Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Undangan


__ADS_3

Kejora dan Zul telah memasuki masa-masa akhir sekolahnya, bersiap menghadapi ujian kelulusan mereka. Semenjak rencana pernikahan mereka, kejora tinggal satu rumah dengan kejora, atas permintaan dari orang tua kejora. Karena papa dari kejora, ingin mengajari Zul sedikit demi sedikit untuk menjadi penerusnya. Hal itu membuat kejora dan Zul jarang meluangkan waktu bersama, mereka hanya bersama saat berangkat ke sekolah, jogging dihari minggu ataupun saat makan, hanya di waktu itu mereka dapat bertatap muka.


Kejora pun belajar dengan keras untuk ujian tes masuknya, dia benar-benar fokus untuk belajar sebelum nantinya dia tidak akan punya waktu untuk belajar. Karena hari yang sudah di rencanakan sudah sangat dekat sekitar dua bulan lagi, undangan pun sudah selesai dicetak, sebagai tanda bahwa memang hari yang mereka rencanakan tidak akan lama lagi.


Saat kejora dan Zul pulang Sekolah.


“Ra kita mau kasih undangan ke mereka kapan ya?“ tanya Zul.


“Terserah sih.“ jawab Kejora seakan tak peduli


“Apa besok aja ya?“ ucap Zul.


“Apa gak kecepetan?“ tanya Kejora kaget.


“Nanti kalo udah mulai libur mereka susah di temuin.“ jawab Zul.


“Iya juga sih, tapi kayaknya kecepetan kalo sekarang.“ jawab Kejora.


“Yaudah lah gak papa, besok aku bagiin undangan buat kelasku.“ jawab Zul.


“Terserah kamu aja.“ jawab Kejora.


“Sekalian sama kelasmu juga ya?“ tanya Zul.


“Itu kapan-kapan aja.“ jawab Kejora.


“Gak papa, biar Lena tau kalo kita udah mau nikah, siapa tau dia berenti deket-deket sama aku.“ ucap Zul.


“Tau darimana kamu, kalo dia bakal berenti.“ tanya Kejora penasaran.


“Coba aja dulu, aku udah capek, setiap ketemu dia, deket-deket terus, aku gak mau liat kamu cemberut terus.“ jawab Zul.


“Tapi kayaknya Lena bukan tipe yang mudah nyerah deh.“ tebak Kejora.


“Udahlah aku coba aja dulu, biar aku yang bagi besok kekelasmu oke.“ jawab Zul.


“Yaudah aku ikut aja.“ jawab Kejora.


Mendengar usul dari Zul sebenarnya Kejora senang bukan kepalang, Kejora hanya berusaha bersikap dengan tenang saja di hadapan Zul. Di dalam kamarnya tak henti-hentinya Kejora berguling-guling diranjangnya sambil memeluk boneka kecil gajah berwarna biru, boneka pemberian Zul dikencan pertama mereka, dengan gemas iya memeluk boneka itu sambil tersenyum-senyum sendiri, kadang ia pandangi boneka itu dan mengajak boneka itu berbicara seakan-akan boneka itu dapat mendengar dan berbicara pada Kejora.


Aku gak mau liat kamu cemberut, Kejora benar-benar senang dan merasa tersanjung dengan kata-kata yang ditujukan, Zul pada Kejora. Zul ingin memberitahu kepada semua orang bahwa Zul sudah milik Kejora, begitu pula sebaliknya, dia tidak sabar menunggu hari esok saat Zul memberikan Undangan itu kepada teman-temannya.


Keesokan harinya Kejora berjalan menuju Sekolahnya bersama Zul, dia bertingkah senatural mungkin menyembunyikan kegirangannya, menyembunyikan rasa tidak sabarnya pada Zul.


Pada saat jam istirahat pertama.


“Ben, Mad, Fer sini aku punya kejutan buat kalian.“ teriak Zul memanggil temannya.


“Apaan sih? awas kalo kita gak terkejut.“ tanya Rahmad.


“Aku jamin seratus persen kalian terkejut.“ jawab Zul tersenyum percaya diri.


“Yaudah cepet, apa Kejutannya gak usah kelamaan deh?“ ucap Rahmad kesal.


“Nih baca!“ ucap Zul memberikan 3 lembar buku undangan pada ketiga temannya dengan tersenyum bangga.


Ketiga temannya membaca buku undangan itu dengan serius, namun bukan ekspresi kaget yang mereka tunjukkan pada Zul, melainkan ekspresi lain, seperti kesal dan marah.


“Kurang ajar kamu Zul.“ ucap Beny sambil memukul punggung Zul.


“Iya bener-bener gak sopan.“ ucap Rahmad sambil menggandeng leher Zul dengan keras.


“Eh, kok malah marah.“ tanya Zul heran.


“Kita aja belum dapet pacar kamu udah mau nikah, mana ada kawan yang kayak gitu.“ jawab Ferdy menatap Zul dengan tajam.


“Ya itu kan salah kalian, aku sama rara udah bantuin lo.“ jawab Zul membela diri.


"Gak cuma Rara yang bantuin kami.“ jawab Rahmad kesal.


“Bukannya seneng, temennya mau nikah kok kalian malah marah.“ jawab Zul.


“Kamu yang seneng, kami hampa Zul, kosong.“ jawab Ferdy.


“Ya gimana lagi kan, aku gak bisa ngelawan takdir tuhan.“ ucap Zul mencari alasan.


“Pinter kamu nyari alasan ya Zul.“ ucap Beny.


“Ya udah kalian hari ini ku traktir deh, dikantin, terserah mau makan apa aja.“ ucap Zul berusaha menenangkan temannya.


“Hmmm... mau nyogok ya gak mempan.“ jawab Beny.


“Iya gak mempan.“ ucap Rahmad.


“Padahal aku udah berusaha bantuin kalian, nanti kan kalo kalian dateng ke acaraku siapa tau nemu sama yang senasib sama kalian “ jawab Zul.


“Kejora kan gak terlalu akrab sama cewek lain.“ ucap ferdy.

__ADS_1


“Tapi, kamu tau kan Kejora itu Papanya kaya banyak kenalan bisnis, siapa tau mereka bawa anak mereka yang single.“ jawab Zul menggoda temannya.


“Hmm... gitu ya bener juga kata Zul, harusnya kita seneng.“ jawab Beny tersenyum.


“Iya bener aku setuju.“ jawab Ferdy, bersamangat.


“Yaudah deh, mau gimana lagi.“ jawab Rahmad.


“Jadi tolong bantuin aku bagiin undangannya ya“ pinta Zul sambil.tersenyum.


“Hmmm... jadi ada maksudnya.?“ tanya Rahmad.


“Jangan curiga dulu dong, kalian bagiin ke yang perempuan aja, bagian laki sama Lena urusanku.“ jawab Zul.


“Zul aku saranin kamu jangan kasih tau Lena dulu sekarang, anak itu bahaya.“ saran Beny.


“Aku udah capek kejora cemberut terus kalo lena deket-deket aku terus, siapa tau dia nyerah kalo tau, aku sama kejora mau nikah.“ jawab Zul.


“Tapi kata beny bener Zul lebih baik kamu malah gak usah undang dia, aku khawatir dia ngelakuin hal gila yang gak bisa kita bayangin.“ ucap Rahmad yang khawatir.


“Kenapa kamu bisa mikir kesana mad?“ tanya Zul heran.


“Cuma nebak aja, aku harap sih tebakanku gak bener.“ jawab Rahmad.


“kan bisa aja salah.“ ucap Zul.


“Zul firasatku juga ngomong kayak apa yang rahmad tebak“ ucap Ferdy nerusaha meyakinkan Zul.


“Ah kalian itu mikir negatif aja, aku tetep mau kasih undangan ke dia sekarang.“ jawab Zul yakin dan percaya diri.


“Yaudah kami ikut.“ ucap Beny dengan wajah serius.


“Mau ngapain?“ tanya Zul heran.


“Ya jaga-jaga aja siapa tau ada hal gila yang di lakuin sama Lena.“ jawab Beny dengan serius.


“Serius, cuma itu.“ tanya Zul curiga.


“Kamu udah tau kan Zul.“ jawab Beny.


“Yaudah mau deketin cewek lagi kan, gak usah cari-cari alasan tinggal ngomong aja.“ ucap Zul kesal.


“Jadi kapan mau kekelas Rara?“ tanya Rahmad tak sabar.


“Nanti istirahat kedua, sekarang kita bagiin buat yang di kelas kita dulu!“ jawab Zul.


Zul yang tak datang di istirahat pertama membuat kejora sedikit kesal namun, Kejora tetap berpikir positif pada Zul, mungkin Zul akan datang di istirahat ke dua, mungkin dia lupa atau sedang sibuk membagikan undangan dikelasnya sendiri. Kejora bersabar menunggu hingga istirahat kedua,


Laki-laki yang ditunggu Kejora akhirnya datang menghampirinya bersama teman-temannya. Membuat Kejora tersenyum lega, sekaligus gugup melihat reaksi teman-temannya terutama Lena.


“Maaf ya, tadi istirahat pertama gak kesini.“ ucap Zul.


“Hmm... gak papa kok.“ jawab Kejora dengan senyum mengembang diwajahnya.


“Zul kamu minggu ini sibuk gak, kita main yuk.“ucap Lena sambil memegang tangan Zul secara tiba-tiba.


“Maaf Lena aku sibuk.“ ucap Zul dengan refleks melepaskan tangannya dari Lena.


“Sibuk ngapain sih?“ tanya Lena sambil berusaha mendekati Zul kembali.


“ Nih kamu baca!“ jawab Zul sambil memberikan sebuah amplop pada Lena.


“Ini apa Zul, surat cinta, ngomong langsung aja gak usah pake surat-suratan.“ ucap Lena


“Kok dia kasih amplop ke Lena, apa-apaan sih Zul.“ pikir kejora.


“Baca aja dulu!“ jawab Zul sambil mendekati Kejora, dan melingkarkan tangannya dipinggang kejora.


“Kamu apaan sih Zul? diliatin orang sekelas nih.“ ucap kejora sambil berusaha melepaskan tangan Zul dari pinggangnya.


“Kamu segitunya amat mau prank aku Zul, sampe buat undangan pernikahan kayak gini.“ jawab Lena yang tak percaya.


“Itu beneran, temen,temen sebarin ke yang lain!“ perintah Zul.


“Oke bos.“ jawab Mereka serempak dan langsung membagikan surat undangan pernikahan kejora dan Zul.


“Kamu masih bilang ini prank... ngomong dong my lady.“ tanya Zul sambil semakin erat memegang pinggang Kejora dan menengok kearah Kejora, mendekatkan wajahnya pada wajah Kejora.


“Iya aku sama Zul mau nikah, kamu jangan godain Zul lagi.“ ucap Kejora spontan, karena kaget, akibat Zul memegang pinggangnya dengan keras.


“Aku gak percaya, mana mungkin kamu pilih Rara daripada aku, levelnya aja jauh bedanya.“ jawab Lena yang masih tidak percaya.


“Kata-kata kamu gak sepenuhnya salah sih.“ jawab Zul sambil terus menatap Kejora yang tertunduk malu.


“maksud Zul apa ngomong kayak gitu ? ucap kejora dalam hati yang membuat perasaannya tak karuan dengan jawaban Zul.


“Bener, berarti ini undangan palsu.“ jawab Lena tersenyum lebar menatap Kejora seakan dialah pemenangnya.

__ADS_1


“Bukan, bukan len, yang kataku bener itu soal level kamu sama Rara, level kamu jauh di bawah Rara perbandingannya itu kayak jarak Matahari ke Neptunus jauh sampe gak keliatan, kalo kamu gak percaya ya terserah kamu, yang penting aku udah undang kamu, mau kamu dateng atau gak terserah kamu, aku juga tetep nikah sama kejora walaupun kamu gak dateng juga.“ jawab Zul.


“Hmm... gak masalah toh kalian nikahnya masih lama, aku masih punya waktu buat kamu berubah pikiran Zul, walaupun kamu sama kejora nikah pun aku gak peduli, aku gak bakal nyerah, mau jadi istrimu yang kedua pun aku gak masalah.“ jawab Lena.


“Itu gak bisa Len, itu gak mungkin, dalem mimpipun aku gak sudi nikahin wanita lain selain Rara.“ jawab Zul menatap kejora yang ketakutan.


“Zul.“ ucap kejora.


“Gak papa, percaya sama aku my lady.“ ucap Zul.


“Kenapa memang Zul? aku juga berhak dong bahagia, aku juga punya hak buat milih.“ ucap lena.


“Aku sama Rara juga berhak bahagia Len, dan aku juga punya hak untuk menolak, aku saranin kamu berenti sekarang daripada kamu buang waktumu buat usahamu yang sia-sia, pasti ada yang lebih dari aku di luar sana.“ ucap Zul.


“Itu gak bisa karena aku harus dapetin apa yang aku mau, dengan cara apapun, kalo ada yang mau ngerebut itu dari aku, aku tinggal lenyapin dia.“ jawab Lena.


“Coba aja Len kalo kamu bisa, Rara seratus kali lebih kuat dari kamu, dan dia milyaran kali lebih cerdas dari kamu, apalagi ada aku, kamu gak akan bisa berbuat apa-apa sama Kejora.“ ucap Zul.


“Terserah kamu Zul, tapi aku gak akan nyerah.“ jawab Lena dengan mata berkaca-kaca pergi meninggalkan kelasnya.


“Zul kamu apa gak kelewatan?“ tanya Kejora.


“Gak papa kamu tenang aja, lebih baik begini, semoga dia sadar.“ jawab Zul berusaha meyakinkan Kejora.


“Nanti dia ngelakuin hal gila lagi sama kamu.“ ucap Kejora khawatir.


“Kamu khawatir?“ tanya Zul.


“Ya iyalah.“ jawab Kejora malu-malu.


“Eh Rara, selamat ya, kami nanti sekelas pasti dateng.“ ucap salah satu teman sekelasnya.


“Kalo emang gak bisa, gak dateng juga gak papa kok, yang penting doanya aja.“ jawab Kejora tersenyum.


“Eh, ya gak bisa dong, harus dateng, siapa tau aku dapet jodoh disana.“ balas temannya.


“Tuh kan, ada temen-temennya Zul.“ ucap Kejora menunjuk ketiga teman Zul yang sedang membagikan undangan.


“Yang agak kurus putih itu boleh sih, keliatannya pendiam tapi keren.“ jawab Teman kejora.


“Fer.“ panggil Zul.


“Kenapa Zul?” teriak Ferdy yang sedang sibuk membagikan undangan.


“Sini bentar!“ perintah Zul.


“Eh Zul, kok kamu panggil?“ tanya temannya Kejora.


“Semangat ya, aku mau makan sama Rara kekantin “ ucap Zul tersenyum sambil menarik tangan Kejora.


“Maksudnya apa Zul?“ tanya Ferdy bingung.


“Improvisasi sendiri.“ ucap Zul tersenyum sambil pergi meninggalkan kelas kejora.


“Kamu mau makan apa?“ tanya Zul pada kejora.


“Terserah kamu aja.“ jawab Kejora dengan suara yang kecil, dan tak berani menatap wajah Zul.


“ Aku gak denger.“ jawab Zul.


“Terserah kamu aja.“ jawab Kejora.


“Kamu kenapa bukannya seneng malah kayak gitu?“ tanya Zul heran.


“Gak papa.“ jawab Kejora.


“Kenapa dong kasih tau aku.“ tanya Zul.


“Kamu jangan pegang pinggang aku lagi kayak tadi“ jawab Kejora menatap Zul kesal.


“Kenapa?“ tanya Zul.


“Gak enak diliat orang kan belum resmi.“ jawab Kejora membuang wajahnya.


“Eh kan bentar lagi resmi, udah sebar undangan juga gak papa dong.“ jawab Zul.


“Pokoknya tunggu resmi dulu!“ perintah Kejora.


“Yes my sweeet lady.“ jawab Zul


“Beneran lo.“ tanya Kejora.


“Beneran, sekarang senyum dulu dong nanti dikira orang kita marahan.“ jawab Zul


“Hmmm...“ ucap Kejora sambil tersenyum menatap kearah Zul.


Kejora sedikit menyembunyikan ketakutannya pada ucapan Lena, menyembunyikan rasa khawatirnya pada Zul. Dari perkataannya Lena benar-benar serius. Dia selalu memaksakan senyumnya pada saat bersama Zul dikantin, berusaha tersenyum senatural mungkin. Berdoa semoga semua tanpa hambatan dan Lena tersadar dan berhenti mengganggu Zul.

__ADS_1


__ADS_2