
4 hari sudah berlalu sejak Beny
memutuskan hubungan persahabatannya dengan Zul, semenjak itu, Beny selalu
datang ke rumah Zul untuk mendekati Kejora. Amarah Zul sebenarnya berada di
puncaknya tapi dia sembunyikan itu di balik senyum kepalsuan seakan akan mereka
masih seorang sahabat yang sangat akrab, dan Beny pun melayani sandiwara Zul
dengan sangat baik, tapi pada saat mereka berdua lepas dari pandangan Kejora
mereka menatap seakan ingin saling membunuh satu sama lain. Tidak lama lagi
akan terjadi sebuah tabrakan antara Zul dan Beny, entah Beny yang hancur, atau
Zul yang remuk, atau mungkin kedua-duanya yang hancur lebur tidak ada yang
tahu, dan mereka berdua sudah menyiapkan ancang-ancang untuk tabrakan tersebut.
Menang atau kalah itu adalah urusan
belakangan itu yang di pikirkan mereka berdua. Siapa yang ragu dia yang akan
hancur, siapa yang tidak siap dia yang akan remuk. Seremuk apa mereka atau
sehancur apa mereka sudah tidak peduli lagi, semua itu demi satu tujuan, yaitu
perasaan masing masing.
Zul pun berpikir apa ini waktu yang
tepat untuk menyatakan cinta pada Kejora, namun keberaniannya menghilang, saat
memandang Kejora nyalinya ciut, mengeci,l dan akhrinya menghilang tak tersisa,
tapi rasa ini sudah tak terbendung, sudah tak dapat di tahan lagi. Setiap
melihat Kejora berbicara dengan Beny dadanya sesak, sakit seperti di sayat
ribuan pisau, tubuhnya panas, matanya merah, ketakutan, takut jika Beny
benar-benar mendapatkan Kejora dan Kejora menerima cinta Beny, walau secara
visual Zul jauh lebih baik dari Beny, tapi Kejora unik dia berbeda jalan
pikirnya rumit, dan kompleks, susah di prediksi. Zul tidak berpikir dia dapat
menang dengan mudah dari Beny.
“Zul kok Beny tumben ya tiap hari
kesini?“ tanya Kejora.
“Gak tau.“ jawab Zul kecut
“Masa sih kamu gak tau? kamu kan
temennya.“ tanya Kejora yang masih penasaran.
"Suka paling sama kamu.“ jawab
Zul dengan Kesal.
“Suka gimana?“ tanya Kejora lebih
penasaran lagi.
“Pengen pacaran sama kamu mungkin.“
jawab Zul
“Masa sih?“ ucap Kejora bingung
“Ya, mungkin dia gak cerita sama
aku.“ jawab Zul.
“Dia baik sih, humoris juga.“ jawab
Kejora.
“Jangan-jangan Kejora juga suka lagi
sama Beny.“ pikir Zul.
“Hmmm...” ucap Zul.
“Kok kamu reaksinya gitu?“ tanya
Kejora
“Gitu gimana sih Ra?“ jawab Zul.
“Kamu kayak gak seneng dengernya?“
tanya Kejora.
“Gak juga perasaan kamu aja.“ jawab
Zul.
“Jangan-jangan kamu suka aku ya?“
goda Kejora tersenyum.
“Kejora kok bisa-bisanya kayak gini,
gak biasanya, tapi dia gak salah sih, emang aku suka sama dia.“ pikir Zul.
“Kebanyakan main sama Beny, gilanya
nular.“ jawab Zul pura-pura tidak peduli.
“Hahahaha... ternyata kamu susah di
gombalin ya Zul?“ jawab Kejora
“Aku harap itu serius Ra, gak
becanda.“ ucap Zul dalam hati dengan Kesal.
“Oh... jadi kamu bales dendam,
gara-gara aku sering gombalin kamu?“ tanya Zul.
“Ya gitu deh.“ jawab Kejora yang
tiba tiba raut wajahnya berubah.
“Aku serius Zul, nanya itu?“ ucap
Kejora dalam hati.
Dan seketika hening pun tercipta
antara Zul dan Kejora, keduanya merasa sangat kecewa dengan jawaban
masing-masing. Sama-sama menunduk lesu seperti putus harapan, hancur mentalnya,
Kejora tidak menyadari Kekecewaan Zul padanya, begitu pula sebaliknya Zul juga
tidak menyadari itu.
Saat berada di kamar pun Zul hanya
dapat tidur sebentar, dan itupun dia setengah tersadar, tidak nyenyak, tidak
tenang tidurnya, dia pun membuka jendela kamarnya dan melihat jam, ternyata
sudah jam 05.00 tidak sadar bahwa sudah hampir pagi menjelang, wajahnya yang
murung tiba-tiba tersenyum mengembang, melihat kearah langit matanya tertuju ke
satu titik, dan itu di tempati oleh bintang Kejora, yang bersinar terang
mengalahkan jutaan bintang lainnya, semangatnya kembali, dan sudah di putuskan,
sudah di tetapkan, hari ini adalah saatnya.
darimana dia dapat memutuskan
secepat itu, dan darimana datangnya keberanian itu, cahaya apa yang
memberikannya kekuatan, itu karena terangnya satu bintang, bintang Kejora, ya
itu bintang Kejora dia yang membuat Zul mendapatkan keberanian, dia yang
memberikan Zul kekuatan, karena cahayanya.Setengah jam lebih dia memandang
langit.
“Zul udah bangun belum?” tanya
Kejora.
“Udah Ra kenapa?“ jawab Zul.
“Mau jogging gak?“ tanya Kejora.
“Iya, kamu udah siap?“ Tanya Zul.
“Udah.“ jawab Kejora.
“Tunggu bentar.“ jawab Zul.
Zul pun langsung mengganti
pakaiannya bersiap untuk Jogging. Setelah selesai dia menghampiri Kejora, dan
mulai berlari dengan santai, dan menikmati dinginnya pagi hari, jelas diselingi
obrolan dengan Kejora, dan mereka pun tiba di tempat biasa mereka untuk
beristirahat.
“Ra kamu nanti ada waktu, sekitar
jam 6?“ tanya Zul.
“Mau ngapain emang?“ tanya Kejora.
“Ngajak kamu kesini.“ jawab Zul
“Ini sekarang, sama aja.“Ucap Kejora
Kejora
“Ya beda, kalo nanti agak malem kamu
bisa gak? “ tanya Zul.
__ADS_1
“Eh apa dia ngajak kencan, tapi kan
belum jadian, tapi kalo di novel-novel itu namanya kencan, duh gimana ya?”
Pikir Kejora.
“Yaudah, tapi aku pulang dulu ke
rumah ganti baju.“ jawab Kejora.
“Yaudah sekalian kalo gitu, sekalian
berangkat.“ ucap Zul.
“Emang mau ngapain sih? tumben
ngajak main malem-malem emang boleh sama ibu?“ tanya Kejora.
“Yang aku khawatirin bukan ibu.“
jawab Zul teringat sosok yang sungguh mengerikan.
“Terus siapa, ayah?“ tanya Kejora
penasaran.
“Pak Jony “ jawab Zul dengan wajah
ketakutan.
“Kok pak Jon, padahal dia orangnya
baik, mukanya serem sih emang.“ jawab Kejora heran.
“Gak, gak, baik darimananya ngeliat
aku aja kayak mau di makan“ pikir Zul.
“Masa sih, aku agak takut, kalo gak
di bolehin dia, apalagi mukanya sangar gitu?“ Tanya Zul tersenyum.
“Tenang aja pasti boleh, gak usah di
pikirin tapi bener, ayah, sama ibumu ngebolehin?“ tanya Kejora.
“Biasanya sih boleh, asal bisa jaga
diri.“ jawab Zul.
“Yaudah deh, ntar aku juga coba
ngomong.“ jawab Kejora
“jadi mau kan?“ tanya Zul.
“Iya mau.“ jawab Kejora tesenyum
gembira.
Mereka pun pulang ke rumah, dengan
wajah yang sama-sama tersenyum lebar, riang gembira, tak dapat di sembunyikan.
Alasan mereka tersenyum sebenarnya tidak terlalu jelas, padahal mereka sudah
sering pergi bermain hanya berdua saja, namun yang kali ini rasanya sangat
berbeda dari biasanya.
Saat sarapan.
“Yah, Bu, aku nanti sore mau main
sama Kejora, pulangnya agak malem boleh?“ tanya Zul.
“Yaudah yang penting jaga diri,
jangan macem-macem?“ jawab ayah Zul.
“Iya Yah, aku janji.” jawab Zul
tersenyum.
“Mau kencan ya? apa udah pacaran?“
tanya Ibu Zul tersenyum.
“Ibu ngomong apa sih? belum pacaran
kok?“ jawab Kejora malu-malu.
“Hmmmm... masa sih?“ tanya Ibu Zul.
“Beneran bu, cuma main aja ganti
suasana.“ jawab Kejora.
“Beneran, serius.“ tanya Ibu Zul.
“Beneran, serius, Bu.“ jawab Kejora.
“Emang iya, apa Zul?“ tanya Ibu Zul
masih tak percaya'
“Iya bener.“ jawab Zul.
“Beneran, mau kencan?“ tanya Ibu
Zul.
korban sinetron.“ jawab Zul.
“Tckkk...” ucap Ibu Zul kecewa.
“Apaan tckkk, tckkk, kayak gitu?”
tanya Zul.
“Gak ada apa-apa.“ jawab Ibu Zul.
Tanpa disadari hari sudah mulai
sore, jam 04.30 Zul bersiap-siap untuk mengantar Kejora kerumahnya. Wajah yang
tadinya gembira, berubah seketika menjadi gugup, bercampur dengan cemas.
Keputusannya memang sudah bulat, tapi rasa gugup itu tetap saja ada tak dapat
di elakkan.
Saat di rumah Kejora.
“Aku ngomong sama pak Jon ya, kamu
ganti baju aja dulu!“ perintah Zul.
“Iya.“ jawab Kejora yang juga
merasakan rasa yang sama dengan Zul.
“Hai pak.“ sapa Zul.
“Gak usah sok akrab.“ jawab Pak Jon.
“Seperti biasa dia galak, dan gak
suka sama aku.“ ucap Zul dalam hati.
“Gini pak, saya mau minta izin.“
ucap Zul.
“Izin apa?“ tanya pak jon sambil
menguk tehnya.
“Saya mau ajak main kejora,
pulangnya agak malem, boleh gak pak?” tanya Zul tersenyum.
“Uhuk, uhuk, uhuk, ngomong apa kamu
barusan?“ tanya Pak jony pada Zul.
“Saya mau ajak Kejora main,
pulangnya agak malem, saya janji pak, bakal jaga dia pulang selamat, dan saya
gak akan macem-macem.“ jawab Zul ketakutan.
“Kalo sampe ada apa-apa?” tanya Pak
Jon menatap Zul dengan tajam.
“Bapak sendiri yang putusin, saya
mau di apain.“ jawab Zul dengan tegas.
“Oke kalo gitu, boleh jaga janji
kamu ya.“ terang pak Jony.
“Makasih pak.“ jawab Zul tersenyum
Di kamar Kejora.
"Mau kemana Nak?“ tanya Bi
Maryam pada Kejora.
“Mau main sama Zul, aku juga
langsung nginep tempat Zul paling.“ jawab Kejora.
“Kencan.” pikir Bi Maryam.
“Nak, biar Bibi yang pilih bajunya,
pake yang ini.“ ucap Bi Maryam sambil memberikan dress merah tak berlengan,
dengan belahan dada rendah.
“Gak mau ini terlalu terbuka, aku
nanti masuk angin.“ jawab Kejora.
“Cih...“ ucap bi Maryam.
“Kenapa kayak gitu?“ tanya Kejora.
__ADS_1
“Yaudah Nak, yang ini.” ucap Bi
Maryam. memberikan rok pendek, dan sweater lengan panjang, berwarna hitam.
“Gak mau, aku gak mau ,aku mau rok
panjang sama kemeja.“ jawab Kejora.
“Yang itu gak boleh.“ jawab Bi
Maryam.
“Kenapa gak boleh?“ Tanya Kejora
heran.
“Aura Non Rara gak keluar.“ jawab Bi
Maryam.
“Aku gak peduli sama aura, atau
apalah itu, pokoknya aku mau yang serba panjang.“ jawab Kejora.
“Emang mau main kemana, sih Nak?“
tanya Bi Maryam Penasaran.
“Taman.“ jawab Kejora.
“Oh, yaudah deh.“ jawab Bi Maryam.
Kejora memakai Rok panjang berwarna
putih, dan memakai sweater berwarna hitam panjang, sangat cocook untuk Kejora
dia tetap terlihat cantik seperti biasanya. Kejora menghampiri Zul.
“Zul ayok berangkat.“ ajak Kejora.
“Pak Jon aku main ya.“ pamit Kejora
pada pak Jon.
“Iya Nak hati-hati ya, kalo ada
apa-apa telpon bapak ya ,inget loh ya, jangan sampe lupa.” ucap Pak jon.
“Iya pak, tenang aja.“ jawab Kejora.
Mereka akhirnya pergi berjalan
menuju taman, hari hampir gelap, karena Kejora cukup lama tidak seperti
biasanya, Zul juga agak kesal sebenarnya tadi, tapi melihat penampilan Kejora
kekesalan Zul langsung hilang, dan penantiannya terbayar. Mereka berdua pun
berjalan bersama, namun terasa sangat canggung, karena memang keduanya sedang
gugup. Hanya menunduk dan diam, tidak menatap satu sama lain, Zul dan Kejora
sebenarnya, heran kenapa mereka merasa gugup, jantungnya berdetak dengan cepat,
dan telapak tangannya dibasahi, dengan keringat dingin. Sudah sering mereka
jalan berdua seperti ini, seharusnya sudah terbiasa bermain berdua juga sudah
sangat sering di lakukan, seharusnya sudah tak ada lagi rasa gugup pada diri
mereka.
Setelah sampai di taman Zul langsung
memilihkan tempat duduk untuk Kejora, sambil membelikan ia minuman dan makanan
ringan untuk mereka, saat sampai disana hari sudah gelap matahari sudah
sepenuhnya tenggelam, berganti dengan sinar bulan di hiasi jutaan bintang
berkelip-kelip bergantian. Pemandangan terindah di malam hari, di kelilingi
harum bunga bermekaran, dan lampu taman.
“Maaf ya lama.“ ucap Zul.
“Gak papa kok Zul.“ jawab Kejora
canggung.
“Kamu suka langit malam?“ tanya Zul.
“Aku suka kalo cuacanya cerah kayak
gini, semuanya keliatan jelas, bintangnya kelihatan indah.“ jawab Kejora.
“Kamu juga indah Ra, lebih indah
dari pemandangan saat ini.“ ucap Zul dalam hati.
“Aku juga suka langit malam, apa
lagi jam sekarang.“ jawab Zul
“Kenapa emangnya, kalo di jam
sekarang, apa bedanya?“ tanya Kejora.
“Beda dong, aku paling suka di jam
sekarang, sama waktu subuh.“ ucap Zul.
“Hmm... emang apa bedanya?“ tanya
Kejora.
“Ada satu bintang yang paling
terang, dia yang paling unik, dan terus bercahaya sampai terbenam, dia gak
berkelip seperti bintang lainnya“ jawab Zul.
“Hmmmm... bintang Kejora ya?“ jawab
Kejora.
“Iya Ra, kamu bener, aku paling suka
liat bintang Kejora.” ucap Zul.
“Dan aku lebih suka lagi, kalo liat
bintang Kejora, di temenin kamu Ra.“ ucap Zul dalam hati.
“Hmmm... kamu suka sama sesuatu yang
beda ya? padahal dia gak menarik perhatian, karena gak berkelip.“ jawab Kejora.
“Iya dia unik, justru itu daya
tariknya.“ jawab Zul.
“Sama persis Ra, kayak kamu unik,
gak mau mencolok, gak mau menarik perhatian.” ucap Zul dalam hati.
“Aneh.“ tanya kejora heran.
“Itu unik, bukan aneh.“ jawab Zul.
Zul melawan rasa gugup sekuat
tenaga, mencari keberaniannya, membulatkan tekadnya, hatinya terus bergetar,
memaksa lidahnya yang kaku bergerak untuk mengucap sesuatu.
“Ra.“ ucap Zul.
“Apa Zul?“ Tanya Kejora masih
menatap langit berbintang.
“Kamu mau, jadi ibu dari
anak-anakku?” ucap Zul dengan mantap.
“Ra, aku udah putusin untuk ungkapin
perasaanku sekarang, aku udah gak punya tenaga untuk memendam perasaan ini, aku
udah gak tahan untuk bilang ini, apapun jawabanmu, aku udah gak peduli, yang
penting aku harus ngomong sekarang juga, gak bisa di tunda lagi “ ucap Zul
dalam hati.
“Apa aku gak salah denger, dia
ngomong apa barusan, ibu dari anak-anakku apa itu bener berarti dia punya rasa
yang sama seperti aku? aku pastiin dulu.“ pikir Kejora.
“Bisa kamu ulangin lagi Zul?” tanya
Kejora.
Dengan tarikan nafas panjang dan
menghembuskannya dengan keras.
“Ra kamu mungkin kaget dengan
kata-kataku barusan, aku tau kamu denger dengan jelas, kamu gak salah denger,
itu perasaanku sama kamu saat ini, aku gak mau terima jawaban selain iya Ra,
aku gak mau nyerah untuk kamu. Ra apakah kamu bersedia jadi ibu buat
anak-anakku? jadi pasangan hidupku sampai ajal menjemput?“ tanya Zul sambil
mendekatkan wajahnya Ke wajah Kejora.
“Zul,“ tanya Kejora,
“Kamu yakin sama kata-katamu?“
sambung Kejora.
“Aku gak perlu, jawab pertanyaan
retorik Ra.“ jawab Zul
__ADS_1
“Tunggu!“ teriak seseorang
mengagetkan Zul dan Kejora.