
“Benar-benar cocok dia, sesuai kualifikasi.” gumam Zul, setelah kemarin
dia mencoba berinteraksi dengan Kejora, Zul sangat tertarik dengan Kejora, entah
apa yang dia pikirkan, dari sekian banyak wanita yang mengaguminya, dia justru
tertarik dengan seorang wanita dingin dan acuh seperti Kejora. kalau cantik
memang tak bisa di bohongi, tapi wanita yang cantik disekolah sangat banyak,
menumpuk, mengantri, ingin mendapatkan perhatian dari Zul, selera yang aneh
atau unik.
Kejora pun masih merasa aneh terhadap Zul, kenapa dia bertindak seakan
akrab terhadap Kejora dan berusaha mengajak Kejora berinteraksi, “Aku juga selama
ini gak pernah liat dia diperpustakaan kenapa anak itu sekalinya ke
perpustakaan sok mengakrabkan diri, karena dia ganteng, dia percaya diri gitu
mungkin ya.” gumam Kejora.
Diistirahat ke 2 juga dia keperpus lagi duduk di depanku tapi gak baca
buku, cuma ngeliatin aku aja, kira dia aku bakal kegeeran apa kalo di iat sama
cowok ganteng kayak dia, udah gitu betah banget ngeliatinnya, kira-kira mau apa
ya dia, apa dia mau manfaatin aku atau semacamnya, ah yaudahlah gak usah dipikirin
terus, lanjut aja belajar gak usah pikirin kerikil kecil itu impian ku lebih
penting dari pada mikirin dia apapun yang terjadi pokoknya aku harus menggapai
mimpiku.
Bel istirahat kedua berbunyi murid-murid berwajah girang karena mereka
dapat sedikit menghilangkan jenuh mereka, untuk makan atau bermain dengan temannya,
setelah mengikuti pelajaran yang menguras energi, dengan langkah cepat Kejora
menuju ke perpustakaan sambil membawa sebungkus roti dan sebotol air mineral,
apalagi kalau bukan belajar, hanya itu yang dia pikirkan untuk saat ini.
Diperpustakaan Kejora langsung mencari buku dan duduk dengan tenang,
sangat fokus dan seperti biasa tidak dapat merasakan keberadaan sekitarnya, Zul
yang baru datang langsung menghampiri Kejora dan duduk di sebelahnya.
“Wah… baca buku ruang angkasa lagi, kamu niat jadi astronot ya?” tanya Zul
mengakrabkan diri.
“Gak juga.“ jawab Kejora acuh.
“Lagi-lagi dia mau apa sih sebenernya lama-lama aku kesal juga sama dia.”
dalam hati Kejora.
“Terus kenapa baca buku tentang ruang angkasa terus?” tanya Zul.
“Bukan urusanmu.” jawab Kejora yang mulai menunjukan raut kesal.
“Nih anak dingin amat sih sifatnya.“ ungkap Zul dalam hati.
“Kamu dingin amat sama aku, apa ganggu?” tanya Zul tersenyum.
“Iya.“ jawab Kejora dengan santainya.
“Gila ini anak, orangnya blak-blakan amat, pantes aja gak punya temen,
sifatnya ngeri.” ungkap Zul dalam hati heran
“Maaf sebenernya aku cuma mau ngobrol sama kamu, udah itu aja gak ada
maksud buruk.” ucap Zul.
“Aku gak punya waktu.” jawab Kejora dengan penekanan.
“Apaan sih anak ini, sok akrab banget, kenal juga belum seminggu.”
ungkap Kejora dalam hati.
“Kamu benci aku?” tanya Zul dengan dengan penuh selidik dan menekan.
“Apa sih orang ini, gak tau kapan
harus nyerah kayaknya ini anak.” ungkap Kejora dalam hati.
“Kalo kamu nanya lagi aku benci beneran.” jawab Kejora ketus.
“Buset nih cewek unik apa aneh sebenernya, udah kayak orang maniak
belajar.” ungkap Zul dalam hati terheran heran
“Alasannya apa emang?” tanya Zul tak mau menyerah.
“Huffffttt… kamu tuh udah ganggu saya belajar, udah gitu gak usah sok
akrab, emangnya kamu gak ada kerjaan lain apa? kamu tuh mau apa dari saya?”
bentak Kejora sehingga membuat petugas perpustakaan menegur mereka.
“Kejora jangan marah-marah disini, ini perpustakaan, jadi tolong tenang
ya.” kata Petugas perpustakaan
“Maaf.“ jawab Kejora singkat dengan senyum terpaksa.
“Ini anak segitu penting banget belajar bagi dia, sampe diajak ngobrol
bentar marah, emang dia belum puas apa tadi dikelas kan udah belajar, mana
lidahnya licin banget lagi.” ungkap Zul dalam hati.
Aku cuma tertarik sama kamu, pengen kenal kamu lebih dekat lagi dan
lebih serius lagi memang gak boleh ya? emangnya salah ya? padahal kan aku udah
jujur sama kamu?” tanya Zul dengan raut sedih.
“Gila apa ini cowok baru berapa hari kenal ngomongnya udah kayak gini,
pasti dia suka mainin perasaan perempuan, belum udah menyatakan perasaan dengan
mudahnya, ngobrol aja gak banyak, akrab juga gak.” ungkap Kejora dalam hati.
“besok kan hari minggu kita bisa gak ketemu, aku tertarik dan pengen
ngobrol serius sama kamu, kamu bisa gak?” tanya Zul memelas.
“Boleh tapi dengan satu syarat.” jawab Kejora sambil membuka bungkus
rotinya.
“Syaratnya?“ tanya Zul setengah bahagia.
“Kamu pergi dari sini sekarang dan jangan ganggu aku belajar lagi bisa!”
__ADS_1
ucap Kejora dengan penekanan.
“Aku tunggu ya besok, diperpustakaan kota jam 9, jangan telat, sampai
ketemu besok.” ucap Zul dengan wajah berseri-seri
“Apa-apaan dia, tapi kok ngajaknya keperpustakaan kota aneh.“ gumam Kejora
heran
Matahari mengintip manja di ufuk timur, embun pagi berhamburan menempel
mesra didedaunan pohon, pagi yang cerah menyejukan mata. Kejora terbangun dari
tidurnya, berlangkah gontai menuju kamar mandi, membasuh wajah indahnya dengan
air segar membunuh rasa kantuk yang masih hinggap ddirinya.
“Ah… aku kelupaan semalem belajar sampe jam 2 pagi.” gumam Kejora sambil
mengusap wajahnya.
Seketika dirinya mengingat janjinya pada Zul, bertanya-tanya apa yang di
rencanakan oleh Zul, pada dirinya apakah benar dia memang ingin lebih serius
dan dekat pada dirinya, atau ada hal lain yang ingin Zul dapatkan dari dirinya,
curiga hanya perasaan itu yang ada dalam hatinya saat ini, apakah tindakannya
benar untuk mengiyakan ajakan Zul atau justru, itu adalah petaka yang ia
dapatkan.
Pikiran Kejora masih belum tenang, padahal dia sudah melangkahkan
kakinya menuju perpustakaan kota, seharusnya tidak lama lagi dia tiba disana,
sambil melihat jam yang melingkar indah di lengannya yang putih dan bersih,
jarum jam menunjuk di angka 08.45, dengan rok panjang dan kemeja panjang,
rambutnya yang hanya sebahu pun dia ikat, tidak seperti saat di sekolah,
terlihat anggun dirinya berjalan menuju perpustakaan, seakan melihat sisi
terfeminim dari Kejora.
Zul yang menunggu didepan pintu perpustakaan, memakai kemeja yang di
bungkus dengan sweater dan celana levis, gagah dan berwibawa itu yang dilihat
orang saat melihat Zul sekarang, tersentak kaget melihat sisi lain yang belum
pernah terlihat dari Kejora, mungkin satu sekolah baru Zul yang beruntung
melihatnya, tampilannya terlihat dewasa, anggun, dan menawan, mengagumkan kata
yang pantas terucap saat ini untuk apa yang sedang dilihat oleh Zul.
“Ha.. hai Ra.” sapa Zul terbata-bata
yang masih terkagum dengan apa yang di lihatnya saat ini.
“Iya, aduh siapa nama kamu aku lupa?” tanya Kejora.
“Bagimu aku gak penting apa, sampe nama yang ngajak kamu kencan lupa?” Zul
berbalik menanya Kejora sambil tersenyum.
“Kapan kita kencan, jangan ngada-ngada.” jawab Kejora kebingungan.
“Sekarang.” ucap Zul tersenyum menggoda.
“ aku cuma becanda biar gak kaku” jelas Zul menarik tangan Kejora
“Jangan pegang-pegang gak sopan, baru kenal juga, nanti orang salah
paham.” kata Kejora sambil melepaskan tangannya dari cengkraman Zul.
“Maaf ya, ini salah ku.” ucap Zul meminta.
“ yaudah langsung ke intinya aja waktu ku gak banyak ?” tanya Kejora
“Santai dong Ra, kan kita diperpus nih, kenapa gak sekalian liat-liat
buku aja ya kan.” ajak Zul.
“Mencurigakan banget, dia sengaja ngulur waktu.“ ungkap Kejora dalam
hati.
“Kamu kan suka baca buku, yuk kita baca buku, bareng kamu mau gak?”
tanya Zul.
“Oke tapi bentar aja.” jawab Kejora.
“Akhirnya cewek ini sedikit luluh juga.” ungkap Zul dalam hati.
Mereka berdua pun masuk keperpustakaan dan Kejora langsung ke rak buku
dan mencari cari buku menarik yang ingin dia baca, tanpa menghiraukan Zul yang
menguntit dibelakangnya
“Kamu suka buku tentang ruang angkasa ya Ra, aku perhatiin kamu baca
buku itu terus.” tanya Zul.
Dia merhatiin aku, apaan coba
udah kayak penguntit aja deh.” ungkap Kejora dalam hati.
“Gak juga, aku semua buku suka.“ jawab Kejora dingin.
“Tapi kamu paling suka ruang angkasa kan.” bantah Zul sok akrab.
“Iya” jawab Kejora masih dingin.
“Mau jadi astronot ya?” tanya Zul memojokkan Kejora.
“Sok tau.“ jawab Kejora.
“Gak papa kok Ra ngaku aja, cita-citamu bagus, aku suka cewek yang punya
semangat kayak kamu.” ucap Zul secara spontan.
“Haaaa… udah gila ya anak ini, bisa-bisanya dia ngomong suka padahal
baru kenal, lagi diperpustakaan padahal, ini cowok gak bener pasti.” ungkap Kejora
dalam hati.
“Terus kamu mau apa?” jawab Kejora sedikit tinggi.
“Galak amat, pelan-pelan dong, kita lagi di perpus.” pinta Zul pada Rara.
“Kalo tau diperpus ngapa ngajak ngobrol terus.“ jawab Kejora ketus.
Suasana pun menjadi hening, karena Zul mulai khawatir jika Kejora akan
marah padanya, Zul pun mencari-cari buku, sedangkan Kejora duduk dikursi dengan mode fokus membaca buku, tak lama Zul
__ADS_1
duduk di depannya dengan membawa buku yang sebenarnya hanya hiasan. karena
tidak di baca oleh dirinya.
Dua jam sudah keheningan terjadi, Kejora sudah hampir selesai membaca
satu buku, Zul yang dari tadi memerhatikan Kejora memikirkan bagaimana caranya
memecah keheningan yang sedang berlangsung pada mereka berdua, berniat untuk
mengobrol dan mengenal lebih dekat Kejora, namun yang terjadi malah situasi
yang sama terjadi saat di sekolah.
“Ra.“ panggil Zul memecah keheningan
“Hmmm…” jawab Kejora singkat.
“Kamu gak laper, bentar lagi jam 12,cari makan yuk.” ajak Zul.
“Yaudah aku nitip, nih uangnya.” kata Kejora sambil memberikan uang pada
Zul.
“Ra disini bukan perpustakaan sekolah yang boleh bawa makanan.” Zul
mengingatkan.
“Yaudah kalo gitu, aku sekalian makan dirumah, aja aku pulang ya.” ucap Kejora.
“Kok pulang, kita makan bareng aja, aku yang traktir ya plis.” ajak Zul.
“Dia ngulur waktu lagi, mau kutolak tapi kok kasian, yaudah deh, aku
ikutin permainan dia dulu aja.“ ungkap Kejora dalam hati.
“Boleh deh.” jawab Kejora singkat.
“Kamu mau makan apa Ra.“ tanya Zul sambil berjalan mencari tempat makan.
“Terserah aku gak pilih-pilih.” jawab Kejora dingin.
“ Mie ayam mau ? aku tau tempat yang enak, pasti kamu suka tempatnya
juga bagus, gimana?” tanya Zul dengan wajah gembira.
“Jauh gak?” tanya Kejora balik.
“Gak, deket tempatnya kok, 5 menit lagi juga sampe.“ jawab Zul
meyakinkan Kejora.
Saat itu mereka terlihat seperti pasangan muda, lebih tepatnya suami
istri, tampan, gagah, dan berwibawa, mencuri perhatian orang di sekitarnya.
Sedangkan Kejora yang terlihat cantik, anggun, dan feminism, membuat perhatian
tertuju ke mereka dan dalam hati orang-orang sekitarnya berkata serasi.
Berjalan selama lima menit, dan akhirnya sampai dikedai mie ayam yang di
maksudkan Zul, jauh dari kebisingan tenang di kelilingi dengan tanaman hijau,
kedainya tidak terlalu besar, namun untuk mencari ketenangan tempat yang sangat
cocok, tanpa menunggu lama Zul langsung memesan.
“Kamu mau makan apa?“ tanya Zul.
“Sama aja kayak kamu gak apa-apa.” jawab Kejora
“Gak minum?” tanya Zul.
“Jus apel.“ jawab Kejora.
Setelah itu Kejora diam seribu bahasa tanpa kata-kata keluar dari
mulutnya, sampai hidangan dimeja dia pun langsung memakannya tanpa mengucap.
“Ra aku mau ngomong serius.” ucap Zul memulai pembicaraan.
“Ngomong aja!” jawab Kejora dingin.
“Aku tertarik sama kamu.” ucap Zul.
“Uhuk… uhuk… maksudnya?” tanya Kejora terbatuk-batuk.
“Maaf ya kamu pasti kaget, kita juga baru kenal mungkin kesannya kurang
sopan.“ ucap Zul sambil meneguk jus apel.
“Langsung intinya, gak usah bertele-tele” pinta Kejora dengan wajah
menyelidik.
“Maaf kalo terlalu cepet aku bicarain ini sama kamu.“ ucap Zul dengan
wajah serius.
Zul belum melanjutkan perkataanya karena dia masih ragu untuk mengungkapkannya
pada Kejora tapi.
“Kalo ngomong jangan setengah-setengah.” jawab Kejora.
“Apa bener anak ini mau nyatain perasaannya? Bener-bener frontal ini kan
terlalu cepet, kenal juga belum seminggu udah nekat aja, percaya dirinya
kelewatan dia.” ungkap Kejora dalam hati.
“Selesaiin makannya dulu aja deh, biar rileks.” ucap Zul sambil
tersenyum.
“Baru kali ini ada yang mau nyatain perasaanya langsung, biasanya pake
surat, walau sekarang udah ada smartphone, tapi biasanya pada masih pake cara
klasik itu, tapi kok anak ini beda, dia berani amat ngomong langsung, jangan percaya
diri dulu, bisa aja itu hal lain gak boleh gede rasa .“ ungkap Kejora dalam
hati dengan heran.
Setelah beberapa saat Zul selesai menyantap mie ayam, namun Kejora masih
belum selesai menyantapnya, karena memikirkan hal yang masih tanda tanya dari Zul,
pikirannya masih menerka-nerka apa rencana dari Zul sebenarnya.
“Udah selesai Ra makannya?“ tanya Zul membuka obrolan.
“Udah.“ jawab Kejora singkat namun menyelidik.
“Bisa kita omongin sekarang.?” tanya Zul pada Kejora dengan wajah serius.
“Gila jantungku, rasanya mau pecah.“ ucap Zul dalam hati.
“Yaudah langsung intinya, jangan muter-muter dan bertele-tele” jawab Kejora
dengan tegas.
__ADS_1
“Kamu mau gak, jadi temenku?” ucap Zul.