Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Episode 8 : Transformasi


__ADS_3

Hari ini, hari terakhir ujian


Sekolah, merasa sedikit lega setelah belajar mati-matian selama beberapa


minggu, otak terasa sangat lelah bahkan berefek ke badan yang terlihat selalu


lemas, karena otak bekerja sampai ke titik yang paling maksimal selama 2 minggu


ini. Selama ujian sekolah, Zul dan Kejora jarang bertemu, karena Kejora sangat


sibuk dalam Belajarnya, dia ingin hasil yang terbaik, ingin mendapatkan nilai


paling tinggi. Tapi tidak untuk Zul, dia tidak terlalu berharap untuk


mendapatkan nilai yang tinggi, asal tidak ada nilai yang kurang dia sudah


sangat senang, asal dia bisa naik kelas itu sudah cukup, untuknya karena dia


merasa usahanya masih terlalu minim, daripada teman-temannya yang lain, jadi dia


tidak terlalu berharap banyak.


Lama tidak bertemu Kejora, membuat


Zul sangat gelisah, dadanya serasa ingin meledak hancur berserakan, ingin


rasanya bertemu, namun tak kuasa dia untuk berbicara pada Kejora, tak punya


tenaga kakinya berjalan menghampiri Kejora, tapi hatinya terus memaksa, terus


berucap ingin bertemu, dia tau ada perubahan pada dirinya. Namun dia tidak mau


mengakui apa yang berubah, terus membantah bahwa perasaanya tetap sama, tidak


berubah sama sekali. Dengan langkah gontai dia melangkah pulang sendirian,


tidak seperti dirinya yang biasa, wajahnya muram, dan kusut, merasa kehilangan


sesuatu yang sangat penting bagi dirinya.


“Zul, lemes amat?” tanya Kejora


mengagetkan Zul


“Eh, Ra bikin kaget aja.” jawab Zul


yang langsung berubah ekspresinya.


“Makanya jangan bengong, aku mau


nginep di rumahmu besok kan libur.” Ucap Kejora tersenyum.


“Ya udah nginep aja.” jawab Zul.


"ta...ta...tapi kamu di rumah


aja, gak usah nginep di tempat lain“ kata Kejora terbata-bata.


“Eh, kenapa? gak enak sama tetangga


nanti.” jawab Zul.


“Aku pengen ngumpul bareng aja,


lama-lama aku gak enak sama kamu, ngerepotin banget.” Jawab Kejora.


“Nanti aku ngomong sama ibu, sama


ayah dulu.” ucap Zul.


“Kata ibu gak papa kok.” jawab


Kejora.


“Hmmm. Kamu udah ngomong sama ibu.“


tanya Zul.


“Udah, temenin aku ya ke rumah ambil


baju.” Tanya Kejora


“Biasanya juga jalan sendiri bisa,


tumben.” jawab Zul.


“Gak boleh ya?“ tanya Kejora dengan


wajah memelas.


“Sial gak bisa nolak, kalo gitu


mukanya, imut banget.” pikir Zul.


“Ya boleh sih.” jawab Zul yang salah


tingkah.


“Makasih ya Zul, terbaik deh.” jawab


Kejora tersenyum.


“Eh, ntar dia salah sangka lagi,


aduh kenapa bisa salah ngomong sih.“ pikir Kejora.


“Terbaik?“ tanya Zul dengan wajah


penasaran.


“Jangan-jangan dia ngerasain hal


yang sama sama aku.” tanya Zul dalam hati.


“Sahabat terbaik maksudku.“ jawab


Kejora dengan senyum kakunya.


“Hmmm.” jawab Zul singkat dan


berubah jadi murung.


“Eh kok dia kayak kecewa gitu, aku


salah ngomong ya.“ Pikir Kejora.


“Iya juga, apa yang ku harapkan?


kenapa aku harus kecewa sama jawaban Rara?“ pikir Zul.


“Aku seneng dengernya” Jawab Zul


dengan senyum terpaksa.


“Syukurlah dia gak kecewa, tapi kok


aku gak puas ya sama jawabannya, aku harap ada jawaban yang lain, bukan jawaban


itu.” Pikir Kejora.


Selanjutnya keheningan terjadi,


sampai berada di rumah Zul pun mereka masih diam tak bicara satu sama lain,


sama-sama mengharapkan sesuatu, sama-sama memiliki kekecewaan, ingin mengajak


bicara namun lidah membatu, bibir tak dapat terbuka. Mereka yang biasanya


akrab, sekarang seperti memiliki tembok pemisah di antara mereka.


“Ra lemes amat? kan udah selesai


ujiannya kok lemes?” tanya Ibu Zul.


“Capek aja paling Bu, otaknya.“


jawab Kejora.


“Hmmm… Ibu jam terbangnya udah


banyak lo Ra, jangan bohong sama Ibu, lagi marahan ya ?” tanya Ibu Zul.


“Aku gak marahan sama siapa-siapa.”


Jawab Kejora


“Sama Zul paling.“ jawab Ibu Zul


memancing.


“Aku gak marahan sama Zul kok, Bu.“


Jawab Kejora


“Tapi kecewa.” cecar Ibu Zul.


“Gak kok Bu” Jawab Kejora.


“Ra, jujurlah sama hati mu sendiri,


bohong sama hati sendiri itu rasanya sakit, Zul itu orangnya memang kurang bisa


memahami situasi, tapi sebenarnya dia itu peduli, diam aja gak merubah


keadaan.“ jawab Ibu Zul.


“Iya Bu, tapi aku sama Zul baik-baik


aja, gak ada apa-apa.“ jawab Kejora'


“Gimana, kalo kita malem ini bakar


ayam rame,rame sama temen-temen Zul juga biar otak kalian seger lagi?” Ucap Ibu


Zul.


“Kayaknya bagus tuh Bu, tapi aku gak


pernah ngadain acara kayak gitu Bu, apa aja yang harus di siapin? apa kita


perlu undang artis buat ngisi? acara atau nyewa panggung?” Tanya Kejora yang


sangat bersemangat.


“Oang kaya emang beda.“ pikir Ibu


Zul.


“Gak, gak mungkin, halaman kita gak


seluas itu Ra“ jawab Ibu Zul


“Kita bisa sewa gedung Bu, gak usah


khawatir, Papaku punya banyak gedung .” tanya Kejora.


“Mana bisa, kita bakar-bakar dalam

__ADS_1


gedung, asepnya ngumpul semua dong di ruangan.” Jawab Ibu Zul.


“Jadi gimana dong Bu? aku soalnya


gak pernah ada acara kayak begini?” tanya Kejora.


“Udah kita tinggal beli ayam aja,


kita bakar rame-rame udah gitu aja, gak usah ribet-ribet ” jawab Ibu Zul.


“Iya bener juga ya bu, kenapa aku


gak kepikiran.” jawab Kejora.


“Rara cara berpikirnya emang rumit,


dan terlalu detail.” pikir ibu Zul.


“Kamu kasih tau Zul sana, biar dia


yang nyiapin alat-alatnya kita yang beli bahannya ".” Suruh Ibu Zul.


“Oke Bu.“ jawab Kejora Bersemangat.


Tok… Tok… Tok… Kejora mengetuk pintu


kamar Zul.


“Zul kamu di dalem?” Tanya Kejora.


“Iya Ra kenapa.“ Jawab Zul.


“Aku masuk ya” Tanya Kejora


“ jang…. ” jawab Zul terpotong.


“Aaaaaaaaaa...” teriak Kejora saat


membuka pintu.


“Kenapa Ra?“ tanya Ibu dan ayah Zul


sambil berlari kaget.


“Ngan di buka.” ucap Zul melanjutkan


perkataannya yang terpotong.


“Kenapa Ra? ada apa ?” tanya Ibu Zul


kaget dan khawatir.


“Itu Bu.” Kejora menunjuk kearah


Zul.


“Zul, kamu ngapain Rara?” tanya Ibu


Zul khawatir.


“Sumpah Bu, aku gak ngapa-ngapain.“


jawab Zul panik.


“Beneran?” tanya Ibu Zul dengan


wajah serius.


“Sumpah bu.” Jawab Zul.


“Kenapa kamu teriak Ra?“ tanya Ibu


Zul.


“I…I… Itu bu ada yang menonjol.“


jawab Kejora malu-malu dengan wajah memerah.


“Apaan si?“ tanya ibu Zul penasaran.


“Udah, ayok kita ke ruang tamu Ra.“


ajak ayah Kejora mengerti.


“Zul kamu cuma pake celana pendek,


gak pake baju lagi.“ bisik Ibu Zul.


“Emang kenapa?“ tanya Zul masih


bingung


“liat ke bawah!” Perintah Ibu Zul.


“Maaf Bu, tapi aturannya tetep aku


yang teriak, bukan Rara.” jawab Zul dengan Kikuk.


“Ke ruang tamu.” Suruh Ibu Zul.


“Maaf.“ jawab Zul.


Dan saat di ruang tamu Kejora tidak


berani menatap wajah Zul, dan juga Zul tidak berani menatap Kejora hanya tertunduk


ke bawah, dengan perasaan malu kedua-duanya merasa bersalah, namun tetap diam


hingga beberapa saat.


“Awalnya gimana Ra ayo jelasin?”


“Aku ketok pintu kamar, aku tanya


dia di dalem atau gak, terus pas ada jawaban langsung ku buka ,aku gak nyangka


kalo dia lagi.” jawab Kejora yang tidak melanjutkan perkataannya dengan wajah


yang sangat malu dan bersalah pada zul.


“Zul kenapa kamu gak bilang sama


Rara?” tanya Ibu Zul.


“Aku mau bilang tapi dia, udah


teriak duluan.“ jawab Zul dengan ekspresi yang sama dengan Kejora.


“Ini sih namanya kecelakaan.“ jawab


Ibu Zul.


“Aturannya kan aku yang teriak.”


jawab Zul pelan.


“Zul laki gak boleh kayak gitu.”


jawab Ayah Zul


“Maaf Zul, aku yang salah.” jawab


Kejora Pelan.


“Gak kok Ra, itu kecelakaan, gak ada


yang salah atau bener maaf ya aku telat ngomongnya.” Jawab Zul.


“Iya, aku juga minta maaf karena


asal buka pintu.” jawab Kejora dengan wajah tertunduk.


“Terus, kamu mau ngapain tadi ke


kamarku? ” tanya Zul.


“Aku mau bilang, mau ngadain acara


bakar ayam sama ibu, jadi kamu siapin alat sama tempatnya, aku sama ibu yang


belanja bahan-bahannya, sama undang temen temen.” Jawab Kejora.


“Zul. ayo siapin udah lama kita gak


bikin acara!” ajak Ayah Zul.


“Ayo, Ra kita ke pasar.“ ajak Ibu


Zul.


Keduanya langsung menuruti ajakan


ayah dan ibu Zul, Kejora masih memikirkan kejadian tadi baru pertama kali dia


melihatnya, Paha Zul, dan Betisnya berotot, dadanya bidang punggungnya lebar,


perutnya pun berbentuk seperti seorang atlet, dia tidak menyangka tubuh Zul


seperti itu bentuknya, dan tonjolan yang membuat Kejora berteriak ukurannya


termasuk big size, baru pertama kali dia melihatnya, membuatnya malu dan


canggung saat menatap Zul.


Zul sudah melupakan kejadian tadi,


dia sangat antusias dengan acara bakar ayam yang akan diadakan, namun dia


merasakan kecanggungan antara dia dan Kejora, mungkin Kejora masih kaget dengan


kejadian tadi dan merasa bersalah pada Zul, maka dari itu Kejora selalu


membuang wajah Jika beradu pandang dengan Zul.


Pada saat acara di mulai pun mereka


berdua masih canggung dan Kejora lebih banyak mengobrol dengan Beny dan Rahmad,


Ferdy yang masih terhitung pendiam hanya menjawab seperlunya, Zul ingin sekali


mengajak Kejora berbicara namun Kejora yang selalu membuang wajahhnya, membuat


Zul mengurungkan niatnya melihat Kejora, saat Kejora tersenyum pada orang lain


membuat Zul murung dan kesal, dirinya sangat tidak bersemangat.


“Zul cemberut aja masih mikirin


ujian apa?“ tanya Rahmad.


“Iya.” jawab Zul Cuek.


“Tenang Zul, Tuhan itu pasti


memberikan hasil yang terbaik bagi hambanya, kan udah di ajarin sama Rara pasti


ada peningkatan.” Ucap Rahmad menyemangati Zul.

__ADS_1


“Dari dulu santai amat jadi orang“


ucap ferdy


“Bukan santai tapi percaya dengan


keajaiban Tuhan.” jawab Rahmad.


"Keajaiban gak terus-terusan


dateng, buat kamu mad.” sambung Kejora.


“Aku yakin pasti dateng terus.”


Jawab Rahmad dengan percaya diri


“Kan Rahmad prinsipnya gak bisa


goyang.” ucap Beny


“Iya percaya diri banget.“ jawab


Kejora Tersenyum.


“Kalo gak ada usaha mana ada hasil.“


kata Zul pada Rahmad.


“Aku gak mau denger itu dari kamu.”


jawab Rahmad kesal.


“Tajem juga lidahmu mad, rankingmu


aja cuma beda satu diatasku” jawab Zul


“Itu karena kamu ganteng aja,


makanya nilai mu di bagusin.” jawab Rahmad


“cari alasan.“ Ucap Zul


“Itu kenyataan.“ jawab Rahmad masih


mengelak


“cih... dasar gak mau ngaku.” jawab


Zul pelan


“Zul aku pulang ya.“ sahut ferdy.


“Kok udah mau pulang gak nginep aja?


besok kan libur?“ jawab Zul.


“Aku besok mau liburan keluarga.“


jawab ferdy


“Ya udah aku juga ikutan pulang.“


sambung Rahmad


“Aku juga deh.“ sambung Beny.


“Yaudah deh, kalo pada mau pulang.”


jawab Zul.


“Makasih ya Zul, acaranya seru.”


Kata ferdy


“Iya kapan-kapan buat acara


lagi,'deh kalo seru.“ jawab Zul.


“Yaudah kami pulang ya.“ pamit Beny.


“Hati-hati ya.” ucap kejora dan Zul


bersamaan.


“Makasih udah khawatir.“ jawab


Rahmad.


“Kalo dia, tinggalin aja tengah


jalan.“ jawab Zul masih dendam.


“bye, bye.” ucap ferdy sambil


melambaikan tangan.


Zul dan Kejora pun membalas lambaian


tangan mereka dengan senyum bahagia tersungging, saat kedua wajah bertemu.


“Ra kamu marah sama aku?” tanya Zul


pada Kejora yang membuang wajah.


“Gak kok Zul, malah aku yang ngerasa


bersalah.” jawab Kejora.


“Udah gak usah di pikirin, kan udah


terjadi mau gimana lagi.” Jawab Zul.


“ Maaf ya Zul.“ jawab Kejora masih


tertunduk.


“Gak tulus.“ ucap Zul.


“Aku tulus kok, sumpa. ” jawab


Kejora.


“Kenapa buang muka? minta maafnya


liat mukaku geh kalo tulus.” tanya Zul tersenyum sambil menunduk menatap wajah


Kejora.


“Maaf.” Jawab Kejora dengan Wajah


Malu.


“Aku juga minta maaf.“ Ucap Zul


dengan wajah memerah karena wajahnya terlalu dekat dengan Kejora.


“Iya, tapi kamu bisa mundur dikit


gak, kamu bau asep.” jawab Kejora tersenyum.


“Gak sopan, kamu juga bau bawang tau


gak. ” Balas Zul


“Gak sopan tau gak, ngomongin cewek


bau bawang.” jawab kejora cemberut.


“Udah balik lagi.” Kata Zul


tersenyum.


Deg…deg…deg jantung kejora berdetak


lebih cepat dari biasanya ganteng banget pikirnya, kenapa aku jadi kayak gini


kalo liat Zul ya? apa kalo sahabatan ada perasaan kayak gini ya? kayaknya gak


deh tapi kenapa aku ngerasa kayak gini kalo dia terlalu deket aku? gugup tapi


kalo terlalu jauh pengen dia deket.


“Ra, besok main yuk kan besok libur


refreshing otak?” tanya Zul.


“Boleh juga sih, aku juga lagi gak


sibuk, mau main kemana?” tanya kejora.


“Kamu maunya kemana?” tanya Zul


balik.


“Aku mau berenang main air.“ jawab


Kejora dengan wajah bersemangat.


“Nanti kamu item lo.” ucap Zul.


“Aku gak peduli.“ jawab Kejora


dengan Bersemangat.


“Yaudah, kamu bawa baju kan, jangan


pake rok panjang.” kata Zul mengingatkan.


“Oh iya, aku gak bawa.” jawab Kejora


“Yaudah, ambil besok pagi aja“ jawab


Zul.


“Iya tapi aku gak bisa berenang, di


tempat yang airnya pendek aja ya.” terang Kejora


“Ku ajarin berenang mau gak?“ tanya


Zul


“Iya aku mau, dari dulu aku pengen


berenang.” jawab Kejora.


Kejora senang sekali sampai susah


tidur karena besok akan bermain bersama Zul. harus pake baju apa ya ntar? aku


tanya Bi Maryam aja deh pikirnya. Dia pun tidur dengan tersenyum bahagia, hanya


Zul mengajaknya bermain membuatnya merasa bahagia, sekaligus gugup, kenapa


selalu merasa gugup saat dekat dengan Zul? ada yang berubah dengan perasaan


Kejora, namun dia menolak untuk menyadari perubahan itu, dia tidak mengakui

__ADS_1


perasaanya sendiri, mencoba membohongi hatinya sendiri.


__ADS_2