
Libur panjang di akhir semester
telah di mulai, untuk menyegarkan otak yang selama beberapa bulan terus-terusan
bekerja sampai batas maksimal, tidak ada tugas, tidak ada latihan, hari yang
dimanfaatkan untuk bermalas-malasan atau pergi berlibur.
Zul bermalas-malasan di tempat
tidurnya, meski ada Kejora di rumahnya yang baru saja selesai melakukan Jogging
bersama. Tapi badannya merasa enggan di gerakkan hanya tidur rebahan, sambil
menatap langit-langit kamarnya dan berfantasi.
Kejora yang berada di rumah Zul
seperti biasa bersama Ibu Zul, yang sangat lengket dengan Kejora memasak
sarapan bersama, dan saling mengobrol tentang problema wanita, atau
membicarakan sinetron TV yang mereka tonton bersama, dengan kadang di ikuti
candaan.
Zul masih memikirkan kejadian
kemarin kenapa dia merasa marah saat Kejora tidak bilang bahwa dia tidak
cemburu saat Zul di dekati Lena, apa mungkin Kejora berbohong? namun dari
reaksi kejora saat membahas Lena memang emosinya sangat terlihat jelas bahwa
Kejora sangat membenci Lena, entah apa yang terjadi pada mereka berdua Zul
tidak peduli dengan itu, hanya Kenapa Kejora tidak cemburu padanya yang
membuatnya bermalas malasan seperti kehilangan tenaga.
“Zul kamu ngapain sih di kamar mandi
sana sarapan, jangan males-malesan karena libur.“ teriak Ibu zul.
"Iya tunggu bentar.“ jawab Zul
malas sambil melangkah ke kamar mandi.
Setelah Zul selesai mandi dia
langsung menuju ke meja makan, dengan raut lemas tak bersemangat. melangkah
malas ke meja makan yang sudah di tunggu oleh orang tua Zul dan juga Kejora.
“Lemes amat, kenapa sih Zul?“ tanya
Ibu Zul heran.
“Gak tau kecapekan kali otaknya.“
jawab Zul lemas.
“Apa ada masalah, kamu sama Rara?“
tanya ayah Zul.
“Gak ada kok Yah.“ jawab Kejora.
“Apa kamu gak naik kelas?“ tanya Ibu
Zul.
“Jahat tau gak Bu.“ jawab Zul
“Ya terus kenapa?“ tanya Ibu Zul.
“Kecapekan kali kebanyakan belajar.“
jawab Zul.
“Itu Rara belajar terus gak
kecapean,kamu jangan alesan deh?“ tanya Ibu Zul.
“Bu, kemampuan otak Rara beda sama
aku“ jawab Zul.
“Bener apa Ra? kalian gak ada
masalah?“ tanya Ibu Zul.
“Gak ada kok Bu, masih depresi
paling dia gak masuk sepuluh besar.“ jawab kejora dengan polos.
“Maafin aku, Yah, Bu, kalian nyesel
kan punya anak bodoh kayak aku, udah di bantuin Kejora aja masih gak masuk
peringkat sepuluh besar, masih kalah sama Rahmad yang gak belajar, maaf ya.“
jawab Zul dengan tertunduk seperti depresi.
“Udah Zul, itu cuma nilai, teori dan
aksi itu beda gak usah khawatir, Ibumu juga dulu kayak gitu“ ucap ayah Zul
berusaha menyemangati Zul.
“Ayah kok ember.“ Kata Ibu Zul
dengan Kesal.
“Oh, jadi aku bodoh nurun dari ibu
ya, yah?“ jawab Zul sedikit bersemangat dan penasaran.
“Gak sopan tau gak, kamu sama ibu
sendiri.“ jawab Ibu Zul.
“Udah, udah makan kok teriak-teriak.“
jawab Ayah Zul.
“Tckkk.“ suara dari mulut ibu Zul.
“Gitu aja ngambek sih Bu, kan Ayah
tetep cinta sampe sekarang.“ jawab ayah Zul dengan santai.
“Ah, ayah pag- pagi udah ngegombal
aja.” ucap Ibu Zul yang tersipu malu.
“Sadar umur, kalian berdua bukan
anak SMA lagi tau gak.“ jawab Zul kesal.
“Eh sirik ya, gak punya pacar sirik
ya, gak pernah pacaran, gak tau ya indahnya jatuh cinta, kasiannya anak Ibu
ini.“ ejek Ibu Zul.
“Cuma belum nemu yang cocok aja, kan
belum waktunya.“ jawab Zul.
“Eh... Rara cocok tuh, kamunya aja
yang lemah, gak berani ngomong ya Ra.” ucap Ibu Zul sambil menengok kearah
Kejora.
“Uhuk... uhuk...“ kejora tersedak
mendengar perkataan Ibu Zul.
“Tuh, jangan ngomong terus, Kejora
sampe keselek, kalian berisik sih.“ jawab ayah Zul.
“Ra maafin ibu ya.“ Ucap Ibu Zul
memelas
“Iya bu, aku gak papa kok.“ jawab
Kejora malu malu.
"Hmmm...“ jawab Ibu Zul dengan
senyum aneh menatap Kejora.
“Kenapa Bu?“ tanya Kejora gugup.
“Gak papa kok Ra, lanjut makan aja.“
jawab Ibu Zul tersenyum
Setelah makan Kejora pamit untuk
pulang ke rumahnya sebentar, dan akan kembali pada malam hari. dan seperti
biasanya diantar oleh Zul, dan sesampainya kembali dirumah Zul langsung menuju
kamarnya, untuk bermalas-malasan namun ia di kagetkan dengan kehadiran seseorang.
“Eh, Ben ngapain di Kamarku?“ tanya
__ADS_1
Zul.
“Aku mau ngomong tapi gak bisa
disini.” jawab Beny.
“Terus mau dimana? emang kenapa kalo
di sini?“ tanya Zul.
“Gak papa, bisa kalo di taman?“
tanya beny balik.
“Yaudah.“ jawab Zul dengan heran.
Mereka pun berjalan ke taman namun
ada yang tak lazim pada beny, dia sangat serius dan tak banyak bicara. Apa yang
mau di omongin seserius itu sampe beny keliatan diem aja, gak biasanya dia
kayak gini pikir Zul.
“Zul aku gak mau basa-basi aku mau
langsung ke poinnya aja.“ terang beny.
“Santai dulu Ben, kamu tu mau
ngomong tentang apa.kok serius banget apa aku ada salah sama kamu?“ tanya Zul
heran
“Iya Zul, kesalahan kamu, deket sama
Kejora.” jawab Beny dengan tatapan tajam
“Kenapa gitu aku heran sama kamu
Ben? kamu tuh kenapa?“ tanya Zul dengan heran.
“Aku suka Kejora Zul, kalo kamu
masih anggep aku temenmu, aku harap kamu mulai jaga jarak sama Kejora!“ terang
Beny
“Ya gak bisa gitu dong Ben, kamu
juga harus omongin ini sama Kejora, gak bisa sepihak kayak gini.“ jawab Zul.
“Zul, kamu suka dia Juga?“ tanya
Beny dengan tatapan tajam.
Zul hanya diam tak menjawab
“Oke, aku udah tau jawabannya.“
jawab Beny
“Kenapa harus Kejora?“ tanya Zul.
“Hmmpph... gak tau juga, aku gak tau
alasannya, tapi aku mau dia udah itu aja.“ jawab Beny.
“Jadi kamu mau aku gimana?“ tanya
Zul dengan tangan mengepal.
“Bantu aku jadian sama Kejora, apa
kamu bisa?“ tanya Beny dengan tatapan tajam
Zul pun lagi lagi diam membisu
matanya memerah dan tangannya mengepal.
“Aku udah tau jawabannya, aku udah
tau kamu pasti sebenarnya jatuh cinta sama dia, tapi kamu gak sadar, aku juga
suka sama Kejora Zul kamu mau sama cewek lain aku bakal mundur dengan teratur,
tapi beda kalo itu Kejora, aku rasa kamu bisa ngerti maksudku, aku harap! kamu
bisa turutin apa yang ku bilang tadi.“ tegas Beny.
Zul pun lagi lagi hanya diam.
“Oke, aku rasa kita udah gak bisa
lanjutin pembicaraan ini, pembicaraan kita udah selesai sampe disini, aku harap
persahabatan kita juga gak cuma sampe disini aja, bye.“ ucap Beny sambil
“Lakuin aja sesukamu Ben.“ jawab Zul
dengan wajah menahan amarah dan berbalik badan dengan arah yang berbeda dari
Beny,
Wajah Zul terasa panas, dadanya pun
terasa panas, matanya memerah, dengan tatapan ingin menerkam, tidak disangka
beny ternyata berani berkata seperti itu pada Zul, sahabatnya sendiri yang
sudah tahu sejak awal, namun ternyata dia menghunuskan pisau belati Kearah Zul
dengan mudahnya berkata mengakhiri persahabatan.
Zul merasa selalu diam jika Beny
mendekati wanita lain, tapi saat dia mendengar bahwa beny menginginkan Kejora
Zul merasa amarahnya hampir tak terbendung,baru itu dia mengepalkan tangan pada
Beny, sahabatnya yang sangat ia banggakan selama ini yang sangat ia cintai,
berkata ingin mengakhiri persahabatan yang terjalin begitu lama dengan mudah.
Bimbang Zul memilih pilihan yang
mana, dalam hati dia tidak rela Kejora bersama pria lain, namun sisi hati lain
Zul tidak menginginkan persahabatannya berakhir begitu saja, pilihan yang
begitu berat dengan resiko yang akan berdampak besar pada hidupnya, tidak salah
memang jika Beny menginginkan Kejora. Kejora memang cantik dan juga pintar,
menjadi idaman setiap pria itu adalah hal wajar.
“Zul Kamu di dalem?“ tanya Kejora
sambil mengetuk pintu
“Iya kenapa?“ sahut Zul.
“Aku boleh masuk?“ tanya Kejora
“Masuk aja.“ Ucap Zul.
“Zul.“ ucap Kejora.
“Kenapa?“ tanya Zul sambil melihat
kearah jendela.
“Kamu kenapa seharian ini kayaknya
lemes?" banget? terus kamu diem aja, apa aku ada salah?“ tanya Kejora.
“Uya Ra kamu salah kamu udah buat
aku tertarik sama kamu, kamu salah udah hadir di kehidupanku, kamu salah udah
buat aku jatuh cinta sama Kamu.“ ucap Zul dalam hati.
“Gak juga, aku emang lagi
males-malesan aja, kamu gak ada sangkut pautnya.“ jawab Zul. masih menatao
Kearah luar jendela
“Zul kamu bisa omongin kalo misal
aku gak sadar buat salah ke kamu, aku ngerasa bersalah kalo kamu kayak gini
karena aku, kamu bisa bilang kok kalo aku emang salah, aku gak akan marah kamu
bilang aja ke aku.” jelas Kejora.
“kamu gak ada hubungannya Ra.“ jawab
Zul sambil teringat dengan perkataan Beny mengepalkan tangannya, badannya
terasa panas, dadanya ingin meledak.
“Hmm. yaudah kalo kamu gak bisa
bilang sekarang, mungkin emang kesalahanku terlalu fatal, kalo kamu udah mau
ngomong, bisa temuin aku kapan aja.“ jawab Kejora. sambil berdiri pergi
meninggalkan Zul sendirian di kamarnya.
“Zul mungkin butuh waktu buat
__ADS_1
sendiri“ itu yang di pikir kan Kejora.
“Maaf Ra, aku gak bisa omongin ini,
aku tau apa yang bakal kamu lakuin kalo aku omongin masalah ini, aku gak
sanggup kalo memang itu bener-bener terjadi, walaupun aku gak tau apa kamu
punya rasa yang sama denganku, setidaknya aku harus buat pilihan yang gak akan
kusesali di seumur hidupku nantinya, sekali lagi maaf Ra udah buat kamu merasa
bersalah, jujur aku gak tega, aku pengen nangis, denger kamu ngomong kayak
gitu, tapi menurutku untuk saat ini, lebih baik aku sembunyiin dulu masalah
ini.“ ucap Zul dalam hati
Pilihan berat yang harus dipilih
oleh Zul, memperjuangkan cintanya atau merelakannya untuk sahabatnya, keduanya
sangat penting, dan sangat berharga bagi Zul, namun keadaaan mengharuskan untuk
memilih salah satu dari pilihan berat itu, masalah yang sangat serius ini
apakah harus mengorbankan hatinya yang hancur, dan rasa sakit yang ia bayangkan
jika benar Zul harus merelakan Cintanya untuk sahabatnya, atau dia harus
mengorbankan persahabatan yang di penuhi dengan kenangan itu berakhir begitu
saja.
Dia menyadari bahwa dirinya
plin-plan dan selalu ambigu, maka dari itu situasi ini dapat tercipta, tapi Zul
juga tak menyangka bahwa perasan yang ia rasakan adalah jatuh cinta, atau
mungkin memang dia terlalu bodoh tidak menyadari bahwa ketertarikan yang ia
punya saat itu adalah ketertarikan sebagai lawan jenis, rasa ingin memiliki,
kenapa harus selama itu untuk bisa paham bahwa itu cinta? kenapa harus
seterlambat ini.
“Zul“ ucap Kejora mengetuk pintu.
“ iya Kenapa Ra?“ tanya Zul
“Makan malem.“ jawab Kejora
Zul tidak sadar memang bahwa hari
telah malam, dia menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir, namun tidak di
sangka sudah selama itu dia memikirkan hal itu.
“Iya Ra, tunggu aja di bawah.“ jawab
Zul.
“Iya jangan lama-lama, ya aku udah
laper.“ ucap Kejora dan pergi meninggalkan Zul.
Setelah beberapa saat Zul pun datang
ke meja makan.
“Zul kamu kenapa sih seharian kok
le.mes? gak kayak biasanya?“ tanya Ibu Zul
“Mikirin masa depan“ jawab Zul
tersenyum.
“Eh kenapa di pikirin? ini masa
depannya disini.“ ucap Ibu Zul menunjuk Kejora.
“Emang dia mau sama orang bodoh
kayak aku, hahaha...” jawab Zul tertawa.
“Mau gak Ra?“ tanya Ibu Zul.
Kejora bingung harus menjawab apa,
sebenarnya ingin mengatakan iya bu saya mau, tapi hatinya belum sanggup untuk
mengungkapkan perasaan itu.
“Hmmm... aku pikir-pikir dulu deh,
aku belum mikir sampe kesana soalnya,aku mau wujudin cita-citaku dulu.“ jawab
Kejora berusaha menjawab dengan tenang.
“Eh, emang cita-citamu apa?“ tanya
Ibu Zul
“Gak ah malu, ntar di ketawain.“
jawab Kejora
“Dia mau jadi astronot Bu” sahut
Zul.
“Eh keren itu, kok malu.“ tanya Ayah
Zul.
“Soalnya jarang, orang pengen jadi
astronot, aku takut dianggap aneh.“ jawab Kejora.
“Gak Ra, itu bukan aneh, tapi unik
emang dia berbeda dari kebanyakan orang, tapi kamu pasti punya tujuan kenapa
kamu pilih itu ,unik sama aneh itu bedanya tipis“ ucap Ayah Zul.
“Tuh Zul kurang apa coba Rara? udah
cantik, pinter, cita-citanya tinggi.“ tanya Ibu Zul.
“Bu, cinta gak bisa ditebak.“ jawab
Zul.
“uh... sok puitis kamu.“ jawab Ibu
Zul.
“Ya terserah Ibu deh, aku mau
makan.“ jawab Zul
Setelah makan Zul dengan cepat masuk
ke kamarnya kembali, sebenarnya dia masih bimbang, masih bingung untuk memilih,
namun ia menyembunyikannya agar Kejora tidak terlalu curiga, dan lagi Ibu Zul
terlalu peka dengan tingkah lakunya, sehingga dapat menebak jika memang ada
masalah yang terjadi pada Zul. Dan pada akhirnya Zul membuat pilihan dengan
mantap, dan yakin walau dia tahu hasilnya akan buruk, tapi dia tidak dapat
menebak pasti, seburuk apa hasil tersebut.
Suara handphone.
“Kenapa?“ tanya Beny.
“Aku udah buat pilihan Ben.“ jawab
Zul.
“ terus apa pilihanmu “ tanya Beny
“Maaf Ben.“ jawab Zul.
“Aku udah duga Zul, kalo emang itu
yang kamu mau itu hak kamu, tapi Zul aku ingetin ke kamu aku serius gak
main-main.” terang Beny.
“Aku tau Ben, kamu lagi serius dan
aku pilih pilihan Ketiga Ben, kamu tetep jadi sahabatku dan aku akan tetep
deket sama Rara.” jawab Zul
“Aku rasa aku gak ngomong tentang
itu Zul, oke, aku anggap kamu jawab untuk mengakhiri persahabatan kita, bye.“
ucap Beny sambil menutup panggilan
“Maaf Ben kalian berdua sama-sama
penting buat aku.“ ucap Zul dalam hati
__ADS_1