
Zul berkata dengan tatapan yang tulus matanya tidak menyimpan kebohongan, namun dalam hati Kejora
masih belum bisa percaya apa yang telah di katakan oleh Zul, perasaan curiga
masih ada namun sedikit tertutupi oleh tatapan mata Zul. Kejora tidak ingin
salah langkah dan nantinya akan menimbulkan masalah, jika orang lain mungkin itu bukan masalah besar, tapi Zul bukan orang biasa, dia di kagumi banyak
wanita bahkan banyak yang mengejarnya, Kejora tahu itu karena hampir setiap
hari Zul menjadi bahan pembicaraan.
Tidak hanya wanita bahkan para pria ikut membicarakan Zul, bahkan pada saat jam pelajaran masih membahas Zul, jadi tidak heran kalau Kejora mengetahui sedikit tentang Zul,
meski Kejora tidak pernah melihat rupanya, namun Kejora yakin bahwa orang yang
berada di depannya saat inilah yang di maksud oleh teman sekelasnya.
Zul masih menanti jawaban dari Kejora dia sangat yakin, saat ini Kejora akan mengerti apa yang sedang dia maksud, namun Kejora tidak langsung memberi jawaban. Membuat Zul berdebar apakah ini pertama kalinya dia ditolak oleh wanita, meskipun hanya
ajakan menjadi seorang sahabat.
“Gimana Ra kamu mau?“ tanya Zul Tidak sabar.
“Aku gak bisajawab sekarang.“ jawab Kejora dengan tenang.
“Alasannya?“ tanya Zul.
“Aku masih curiga sama kamu.” jawab Kejora santai.
“ Seperti biasa memang, dia cuma bisa pake otaknya, mulutnya juga licin.” pikir Zul.
“Oke gak masalah aku tunggu, tapi aku masih ada satu pertanyaan sama kamu?” tanya Zul Sambil menghela nafas.
“Tanya aja?” jawab Kejora santai.
“Kapan aku bisa dapet jawaban, dan apa aku masih boleh ngobrol sama kamu?” tanya Zul sambil menghela nafasnya.
“Masih gak nyerah.“ pikir Kejora.
“Itu dua pertanyaan tapi kamu gabungin jadi satu.” jawab Kejora.
“Oke, aku revisi jadi dua“ kata Zul yang tersenyum kesal menatap Kejora.
“Seminggu lagi, tapi untuk ngobrol aku gak bisa.” jawab Kejora.
“Eh... kenapa gakbisa?” tanya Zul kaget.
“Sekarang jadi tiga pertanyaan.” jawab Kejora.
“Oke, aku revisilagi.“ jawab Zul dengan kesal.
“Revisi terus.” jawab Kejora.
“Emangnya kenapa? revisi kan bebas mau berapa kali aja.“ jawab Zul.
“Oke, oke, aku gak bisa belajar kalo ngobrol terus.” jawab Kejora dengan menghela nafasnya.
“Lagi-lagi belajar dasar maniak belajar, ya ampun ini gak normal.” pikir Zul.
“Oke, kalo gitua ku ada satu permintaan lagi.” pinta Zul.
“Gak ada revisi tapi.” jawab Kejora yang mulai kesal dicecar oleh Zul.
“Minta nomor Hpmu.“ pinta Zul.
“ 082188306523.” jawab Kejora santai.
“Ini udah sama Whatsapp atau line kan?” tanya Zul.
“Gak punya” jawab Kejora dengan tenang.
“Instagram,facebook, twitter jangan-jangan kamu gak punya?” tanya Zul Kaget
“Gak punya.“ jawab Kejora.
“Ini anak uniknya kelewatan, dia cewek bukan sih, apa dia belum puber, gak bukan
pertanyaanya dia manusia bukan, anak TK aja punya Instagram dia gak punya, apa-apaan
anak ini.” pikir Zul terheran-heran dan masih tak percaya.
“Kenapa bisa gitu?“ tanya Zul yang masih kaget.
“Gak penting, aku gak ada waktu buat yang kayak gitu.” jawab Kejora.
“Jangan-jangan kamu email juga gak punya?” tanya Zul.
“Kalo itu punya.” jawab Kejora.
“Terus guna Hpnya,buat apa coba?“ tanya Zul.“Cuma buat dengerin lagu atau nyimpen ebook, pertamanya aku dibeliin Mamaku sebenernya sih aku gak mau, karena gak butuh juga sih.“ jawab Kejora dengan polos.
“Oke, memang dia unik, beda dari cewek lain, itu gak masalah yang lebih penting dia sedikit
membuka ruang, itu udah cukup.” pikir Zul.
“Dia terlalu banyak tanya dan sok akrab memang mencurigakan.” pikir Kejora.
“Udah ya, aku mau pulang dulu.” ucap Kejora.
“Yaudah kuanter boleh?” tanya Zul.
“Gak usah nanti ada prasangka lain.“ jawab Kejora dengan tatapan curiga.
“Kan tinggal bilang kita temen aja, tenang aku gak akan macem-macem, anggap aja sebagai
bukti kalo aku bener-bener mau jadi sahabatmu.” jawab Zul dengan tegas.
“Bener-bener mencurigakan.“ pikir Kejora.
“Terserah.” jawab Kejora sambil berbalik badan.
__ADS_1
Kejora berjalan pulang kearah rumahnya dengan ditemani Zul yang berada disampingnya. firasat Kejora
benar orang-orang disekelilingnya terus bergantian memandangi mereka berdua, Kejora berpikir pasti mereka ada prasangka yang salah terhadap mereka berdua.
Berjalan diam tanpa kata gugup karena menjadi pusat perhatian, Zul dan Kejora merasakan hal yang sama, Zul berpikir bagaimana caranya lari dari suasana dan situasi ini.
sebenarnya rumah Zul berbeda arah dengan Kejora dan jaraknya cukup jauh, namun Zul
tidak ingin membuang peluang yang sudah terbuka didepan mata, kesempatan yang
sangat langka, dan untuk pertama kalinya Kejora pulang bersama temannya.
"Ayo tunjukin wajah aslimu” ucap Kejora dalam hati.
Kecurigaanya belum hilang masih belum yakin terhadap Zul, sebenarnya tindakannya gegabah, jika memang Zul memiliki
niat buruk terhadapnya.
“Ra rumahmu masih jauh.” tanya Zul membuka percakapan.
“Kenapa? capek? aku gak minta lo tadi.” Kejora bertanya Balik Pada Zul.
“Bukan gitu, kalo aku sih udah biasa, rumahku lebih jauh lagi dari ini, cuma kamu kan cewek,
mana panas, kenapa gak naik bus apa angkot aja gitu?” tanya Zul pada Kejora.
“Gak terlaluberisik.” jawab Kejora.
“Udah sampe, kamu mau pulang apa mau mampir.“ tanya Kejora basa-basi
“Ra ini beneran rumahmu?“ tanya Zul kaget.
“Aku gak mungkin lupa rumahku sendiri.” jawab Kejora.
“Besar banget, ini bukan rumah, ini hotel ya?” tanya Zul heran.
“Rumahlah, aku yang tinggal disini kok.” jawab Kejora.
“Anak ini sederhana banget, aku gak nyangka ternyata dia orang kaya.” ucap Zul dalam hati.
“Non Rara udah pulang?“ tanya Pak Jony. Satpam rumah Kejora yang bekerja sebelum Kejora lahir sampai sekarang, tubuhnya tinggi namun perutnya buncit, maklum faktor dari usia,dan juga ubun-ubunnya sudah tidak memiliki rambut.
“Pak Jon, aku dah bilang jangan panggil Non.“ jawab Kejora Kesal.
“Maaf nak Rara, soalnya ada pacarnya Nak Rara, takut gak sopan.” jawab Pak Jony sambil tersenyum .
“Jangan salah sangka Pak, dia cuma temenku yang gak akrab.“ jawab Kejora meluruskan pemikiran Pak Jony yang salah sangka.
“Hmmm… cuma temen ya Nak, ya udah masuk dulu.” ucap Pak Jony.
“Kamu mau pulang apa mau mampir dulu?” tanya Kejora pada Zul.
“Yaudah kalo kamu maksa, aku mampir dulu.“ jawab Zul tersenyum.
“Udah gila apa anak ini terlalu percaya diri.” pikir Kejora.
“Terserah deh.” kata Kejora malas.
“Saya Pak?“ tanya Zul bingung.
“Emang ada orang lain?” tanya Pak Jony masih melotot.
“Hehehe, gak ada Pak” jawab Zul tersenyum kaku, salah tangkah.
“Kamu bener bukan pacarnya Non Rara?” kata Pak Jony sambil mendekatkan wajahnya pada Zul.
“Cuma temen Pak gak lebih.” jawab Zul Ketakutan.
“Janganmacem-macem ya sama Non Rara, deket sama Non Rara lebih dari satu meter kamu gegar otak, nyentuh Non Rara kamu lumpuh, sampe Non Rara disakitin Hari itu
juga kamu masuk liang kubur.” ucap Pak jony menegaskan.
“Apa-apaan serem.” pikir Zul dalam hati dengan bulu kuduknya yang berdiri.
“Mana mungkin dong Pak, gak mungkin saya kayak gitu, Bapak bisa percaya sama saya.” jawab Zul dengan senyum terpaksa.
“Oke, ini ultimatum pertama dan terakhir buat kamu, cepet ikutin Non Rara! tapi inget
yang saya bilang tadi!” ucap Pak jony.
“Baik Pak.” jawab Zul tersenyum.
Horror pikir Zul sambil menelan ludah, benar-benar menyeramkan satpam pun sampai sangat protektif seperti itu, tidak terbayangkan apalagi orang tua Kejora pasti lebih protektif lagi daripada satpam tadi, dalam hati apakah aku sudah salah langkah
ucap Zul.
“Ra orang tuamu gak marah kan kalo aku main kesini?” tanya Zul pada Kejora.
“Gak.“ jawab Kejora singkat.
“Beneran?” tanyaZul menyelidik.
“Kenapa sihemang?” tanya Kejora.
“Gini, kan aku cowok main ke rumah cewek sendiri nanti, orang tuamu ada pikiran lain.” jawab Zul.
“Hmmm gak tau juga sih, soalnya Mama sama Papaku gak ada di rumah sekarang.” jawab Kejora.
“Oh iya, orang kaya pasti sibuk ya.” ucap Zul tersenyum.
“Iya mungkin.” jawab Kejora.
Saat sampai didepan pintu rumah Kejora dan masuk kerumahnya. Zul tambah heran dan kaget dengan apa yang ada didalam rumah Kejora, Zul tidak terlalu mengerti, tapi dia yakin itu semua barang mahal tidak boleh sembarangan disentuh, luar biasa pikir dia, Kejora bersikap biasa saja, padahal orang tuanya punya kekayaan yang sangat melimpah, aset yang tidak akan habis untuk 10 atau 15 generasi.
“Aku laper mau makan, kamu tunggu dimeja makan! aku mau ganti baju dulu.” ucap Kejora pada Zul yang masih takjub.
“Eh… aku boleh duduk dimeja makan ini.” jawab Zul kaget.
“Kamu gak laper? emang kenapa sih?” tanya Kejora.
“Gini Ra, kan ini barangnya mahal semua nanti kalo kotor atau rusak, gimana aku gak bisa
__ADS_1
ganti, Ayah sama Ibuku cuma orang biasa, ruamhku dijual juga, aku takut gak
bisa ganti.” jawab Zul sambil tersenyum.
“Anak ini kenapa kayak gitu? ah pasti dia pura-pura polos aja.” pikir Kejora.
“Aku yang tanggung jawab kamu tenang aja, udah duduk aja!” perintah Kejora.
“Oke deh kalo gitu.“ jawab Zul dengan wajah gugup.
“Pacarnya Non Rara ya Den?” mengagetkan Zul.
“Iya eh bukan.“ Jawab Zul Kaget.
“Halah jangan malu-malu Den, jujur aja?” tanya pelayan Kejora.
“Beneran bukan cuma temen yang gak akrab, gitu kata Kejora sama Pak Satpam.” Jawab Zul gugup.
“Bi Maryam lagi ngapain? “ tanya Kejora penuh selidik.
“Cuma mengakrabkan diri, dengan calon tuan besar.“ jawab Bi Maryam menggoda Kejora.
Berbadan subur kulit putih umur sekitar 40-an dan masih terlihat cantik.
“Bi jangan pikir macem-macem.” jawab Kejora.
“Macem-macem apanya? kan udah jelas, dia cowok pertama yang Nak Rara ajak main.” goda Bi Maryam
“Bi, jangan Ngomong yang gak perlu.” Jawab Kejora dengan wajah merah tersipu malu.
“Nak Rara pinter deh milih cowok, ganteng, gagah lagi, Bibi kalo masih seumuran sama Nak Rara, dipoligami juga Bibi mau.” goda Bi Maryam sambil mencolek pipi Zul.
“Bibi bisa aja.“ jawab Zul Tersenyum malu.
“Ehem… Bi, aku sama dia itu cuma temen yang gak akrab, aku ingetin sekali lagi.” jawab Kejora dengan tegas.
“Tuh kan ,Bi.“ jawab Zul.
“Bi aku udah Kelaperan.” potong Kejora.
“Tunggu 5 menit lagi Non, yang kayak biasa kan.” ucap Bi Maryam
“Iya dong.” jawab Kejora.
“Tapi kan, ada calon Tuan Besar, mending Nak Rara bantu Bibi masak, biar Tuan besarnya makin lengket, dan harusnya menunya ganti, emang Nak Rara gak malu.” Kata Bi Maryam masih menggoda Kejora.
“Bi.“ jawab Kejora dengan tatapan menyeramkan.
“Oke Nak” jawab Bi Maryam buru-buru.
“Kamu akrab ya sama pelayanmu.” kata Zul membuka pembicaraan.
“Iyalah mereka udah urus aku dari masih balita, emang kenapa?” jawab Kejora.
“Kalo di film-film kan, biasanya gak gitu.” jawab Zul.
“Keracunan film.”jawab Kejora.
“Ya mau gimana lagi hiburanku cuma TV, waktu sama keluarga ibuku nontonnya sinetron terus, aku jadi keracunan juga.” jawab Zul.
“Hmmm…“ jawab Kejora cuek.
“Makanan sudah siap Tempe Bacem, tumis kangkung plus Kerupuk.“ ucap Bi Maryam.
“Eh.. enak, baunya harum.” jawab Zul.
“Mmmmhhh... emang pas deh, sama-sama sederhana.” kata Bi Maryam Sambil mencubit pipi Zul.
“Pas?” tanya Kejora dengan bingung.
“Iya Nak Rara pas, cocok sama pacarnya.” goda Bi Maryam.
“Apaan sih Bi? dia nanti kepedean lo, besar kepala.” Jawab Kejora.
“Bibi ikut makan, ajak Pak Jon Juga.” ajak Kejora.
“ Pak Jon udah makan nak.” jawab Bi Maryam.
“Yaudah Bibi aja kalo gitu.“ ajak Kejora Memaksa.
“Nak Zul pernah denger gak, pepatah kalo cewek sama cowok lagi Pacaran yang ketiga apa?” tanya Bi Maryam.
“Hmmm… setan.“Jawab Zul polos.
“Nah Bibi gak mau jadi setan, jadi kalian berdua aja yang makan.” goda Bi Maryam sambil berlari.
“Bibi.” teriak Kejora.
“Hehehehe.” Zul Tertawa melihat kelakuan mereka berdua.
“Kenapa gak ambil makan?” Tanya Kejora.
“Belum disuruh sama tuan rumah, kata Ayahku gak boleh diambil” jawab Zul Tersenyum.
“Hmm… dia gak nunjukin wajah aslinya, aku harus coba cara lain.” pikir Kejora.
“Yaudah ambil aja.“ tanya Kejora.
Mereka pun makan dan berbicara dengan sedikit leluasa, Kejora nampak berbeda, dia sedikit lebih terbuka sambil menyantap hidangan yang sederhana untuk manusia dengan kelas seperti Kejora, namun mereka sangat menikmati hidangan itu, setelah selesai Zul pun pamit pulang.
“Ra aku Pulang dulu ya, udah sore.” ucap Zul.
“Zul besok kan hari minggu, aku boleh gak main kerumahmu?” tanya Kejora dengan sedikit senyum.
“Boleh kok Ra, besok mau dijemput, apa mau dateng sendiri?” tanya Zul.
“Kan aku gak tau rumahmu.” jawab Kejora.
“Yaudah, akujemput jam 9 ya.” jawab Zul.
Dan anggukan dari Kejora mengakhiri pembicaraan dihari itu, rasa senang terpancar jelas diwajah Zul, setidaknya Kejora tidak sedingin saat seperti dulu, sepertinya apa yang diharapkan oleh Zul akan berjalan mulus, tidak sabar menanti hari esok.
__ADS_1