
“Bu berisik, udah dulu kenapa nangisnya?“ perintah Zul.
“Kenapa sih Zul, Ibu ini seneng lo lagian, kok kamu kayak gitu? hiks…hiks...“ jawab Ibu Zul.
“Aturan kan aku sama Kejora yang nangis bahagia, karena dapet restu.“ ucap Zul kesal.
“Yaudah kalo kamu mau nangis, nangis aja!“ jawab Ibu Zul.
“Udah Bu dipause, dulu nangisnya, kalo udah makan nanti lanjut lagi gak papa.“ perintah ayah Zul.
“Gak bisa yah, Ibu udah gak tahan.“ jawab Ibu Zul.
“Bu Rara mau makan, ibu berenti nangis, kalo udah selesai makan nanti dilanjut lagi.“ perintah ayah Zul.
“Iya yah, oke deh, Ibu nurut.“ jawab Ibu Zul berhenti menangis.
Dan Kejora pun kembali ke tempat duduknya.
“Makasih ya Zul, aku seneng banget.“ ucap Kejora
“Oh iya Ra, kamu kan mau kuliah, gimana kuliahmu nanti?“ tanya Ayah Zul.
“Ya tetep kuliah sih Yah, kan gak ada aturan kuliah itu gak boleh kalo statusnya menikah.“ jawab kejora
“Iya bener sih, jadi kamu mau di sini atau tetep ke Australia.“ tanya ayah Zul.
“Ke Australia Yah.“ jawab Kejora menunduk.
“Hmm... Zul kamu mau ikut kejora dong nanti?“ tanya Ayah Zul
“Gak, aku disini, biar Kejora fokus dulu kuliahnya.“ jawab Zul.
“Hmm... kalian mau nunda momongan?“ tanya ayah Zul.
“Iya, Yah maaf.“ jawab Kejora.
“Ya gak papa sih Ra, kamu juga masih muda kan, masih 16 tahun, kalo kamu nikah langsung hamil juga umur kamu baru 17 tahun, masih terlalu muda juga untuk punya momongan, justru ayah lega.“ ucap ayah Zul.
“Kok lega sih Yah, ayah gak mau cepet-cepet gendong cucu.“ protes Ibu Zul.
“Bu kejora masih terlalu muda, kalo bener-bener langsung, itu bahaya buat dia,'itu yang ayah takut resiko kegagalan itu besar, efeknya ibu tau kan?“ jawab ayah Zul.
“Iya juga ya, gak papa deh, pelan-pelan aja yang penting pasti.“ ucap ibu Zul tersenyum kearah Kejora.
“Maksud ayah gagal gimana?“ tanya Kejora.
“Ra badan kamu belum terlalu kuat buat mengandung anak di umur sekarang, jujur ayah pengen banget punya cucu, tapi Ayah gak bisa egois karena efeknya itu kamu yang rasain, bukan Ayah, resiko kegugurannya besar kalo di usia kamu yang sekarang, bisa aja kamu meninggal itu yang terburuk, dan kalo misal kamu selamat mungkin psikologis kamu yang akan bermasalah, makanya Ayah pastiin dulu.“ jawab ayah Zul panjang
“Oh gitu ya Yah, maaf Rara kira Ayah kecewa.“ jawab Kejora.
“Ya kan yang jalanin kalian, yang komitmen kalian, Syah gak bisa terlalu ikut campur, sama sekali Ayah gak kecewa sama kalian.“ jawab ayah Zul
“Makasih ya Yah.“ jawab Kejora tersenyum.
“Iya Ra, Ayah juga, makasih udah mau sama anak ayah.“ jawab Ayah Zul.
“Iya Ra, meski Zul banyak kurangnya, kamu mau sama Zul, Ibu udah bersyukur.“ jawab Ibu Zul.
“Sempet banget menghina aku Bu.“ ucap Zul kesal.
“Ah gak kok Bu, kita juga sama-sama banyak kurangnya, tapi kita berusaha untuk saling menutupi kekurangan masing-masing“ jawab Kejora.
“Iya Bu, kalo ibarat manusia, Kejora itu otaknya, aku badannya.“ jawab Zul tersenyum kearah Kejora.
“Rara nginep ya, malem ini tidur sama Ibu ya.“ pinta Ibu Zul.
“Rara butuh istirahat besok sekolah, dia juga harus belajar.“ jawab Zul.
“Ibu gak tanya kamu, mau kan ya sayang?“ tanya Ibu Zul.
“Iya Bu, aku mau kok.“ jawab Kejora
“Tapi Ra.“ protes Zul.
“Bolos sehari kan gak masalah Zul, lagian gak ada ulangan atau tes semacemnya kan besok, boleh ya?“ pinta kejora memohon
“Iya deh iya, besok kita bolos.“ jawab Zul.
“Kok kita, aku aja yang bolos.“ jawab Kejora.
“Aku besok mau ngomong sama Papa.“ bisik Zul.
“Yaudah deh kalo gitu.“ jawab Kejora
Setelah itu mereka melanjutkan makan malam mereka, Kejora dan Zul jelas terlihat bahagia, diiringi dengan tangis terharu, bercampur bahagia Ibu Zul yang belum juga berhenti. Saat sudah selesai makan Kejora langsung dibawa ibu Zul kekamar untuk berbincang berdua. Menyisakan Zul dan ayahnya yang masih duduk diruang tamu.
“Zul“ panggil ayah Zul.
“Kenapa yah?“ tanya Zul bingung.
“Ibu sama rara liatin, udah bener-bener masuk kamar belum!“ perintah ayah Zul.
__ADS_1
“Udah kok Yah, kenapa sih l?“ tanya Zul.
“Ayah seneng Zul, kamu jadi pria sejati, walaupun kamu agak bodoh, tapi setidaknya kamu punya keberanian.“ ucap ayah Zul memeluk Zul sambil menangis.
“Jadi tadi ayah pura-pura tenang aja.“ tanya Zul kesal.
“Ya iyalah Zu,l bisa hancur image Ayah kalo nangis didepan mereka.“ jawab Ayah Zul.
“Makasih ya Yah, udah mau restuin aku sama Kejora.“ ucap Zul yang juga menangis memeluk ayahnya.
“Kamu juga ngapa nangisnya sekarang?“ tanya Ayah Zul.
“Ya malu dong Yah, kan ada Rara.“ jawab Zul.
“Kamu emang anak Ayah Zul, kok kamu sifatnya sama kayak Ayah.“ ucap ayah Zul.
“Ya iya dong Yah, masak iya aku ketuker waktu lahir hiks…hiks…“ jawab Zul menangis tersedu-sedu.
“Zul ayah malem ini tidur sama kamu ya?“ pinta ayah Zul.
“Kenapa emang yah?“ tanya Zul.
“Ayah pengen peluk kamu, kayak dulu waktu kamu masih kecil l.” jawab ayah Zul.
“Jadi ayah mau mengenang masa lalu gitu ya hiks…hikss.. l.“ tanya Zul
“Iya Zul boleh kan?“ tanya ayah Zul.
“Gak akan, malu tau gak, udah gede.“ jawab Zul.
“Kamu emang gak ada imut-imutnya lagi kayak dulu, Ayah berubah pikiran, ayah mau cepet punya cucu.“ jawab ayah Zul.
“Terserah Ayah aja deh.“ ucap Zul.
"Jadi ayah boleh tidur sama kamu?“ tanya ayah Zul
“Terserah ayah aja.“ jawab Zul. Sambil pergi kekamarnya.
Akhirnya salah satu tujuan Zul terbuka jalannya, yaitu menikahi Kejora meskipun ini baru lah awal, setidaknya ini permulaan yang baik, dan cukup menguntungkan untuk Zul dan Kejora. Mungkin Papa dan Mama Kejora juga sudah merestui Zul dan Kejora untuk menikah tapi Zul tidak yakin, jika itu terjadi secepat ini.
Kejora keluarga yang kaya tidak mungkin acaranya tidak megah, memang Zul memiliki sedikit tabungan setidaknya cukup untuk membeli cincin pernikahan dan juga gaun pernikahan, tapi untuk yang lain, seperti acara dan lain-lainnya Zul belum yakin hingga acaranya nanti tiba dia akan mendapat uang atau tidak untuk membayarnya.
Kejora terus tersenyum lebar, hatinya benar-benar sedang berbahagia sekarang, akhirnya dia mendapatkan restu dan persetujuan dari keluarga Zul. Meski Kejora yakin mereka sebenarnya memendam kekecewaan pada Kejora. Karena dia harus langsung berpisah dengan Zul, di tambah lagi untuk menunda momongan, jelas sebenarnya mereka benar-benar kecewa, karena Kejora menghancurkan ekspetasi dari orang tua Zul.
Kejora sangat yakin jika Zul akan mendapatkan restu dari Papa, Mamanya. Karena Papa kejora sampai menginginkan Zul menjadi penerusnya itu sudah merupakan kode keras dari Papa Kejora, untuk Kejora dan Zul, agar benar-benar menjadi suami istri secara resmi.
Kejora tidur dengan tenang dan bermimpi hari yang ia tunggu-tunggu akhirnya terlaksana. Tidur berpelukan disatu ranjang dengan Zul berbulan madu berdua dengan Zul, itulah yang ada dimimpi Kejora, serasa nyata bagi Kejora mimpi yang hadir ditidurnya saat ini.
Keesokan harinya Zul bangun lebih awal, tapi dia tidur diurutan paling akhir, mungkin dia tidur hanya sekitar 2 atau 3 jam karena dia benar-benar takut dengan hasil buruk yang ia bayangkan dari Papa kejora. Dan akhirnya dia putuskan untuk menonton TV, hingga subuh dan bersiap-siap untuk jogging. Karena hari ini dia meliburkan diri.
“Zul kamu belum tidur?“ tanya Kejora kaget karena Zul sedang menonton TV.
“Ra kamu bangun, ngapain kesini?“ tanya Zul yang tak kalah kaget.
“Aku tadi kebelet, terus denger suara TV aku kira lupa dimatiin, ternyata kamu yang lagi nonton TV.“ jawab Kejora.
“Hmmm... aku gak bisa tidur.“ jawab Zul.
“Kenapa?“ tanya Kejora
“Aku takut kamu kecewa sama hasil besok.“ jawab Zul.
“Aku yakin kok, kamu bisa dapet.“ jawab Kejora.
“Kenapa kamu bisa yakin?“ tanya Zul bingung.
“Cuma kata hati aja.“ jawab kejora tersenyum
“Belum tentu bener kata hati kamu.“ jawab Zul
“Aku temenin boleh?“ tanya Kejora.
“Tidur aja emang kamu gak ngantuk?“ jawab Zul
“Gak, aku pengen temenin kamu, apa gak boleh?“ tanya Kejora
“Boleh sih cuma aku takut hilang kendali.“ jawab Zul.
“Kan kalo kamu hilang kendali, pasti dapet restu dari Papa sama Mama.“ ucap Kejora menggoda Zul.
“Iya juga ya, ide kamu bagus.“ jawab Zul sambil mendekati kejora dan berusaha melepas jaketnya.
“Zul kamu mau ngapain? aku tadi uma becanda.“ jawab Kejora ketakutan
“Pake jaketku! nanti kamu masuk angin, aku ambilin selimut di kamar.“ ucap Zul sambil membuka jaketnya yang ternyata Zul tak memakai baju hanya jaketnya lah kain yang menutupi badannya, dan sekarang Zul bertelanjang dada memberikan jaketnya pada Kejora.
“Huffft...“ kejora menghembuskan nafasnya dengan keras.
“Kamu kenapa? jangan-jangan.“ ucap Zul menggoda kejora.
“Jangan-jangan apa?“ tanya Kejora dengan wajah merona.
__ADS_1
“Nakal ya kamu.“ ucap Zul menyeringai.
“Apaan sih Zu?kok nakal.“ jawab Kejora pura-pura tak mengerti.
“Kamu berharap aku lepas kendali kan.“ bisik Zul.
“Tau darimana kamu.“ tanya Kejora gelagapan.
“Aduh... dingin aku ke kamar dulu ambil jaket, sama selimut, tunggu disitu sebentar!“ perintah Zul.
Zul pun pergi ke kamarnya mengambil jaket dan selimut untuk Kejora. Dan beberapa menit kemudian Zul datang membawa selimut untuk Kejora, dan juga Zul membawa segelas teh hangat untuk Kejora.
“Minum tehnya biar gak masuk angin!“ perintah Zul.
“Iya.“ jawab Kejora
“Zul, kamu gak pake selimut?“ tanya Kejora.
“Selimutnya cuma satu tinggalan, udah kamu pake aja.“ jawab Zul.
“Yaudah aku juga gak mau pake.“ jawab Kejora.
“Hmm... apa kamu maunya aku, yang jadi selimut buat kamu?“ tanya Zul menggoda Kejora.
“Yaudah kalo gitu gak jadi.“ jawab Kejora, dengan cepat memakai selimutnya.
Setelah itu mereka menonton TV hingga jam 5 pagi, setelah itu Zul bersiap-siap untuk jogging, karena dia harus kembali sebelum jam 6 lewat 15 menit. Kejora juga ikut Zul untuk jogging meski dia sebenarnya agak terpaksa namun keinginan Kejora untuk ikut Zul, lebih besar daripada rasa takutnya terlihat orang-orang disekolahnya.
Mereka pun berlari dan untung saja tidak ada orang yang melihat mereka, karena memang jalanan masih sepi pejalan kaki. Setelah itu mereka bergantian mandi. Zul masuk kekamarnya, Kejora membantu ibu Zul untuk memasak menyiapkan Sarapan.
Saat sarapan Zul hanya diam tak banyak berbicara berbeda dengan kejora yang terlihat sangat aktif. Karena memang suasana hatinya yang sedang senang, Kejora menjadi lebih banyak berbicara, dan menunjukkan ekspresinya. Setelah ayah Zul berangkat, Zul yang tak tahan masuk ke kamarnya mengambil handphonenya dan langsung menelpon Papa Kejora.
Suara telfon.
“Halo Zul, kenapa? kamu tumben nelpon pagi pagi?“ jawab Papa Kejora.
“Kok Papa tau disini pagi, emang Papa lagi dimana?“ tanya Zul.
“Ya jelas tau, papa hampir hafal semua, selisih jam untuk Indonesia, sekarang disini jam 3 kurang berarti disana kira-kira ya pagi jam 8 atau setengah 8, Papa lagi di Italy soalnya kamu ada perlu apa?“ tanya Papa Kejora.
“Maaf Pa? aku telpon di jam segini, sebenernya ini penting maaf kalo mungkin gak sopan Pa.“ jawab Zul
“Udah gak papa, kan Papa juga masih bangun, dan kata kamu penting, emang ada apa.“ tanya Papa Kejora.
“Aku mau nikahin Rara Pa, mungkin abis lulus SMA, apa boleh Pa?“ tanya Zul dengan cepat, dan matanya terpejam.
“Boleh aja sih, eh kamu ngomong apa tadi?“ tanya Papa Kejora kaget.
“Aku mau nikahin Kejora Pa abis lulus SMA, boleh gak?“ jawab Zul tegang.
“Boleh Zul, kalo gitu boleh banget, Papa sama Mama hari minggu ini bakal pulang kerumah, kalian tunggu ya, Papa selesaiin kerjaan Papa secepatnya.“ jawab Papa Kejora.
“Gak usah buru-buru Pa kan masih lama juga.“jawab Zul.
“Gak bisa, Mama sama Papa harus pulang minggu ini, ya udah Papa selesaiin kerjaan dulu ya.“ ucap Papa Kejora.
“Tunggu dulu Pa.“ ucap Zul
“Apalagi?“ tanya Papa Kejora.
“Aku mau Rara denger kalo Papa ngerestuin kita buat nikah abis lulus SMA, tunggu bentar Pa.“ jawab Zul sambil berlari mencari Kejora dan Ibunya.
“Ra, Bu kalian dimana.“ teriak Zul.
“Kenapa Zul? aku di kamar.“ jawab Kejora.
“Nih!“ ucap Zul sambil memberikan handphonenya.
“Papa.“ ucap kejora kaget.
“Halo Pa.“ ucap Kejora.
“Halo sayang, apa bener yang Zul omongin ke Papa, kalo kalian mau nikah abis lulus SMA.“ tanya Papa Kejora.
“Iya Pa, boleh gak?“ tanya Kejora.
“Gimana ya?“ jawab Papa Kejora.
“Gimana apanya Pa?“ tanya Kejora kaget dan panik
“Papa juga bingung, mau ngomongnya gimana, kekam. “ jawab papanya.
“Apa gak boleh?“ tanya Kejora lemas, ketakutan.
“Boleh sayang, Papa seneng banget, minggu ini Papa pulang, tunggu Papa sama Mama ya.“ ucap papanya.
“Iya Pa, aku tunggu, makasih ya Pa.“ jawab kejora.
“Iya sayang, yaudah Papa selesaiin kerjaan Papa dulu ya, sampe ketemu minggu ini, my little princess.“ ucap sapa Kejora sambil menutup telfon.
“Zul makasih ya aku senen. “ ucap kejora sambil memberikan hanphone Zul.
__ADS_1
“Aku juga seneng Ra.“ jawab Zul.
Kejora langsung memeluk Zul menangis bahagia, air matanya benar-benar tak terbendung, untuk mengalir, membasahi wajahnya. Zul mendekap erat Kejora yang sedang menangis bahagia dipelukannya berusaha menenangkan Kejora dari tangisnya yang tersedu-sedu.