Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 14 : Pengakuan


__ADS_3

4 hari sudah berlalu sejak Beny


memutuskan hubungan persahabatannya dengan Zul, semenjak itu, Beny selalu


datang ke rumah Zul untuk mendekati Kejora. Amarah Zul sebenarnya berada di


puncaknya tapi dia sembunyikan itu di balik senyum kepalsuan seakan akan mereka


masih seorang sahabat yang sangat akrab, dan Beny pun melayani sandiwara Zul


dengan sangat baik, tapi pada saat mereka berdua lepas dari pandangan Kejora


mereka menatap seakan ingin saling membunuh satu sama lain. Tidak lama lagi


akan terjadi sebuah tabrakan antara Zul dan Beny, entah Beny yang hancur, atau


Zul yang remuk, atau mungkin kedua-duanya yang hancur lebur tidak ada yang


tahu, dan mereka berdua sudah menyiapkan ancang-ancang untuk tabrakan tersebut.


Menang atau kalah itu adalah urusan


belakangan itu yang di pikirkan mereka berdua. Siapa yang ragu dia yang akan


hancur, siapa yang tidak siap dia yang akan remuk. Seremuk apa mereka atau


sehancur apa mereka sudah tidak peduli lagi, semua itu demi satu tujuan, yaitu


perasaan masing masing.


Zul pun berpikir apa ini waktu yang


tepat untuk menyatakan cinta pada Kejora, namun keberaniannya menghilang, saat


memandang Kejora nyalinya ciut, mengeci,l dan akhrinya menghilang tak tersisa,


tapi rasa ini sudah tak terbendung, sudah tak dapat di tahan lagi. Setiap


melihat Kejora berbicara dengan Beny dadanya sesak, sakit seperti di sayat


ribuan pisau, tubuhnya panas, matanya merah, ketakutan, takut jika Beny


benar-benar mendapatkan Kejora dan Kejora menerima cinta Beny, walau secara


visual Zul jauh lebih baik dari Beny, tapi Kejora unik dia berbeda jalan


pikirnya rumit, dan kompleks, susah di prediksi. Zul tidak berpikir dia dapat


menang dengan mudah dari Beny.


“Zul kok Beny tumben ya tiap hari


kesini?“ tanya Kejora.


“Gak tau.“ jawab Zul kecut


“Masa sih kamu gak tau? kamu kan


temennya.“ tanya Kejora yang masih penasaran.


"Suka paling sama kamu.“ jawab


Zul dengan Kesal.


“Suka gimana?“ tanya Kejora lebih


penasaran lagi.


“Pengen pacaran sama kamu mungkin.“


jawab Zul


“Masa sih?“ ucap Kejora bingung


“Ya, mungkin dia gak cerita sama


aku.“ jawab Zul.


“Dia baik sih, humoris juga.“ jawab


Kejora.


“Jangan-jangan Kejora juga suka lagi


sama Beny.“ pikir Zul.


“Hmmm...” ucap Zul.


“Kok kamu reaksinya gitu?“ tanya


Kejora


“Gitu gimana sih Ra?“ jawab Zul.


“Kamu kayak gak seneng dengernya?“


tanya Kejora.


“Gak juga perasaan kamu aja.“ jawab


Zul.


“Jangan-jangan kamu suka aku ya?“


goda Kejora tersenyum.


“Kejora kok bisa-bisanya kayak gini,


gak biasanya, tapi dia gak salah sih, emang aku suka sama dia.“ pikir Zul.


“Kebanyakan main sama Beny, gilanya


nular.“ jawab Zul pura-pura tidak peduli.


“Hahahaha... ternyata kamu susah di


gombalin ya Zul?“ jawab Kejora


“Aku harap itu serius Ra, gak


becanda.“ ucap Zul dalam hati dengan Kesal.


“Oh... jadi kamu bales dendam,


gara-gara aku sering gombalin kamu?“ tanya Zul.


“Ya gitu deh.“ jawab Kejora yang


tiba tiba raut wajahnya berubah.


“Aku serius Zul, nanya itu?“ ucap


Kejora dalam hati.


Dan seketika hening pun tercipta


antara Zul dan Kejora, keduanya merasa sangat kecewa dengan jawaban


masing-masing. Sama-sama menunduk lesu seperti putus harapan, hancur mentalnya,


Kejora tidak menyadari Kekecewaan Zul padanya, begitu pula sebaliknya Zul juga


tidak menyadari itu.


Saat berada di kamar pun Zul hanya


dapat tidur sebentar, dan itupun dia setengah tersadar, tidak nyenyak, tidak


tenang tidurnya, dia pun membuka jendela kamarnya dan melihat jam, ternyata


sudah jam 05.00 tidak sadar bahwa sudah hampir pagi menjelang, wajahnya yang


murung tiba-tiba tersenyum mengembang, melihat kearah langit matanya tertuju ke


satu titik, dan itu di tempati oleh bintang Kejora, yang bersinar terang


mengalahkan jutaan bintang lainnya, semangatnya kembali, dan sudah di putuskan,


sudah di tetapkan, hari ini adalah saatnya.


darimana dia dapat memutuskan


secepat itu, dan darimana datangnya keberanian itu, cahaya apa yang


memberikannya kekuatan, itu karena terangnya satu bintang, bintang Kejora, ya


itu bintang Kejora dia yang membuat Zul mendapatkan keberanian, dia yang


memberikan Zul kekuatan, karena cahayanya.Setengah jam lebih dia memandang


langit.


“Zul udah bangun belum?” tanya


Kejora.


“Udah Ra kenapa?“ jawab Zul.


“Mau jogging gak?“ tanya Kejora.


“Iya, kamu udah siap?“ Tanya Zul.


“Udah.“ jawab Kejora.


“Tunggu bentar.“ jawab Zul.


Zul pun langsung mengganti


pakaiannya bersiap untuk Jogging. Setelah selesai dia menghampiri Kejora, dan


mulai berlari dengan santai, dan menikmati dinginnya pagi hari, jelas diselingi


obrolan dengan Kejora, dan mereka pun tiba di tempat biasa mereka untuk


beristirahat.


“Ra kamu nanti ada waktu, sekitar


jam 6?“ tanya Zul.


“Mau ngapain emang?“ tanya Kejora.


“Ngajak kamu kesini.“ jawab Zul


“Ini sekarang, sama aja.“Ucap Kejora


Kejora


“Ya beda, kalo nanti agak malem kamu


bisa gak? “ tanya Zul.

__ADS_1


“Eh apa dia ngajak kencan, tapi kan


belum jadian, tapi kalo di novel-novel itu namanya kencan, duh gimana ya?”


Pikir Kejora.


“Yaudah, tapi aku pulang dulu ke


rumah ganti baju.“ jawab Kejora.


“Yaudah sekalian kalo gitu, sekalian


berangkat.“ ucap Zul.


“Emang mau ngapain sih? tumben


ngajak main malem-malem emang boleh sama ibu?“ tanya Kejora.


“Yang aku khawatirin bukan ibu.“


jawab Zul teringat sosok yang sungguh mengerikan.


“Terus siapa, ayah?“ tanya Kejora


penasaran.


“Pak Jony “ jawab Zul dengan wajah


ketakutan.


“Kok pak Jon, padahal dia orangnya


baik, mukanya serem sih emang.“ jawab Kejora heran.


“Gak, gak, baik darimananya ngeliat


aku aja kayak mau di makan“ pikir Zul.


“Masa sih, aku agak takut, kalo gak


di bolehin dia, apalagi mukanya sangar gitu?“ Tanya Zul tersenyum.


“Tenang aja pasti boleh, gak usah di


pikirin tapi bener, ayah, sama ibumu ngebolehin?“ tanya Kejora.


“Biasanya sih boleh, asal bisa jaga


diri.“ jawab Zul.


“Yaudah deh, ntar aku juga coba


ngomong.“ jawab Kejora


“jadi mau kan?“ tanya Zul.


“Iya mau.“ jawab Kejora tesenyum


gembira.


Mereka pun pulang ke rumah, dengan


wajah yang sama-sama tersenyum lebar, riang gembira, tak dapat di sembunyikan.


Alasan mereka tersenyum sebenarnya tidak terlalu jelas, padahal mereka sudah


sering pergi bermain hanya berdua saja, namun yang kali ini rasanya sangat


berbeda dari biasanya.


Saat sarapan.


“Yah, Bu, aku nanti sore mau main


sama Kejora, pulangnya agak malem boleh?“ tanya Zul.


“Yaudah yang penting jaga diri,


jangan macem-macem?“ jawab ayah Zul.


“Iya Yah, aku janji.” jawab Zul


tersenyum.


“Mau kencan ya? apa udah pacaran?“


tanya Ibu Zul tersenyum.


“Ibu ngomong apa sih? belum pacaran


kok?“ jawab Kejora malu-malu.


“Hmmmm... masa sih?“ tanya Ibu Zul.


“Beneran bu, cuma main aja ganti


suasana.“ jawab Kejora.


“Beneran, serius.“ tanya Ibu Zul.


“Beneran, serius, Bu.“ jawab Kejora.


“Emang iya, apa Zul?“ tanya Ibu Zul


masih tak percaya'


“Iya bener.“ jawab Zul.


“Beneran, mau kencan?“ tanya Ibu


Zul.


korban sinetron.“ jawab Zul.


“Tckkk...” ucap Ibu Zul kecewa.


“Apaan tckkk, tckkk, kayak gitu?”


tanya Zul.


“Gak ada apa-apa.“ jawab Ibu Zul.


Tanpa disadari hari sudah mulai


sore, jam 04.30 Zul bersiap-siap untuk mengantar Kejora kerumahnya. Wajah yang


tadinya gembira, berubah seketika menjadi gugup, bercampur dengan cemas.


Keputusannya memang sudah bulat, tapi rasa gugup itu tetap saja ada tak dapat


di elakkan.


Saat di rumah Kejora.


“Aku ngomong sama pak Jon ya, kamu


ganti baju aja dulu!“ perintah Zul.


“Iya.“ jawab Kejora yang juga


merasakan rasa yang sama dengan Zul.


“Hai pak.“ sapa Zul.


“Gak usah sok akrab.“ jawab Pak Jon.


“Seperti biasa dia galak, dan gak


suka sama aku.“ ucap Zul dalam hati.


“Gini pak, saya mau minta izin.“


ucap Zul.


“Izin apa?“ tanya pak jon sambil


menguk tehnya.


“Saya mau ajak main kejora,


pulangnya agak malem, boleh gak pak?” tanya Zul tersenyum.


“Uhuk, uhuk, uhuk, ngomong apa kamu


barusan?“ tanya Pak jony pada Zul.


“Saya mau ajak Kejora main,


pulangnya agak malem, saya janji pak, bakal jaga dia pulang selamat, dan saya


gak akan macem-macem.“ jawab Zul ketakutan.


“Kalo sampe ada apa-apa?” tanya Pak


Jon menatap Zul dengan tajam.


“Bapak sendiri yang putusin, saya


mau di apain.“ jawab Zul dengan tegas.


“Oke kalo gitu, boleh jaga janji


kamu ya.“ terang pak Jony.


“Makasih pak.“ jawab Zul tersenyum


Di kamar Kejora.


"Mau kemana Nak?“ tanya Bi


Maryam pada Kejora.


“Mau main sama Zul, aku juga


langsung nginep tempat Zul paling.“ jawab Kejora.


“Kencan.” pikir Bi Maryam.


“Nak, biar Bibi yang pilih bajunya,


pake yang ini.“ ucap Bi Maryam sambil memberikan dress merah tak berlengan,


dengan belahan dada rendah.


“Gak mau ini terlalu terbuka, aku


nanti masuk angin.“ jawab Kejora.


“Cih...“ ucap bi Maryam.


“Kenapa kayak gitu?“ tanya Kejora.

__ADS_1


“Yaudah Nak, yang ini.” ucap Bi


Maryam. memberikan rok pendek, dan sweater lengan panjang, berwarna hitam.


“Gak mau, aku gak mau ,aku mau rok


panjang sama kemeja.“ jawab Kejora.


“Yang itu gak boleh.“ jawab Bi


Maryam.


“Kenapa gak boleh?“ Tanya Kejora


heran.


“Aura Non Rara gak keluar.“ jawab Bi


Maryam.


“Aku gak peduli sama aura, atau


apalah itu, pokoknya aku mau yang serba panjang.“ jawab Kejora.


“Emang mau main kemana, sih Nak?“


tanya Bi Maryam Penasaran.


“Taman.“ jawab Kejora.


“Oh, yaudah deh.“ jawab Bi Maryam.


Kejora memakai Rok panjang berwarna


putih, dan memakai sweater berwarna hitam panjang, sangat cocook untuk Kejora


dia tetap terlihat cantik seperti biasanya. Kejora menghampiri Zul.


“Zul ayok berangkat.“ ajak Kejora.


“Pak Jon aku main ya.“ pamit Kejora


pada pak Jon.


“Iya Nak hati-hati ya, kalo ada


apa-apa telpon bapak ya ,inget loh ya, jangan sampe lupa.” ucap Pak jon.


“Iya pak, tenang aja.“ jawab Kejora.


Mereka akhirnya pergi berjalan


menuju taman, hari hampir gelap, karena Kejora cukup lama tidak seperti


biasanya, Zul juga agak kesal sebenarnya tadi, tapi melihat penampilan Kejora


kekesalan Zul langsung hilang, dan penantiannya terbayar. Mereka berdua pun


berjalan bersama, namun terasa sangat canggung, karena memang keduanya sedang


gugup. Hanya menunduk dan diam, tidak menatap satu sama lain, Zul dan Kejora


sebenarnya, heran kenapa mereka merasa gugup, jantungnya berdetak dengan cepat,


dan telapak tangannya dibasahi, dengan keringat dingin. Sudah sering mereka


jalan berdua seperti ini, seharusnya sudah terbiasa bermain berdua juga sudah


sangat sering di lakukan, seharusnya sudah tak ada lagi rasa gugup pada diri


mereka.


Setelah sampai di taman Zul langsung


memilihkan tempat duduk untuk Kejora, sambil membelikan ia minuman dan makanan


ringan untuk mereka, saat sampai disana hari sudah gelap matahari sudah


sepenuhnya tenggelam, berganti dengan sinar bulan di hiasi jutaan bintang


berkelip-kelip bergantian. Pemandangan terindah di malam hari, di kelilingi


harum bunga bermekaran, dan lampu taman.


“Maaf ya lama.“ ucap Zul.


“Gak papa kok Zul.“ jawab Kejora


canggung.


“Kamu suka langit malam?“ tanya Zul.


“Aku suka kalo cuacanya cerah kayak


gini, semuanya keliatan jelas, bintangnya kelihatan indah.“ jawab Kejora.


“Kamu juga indah Ra, lebih indah


dari pemandangan saat ini.“ ucap Zul dalam hati.


“Aku juga suka langit malam, apa


lagi jam sekarang.“ jawab Zul


“Kenapa emangnya, kalo di jam


sekarang, apa bedanya?“ tanya Kejora.


“Beda dong, aku paling suka di jam


sekarang, sama waktu subuh.“ ucap Zul.


“Hmm... emang apa bedanya?“ tanya


Kejora.


“Ada satu bintang yang paling


terang, dia yang paling unik, dan terus bercahaya sampai terbenam, dia gak


berkelip seperti bintang lainnya“ jawab Zul.


“Hmmmm... bintang Kejora ya?“ jawab


Kejora.


“Iya Ra, kamu bener, aku paling suka


liat bintang Kejora.” ucap Zul.


“Dan aku lebih suka lagi, kalo liat


bintang Kejora, di temenin kamu Ra.“ ucap Zul dalam hati.


“Hmmm... kamu suka sama sesuatu yang


beda ya? padahal dia gak menarik perhatian, karena gak berkelip.“ jawab Kejora.


“Iya dia unik, justru itu daya


tariknya.“ jawab Zul.


“Sama persis Ra, kayak kamu unik,


gak mau mencolok, gak mau menarik perhatian.” ucap Zul dalam hati.


“Aneh.“ tanya kejora heran.


“Itu unik, bukan aneh.“ jawab Zul.


Zul melawan rasa gugup sekuat


tenaga, mencari keberaniannya, membulatkan tekadnya, hatinya terus bergetar,


memaksa lidahnya yang kaku bergerak untuk mengucap sesuatu.


“Ra.“ ucap Zul.


“Apa Zul?“ Tanya Kejora masih


menatap langit berbintang.


“Kamu mau, jadi ibu dari


anak-anakku?” ucap Zul dengan mantap.


“Ra, aku udah putusin untuk ungkapin


perasaanku sekarang, aku udah gak punya tenaga untuk memendam perasaan ini, aku


udah gak tahan untuk bilang ini, apapun jawabanmu, aku udah gak peduli, yang


penting aku harus ngomong sekarang juga, gak bisa di tunda lagi “ ucap Zul


dalam hati.


“Apa aku gak salah denger, dia


ngomong apa barusan, ibu dari anak-anakku apa itu bener berarti dia punya rasa


yang sama seperti aku? aku pastiin dulu.“ pikir Kejora.


“Bisa kamu ulangin lagi Zul?” tanya


Kejora.


Dengan tarikan nafas panjang dan


menghembuskannya dengan keras.


“Ra kamu mungkin kaget dengan


kata-kataku barusan, aku tau kamu denger dengan jelas, kamu gak salah denger,


itu perasaanku sama kamu saat ini, aku gak mau terima jawaban selain iya Ra,


aku gak mau nyerah untuk kamu. Ra apakah kamu bersedia jadi ibu buat


anak-anakku? jadi pasangan hidupku sampai ajal menjemput?“ tanya Zul sambil


mendekatkan wajahnya Ke wajah Kejora.


“Zul,“ tanya Kejora,


“Kamu yakin sama kata-katamu?“


sambung Kejora.


“Aku gak perlu, jawab pertanyaan


retorik Ra.“ jawab Zul

__ADS_1


“Tunggu!“ teriak seseorang


mengagetkan Zul dan Kejora.


__ADS_2