Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 11 : Pecah


__ADS_3

Libur panjang di akhir semester


telah di mulai, untuk menyegarkan otak yang selama beberapa bulan terus-terusan


bekerja sampai batas maksimal, tidak ada tugas, tidak ada latihan, hari yang


dimanfaatkan untuk bermalas-malasan atau pergi berlibur.


Zul bermalas-malasan di tempat


tidurnya, meski ada Kejora di rumahnya yang baru saja selesai melakukan Jogging


bersama. Tapi badannya merasa enggan di gerakkan hanya tidur rebahan, sambil


menatap langit-langit kamarnya dan berfantasi.


Kejora yang berada di rumah Zul


seperti biasa bersama Ibu Zul, yang sangat lengket dengan Kejora memasak


sarapan bersama, dan saling mengobrol tentang problema wanita, atau


membicarakan sinetron TV yang mereka tonton bersama, dengan kadang di ikuti


candaan.


Zul masih memikirkan kejadian


kemarin kenapa dia merasa marah saat Kejora tidak bilang bahwa dia tidak


cemburu saat Zul di dekati Lena, apa mungkin Kejora berbohong? namun dari


reaksi kejora saat membahas Lena memang emosinya sangat terlihat jelas bahwa


Kejora sangat membenci Lena, entah apa yang terjadi pada mereka berdua Zul


tidak peduli dengan itu, hanya Kenapa Kejora tidak cemburu padanya yang


membuatnya bermalas malasan seperti kehilangan tenaga.


“Zul kamu ngapain sih di kamar mandi


sana sarapan, jangan males-malesan karena libur.“ teriak Ibu zul.


"Iya tunggu bentar.“ jawab Zul


malas sambil melangkah ke kamar mandi.


Setelah Zul selesai mandi dia


langsung menuju ke meja makan, dengan raut lemas tak bersemangat. melangkah


malas ke meja makan yang sudah di tunggu oleh orang tua Zul dan juga Kejora.


“Lemes amat, kenapa sih Zul?“ tanya


Ibu Zul heran.


“Gak tau kecapekan kali otaknya.“


jawab Zul lemas.


“Apa ada masalah, kamu sama Rara?“


tanya ayah Zul.


“Gak ada kok Yah.“ jawab Kejora.


“Apa kamu gak naik kelas?“ tanya Ibu


Zul.


“Jahat tau gak Bu.“ jawab Zul


“Ya terus kenapa?“ tanya Ibu Zul.


“Kecapekan kali kebanyakan belajar.“


jawab Zul.


“Itu Rara belajar terus gak


kecapean,kamu jangan alesan deh?“ tanya Ibu Zul.


“Bu, kemampuan otak Rara beda sama


aku“ jawab Zul.


“Bener apa Ra? kalian gak ada


masalah?“ tanya Ibu Zul.


“Gak ada kok Bu, masih depresi


paling dia gak masuk sepuluh besar.“ jawab kejora dengan polos.


“Maafin aku, Yah, Bu, kalian nyesel


kan punya anak bodoh kayak aku, udah di bantuin Kejora aja masih gak masuk


peringkat sepuluh besar, masih kalah sama Rahmad yang gak belajar, maaf ya.“


jawab Zul dengan tertunduk seperti depresi.


“Udah Zul, itu cuma nilai, teori dan


aksi itu beda gak usah khawatir, Ibumu juga dulu kayak gitu“ ucap ayah Zul


berusaha menyemangati Zul.


“Ayah kok ember.“ Kata Ibu Zul


dengan Kesal.


“Oh, jadi aku bodoh nurun dari ibu


ya, yah?“ jawab Zul sedikit bersemangat dan penasaran.


“Gak sopan tau gak, kamu sama ibu


sendiri.“ jawab Ibu Zul.


“Udah, udah makan kok teriak-teriak.“


jawab Ayah Zul.


“Tckkk.“ suara dari mulut ibu Zul.


“Gitu aja ngambek sih Bu, kan Ayah


tetep cinta sampe sekarang.“ jawab ayah Zul dengan santai.


“Ah, ayah pag- pagi udah ngegombal


aja.” ucap Ibu Zul yang tersipu malu.


“Sadar umur, kalian berdua bukan


anak SMA lagi tau gak.“ jawab Zul kesal.


“Eh sirik ya, gak punya pacar sirik


ya, gak pernah pacaran, gak tau ya indahnya jatuh cinta, kasiannya anak Ibu


ini.“ ejek Ibu Zul.


“Cuma belum nemu yang cocok aja, kan


belum waktunya.“ jawab Zul.


“Eh... Rara cocok tuh, kamunya aja


yang lemah, gak berani ngomong ya Ra.” ucap Ibu Zul sambil menengok kearah


Kejora.


“Uhuk... uhuk...“ kejora tersedak


mendengar perkataan Ibu Zul.


“Tuh, jangan ngomong terus, Kejora


sampe keselek, kalian berisik sih.“ jawab ayah Zul.


“Ra maafin ibu ya.“ Ucap Ibu Zul


memelas


“Iya bu, aku gak papa kok.“ jawab


Kejora malu malu.


"Hmmm...“ jawab Ibu Zul dengan


senyum aneh menatap Kejora.


“Kenapa Bu?“ tanya Kejora gugup.


“Gak papa kok Ra, lanjut makan aja.“


jawab Ibu Zul tersenyum


Setelah makan Kejora pamit untuk


pulang ke rumahnya sebentar, dan akan kembali pada malam hari. dan seperti


biasanya diantar oleh Zul, dan sesampainya kembali dirumah Zul langsung menuju


kamarnya, untuk bermalas-malasan namun ia di kagetkan dengan kehadiran seseorang.


“Eh, Ben ngapain di Kamarku?“ tanya

__ADS_1


Zul.


“Aku mau ngomong tapi gak bisa


disini.” jawab Beny.


“Terus mau dimana? emang kenapa kalo


di sini?“ tanya Zul.


“Gak papa, bisa kalo di taman?“


tanya beny balik.


“Yaudah.“ jawab Zul dengan heran.


Mereka pun berjalan ke taman namun


ada yang tak lazim pada beny, dia sangat serius dan tak banyak bicara. Apa yang


mau di omongin seserius itu sampe beny keliatan diem aja, gak biasanya dia


kayak gini pikir Zul.


“Zul aku gak mau basa-basi aku mau


langsung ke poinnya aja.“ terang beny.


“Santai dulu Ben, kamu tu mau


ngomong tentang apa.kok serius banget apa aku ada salah sama kamu?“ tanya Zul


heran


“Iya Zul, kesalahan kamu, deket sama


Kejora.” jawab Beny dengan tatapan tajam


“Kenapa gitu aku heran sama kamu


Ben? kamu tuh kenapa?“ tanya Zul dengan heran.


“Aku suka Kejora Zul, kalo kamu


masih anggep aku temenmu, aku harap kamu mulai jaga jarak sama Kejora!“ terang


Beny


“Ya gak bisa gitu dong Ben, kamu


juga harus omongin ini sama Kejora, gak bisa sepihak kayak gini.“ jawab Zul.


“Zul, kamu suka dia Juga?“ tanya


Beny dengan tatapan tajam.


Zul hanya diam tak menjawab


“Oke, aku udah tau jawabannya.“


jawab Beny


“Kenapa harus Kejora?“ tanya Zul.


“Hmmpph... gak tau juga, aku gak tau


alasannya, tapi aku mau dia udah itu aja.“ jawab Beny.


“Jadi kamu mau aku gimana?“ tanya


Zul dengan tangan mengepal.


“Bantu aku jadian sama Kejora, apa


kamu bisa?“ tanya Beny dengan tatapan tajam


Zul pun lagi lagi diam membisu


matanya memerah dan tangannya mengepal.


“Aku udah tau jawabannya, aku udah


tau kamu pasti sebenarnya jatuh cinta sama dia, tapi kamu gak sadar, aku juga


suka sama Kejora Zul kamu mau sama cewek lain aku bakal mundur dengan teratur,


tapi beda kalo itu Kejora, aku rasa kamu bisa ngerti maksudku, aku harap! kamu


bisa turutin apa yang ku bilang tadi.“ tegas Beny.


Zul pun lagi lagi hanya diam.


“Oke, aku rasa kita udah gak bisa


lanjutin pembicaraan ini, pembicaraan kita udah selesai sampe disini, aku harap


persahabatan kita juga gak cuma sampe disini aja, bye.“ ucap Beny sambil


“Lakuin aja sesukamu Ben.“ jawab Zul


dengan wajah menahan amarah dan berbalik badan dengan arah yang berbeda dari


Beny,


Wajah Zul terasa panas, dadanya pun


terasa panas, matanya memerah, dengan tatapan ingin menerkam, tidak disangka


beny ternyata berani berkata seperti itu pada Zul, sahabatnya sendiri yang


sudah tahu sejak awal, namun ternyata dia menghunuskan pisau belati Kearah Zul


dengan mudahnya berkata mengakhiri persahabatan.


Zul merasa selalu diam jika Beny


mendekati wanita lain, tapi saat dia mendengar bahwa beny menginginkan Kejora


Zul merasa amarahnya hampir tak terbendung,baru itu dia mengepalkan tangan pada


Beny, sahabatnya yang sangat ia banggakan selama ini yang sangat ia cintai,


berkata ingin mengakhiri persahabatan yang terjalin begitu lama dengan mudah.


Bimbang Zul memilih pilihan yang


mana, dalam hati dia tidak rela Kejora bersama pria lain, namun sisi hati lain


Zul tidak menginginkan persahabatannya berakhir begitu saja, pilihan yang


begitu berat dengan resiko yang akan berdampak besar pada hidupnya, tidak salah


memang jika Beny menginginkan Kejora. Kejora memang cantik dan juga pintar,


menjadi idaman setiap pria itu adalah hal wajar.


“Zul Kamu di dalem?“ tanya Kejora


sambil mengetuk pintu


“Iya kenapa?“ sahut Zul.


“Aku boleh masuk?“ tanya Kejora


“Masuk aja.“ Ucap Zul.


“Zul.“ ucap Kejora.


“Kenapa?“ tanya Zul sambil melihat


kearah jendela.


“Kamu kenapa seharian ini kayaknya


lemes?" banget? terus kamu diem aja, apa aku ada salah?“ tanya Kejora.


“Uya Ra kamu salah kamu udah buat


aku tertarik sama kamu, kamu salah udah hadir di kehidupanku, kamu salah udah


buat aku jatuh cinta sama Kamu.“ ucap Zul dalam hati.


“Gak juga, aku emang lagi


males-malesan aja, kamu gak ada sangkut pautnya.“ jawab Zul. masih menatao


Kearah luar jendela


“Zul kamu bisa omongin kalo misal


aku gak sadar buat salah ke kamu, aku ngerasa bersalah kalo kamu kayak gini


karena aku, kamu bisa bilang kok kalo aku emang salah, aku gak akan marah kamu


bilang aja ke aku.” jelas Kejora.


“kamu gak ada hubungannya Ra.“ jawab


Zul sambil teringat dengan perkataan Beny mengepalkan tangannya, badannya


terasa panas, dadanya ingin meledak.


“Hmm. yaudah kalo kamu gak bisa


bilang sekarang, mungkin emang kesalahanku terlalu fatal, kalo kamu udah mau


ngomong, bisa temuin aku kapan aja.“ jawab Kejora. sambil berdiri pergi


meninggalkan Zul sendirian di kamarnya.


“Zul mungkin butuh waktu buat

__ADS_1


sendiri“ itu yang di pikir kan Kejora.


“Maaf Ra, aku gak bisa omongin ini,


aku tau apa yang bakal kamu lakuin kalo aku omongin masalah ini, aku gak


sanggup kalo memang itu bener-bener terjadi, walaupun aku gak tau apa kamu


punya rasa yang sama denganku, setidaknya aku harus buat pilihan yang gak akan


kusesali di seumur hidupku nantinya, sekali lagi maaf Ra udah buat kamu merasa


bersalah, jujur aku gak tega, aku pengen nangis, denger kamu ngomong kayak


gitu, tapi menurutku untuk saat ini, lebih baik aku sembunyiin dulu masalah


ini.“ ucap Zul dalam hati


Pilihan berat yang harus dipilih


oleh Zul, memperjuangkan cintanya atau merelakannya untuk sahabatnya, keduanya


sangat penting, dan sangat berharga bagi Zul, namun keadaaan mengharuskan untuk


memilih salah satu dari pilihan berat itu, masalah yang sangat serius ini


apakah harus mengorbankan hatinya yang hancur, dan rasa sakit yang ia bayangkan


jika benar Zul harus merelakan Cintanya untuk sahabatnya, atau dia harus


mengorbankan persahabatan yang di penuhi dengan kenangan itu berakhir begitu


saja.


Dia menyadari bahwa dirinya


plin-plan dan selalu ambigu, maka dari itu situasi ini dapat tercipta, tapi Zul


juga tak menyangka bahwa perasan yang ia rasakan adalah jatuh cinta, atau


mungkin memang dia terlalu bodoh tidak menyadari bahwa ketertarikan yang ia


punya saat itu adalah ketertarikan sebagai lawan jenis, rasa ingin memiliki,


kenapa harus selama itu untuk bisa paham bahwa itu cinta? kenapa harus


seterlambat ini.


“Zul“ ucap Kejora mengetuk pintu.


“ iya Kenapa Ra?“ tanya Zul


“Makan malem.“ jawab Kejora


Zul tidak sadar memang bahwa hari


telah malam, dia menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir, namun tidak di


sangka sudah selama itu dia memikirkan hal itu.


“Iya Ra, tunggu aja di bawah.“ jawab


Zul.


“Iya jangan lama-lama, ya aku udah


laper.“ ucap Kejora dan pergi meninggalkan Zul.


Setelah beberapa saat Zul pun datang


ke meja makan.


“Zul kamu kenapa sih seharian kok


le.mes? gak kayak biasanya?“ tanya Ibu Zul


“Mikirin masa depan“ jawab Zul


tersenyum.


“Eh kenapa di pikirin? ini masa


depannya disini.“ ucap Ibu Zul menunjuk Kejora.


“Emang dia mau sama orang bodoh


kayak aku, hahaha...” jawab Zul tertawa.


“Mau gak Ra?“ tanya Ibu Zul.


Kejora bingung harus menjawab apa,


sebenarnya ingin mengatakan iya bu saya mau, tapi hatinya belum sanggup untuk


mengungkapkan perasaan itu.


“Hmmm... aku pikir-pikir dulu deh,


aku belum mikir sampe kesana soalnya,aku mau wujudin cita-citaku dulu.“ jawab


Kejora berusaha menjawab dengan tenang.


“Eh, emang cita-citamu apa?“ tanya


Ibu Zul


“Gak ah malu, ntar di ketawain.“


jawab Kejora


“Dia mau jadi astronot Bu” sahut


Zul.


“Eh keren itu, kok malu.“ tanya Ayah


Zul.


“Soalnya jarang, orang pengen jadi


astronot, aku takut dianggap aneh.“ jawab Kejora.


“Gak Ra, itu bukan aneh, tapi unik


emang dia berbeda dari kebanyakan orang, tapi kamu pasti punya tujuan kenapa


kamu pilih itu ,unik sama aneh itu bedanya tipis“ ucap Ayah Zul.


“Tuh Zul kurang apa coba Rara? udah


cantik, pinter, cita-citanya tinggi.“ tanya Ibu Zul.


“Bu, cinta gak bisa ditebak.“ jawab


Zul.


“uh... sok puitis kamu.“ jawab Ibu


Zul.


“Ya terserah Ibu deh, aku mau


makan.“ jawab Zul


Setelah makan Zul dengan cepat masuk


ke kamarnya kembali, sebenarnya dia masih bimbang, masih bingung untuk memilih,


namun ia menyembunyikannya agar Kejora tidak terlalu curiga, dan lagi Ibu Zul


terlalu peka dengan tingkah lakunya, sehingga dapat menebak jika memang ada


masalah yang terjadi pada Zul. Dan pada akhirnya Zul membuat pilihan dengan


mantap, dan yakin walau dia tahu hasilnya akan buruk, tapi dia tidak dapat


menebak pasti, seburuk apa hasil tersebut.


Suara handphone.


“Kenapa?“ tanya Beny.


“Aku udah buat pilihan Ben.“ jawab


Zul.


“ terus apa pilihanmu “ tanya Beny


“Maaf Ben.“ jawab Zul.


“Aku udah duga Zul, kalo emang itu


yang kamu mau itu hak kamu, tapi Zul aku ingetin ke kamu aku serius gak


main-main.” terang Beny.


“Aku tau Ben, kamu lagi serius dan


aku pilih pilihan Ketiga Ben, kamu tetep jadi sahabatku dan aku akan tetep


deket sama Rara.” jawab Zul


“Aku rasa aku gak ngomong tentang


itu Zul, oke, aku anggap kamu jawab untuk mengakhiri persahabatan kita, bye.“


ucap Beny sambil menutup panggilan


“Maaf Ben kalian berdua sama-sama


penting buat aku.“ ucap Zul dalam hati

__ADS_1


__ADS_2