
Hari ini, hari terakhir ujian
Sekolah, merasa sedikit lega setelah belajar mati-matian selama beberapa
minggu, otak terasa sangat lelah bahkan berefek ke badan yang terlihat selalu
lemas, karena otak bekerja sampai ke titik yang paling maksimal selama 2 minggu
ini. Selama ujian sekolah, Zul dan Kejora jarang bertemu, karena Kejora sangat
sibuk dalam Belajarnya, dia ingin hasil yang terbaik, ingin mendapatkan nilai
paling tinggi. Tapi tidak untuk Zul, dia tidak terlalu berharap untuk
mendapatkan nilai yang tinggi, asal tidak ada nilai yang kurang dia sudah
sangat senang, asal dia bisa naik kelas itu sudah cukup, untuknya karena dia
merasa usahanya masih terlalu minim, daripada teman-temannya yang lain, jadi dia
tidak terlalu berharap banyak.
Lama tidak bertemu Kejora, membuat
Zul sangat gelisah, dadanya serasa ingin meledak hancur berserakan, ingin
rasanya bertemu, namun tak kuasa dia untuk berbicara pada Kejora, tak punya
tenaga kakinya berjalan menghampiri Kejora, tapi hatinya terus memaksa, terus
berucap ingin bertemu, dia tau ada perubahan pada dirinya. Namun dia tidak mau
mengakui apa yang berubah, terus membantah bahwa perasaanya tetap sama, tidak
berubah sama sekali. Dengan langkah gontai dia melangkah pulang sendirian,
tidak seperti dirinya yang biasa, wajahnya muram, dan kusut, merasa kehilangan
sesuatu yang sangat penting bagi dirinya.
“Zul, lemes amat?” tanya Kejora
mengagetkan Zul
“Eh, Ra bikin kaget aja.” jawab Zul
yang langsung berubah ekspresinya.
“Makanya jangan bengong, aku mau
nginep di rumahmu besok kan libur.” Ucap Kejora tersenyum.
“Ya udah nginep aja.” jawab Zul.
"ta...ta...tapi kamu di rumah
aja, gak usah nginep di tempat lain“ kata Kejora terbata-bata.
“Eh, kenapa? gak enak sama tetangga
nanti.” jawab Zul.
“Aku pengen ngumpul bareng aja,
lama-lama aku gak enak sama kamu, ngerepotin banget.” Jawab Kejora.
“Nanti aku ngomong sama ibu, sama
ayah dulu.” ucap Zul.
“Kata ibu gak papa kok.” jawab
Kejora.
“Hmmm. Kamu udah ngomong sama ibu.“
tanya Zul.
“Udah, temenin aku ya ke rumah ambil
baju.” Tanya Kejora
“Biasanya juga jalan sendiri bisa,
tumben.” jawab Zul.
“Gak boleh ya?“ tanya Kejora dengan
wajah memelas.
“Sial gak bisa nolak, kalo gitu
mukanya, imut banget.” pikir Zul.
“Ya boleh sih.” jawab Zul yang salah
tingkah.
“Makasih ya Zul, terbaik deh.” jawab
Kejora tersenyum.
“Eh, ntar dia salah sangka lagi,
aduh kenapa bisa salah ngomong sih.“ pikir Kejora.
“Terbaik?“ tanya Zul dengan wajah
penasaran.
“Jangan-jangan dia ngerasain hal
yang sama sama aku.” tanya Zul dalam hati.
“Sahabat terbaik maksudku.“ jawab
Kejora dengan senyum kakunya.
“Hmmm.” jawab Zul singkat dan
berubah jadi murung.
“Eh kok dia kayak kecewa gitu, aku
salah ngomong ya.“ Pikir Kejora.
“Iya juga, apa yang ku harapkan?
kenapa aku harus kecewa sama jawaban Rara?“ pikir Zul.
“Aku seneng dengernya” Jawab Zul
dengan senyum terpaksa.
“Syukurlah dia gak kecewa, tapi kok
aku gak puas ya sama jawabannya, aku harap ada jawaban yang lain, bukan jawaban
itu.” Pikir Kejora.
Selanjutnya keheningan terjadi,
sampai berada di rumah Zul pun mereka masih diam tak bicara satu sama lain,
sama-sama mengharapkan sesuatu, sama-sama memiliki kekecewaan, ingin mengajak
bicara namun lidah membatu, bibir tak dapat terbuka. Mereka yang biasanya
akrab, sekarang seperti memiliki tembok pemisah di antara mereka.
“Ra lemes amat? kan udah selesai
ujiannya kok lemes?” tanya Ibu Zul.
“Capek aja paling Bu, otaknya.“
jawab Kejora.
“Hmmm… Ibu jam terbangnya udah
banyak lo Ra, jangan bohong sama Ibu, lagi marahan ya ?” tanya Ibu Zul.
“Aku gak marahan sama siapa-siapa.”
Jawab Kejora
“Sama Zul paling.“ jawab Ibu Zul
memancing.
“Aku gak marahan sama Zul kok, Bu.“
Jawab Kejora
“Tapi kecewa.” cecar Ibu Zul.
“Gak kok Bu” Jawab Kejora.
“Ra, jujurlah sama hati mu sendiri,
bohong sama hati sendiri itu rasanya sakit, Zul itu orangnya memang kurang bisa
memahami situasi, tapi sebenarnya dia itu peduli, diam aja gak merubah
keadaan.“ jawab Ibu Zul.
“Iya Bu, tapi aku sama Zul baik-baik
aja, gak ada apa-apa.“ jawab Kejora'
“Gimana, kalo kita malem ini bakar
ayam rame,rame sama temen-temen Zul juga biar otak kalian seger lagi?” Ucap Ibu
Zul.
“Kayaknya bagus tuh Bu, tapi aku gak
pernah ngadain acara kayak gitu Bu, apa aja yang harus di siapin? apa kita
perlu undang artis buat ngisi? acara atau nyewa panggung?” Tanya Kejora yang
sangat bersemangat.
“Oang kaya emang beda.“ pikir Ibu
Zul.
“Gak, gak mungkin, halaman kita gak
seluas itu Ra“ jawab Ibu Zul
“Kita bisa sewa gedung Bu, gak usah
khawatir, Papaku punya banyak gedung .” tanya Kejora.
“Mana bisa, kita bakar-bakar dalam
__ADS_1
gedung, asepnya ngumpul semua dong di ruangan.” Jawab Ibu Zul.
“Jadi gimana dong Bu? aku soalnya
gak pernah ada acara kayak begini?” tanya Kejora.
“Udah kita tinggal beli ayam aja,
kita bakar rame-rame udah gitu aja, gak usah ribet-ribet ” jawab Ibu Zul.
“Iya bener juga ya bu, kenapa aku
gak kepikiran.” jawab Kejora.
“Rara cara berpikirnya emang rumit,
dan terlalu detail.” pikir ibu Zul.
“Kamu kasih tau Zul sana, biar dia
yang nyiapin alat-alatnya kita yang beli bahannya ".” Suruh Ibu Zul.
“Oke Bu.“ jawab Kejora Bersemangat.
Tok… Tok… Tok… Kejora mengetuk pintu
kamar Zul.
“Zul kamu di dalem?” Tanya Kejora.
“Iya Ra kenapa.“ Jawab Zul.
“Aku masuk ya” Tanya Kejora
“ jang…. ” jawab Zul terpotong.
“Aaaaaaaaaa...” teriak Kejora saat
membuka pintu.
“Kenapa Ra?“ tanya Ibu dan ayah Zul
sambil berlari kaget.
“Ngan di buka.” ucap Zul melanjutkan
perkataannya yang terpotong.
“Kenapa Ra? ada apa ?” tanya Ibu Zul
kaget dan khawatir.
“Itu Bu.” Kejora menunjuk kearah
Zul.
“Zul, kamu ngapain Rara?” tanya Ibu
Zul khawatir.
“Sumpah Bu, aku gak ngapa-ngapain.“
jawab Zul panik.
“Beneran?” tanya Ibu Zul dengan
wajah serius.
“Sumpah bu.” Jawab Zul.
“Kenapa kamu teriak Ra?“ tanya Ibu
Zul.
“I…I… Itu bu ada yang menonjol.“
jawab Kejora malu-malu dengan wajah memerah.
“Apaan si?“ tanya ibu Zul penasaran.
“Udah, ayok kita ke ruang tamu Ra.“
ajak ayah Kejora mengerti.
“Zul kamu cuma pake celana pendek,
gak pake baju lagi.“ bisik Ibu Zul.
“Emang kenapa?“ tanya Zul masih
bingung
“liat ke bawah!” Perintah Ibu Zul.
“Maaf Bu, tapi aturannya tetep aku
yang teriak, bukan Rara.” jawab Zul dengan Kikuk.
“Ke ruang tamu.” Suruh Ibu Zul.
“Maaf.“ jawab Zul.
Dan saat di ruang tamu Kejora tidak
berani menatap wajah Zul, dan juga Zul tidak berani menatap Kejora hanya tertunduk
ke bawah, dengan perasaan malu kedua-duanya merasa bersalah, namun tetap diam
hingga beberapa saat.
“Awalnya gimana Ra ayo jelasin?”
“Aku ketok pintu kamar, aku tanya
dia di dalem atau gak, terus pas ada jawaban langsung ku buka ,aku gak nyangka
kalo dia lagi.” jawab Kejora yang tidak melanjutkan perkataannya dengan wajah
yang sangat malu dan bersalah pada zul.
“Zul kenapa kamu gak bilang sama
Rara?” tanya Ibu Zul.
“Aku mau bilang tapi dia, udah
teriak duluan.“ jawab Zul dengan ekspresi yang sama dengan Kejora.
“Ini sih namanya kecelakaan.“ jawab
Ibu Zul.
“Aturannya kan aku yang teriak.”
jawab Zul pelan.
“Zul laki gak boleh kayak gitu.”
jawab Ayah Zul
“Maaf Zul, aku yang salah.” jawab
Kejora Pelan.
“Gak kok Ra, itu kecelakaan, gak ada
yang salah atau bener maaf ya aku telat ngomongnya.” Jawab Zul.
“Iya, aku juga minta maaf karena
asal buka pintu.” jawab Kejora dengan wajah tertunduk.
“Terus, kamu mau ngapain tadi ke
kamarku? ” tanya Zul.
“Aku mau bilang, mau ngadain acara
bakar ayam sama ibu, jadi kamu siapin alat sama tempatnya, aku sama ibu yang
belanja bahan-bahannya, sama undang temen temen.” Jawab Kejora.
“Zul. ayo siapin udah lama kita gak
bikin acara!” ajak Ayah Zul.
“Ayo, Ra kita ke pasar.“ ajak Ibu
Zul.
Keduanya langsung menuruti ajakan
ayah dan ibu Zul, Kejora masih memikirkan kejadian tadi baru pertama kali dia
melihatnya, Paha Zul, dan Betisnya berotot, dadanya bidang punggungnya lebar,
perutnya pun berbentuk seperti seorang atlet, dia tidak menyangka tubuh Zul
seperti itu bentuknya, dan tonjolan yang membuat Kejora berteriak ukurannya
termasuk big size, baru pertama kali dia melihatnya, membuatnya malu dan
canggung saat menatap Zul.
Zul sudah melupakan kejadian tadi,
dia sangat antusias dengan acara bakar ayam yang akan diadakan, namun dia
merasakan kecanggungan antara dia dan Kejora, mungkin Kejora masih kaget dengan
kejadian tadi dan merasa bersalah pada Zul, maka dari itu Kejora selalu
membuang wajah Jika beradu pandang dengan Zul.
Pada saat acara di mulai pun mereka
berdua masih canggung dan Kejora lebih banyak mengobrol dengan Beny dan Rahmad,
Ferdy yang masih terhitung pendiam hanya menjawab seperlunya, Zul ingin sekali
mengajak Kejora berbicara namun Kejora yang selalu membuang wajahhnya, membuat
Zul mengurungkan niatnya melihat Kejora, saat Kejora tersenyum pada orang lain
membuat Zul murung dan kesal, dirinya sangat tidak bersemangat.
“Zul cemberut aja masih mikirin
ujian apa?“ tanya Rahmad.
“Iya.” jawab Zul Cuek.
“Tenang Zul, Tuhan itu pasti
memberikan hasil yang terbaik bagi hambanya, kan udah di ajarin sama Rara pasti
ada peningkatan.” Ucap Rahmad menyemangati Zul.
__ADS_1
“Dari dulu santai amat jadi orang“
ucap ferdy
“Bukan santai tapi percaya dengan
keajaiban Tuhan.” jawab Rahmad.
"Keajaiban gak terus-terusan
dateng, buat kamu mad.” sambung Kejora.
“Aku yakin pasti dateng terus.”
Jawab Rahmad dengan percaya diri
“Kan Rahmad prinsipnya gak bisa
goyang.” ucap Beny
“Iya percaya diri banget.“ jawab
Kejora Tersenyum.
“Kalo gak ada usaha mana ada hasil.“
kata Zul pada Rahmad.
“Aku gak mau denger itu dari kamu.”
jawab Rahmad kesal.
“Tajem juga lidahmu mad, rankingmu
aja cuma beda satu diatasku” jawab Zul
“Itu karena kamu ganteng aja,
makanya nilai mu di bagusin.” jawab Rahmad
“cari alasan.“ Ucap Zul
“Itu kenyataan.“ jawab Rahmad masih
mengelak
“cih... dasar gak mau ngaku.” jawab
Zul pelan
“Zul aku pulang ya.“ sahut ferdy.
“Kok udah mau pulang gak nginep aja?
besok kan libur?“ jawab Zul.
“Aku besok mau liburan keluarga.“
jawab ferdy
“Ya udah aku juga ikutan pulang.“
sambung Rahmad
“Aku juga deh.“ sambung Beny.
“Yaudah deh, kalo pada mau pulang.”
jawab Zul.
“Makasih ya Zul, acaranya seru.”
Kata ferdy
“Iya kapan-kapan buat acara
lagi,'deh kalo seru.“ jawab Zul.
“Yaudah kami pulang ya.“ pamit Beny.
“Hati-hati ya.” ucap kejora dan Zul
bersamaan.
“Makasih udah khawatir.“ jawab
Rahmad.
“Kalo dia, tinggalin aja tengah
jalan.“ jawab Zul masih dendam.
“bye, bye.” ucap ferdy sambil
melambaikan tangan.
Zul dan Kejora pun membalas lambaian
tangan mereka dengan senyum bahagia tersungging, saat kedua wajah bertemu.
“Ra kamu marah sama aku?” tanya Zul
pada Kejora yang membuang wajah.
“Gak kok Zul, malah aku yang ngerasa
bersalah.” jawab Kejora.
“Udah gak usah di pikirin, kan udah
terjadi mau gimana lagi.” Jawab Zul.
“ Maaf ya Zul.“ jawab Kejora masih
tertunduk.
“Gak tulus.“ ucap Zul.
“Aku tulus kok, sumpa. ” jawab
Kejora.
“Kenapa buang muka? minta maafnya
liat mukaku geh kalo tulus.” tanya Zul tersenyum sambil menunduk menatap wajah
Kejora.
“Maaf.” Jawab Kejora dengan Wajah
Malu.
“Aku juga minta maaf.“ Ucap Zul
dengan wajah memerah karena wajahnya terlalu dekat dengan Kejora.
“Iya, tapi kamu bisa mundur dikit
gak, kamu bau asep.” jawab Kejora tersenyum.
“Gak sopan, kamu juga bau bawang tau
gak. ” Balas Zul
“Gak sopan tau gak, ngomongin cewek
bau bawang.” jawab kejora cemberut.
“Udah balik lagi.” Kata Zul
tersenyum.
Deg…deg…deg jantung kejora berdetak
lebih cepat dari biasanya ganteng banget pikirnya, kenapa aku jadi kayak gini
kalo liat Zul ya? apa kalo sahabatan ada perasaan kayak gini ya? kayaknya gak
deh tapi kenapa aku ngerasa kayak gini kalo dia terlalu deket aku? gugup tapi
kalo terlalu jauh pengen dia deket.
“Ra, besok main yuk kan besok libur
refreshing otak?” tanya Zul.
“Boleh juga sih, aku juga lagi gak
sibuk, mau main kemana?” tanya kejora.
“Kamu maunya kemana?” tanya Zul
balik.
“Aku mau berenang main air.“ jawab
Kejora dengan wajah bersemangat.
“Nanti kamu item lo.” ucap Zul.
“Aku gak peduli.“ jawab Kejora
dengan Bersemangat.
“Yaudah, kamu bawa baju kan, jangan
pake rok panjang.” kata Zul mengingatkan.
“Oh iya, aku gak bawa.” jawab Kejora
“Yaudah, ambil besok pagi aja“ jawab
Zul.
“Iya tapi aku gak bisa berenang, di
tempat yang airnya pendek aja ya.” terang Kejora
“Ku ajarin berenang mau gak?“ tanya
Zul
“Iya aku mau, dari dulu aku pengen
berenang.” jawab Kejora.
Kejora senang sekali sampai susah
tidur karena besok akan bermain bersama Zul. harus pake baju apa ya ntar? aku
tanya Bi Maryam aja deh pikirnya. Dia pun tidur dengan tersenyum bahagia, hanya
Zul mengajaknya bermain membuatnya merasa bahagia, sekaligus gugup, kenapa
selalu merasa gugup saat dekat dengan Zul? ada yang berubah dengan perasaan
Kejora, namun dia menolak untuk menyadari perubahan itu, dia tidak mengakui
__ADS_1
perasaanya sendiri, mencoba membohongi hatinya sendiri.