
Semenjak Beny memutuskan mengakhiri
persahabatannya dengan Zul kemarin, masih terpikir olehnya apakah pilihannya
salah atau benar. Zul sebenarnya tidak 100% yakin dengan jawaban yang ia buat,
gelas sudah pecah tidak dapat di satukan kembali, sekarang situasi berubah.
Maju, mundur, ataupun diam di tempat hasilnya akan tetap sama. Tidur tak
nyenyak, terus masuk kedalam mimpi, kejadian-kejadian yang tidak diharapkan
antara mereka bertiga. Terus berulang-ulang kenangan Beny dan Zul yang sudah
tak terhitung jumlahnya.
Malam pun berganti pagi, mata Zul
masih terbuka tidak dapat di pejamkan, tidak bergerak dari tempat tidurnya
terus memandang, ke langit-langit kamarnya. Membuka handphonenya melihat
album-album kenangan antara Zul dan Beny, sedih rasanya, ingin menetes air mata
apakah Beny merasakan hal yang sama dengannya? apakah Beny benar benar tega
melakukan ini ? apakah benar tidak ada cara lain? pikir Zul.
Tidak ada kemungkinan baik terjadi
jika mengikuti pilihan dari Beny, jika hati dan cintanya di korbankan, mungkin
ia tak sanggup untuk bersekolah di tempat yang sama dengan mereka, tak sanggup
untuk melihat mereka bergandengan tangan, berjalan bersama, dan jika dia
mengorbankan kenangan dan persahabatannya dia tidak tahu, apakah masih bisa
didapatkan sahabat seperti Beny yang selalu membantunya, mendukungnya, selalu
menyemangatinya. Zul harus memilih keduanya, tidak bisa salah satu dipilih atau
di korbankan.
“Zul kamu udah bangun?” tanya
Kejora. mengetuk pintu Zul.
“Udah kenapa Ra?” jawab Zul.
“Jogging yuk?“ ajak Kejora.
“Eh, udah pagi ya.“ ucap Zul dalam
hati yang tidak sadar.
“Iya bentar Ra, tunggu aku
siap-siap” jawab Zul.
“Kamu gak tidur apa semalem?” tanya
Kejora saat Zul sudah keluar.
“Hmmm... tidur kok kenapa?“ tanya
Zul.
“Matamu ada kantongnya, biasanya
gak.” jawab Kejora
“Hmm... dia kalo merhatiin orang
sampe sedetail itu ya?“ pikir Zul.
“Masa sih, aneh amat ya?“ ucap Zul
pura pura bingung
“Iya beneran deh.“ jawab Kejora.
“Ah, udahlah biarin, yuk jalan aja.”
ajak Zul
Mereka pun berlari santai sambil
ngobrol diselingi candaan ringan persis seperti sepasang kekasih yang
berolahraga bersama, walaupun tidak bergandengan terlihat sangat mesra. Walau
pakaian tak sama, namun terlihat serasi, bahkan ada yang mengira pengantin
baru, karena Kejora dan Zul sangat terlihat dewasa, padahal mereka adalah bunga
mawar yang baru mekar, masih anak remaja SMA.
“Capek?“ tanya Zul pada Kejora.
“Ya namanya juga olahraga ya capek
lah.“ jawab Kejora tersenyum.
“Ya udah istirahat dulu yuk, udah
lumayan lama juga larinya.“ ajak Zul.
“Aku masih kuat kok.“ jawab Kejora.
“Udah gak papa, kamu tunggu situ
bentar, aku beli minum.“ perintah Zul.
Beberapa saat kemudian.
“Nih minumnya.“ ucap Zul.
“Makasih Zul, kayaknya kamu udah gak
lemes lagi?“ tanya Kejora.
“Udah gak dong, udah istrirahat
geh.“ jawab Zul tersenyum.
“Emang kemaren kamu tuh, lemes
kenapa sih ? “ tanya Kejora penasaran.
“Gak kenapa-kenapa capek karena
belajar terus paling.“ jawab Zul.
“Bener bukan karena aku?.“ tanya
Kejora
“Iya gara-gara kamu juga “ jawab
Zul.
“Gara-gara apa?” tanya Kejora yang
semakin penasaran.
“Kamu ngajarin aku belajar banyak
banget, sampe mau muntah, itu buku kalo bisa di makan ku makan udahan.“ jawab
Zul bercanda.
“Aku serius Zul.” ucap Kejora.
“Aku becanda.“ jawab Zul tersenyum.
“Serius dikit kenapa?“ tanya Kejora
Kesal.
“Pagi-pagi jangan tegang-tegang
dong, Nanti stres.“ jawab Zul.
“Aku jadi penasaran kan.“ ucap
Kejora.
“Aku gak penasaran.“ jawab Zul.
“Zul aku ngambek.“ ucap Kejora.
“Eh, kan kamu yang salah kok, kamu
yang ngambek?“ tanya Zul.
“Serius geh makanya.“ jawab Kejora.
“Yaudah, itu serius jawabannya
sumpah.“ ucap Zul
“Beneran, serius, beneran.” tanya
Kejora.
“Beneran, serius, beneran.“ jawab
Zul.
“Yaudah pulang yuk, aku laper.“ ajak
__ADS_1
Kejora sambil berdiri.
“Cewek gak boleh makan terus lo,
nanti gemuk.“ jawab Zul
“Aku gak peduli sama penampilan.“
jawab Kejora tersenyum
“Aku juga gak peduli kok Ra,
penampilanmu gimana.“ jawab Zul dalam hati.
Mereka pun pulang ke rumah Zul untuk
sarapan bersama. karena matahari sudah hampir menampakkan bulatan penuh,
merupakan penanda mereka untuk kembali pulang dan sarapan bersama.
Saat di depan Pintu rumah Zul.
“Zul nanti temenin aku ke toko buku
ya.” ucap Kejora
“Ngapain? belajar lagi apa? baru
juga berapa hari libur?“ tanya Zul.
“Gak, aku mau beli novel.“ jawab
Kejora malu malu
“Hmmm... kukira kamu gak suka buku
kayak gitu, sukanya buku pelajaran aja.“ ucap Zul.
“Emang kenapa?“ tanya Kejora.
“Ya gak papa sih.“ jawab Zul.
“Yaudah temenin ya, harus mau
pokoknya.“ paksa Kejora
“Emang kenapa geh?“ tanya Zul.
“Hmmmm. aku pertama kali beli
novel.“ jawab Kejora.
“Terus.“ tanya Zul
“Bantuin aku pilih yang bagus.“
jawab Kejora
“Hmm... yaudah aku usahain deh?“
jawab Zul.
Mereka pun sarapan bersama seperti
biasa dengan Ibu Zul yang selalu memojokkan Zul dan menngoda Kejora, serta ayah
Zul sebagai penengahnya, jika keadaan sudah mulai tidak kondusif. Setelah makan
Zul dan Kejora langsung bersiap-siap dan pamit kepada orang tua Zul untuk pergi
ke toko buku.
Saat Di toko buku.
“Zul yang mana yang banyak adegan
romancenya?“ tanya Kejora.
“Gak tau, aku belum pernah baca.“
jawab Zul.
“Terus gimana dong?“ tanya Kejora.
“Yaudah liat-liat aja sinopsisnya
dulu.“ jawab Zul.
“Kalo yang ini gimana?“ tanya Kejora
sambil menunjukan novel.
“Coba liat.“ jawab Zul.
“Novel dewasa 21+.“ baca Zul dalam
hati.
“Kenapa gak boleh?“ tanya Kejora.
“Pokoknya gak boleh.“ jawab Zul.
“Iya deh aku cari yang lain.“ jawab
Kejora.
“Uni gimana.“ jawab Kejora
menunjukkan 5 buku sekaligus dan masih dengan tulisan yang sama.
“Gak boleh semuanya.“ jawab Zul.
“Yaudah kamu pilihin!“ perintah
Kejora Kesal.
“Nih aku udah dapet 3 yang bagus.“
jawab zul
“Yaudah aku beli semuanya.“ jawab
Kejora.
“Ngapain kamu beli novel banyak
gitu?“ tanya Zul setelah Kejora selesai membayar dan mengajak pulang.
“Ya buat di bacalah.” jawab Kejora.
“banyak banget, mana minta yang
banyak adegan romancenya lagi?“ tanya Zul heran.
“Buat belajar sama riset.“ jawab
Kejora polos
“Belajar apaan? riset gimana
maksudnya?“ tanya Zul bingung.
“Laki gak perlu tau.“ jawab Kejora
“Kok gitu?“ jawab Zul.
“Ini rahasia wanita.“ jawab Kejora.
“Aku pulang kerumah dulu, malem aku
nginep dirumahmu lagi?“ ucap Kejora.
“Bajumu gak diambil? mau ngapain sih
emang?“ tanya Kejora.
“Mau baca novel dulu.“ jawab Kejora.
“Hmmmm. yaudah, yuk kuanter.“ jawab
Zul.
“Makasih ya, udah mau nganterin aku
terus.“ ucap Kejora.
“Gak papa aku juga gak ada kerjaan
juga di rumah, aku seneng kok bisa nganterin kamu.“ jawab Zul.
“Makasih Zul.“ jawab Kejora dengan
wajah tertunduk malu.
“Iya Ra, kamu juga baik sama aku
setidaknya aku bales dikit-dikit kebaikanmu, kamu mau deket sama orang bodoh
kayak aku itu sebenarnya udah ajaib.“ jawab Zul.
“Aku gak masalah sih orang itu bodoh
atau gimanapun itu, namanya temenan itukan kecocokan, dan saling pengertian
jadi mau gimanapun orang itu, asal cocok mah aku gak masalah.“ jawab Kejora.
“Cuma temenkah huffft...“ ucap Zul
dalam hati. Saat di depan gerbang Rumah Kejora.
“Beny.“ ucap Zul kaget.
__ADS_1
“Eh, beny ada apa Ben kesini? kok
kamu tau rumahku?“ tanya Kejora.
“Hmmm... pengen main aja boleh Ra?“
tanya Beny.
“Boleh aja sih, tapi aku gak bisa
lama-lama.“ jawab Kejora
“Hmmm... kalo sibuk gak papa kok Ra,
lain kali aja.“ jawab Beny.
“Maaf ya ben, kalo gak nanti malem
aja, kita main di rumah Zul, boleh gak Zul?” tanya Kejora yang heran melihat
ekspresi Zul yang aneh hawa Zul pun berubah.
“Gak masalah rumahku selalu
terbuka.“ jawab Zul dengan serius.
“yaudah sampe ketemu ntar malem Ra.”
jawab Beny sambil pergi dan berbisik di samping Zul.
“Kamu bener-bener serius ternyata
Zul, tapi aku lebih serius dari kamu.“ Bisik Beny.
“Aku gak akan nyerah buat Kejora,
mengepalkan tangan kearahmu itu bukan masalah .“ jawab Zul dengan emosi dan
tangan mengepal.
Zul pun pulang ke rumah dan langsung
masuk kekamarnya, dengan emosi yang meluap yang sedang dia redam agar tidak
meledak nantinya. kamu yang mulai Ben kamu yang duluan nyopot pedang dari
sarungnya, aku juga gak ada pilihan lain selain menyanggupi tantanganmu, ucap
Zul dengan emosi. Kamu yang bikin semua begini, aku udah coba untuk bersabar
sama kamu, aku bukan dewa yang bisa terus bersabar, aku manusia sabarku punya
batasan kamu yang mancing aku untuk nunjukin wajah asliku.
Dia masih terus emosi, terus marah
dalam hatinya, secara terang-terangan Beny ingin bersaing dengannya. Dia tau
Beny orangnya seperti apa, dia ngotot, tidak peduli dengan cara apa yang dia
pakai, selama itu mendapatkan hasil seperti yang dia inginkan, itu bukan
masalah mau cara itu baik ataupun buruk, licik atau adil, dia tidak peduli
selama, dia dapat apa yang dia mau. Jika beradu fisik memang kemungkinan Zul
menang sangat mudah, bahkan tanpa perlawanan tapi ini bukan tantangan fisik,
ini strategi ini mengandalkan otak, peluang untuk menang di bawah 1%
perbandingannya sangat jauh.
Mungkin aku selama ini banyak
menyerahnya, tapi untuk kamu Ra, demi kamu Ra, aku gak akan kenal kata
Menyerah, kata Menyerah kuhapus dari otakku hanya akan ada kata berjuang, terus
berjuang dan maju, terus maju, mungkin sekarang aku belum bisa ngomong dengan
jujur sama kamu Ra, aku belum bisa ungkapin perasaanku, aku mau kamu selesaiin
dulu masa SMA, ini setelah itu aku bakal ngomong tapi kondisinya berubah,
situasinya juga berubah, meskipun ada kemungkinan kamu punya perasaan yang
berbeda sama aku, tapi aku gak akan nyerah sebelum mencoba.
Saat malam hari Beny terus mendekati
Kejora tanpa memperdulikan Zul, Zul hanya diam saja melihat itu tapi di dalam
hatinya dia sangat marah ingin dia memukul wajah beny sekarang juga, namun itu
adalah tindakan paling bodoh, saat ini Kejora belum tahu bahwa Zul dan Beny
sedang tidak harmonis, Beny dengan mudah menyembunyikannya, namun tidak dengan
Zul kemampuan sandiwaranya sangat buruk, seharusnya Kejora dapat dengan jelas
memahami Raut wajah Zul, tapi Kejora bersikap seolah baik-baik saja karena
sedang ada beny tidak mungkin Kejora menunjukkan kepeduliannya terhadap Zul
seperti biasanya, sedang ada Beny sekarang dia tidak ingin ada rumor miring
tentang Zul dan Kejora,
Ekspresi emosi Zul sedikit berkurang
saat Beny pamit untuk pulang,namun tetap jelas terlihat bawa ia sedang marah
dan kemarahan itu tertuju jelas pada Beny tidak dapat ia sembunyikan.
“Zul“ Panggil Kejora.
“Apa?“ Tanya Zul
“Kamu ada masalah apa sama Beny?“
tanya Kejora.
“Gak ada.“ Jawab Zul.
“Kamu jelas bohong Zul.“ terang
Kejora.
“Udahku bilang gak ada.“ jawab Zul.
“Yaudah kalo kamu memang gak mau
cerita Zul, mungkin ini terlalu pribadi buat kamu, tapi aku selalu siap kalo
kamu memang udah mau cerita Ke aku, aku selalu tunggu Zul.“ jawab Kejora sambil
pergi meninggalkan Zul.
“Maaf Ra, kamu gak boleh tau masalah
ini, mungkin nanti akan terbongkar Juga tapi bukan sekarang, jujur aku gak tega
Ra, tapi buat sekarang ini adalah pilihan terbaik yang aku pikirkan.” ucap Zul
dalam hati.
Zul langsung pergi ke kamarnya dan
memandang langit berbintang dan matanya hanya fokus pada satu bintang, yaitu
bintang Kejora, bintang yang berbeda dari jutaan bintang yang menghiasi langit
malam, menjadi tanda akan datangnya cahaya atau akan munculnya kegelapan.
"Hal ini gak boleh sampe orang
tahu terutama Kejora dan rahmad, mereka gak boleh tahu, Rahmad orangnya keras
kalo dia sampai denger hal ini, bener-bener tambah buruk situasinya apalagi
kalo itu Kejora, bakal tambah hancur situasinya hal yang paling buruk dari yang
terburuk adalah dua duanya tahu masalah ini, itu adalah kemungkinan yang gak
boleh terjadi." pikir Zul. Langkah selanjutnya harus seperti apa itu yang
masih di pikirkan Zul, apakah langsung menyatakan perasaanya? tapi bagaimana
dia harus mengungkapkannya dia masih belum dapat jawabannya, langkahnya tidak
boleh salah jika, salah dia yang kalah, dia tidak mau kalah lagi dari beny
"Aku udah bosen Ben ngalah dan
kalah terus buat kamu, asal gak ada hubungannya dengan Kejora aku bakal siap
untuk kalah dan mengalah buat kamu Ben, kamu sahabatku aku rela ngelakuin Itu
kalo Kejora, dengan berat hati Ben aku gak bisa mengalah dan kalah, aku harus
menang Ben aku cuma buat pengecualian yaitu Kejora, tapi kamu gak mau mengalah
buat aku, sebenernya kamu nganggep aku sebagai apa ben? apa selama ini memang
kamu gak ada niat untuk bersahabat sama aku? tapi melihat keseriusanmu dan
perbuatanmu saat ini kamu bener-bener anggep aku sebagai musuh, pilihanku udah
bulat dan penuh keyakinan Ben aku gak bakal kalah ataupun mengalah buat Kejora,
aku yakin kalo aku pasti menang dan Kejora akan jadi milikku.
__ADS_1