ jawab


Kejora.


“Ngapain kamu beli novel banyak


gitu?“ tanya Zul setelah Kejora selesai membayar dan mengajak pulang.


“Ya buat di bacalah.” jawab Kejora.


“banyak banget, mana minta yang


banyak adegan romancenya lagi?“ tanya Zul heran.


“Buat belajar sama riset.“ jawab


Kejora polos


“Belajar apaan? riset gimana


maksudnya?“ tanya Zul bingung.


“Laki gak perlu tau.“ jawab Kejora


“Kok gitu?“ jawab Zul.


“Ini rahasia wanita.“ jawab Kejora.


“Aku pulang kerumah dulu, malem aku


nginep dirumahmu lagi?“ ucap Kejora.


“Bajumu gak diambil? mau ngapain sih


emang?“ tanya Kejora.


“Mau baca novel dulu.“ jawab Kejora.


“Hmmmm. yaudah, yuk kuanter.“ jawab


Zul.


“Makasih ya, udah mau nganterin aku


terus.“ ucap Kejora.


“Gak papa aku juga gak ada kerjaan


juga di rumah, aku seneng kok bisa nganterin kamu.“ jawab Zul.


“Makasih Zul.“ jawab Kejora dengan


wajah tertunduk malu.


“Iya Ra, kamu juga baik sama aku


setidaknya aku bales dikit-dikit kebaikanmu, kamu mau deket sama orang bodoh


kayak aku itu sebenarnya udah ajaib.“ jawab Zul.


“Aku gak masalah sih orang itu bodoh


atau gimanapun itu, namanya temenan itukan kecocokan, dan saling pengertian


jadi mau gimanapun orang itu, asal cocok mah aku gak masalah.“ jawab Kejora.


“Cuma temenkah huffft...“ ucap Zul


dalam hati. Saat di depan gerbang Rumah Kejora.


“Beny.“ ucap Zul kaget.

__ADS_1


“Eh, beny ada apa Ben kesini? kok


kamu tau rumahku?“ tanya Kejora.


“Hmmm... pengen main aja boleh Ra?“


tanya Beny.


“Boleh aja sih, tapi aku gak bisa


lama-lama.“ jawab Kejora


“Hmmm... kalo sibuk gak papa kok Ra,


lain kali aja.“ jawab Beny.


“Maaf ya ben, kalo gak nanti malem


aja, kita main di rumah Zul, boleh gak Zul?” tanya Kejora yang heran melihat


ekspresi Zul yang aneh hawa Zul pun berubah.


“Gak masalah rumahku selalu


terbuka.“ jawab Zul dengan serius.


“yaudah sampe ketemu ntar malem Ra.”


jawab Beny sambil pergi dan berbisik di samping Zul.


“Kamu bener-bener serius ternyata


Zul, tapi aku lebih serius dari kamu.“ Bisik Beny.


“Aku gak akan nyerah buat Kejora,


mengepalkan tangan kearahmu itu bukan masalah .“ jawab Zul dengan emosi dan


tangan mengepal.


Zul pun pulang ke rumah dan langsung


masuk kekamarnya, dengan emosi yang meluap yang sedang dia redam agar tidak


meledak nantinya. kamu yang mulai Ben kamu yang duluan nyopot pedang dari


sarungnya, aku juga gak ada pilihan lain selain menyanggupi tantanganmu, ucap


Zul dengan emosi. Kamu yang bikin semua begini, aku udah coba untuk bersabar


sama kamu, aku bukan dewa yang bisa terus bersabar, aku manusia sabarku punya


batasan kamu yang mancing aku untuk nunjukin wajah asliku.


Dia masih terus emosi, terus marah


dalam hatinya, secara terang-terangan Beny ingin bersaing dengannya. Dia tau


Beny orangnya seperti apa, dia ngotot, tidak peduli dengan cara apa yang dia


pakai, selama itu mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan, itu bukan


masalah mau cara itu baik ataupun buruk, licik atau adil, dia tidak peduli


selama, dia dapat apa yang dia mau. Jika beradu fisik memang kemungkinan Zul


menang sangat mudah, bahkan tanpa perlawanan tapi ini bukan tantangan fisik,


ini strategi ini mengandalkan otak, peluang untuk menang di bawah 1%


perbandingannya sangat jauh.


Mungkin aku selama ini banyak


menyerahnya, tapi untuk kamu Ra, demi kamu Ra, aku gak akan kenal kata


Menyerah, kata Menyerah kuhapus dari otakku hanya akan ada kata berjuang, terus


berjuang dan maju, terus maju, mungkin sekarang aku belum bisa ngomong dengan


jujur sama kamu Ra, aku belum bisa ungkapin perasaanku, aku mau kamu selesaiin


dulu masa SMA, ini setelah itu aku bakal ngomong tapi kondisinya berubah,


situasinya juga berubah, meskipun ada kemungkinan kamu punya perasaan yang


berbeda sama aku, tapi aku gak akan nyerah sebelum mencoba.


Saat malam hari Beny terus mendekati


Kejora tanpa memperdulikan Zul, Zul hanya diam saja melihat itu tapi di dalam


hatinya dia sangat marah ingin dia memukul wajah beny sekarang juga, namun itu


adalah tindakan paling bodoh, saat ini Kejora belum tahu bahwa Zul dan Beny


sedang tidak harmonis, Beny dengan mudah menyembunyikannya, namun tidak dengan


Zul kemampuan sandiwaranya sangat buruk, seharusnya Kejora dapat dengan jelas


memahami Raut wajah Zul, tapi Kejora bersikap seolah baik-baik saja karena


sedang ada beny tidak mungkin Kejora menunjukkan kepeduliannya terhadap Zul


seperti biasanya, sedang ada Beny sekarang dia tidak ingin ada rumor miring


tentang Zul dan Kejora,


Ekspresi emosi Zul sedikit berkurang


saat Beny pamit untuk pulang,namun tetap jelas terlihat bawa ia sedang marah


dan kemarahan itu tertuju jelas pada Beny tidak dapat ia sembunyikan.


“Zul“ Panggil Kejora.


“Apa?“ Tanya Zul


“Kamu ada masalah apa sama Beny?“


tanya Kejora.


“Gak ada.“ Jawab Zul.


“Kamu jelas bohong Zul.“ terang


Kejora.


“Udahku bilang gak ada.“ jawab Zul.


“Yaudah kalo kamu memang gak mau


cerita Zul, mungkin ini terlalu pribadi buat kamu, tapi aku selalu siap kalo


kamu memang udah mau cerita Ke aku, aku selalu tunggu Zul.“ jawab Kejora sambil


pergi meninggalkan Zul.


“Maaf Ra, kamu gak boleh tau masalah


ini, mungkin nanti akan terbongkar Juga tapi bukan sekarang, jujur aku gak tega


Ra, tapi buat sekarang ini adalah pilihan terbaik yang aku pikirkan.” ucap Zul


dalam hati.


Zul langsung pergi ke kamarnya dan


memandang langit berbintang dan matanya hanya fokus pada satu bintang, yaitu


bintang Kejora, bintang yang berbeda dari jutaan bintang yang menghiasi langit


malam, menjadi tanda akan datangnya cahaya atau akan munculnya kegelapan.


"Hal ini gak boleh sampe orang


tahu terutama Kejora dan rahmad, mereka gak boleh tahu, Rahmad orangnya keras


kalo dia sampai denger hal ini, bener-bener tambah buruk situasinya apalagi


kalo itu Kejora, bakal tambah hancur situasinya hal yang paling buruk dari yang


terburuk adalah dua duanya tahu masalah ini, itu adalah kemungkinan yang gak


boleh terjadi." pikir Zul. Langkah selanjutnya harus seperti apa itu yang


masih di pikirkan Zul, apakah langsung menyatakan perasaanya? tapi bagaimana


dia harus mengungkapkannya dia masih belum dapat jawabannya, langkahnya tidak


boleh salah jika, salah dia yang kalah, dia tidak mau kalah lagi dari beny


"Aku udah bosen Ben ngalah dan


kalah terus buat kamu, asal gak ada hubungannya dengan Kejora aku bakal siap


untuk kalah dan mengalah buat kamu Ben, kamu sahabatku aku rela ngelakuin Itu


kalo Kejora, dengan berat hati Ben aku gak bisa mengalah dan kalah, aku harus


menang Ben aku cuma buat pengecualian yaitu Kejora, tapi kamu gak mau mengalah


buat aku, sebenernya kamu nganggep aku sebagai apa ben? apa selama ini memang


kamu gak ada niat untuk bersahabat sama aku? tapi melihat keseriusanmu dan


perbuatanmu saat ini kamu bener-bener anggep aku sebagai musuh, pilihanku udah


bulat dan penuh keyakinan Ben aku gak bakal kalah ataupun mengalah buat Kejora,


aku yakin kalo aku pasti menang dan Kejora akan jadi milikku.

__ADS_1


__ADS_2