
Semenjak kejadian saat di rumah Kejora Beny tak pernah masuk sekolah 5 hari sudah kejadian itu berlalu namun Beny tak kunjung hadir disekolah. Zul sangat cemas sebetulnya dengan Beny namun Rahmad dan Ferdy selalu menahan Zul untuk menemui Beny.
Zul sangat mengerti dan paham betul perasaan dari Beny saat ini Kejora pun kembali dingin dan tak berekspresi sejak kejadian itu Kejora kembali lagi ke dirinya yang dulu. Segala usaha telah di coba Zul selama lima hari ini agar Kejora kembali ceria lagi tapi Kejora tak menunjukkan tanda tanda untuk mengeluarkan senyum indahnya. Jelas Kejora merasa bersalah atas kejadian antara Beny dan Zul Kejora merasa bahwa dial ah akar dan sumber dari semua permasalahan ini. persahabatan Beny dan Zul hancur seketika saat Kejora hadir dalam kehidupan mereka yang penuh kenyamanan.
Saat pulang sekolah……
“Ra.“ panggil Zul.
“Hmmm…” jawab Kejora dingin tanpa menegok kearah Zul.
“Besok main yuk.” ajak Zul.
“Gak ah…“ jawab Kejora singkat, lemas tak bersemangat.
“Kenapa, kan besok libur?“ tanya Zul kesal karena jawaban dari Kejora,
“Aku capek, lagi gak mau main.“ jawab Kejora cepat dan dingin pada Zul.
“Ra...“ bentak Zul dengan amarah memuncak.
“Kenapa Zul, kok kamu emosi gitu.“ tanya Kejora ketakutan saat melihat Zul.
“Gak apa-apa maaf udah bentak kamu.“ Zul berjalan cepat meninggalkan Kejora begitu saja.
“Maaf Zul.“ ucap Kejora pelan, dan jelas, tidak terdengar oleh Zul, karena Zul sudah jauh pergi meninggalkan Kejora.
Zul pergi dengan emosi yang sangat tinggi, darahnya seperti mendidih karena sikap Kejora padanya. Dia emosi karena ketidakmampuannya membuat Kejora ceria lagi, dia marah karena ketidaksanggupannya membuat Kejora tersenyum lagi, dia marah karena dirinya tidak dapat berbuat apa-apa. Zul membuka handphonenya dan menelfon Rahmad.
Suara telfon…
“Halo Zul, kenapa?“ tanya Rahmad
“Hari ini aku mau ke rumah Beny, kalian mau ikut atau gak ?” tanya Zul emosi dengan emosi meledak-ledak.
“Zul jangan emosi, dia butuh waktu.“ jawab Rahmad.
“Aku udah gak tahan Mad, kalian mau ikut atau gak?” tanya Zul.
“Oke oke, tunggu di rumah, kita berangkat dari rumah Rara aja, oke.“ jawab Rahmad.
“Yaudah, aku tunggu setengah jam lagi.“ jawab Zul.
“Iya Zul.“ jawab Beny sambil menutup telfon dan mengakhiri pembicaraan mereka.
Setelah sampai di rumah Kejora, Zul langsung ke kamarnya dan mengganti bajunya bersiap-siap, dia tidak makan terlebih dahulu, rasa haus dan laparnya hilang tertelan emosinya, yang sedang berada di puncak.setelah selesai mengganti bajunya, dia langsung pergi dengan langkah cepat.
“Zul kamu mau kemana?“ tanya Kejora.
“Mau ke rumah Beny, udah kamu di rumah aja.“ perintah Zul dengan emosi.
“Kenapa aku gak boleh ikut?“ tanya Kejora.
“Di rumah aja.“ jawab Zul menatap tajam Kejora.
“Zul kamu kenapa?” tanya Kejora ketakutan melihat tatapan Zul.
“Gak apa-apa, udah masuk aja!“ perintah Zul.
“Kamu marah sama aku?“ tanya Kejora.
“Gak usah banyak nanya Ra, masuk aja ke rumah.“ bentak Zul dengan kesal.
Kejora pun langsung menuruti perintah Zul, Zul benar-benar sangat emosi untuk saat ini, dan salah satu pemicu dari amarah Zul adalah Kejora, baru kali itu Kejora melihat tatapan mengerikan dari Zul, berbeda dengan Zul yang biasanya.
Dan beberapa menit kemudian….
“Kamu mau kemana?“ tanya Zul pada Kejora yang sudah berganti baju.
“Ikut kamu.“ jawab Kejora menunduk tak berani memandang Zul.
“Gak usah.“ jawab Zul dengan cepat.
“Zul aku mohon.“ pinta Kejora memberanikan diri menatap Zul yang sedang emosi.
“Kalo di bilang gak usah, ya gak usah.“ bentak Zul.
“Ini juga masalah aku.“ jawab Kejora dengan mata berkaca-kaca.
Zul langsung terdiam melihat wajah Kejora dengan mata yang berkaca-kaca.
“Maaf Ra, aku udah bentak kamu, aku minta maaf. kamu jangan nangis ya, yaudah kalo kamu mau ikut, gak apa-apa.“ ucap Zul.
“Bener?“ tanya Kejora dengan wajah ketakutan.
“Iya bener, maaf ya Ra, kamu takut ? “ tanya Zul memandang lembut Kejora.
Dan Kejora hanya mengangguk dengan wajah menunduk ke bawah.
“Maaf ya, My Sweet Lady, udah buat kamu ketakutan, aku usahain gak buat kamu ketakutan lagi.“ ucap Zul.
“Bener?“ tanya Kejora pelan.
“Iya beneran, tapi angkat kepala kamu, terus senyum, gak sopan minta maaf kalo gak liat wajah orangnya.“ jawab Zul sambil memegang dagu Kejora dan membuat wajah Kejora menatap kearah Zul yang sedang tersenyum pada Kejora,
“Masih takut?“ tanya Zul tersenyum pada Kejora.
Kejora hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Zul.
“Aku gak denger apa-apa, kamu masih takut? “ tanya Zul.
“Gak.“ jawab Kejora pelan.
“Apa tadi ada yang ngomong, suaranya kcil banget?“ tanya Zul.
__ADS_1
“Gak, udah gak takut.“ jawab Kejora setengah berteriak.
“Oh… tadi kamu yag ngomong, aku kira jangkrik, suaranya kecil banget sih.“ ucap Zul tersenyum menggoda Kejora.
“Tega.“ jawab Kejora tersenyum, “Kamu gak marah kan sama aku.“ tanya Kejora.
“Hmm… iya, aku marah banget sama kamu.“ jawab Zul.
“ Aku minta maaf, kamu mau maafin aku?“ tanya Kejora pelan.
“Panggil aku sayang.“ jawab Zul tersenyum menggoda Kejora.
“Ih… kamu cuma cari-cari kesempatan.“ jawab Kejora kesal.
“Mau di maafin gak?“ tanya Zul . “Mau.“ jawab Kejora pelan.
“Bilang aku minta maaf sayang, kamu mau kan sayang, maafin aku.” perintah Zul tersenyum licik.
“Zul… “ ucap Kejora dengan penuh kekesalan.
“Mau di maafin apa gak?“ tanya Zul mengancam Kejora.
“Aku minta maaf sayang, kamu mau kan sayang, maafin aku.“ jawab Kejora pelan, dan menunduk malu.
“Gak sopan minta maaf gak liat wajah orangnya, terus gak senyum lagi.“ jawab Zul dengan senyum lebarnya.
“ Aku minta maaf sayang. Kamu mau kan, sayang maafin aku.“ ucap Kejora dengan senyum terpaksa.
“Hmm… kayaknya masih ada yang kurang geh. Hmm… bilang aku cinta Zul.” Perintah Zul masih belum puas bermain-main dengan Kejora.
“ih… apaan lagi sih? Kan bilangnya cuma itu aja“ tanya Kejora memprotes Zul.
“Mau dimaafin apa gak?“ tanya Zul tersenyum licik.
“Iya aku ngerti, aku cinta Zul.“ jawab Kejora pelan.
“Gak kedengeran.“ jawab Zul menjahili Kejora.
“Aku cinta Zul.“ jawab Kejora sedikit kesal.
“Kok gak ada senyum-senyumnya?“ protes Zul.
“Aku cinta Zul.“ jawab Kejora dengan keras dan senyum yang dipaksakan.
“Aku juga cinta kamu.“ jawab Zul.
“Zul kamu mau ke rumah Beny, apa mau bikin kita keroyok kamu?“ tanya Rahmad kesal.
“Dari kapan kalian disitu?“ tanya Kejora kaget.
“Dari kamu bilang, sayang aku minta maaf. Kamu mau kan, maafin aku.“ jawab Rahmad dengan kesal.
Wajah Kejora langsung merah dan menatap tajam Zul dengan kesal.
“Aku belum tanya?“ jawab Kejora menatap tajam Zul dengan kesal.
“Sumpah Ra, aku gak tau.“ jawab Zul membela diri.
“Jahat.“ jawab Kejora sambil membalikkan badannya.
“Beneran aku gak tau, jangan marah dong.“ pinta Zul.
“Bener-bener minta di keroyok ya, kamu Zul.“ ucap Rahmad kesal.
“Oke, ayo kita ke rumah Beny.“ jawab Zul sambil berdiri dan menghampiri Kejora.
“Ra, kamu jangan marah ya, aku beneran gak tau lo.“ ucap Zul.
“Aku marah beneran, kalo kamu gak diem sekarang.“ perintah Kejora.
“Yes ma’am “ jawab Zul dengan tegas.
“Zul…“ ucap Rahmad yang ingin mendaratkan tinjuannya ke wajah Zul.
“Udah Mad, kenapa kamu marah sih?“ ucap Ferdy menahan Rahmad.
“Dia itu gak kasihan apa sama kita yang gak punya pacar, malah mesra-mesraan di depan kita.“ jawab Rahmad.
“Udah, udah, pikirin Beny dulu, baru kita keroyok Zul.“ perintah Ferdy.
Mereka pun berjalan ke rumah Beny yang cukup jauh dari rumah Kejora, memakan waktu sekitar 20 menit, saat sampai di rumah Beny yang tak berpagar namun cukup luas halamannya, mereka mengetuk pintu.
“Permisi.“ ucap Rahmad sambil mengetuk pintu.
Dan ada langkah kaki mendekat dengan lambat, orang itu membuka pintu secara perlahan, namun saat sadar apa yang dia lihat, dia langsung berusaha menutup pintu itu. Tetapi refleks tangan dari Rahmad dan tenaganya jauh lebih besar darinya, sehingga pintu pun tertahan.
“Kenapa kalian kesini? pergi kalian!“ ucap Beny sambil berusaha menutup pintu.
“Buka pintunya Ben, kami mau ngomong baik-baik.“ ucap Zul sambil membantu Rahmad membuka pintu.
“Gak ada yang perlu diomongin.“ jawab Beny dan pintu terbuka dengan lebar karena Beny kalah, dengan tenaga dua orang yang lebih besar darinya.
“Ben kita mau ngomong baik-baik, tolong dengerin kami, terserah kamu mau anggap kita ini apa, tapi tolong dengerin kami yang masih pengen kamu balik jadi sahabat kami lagi.“ ucap Ferdy.
“Duduk!“ perintah Beny sambil pergi ke belakang, dan tak lama kemudian dia membawa lima gelas sirup jeruk dingin, dan diletakkannya dimeja tamu.
“Kalian mau apa?“ tanya Beny sambil duduk.
“Kami pengen kamu balik kayak yang dulu Ben?“ jawab Zul dengan cepat.
“Gak bisa Zul, kalo gak ada yang mau di omongin lagi, kalian bisa pergi!“ perintah Beny.
“Kita tamu Ben, kok kamu ngusir tamu, gak sopan tau.“ jawab Rahmad tersenyum.
__ADS_1
“Buat apa aku sopan, sama musuh yang bertamu ke rumahku.“ jawab Beny menatap tajam Rahmad..
“Oh… jadi kamu masih anggep kami musuh, kalo aku sih gak masalah Ben.“ jawab Rahmad masih tersenyum.
“Kalo udah tau, kenapa gak pergi sekarang.“ jawab Beny dengan senyum terpaksa.
“Setidaknya, kamu masuk sekolah Ben.“ bentak Rahmad yang berusaha menghajar Beny, namun Zul dengan cepat menghadang.
“Itu bukan urusanmu, aku punya hak dan kebebasan, aku yang memutuskan untuk masuk sekolah atau gak.“ jawab Beny dengan tegas dan tanpa rasa takut.
“Ben, aku minta sama kamu, terserah kamu mau anggep aku apa, tapi setidaknya, jangan sampai masa depanmu hancur karena aku.“ jawab Kejora dengan mata berkaca ingin menitikkan air mata.
“Aku tau yang terbaik buat aku Ra, jadi kamu gak usah khawatir.“ jawab Beny.
“Ben gimana caranya biar kamu mau masuk sekolah, kamu bisa tahan satu tahun lagi kalo kamu memang gak mau ketemu sama kami lagi, setelah itu kamu bisa pilih jalan yang berbeda dari kami.“ ucap Zul.
“Untuk waktu dekat ini aku gak bisa, aku gak tahan liat wajah kalian, aku merasa bersalah Zul atas semua yang telah aku perbuat ke kalian, aku gak sanggup Zul, terima kebaikan kalian setelah semua yang aku lakuin selama ini, dadaku sakit saat liat wajah kalian, walaupun kalian udah maafin aku, tapi aku merasa gak pantes nerima maaf dari kalian.“ jawab Beny sambil menangis.
“Ben kita sahabat, gak mungkin sahabat akur terus, itu gak seru.“ jawab Zul sambil memeluk Beny.
“Jujur aku pengen banget sahabatan sama kalian lagi, tapi rasa bersalahku terlalu besar, buat natap wajah kalian, aku pun gak sanggup.“ jawab Beny.
“Kamu mau sahabatan sama kami lagi?“ tanya Rahmad.
Namun Beny menangis terdiam tak berucap
“Jawaban kamu apa Ben?“ tanya Ferdy setengah berteriak.
“Iya aku mau, aku mau sahabatan sama kalian lagi, apa kalian mau nerima aku lagi, aku minta maaf atas perbuatanku selama ini.“ ucap Beny dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
“Aku gak denger.“ jawab Rahmad.
“Aku mau jadi sahabat kalian lagi, kalian mau maafin aku.“ teriak Beny.
“Iya Ben, kami udah maafin kamu dari lama kok.“ jawab Rahmad sambil memeluk Beny dan menangis.
“Fer, kamu gak ikutan?“ tanya Kejora polos.
“Gak lah, aku meluk cewek aja gak pernah, mau meluk cowok, gini-gini aku suka sama perempuan, bukan sama laki.“ jawab Ferdy.
“Ferdy peluk gak, kamu sahabat bukan.“ perintah Zul.
“Tckk… iya, iya.“ jawab Ferdy malas.
Setelah mereka berpelukan……
“Kalian beneran mau maafin aku?“ tanya Beny.
“Gak aku bohong.“ jawab Ferdy dengan wajah datar.
“Ferdy.“ bentak Zul menatap tajam Ferdy.
“Iya, iya, aku maafin, becanda sedikit kenapa, jangan sedih-sedih amat.“ jawab Ferdy.
“Makasih ya, kalian udah mau maafin aku.“ sambil melepaskan pelukannya.
“Ra kamu mau maafin aku?“ tanya Beny sambil ingin memegang tangan Kejora.
“Jangan dipegang-pegang.“ ucap Zul tersenyum menahan tangan Beny.
“Tckkkk… sial kamu Zul, senggol dikit aja pelit amat, katanya sahabat.“ oceh Beny dengan kesal.
“Enak aja, aku aja gak berani pegang-pegang dia, kamu mau nyosor duluan.“ jawab Zul.
“Dasar overprotektif.“ jawab Beny kembali ke tempat duduknya dengan kesal.
“Emangnya kenapa?“ jawab Zul kesal.
“Udah Zul.“ perintah Kejora.
“Iya ra.“ jawab Zul tersenyum lebar ke arah Kejora.
“Aku udah maafin kamu kok Ben, gak apa-apa.“ jawab Kejora tersenyum.
“Makasih Ra, syukur kalo kamu mau maafin aku.“ jawab Beny.
“Jangan senyum-senyum ke dia Ra, aku gak suka.“ perintah Zul pada Kejora dengan kesal.
“Apa sih, Zul gitu aja cemburu?“ jawab Kejora.
“Menabur garam diatas luka, kamu Zul.“ ucap Beny.
“Tenang Ben, kamu punya temen seperjuangan.“ ucap Ferdy.
“Maksudnya Fer?“ tanya Beny bingung.
“Sama-sama gak punya pasangan, kita bertiga.“ jawab Ferdy.
“Iya Ben, aku udah jengkel dari tadi, si Zul mesra-mesraan terus sama Kejora, gak mikirin perasaan kita, aku punya pikiran untuk keroyok dia tadi sama Ferdy.“ jawab Rahmad.
“Tenang dong, nanti kalian juga kan pasti dapet, aku sama Rara bantuin cari, ttapi aku gak janji bakal berhasil.“ jawab Zul menghibur mereka bertiga.
“Iya aku sama Zul bantuin.“ sambung Kejora.
“Gak mungkin, pasti cuma Rara yang usaha, dia gak ada gunanya dia cuma penggila cinta dan si overprotektif, selain itu dia gak ada guna.“ jawab Rahmad.
“Hoi… aku udah niat baik, kok malah kayak gitu jawabanmu.“ jawab Zul.
“Yaudah deh Mad, setidaknya bagus dia ada niat hahaha…“ jawab Beny tertawa.
Setelah itu mereka bercanda seakan selama ini tidak terjadi apa-apa, masalah besar yang baru mereka selesaikan pun mereka lupakan, mereka pun mengobrol dan bercanda hingga hari berganti dengan malam, tanpa mereka rasakan sudah cukup lama waktu mereka berbincang.
Saat sadar jam menunjukan pukul 8 malam, Zul pamit untuk pulang duluan karena dia bersama Kejora, yang otomatis tidak bisa pulang terlalu larut, disusul dengan Ferdy dan Rahmad yang juga berpamitan pulang. Dengan perasaan lega dan bahagia mereka berjalan pulang kerumah masing-masing, akhirnya kawan yang hilang telah kembali bersama mereka.
__ADS_1