Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"

Kejora "Cinta 3.1 Menit Cahaya"
Salah Sangka


__ADS_3

Papa dan mama Kejora telah pergi dan kembali memulai pekerjaan mereka. Zul dan orang tuanya pun sudah kembali ke rumah mereka yang sudah selesai. Karena papa Kejora meminta renovasi di lakukan lebih cepat lagi. Kini Kejora tinggal sendiri di rumahnya.


kesepian melanda Kejora semenjak Zul memantapkan pilihannya hubungan mereka kembali renggang. Kejora menjaga jaraknya pada Zul dan sempat beberapa kali Zul berusaha merapatkan kembali kerenggangan mereka namun Kejora yang sangat dingin membuat Zul mundur secara teratur.


Kejora masih menolak keras keputusan Zul namun itu adalah kata hatinya, bibirnya memang berkata akan mendukung dan menerima apapun pilihan Zul tapi itu hanyalah gerakan bibirnya saja yang mengucap, mendukung dan menerima, sangat berbeda dengan sikap yang ia tunjukkan.


Memang terkesan egois dan memaksa, tetapi Kejora tidak pandai dalam berbohong apalagi tentang perasaaannya. Bahkan semenjak Zul kembali ke rumahnya Kejora tidak pernah berkunjung ke rumah Zul meski hanya sedetik, kakinya terasa berat untuk melangkah menemui Zul, lehernya kaku untuk bergerak menoleh kearah Zul.


Mereka tak lagi berjalan bersama ke sekolah, Zul pun tak pernah menghampiri Kejora ke kelasnya. Mungkin Kejora lelah karena terus-menerus belajar untuk ujian masuknya yang memang tidak mudah, dan memang Kejora harus totalitas dalam belajar memberikan seluruh waktunya yang tersisa untuk belajar.


Zul yang sudah berjanji untuk selalu mendukung Kejora untuk menggapai cita-cita Kejora. Tapi Zul ingin Kejora mempunyai waktu untuk menghabiskan harinya bersama Zul, di waktu yang semakin sempit ini. tapi Zul berbeda dengan Kejora yang berusaha untuk tidak egois dan mementingkan perasaannya saja, dia harus memberikan Kejora ruang untuk sendiri, memberikan tempat pada Kejora untuk berjalan sendiri tanpa didampingi olehnya.


Kejora sudah cukup tertekan dengan pilihan yang sudah Zul tentukan, belum lagi Kejora harus benar-benar mati-matian dalam belajar, Kejora pasti tersiksa juga, tidak hanya Zul yang merasa tersiksa dan tertekan seperti ini.


“Zul tumben kamu berangkat sama kita terus biasanya sama Kejora lengket kaya besi sama magnet, kalian lagi gak bagus apa hubungannya ?“ tanya Beny.


“Gak juga Cuma beri ruang aja buat Kejora fokus sama belajarnya.“ jawab Zul dingin


“Zul hati-hati kena tikung! ini waktu yang pas buat nikung.“ ucap Rahmad memperingatkan Zul.


“Waktu yang pas.“ tanya Zul bingung.


“Iya kalo kalian kelamaan renggang kayak gini, itu waktu yang pas buat para penikung masuk.“ jawab Rahmad.


Dan seketika Zul langsung menoleh kearah Beny dan menatapnya dengan tajam.


“Zul kenapa kamu langsung ngeliat aku kayak gitu?“ tanya Beny tersenyum kesal.


“Gak kenapa-kenapa cuma siaga 1 aja!“ jawab Zul tersenyum.


“Kamu masih curiga sama aku?“ tanya Beny.


“Bukan curiga, cuma jaga-jaga aja, siapa tau kamu kumat lagi.“ jawab Zul.


“Cih… ternyata kamu masih curiga.“ jawab Beny kesal.


“Zul lebih baik kamu waspada sama musuh yang tak terlihat, yang sama sekali belum kamu ketahui ketimbang dengan Beny, dia sama sekali bukan ancaman.“ Ucap Ferdy.


“Iya Zul Ferdy bener, Beny bukan lawan kamu buat saat ini.“ jawab Rahmad.


“Iya Zul aku setuju sama mereka, walaupun mereka sebenarnya lagi menghina aku.“ jawab Beny kesal


“Yang tak terlihat ya, mungkin nanti aku samperin Kejora ke kelasnya.“ jawab Zul.


“Kami ikut.“ jawab mereka bersamaan dengan tatapan penuh semangat.


“Ngapain, kok kalian kayaknya semangat?“ tanya Zul bingung.


“Gimana iya Zul? kamu kan tau kita single siapa tau di kelas Rara bisa menemukan tulang rusuk kami yang hilang.“ jawab Rahmad tersenym kaku.


“Hm… aku ngerti! jadi kalian sebenarnya ngehasut aku untuk memanfaatkan situasi antara aku sama Kejora.“ jawab Zul.


“Cih… ternyata dia jadi sedikit lebih pinter.“ jawab Beny kesal


“Yaudah deh, aku juga kan udah ngomong bantu kalian.“ jawab Zul dengan terpaksa.


“Nah gitu dong, itu baru temen.“ jawab Rahmad.


“Hm… giliran kayak gini aja, dipuji-puji terus.“ ucap Zul kesal.


Setelah itu mereka bertiga berjalan riang dan selalu tersenyum. Zul pun sedikit malu sebenarnya melihat temannya yang seperti itu, tapi Zul juga tidak kuasa untuk menghentikan keanehan mereka sekarang.


Saat jam pelajaran di mulai mereka masih memandangi Zul sambil senyum senyum. Membuat Zul risih dan tak nyaman dengan tingkah mereka, hingga jam istirahat tiba.


“Zul.“ panggil Beny tersenyum.


“ kenapa “ jawab Zul malas.


“Ayo ke kelas Rara! kamu udah janji lo.“ ajak Beny.


“Iya aku tau tapi ada satu syarat.“ jawab Zul.


“Apapun kami lakuin Zul, jadi apa syaratnya?“ tanya Beny.


“Berenti senyum-senyum kayak orang gila, aku malu tau gak jalan bareng kalian.” jawab Zul.


“Kenapa? ini untuk memikat hati wanita.“ bantah Beny.


“Mau ikut apa gak?“ tanya Zul dengan tatapan tajam.


“Yes sir, saya paham.“ jawab Beny.


“Ya, kasih tau yang lain, cepet! istirahat kita gak lama!“ perintah Zul.


“Mad, Fer, ayo berangkat.“ teriak Beny.


Dan setelah itu mereka pun pergi ke kelas Kejora. Mereka berjalan bersama-sama ketiga teman Zul merasa mereka seperti anggota boyband terkenal yang sedang berjalan dengan gagahnya. Tapi apa yang dilihat orang lain adalah mereka bertiga tak lebih dari majikan dan asisten atau hanya pesuruh untuk Zul.

__ADS_1


Dan saat di kelas Kejora…


“Zul.“ panggil Lena sambil menghampiri Zul.


“Kenapa? ada perlu apa?“ jawab Zul dingin.


“Makan bareng yuk! di kantin.“ ajak Lena berusaha meraih tangan Zul.


“Gak bisa, aku udah ada janji sama Rara.“ jawab Zul berusaha menjauh dari Lena.


“Lena, lebih baik kamu nyerah aja!“ perintah Beny.


“Heh… aku gak kayak kamu Ben, orang yang gampang nyerah, aku harus dapet apa yang aku mau itu prinsip Lena.“ jawab Lena dengan sinis menatap Beny


“Terserah kamu Len, tapi kamu gak ada kelebihan apapun dari Rara, aku cuma ngingetin kamu dan kasih kamu saran selebihnya, terserah kamu.“ ucap Beny sambil mengajak Zul pergi dari Lena.


“Hai… Rara“ Rahmad memanggil Kejora yang sedang mengobrol dengan temannya.


“Kalian ngapain kesini?“ tanya Kejora.


“Ya kita kan jarang ngumpul, jadi cuma pengen main aja.“ jawab Rahmad gugup.


“Hm… apa emang bener kayak gitu?“ tanya Kejora menyelidik.


“Ah… Rara kamu memang pinter, kamu inget kan kamu ngomong apa di rumahku.“ jawab Beny.


“Hm… iya aku paham, silahkan usaha sendiri ya!“ jawab Kejora.


“Aku pergi bentar ya.“ ucap Kejora pada temannya.


“Ra kamu mau kemana?” Tanya Zul.


“Toilet bentar.“ jawab Kejora sambil pergi tak memerdulikan Zul


“Tunggu Ra.“ panggil Zul.


“Aku kebelet.“ jawab Kejora pergi meninggalkan Zul.Dan Zul berusaha mengikuti Kejora.


“Mad. ini urusan mereka!“ ucap Ferdy menahan Rahmad.


“Oke Fer.“ jawab Rahmad berusaha tenang.


“Dicuekin Rara ya?“ ucap Lena sambil menghampiri Zul yang ditinggal oleh Kejora.


“Bukan urusanmu, kamu urus urusanmu sendiri.“ jawab Zul kesal.


“Aku gak mau! lebih baik kamu pergi sekarang Rara gak suka sama kamu!“ perintah Zul.


“Kenapa sih Zul kamu lebih milih Rara? aku bahkan bisa kasih semuanya ke kamu, semua yang kamu mau pasti aku turutin, tapi kenapa sedikitpun kamu gak liat aku?“ tanya Lena kesal.


“Kamu mau nurutin semua yang kumau kan?“ tanya Zul.


“Iya Zul, apapun itu.“ jawab Lena dengan penuh keyakinan.


“Pergi sekarang dan jangan deketin aku lagi!“ perintah Zul.


“Kalo itu gak bisa Zul, aku gak bisa jauh dari kamu, aku sayang dan cinta sama kamu, aku bakal kasih apa yang Kejora gak bisa kasih ke kamu.“ jawab Lena sambil mendekati Zul.


“Hm… apa itu?“ tanya Zul.


“Kepuasan birahi buat laki-laki.“ bisik Lena di telinga Zul.


“Pikirin baik-baik Len.“ jawab Zul kaget dan dengan suara pelan takut di dengar orang lain.


“Rara gak bisa kasih kan, aku bakal kasih itu Zul gimana?“ tanya Lena sambil mendekati Zul.


“Zul kamu memang sampah.“ ucap Kejora dengan mata berkaca-kaca.


“Ra maksud kamu gimana, aku gak ngapa-ngapain sama Lena?“ tanya Zul bingung.


“Gak usah pura-pura merasa gak bersalah, jelas-jelas kamu tadi dicium Lena, aku tau aku gak bisa kasih itu ke kamu Zul, tapi gak gini cara kamu.“ jawab Kejora pergi dengan berlinang air mata.


Beberapa menit sebelumnya…


“Maaf Zul, aku lagi gak bisa deket-deket kamu “ ucap Kejora dalam hati dan berbalik badan untuk mengintip Zul, namun Kejora melihat Lena sedang berbicara dengan Zul dari kejauhan.


“Zul kok kamu ngobrol sama dia sih, kan aku udah bilang aku gak suka sama Lena.“ umpat Kejora dalam hati.


Dan tidak lama kemudian Lena yang membisikkan sesuatu pada Zul yang terlihat oleh Kejora sedang mencium pipi Zul, membuat dia kaget dan emosinya langsung tak terkendali, matanya berkaca-kaca, amarahnya pecah langsung tak terbendung, di tambah lagi, tidak lama kemudian Zul seperti berbalik wajahnya menghadap ke Lena seakan-akan Zul membalas apa yang telah Lena lakukan pada Zul.


“Zul kamu memang sampah!“ ucap Kejora dengan penuh emosi dan amarah.


“Ra, maksud kamu gimana? aku gak ngapa ngapain sama Lena?“ tanya Zul bingung sekaligus kaget.


“Gak usah pura-pura merasa gak bersalah, jelas-jelas kamu tadi dicium Lena, aku tau aku gak bisa kasih itu ke kamu Zul, tapi gak gini cara kamu.“ jawab Kejora pergi dengan berlinang air mata.


“Ra tunggu dong, itu kamu salah liat.“ ucap Zul berusaha menyusul Kejora namun lengannya di tahan Lena.

__ADS_1


“Kamu apa-apaan sih len? Lepasin!“ perintah Zul


“Kenapa harus kulepasin? ini keuntungan buat aku.“ jawab Lena.


“Jadi kamu udah rencanain ini.“ tanya Zul.


“Gak, aku gak ada rencana apapun, cuma aku gak bisa sia-siain peluang yang udah tercipta.“ jawab Lena.


“Lepasin!“ jawab Zul dengan mengeluarkan seluruh tenaganya yang membuat Lena langsung kaget dan jatuh tanpa Zul pedulikan.


“Zul kenapa kamu kayak gini, aku kecewa sama kamu, aku nyesel udah percaya sama kamu Zul.“ ucap Kejora dalam hati.


Saat di kelas Beny, Rahmad, dan Ferdy kaget melihat Kejora berlinang air mata langsung duduk menunduk di mejanya begitu saja. Tak peduli dengan orang-orang yang memerhatikan Kejora yang sedang melihatnya heran.


“Ra kamu kenapa? kok nangis, kamu di apain sama Zul?“ tanya Beny.


“Bukan urusan kalian, aku mau sendiri sekarang, aku mohon kalian jangan ganggu aku!“ jawab Kejora masih menunduk dan meletakkan wajahnya di tangannya


“Ra kamu salah paham, kamu salah liat.“ ucap Zul yang datang tergopoh-gopoh mengejar Kejora.


“Semuanya jelas Zul, aku gak mau terima alasan lagi, aku salah udah kasih kepercayaan sama kamu, aku gak mau ketemu kamu lagi, pergi kamu sekarang!“ perintah Kejora.


“Ra kamu salah liat, dengerin aku dulu dong.“ pinta Zul.


“Pergi sekarang! mulai sekarang kita gak punya hubungan apapun!“ jawab Kejora menatap Zul dengan wajahnya yang sembab dan pipinya yang dipenuhi air mata.


“Ra kamu salah paham, dengerin aku dong Ra!“ pinta Zul.


“Zul aku mohon!“ jawab Kejora meminta.


“Zul ikut aku!“ perintah Beny menarik baju Zul.


“Ben, jangan ikut campur.“ ucap Zul berusaha melepaskan tarikan Beny.


“Ikut aku dulu!“ peintah Beny dengan tatapan tajam.


Zul pun menuruti Beny dengan di ikuti Ferdy dan Rahmad.


“Ceritain!“ perintah Beny


“Ini uma salah paham.“ jawab Zul.


“Gak mungkin dia sampe nangis gitu Zul kalo Cuma salah paham, kamu abis ngapain tadi?“ tanya Beny dengan emosi.


“Aku gak ngapa-ngapain Ben?“ jawab Zul.


“Ya terus kenapa Rara sampe nangis Zul, kamu ceritain dong, dia juga sahabat kami Zul!“ perintah Rahmad


“Tadi Lena ngerayu aku, dia bisikin aku, terus Rara salah liat dia nyangkanya aku dicium Lena.“ jawab Zul.


“Zul kamu kok bisa sih, udah tau Kejora gak suka Lena, kamu masih deket-deket dia.“ jawab Beny kesal.


“Aku berusaha ngomong baik-baik ben sama dia, tapi dia gak dengerin aku malah terus coba deketin aku.“ jawab Zul.


“Kami gak bisa bantu Zul, kami gak ada disitu buat jadi saksi, kami gak tau yang bener kamu atau Rara.“ ucap Ferdy.


“Kalian tau kan, aku cinta sama Rara, mana mungkin aku ngelakuin hal kayak gitu sama Lena.“ ucap Zul membela diri.


“Zul Rara juga udah lama diemin kamu, bisa aja kamu cari pelampiasan ke orang lain.“ jawab Ferdy.


“Kalian nuduh aku?“ tanya Zul yang mulai emosi.


“Gak aku bukan nuduh, aku cuma bicarain kemungkinan yang bisa aja terjadi.“ jawab Ferdy.


“Terserah kalian mau percaya atau gak yang penting aku udah jujur, aku gak bohong sedikitpun.“ jawab Zul.


“Kamu gak punya bukti Zul, gimana caranya kami sama Kejora bisa percaya?“ tanya Rahmad.


“Liat wajah aku, apa aku bohong? liat mata aku, apa aku lagi gak jujur? apa aku menyembunyikan sesuatu? liat Mad!“ teriak Zul.


“Tapi Rara gak bakal percaya gitu aja Zul dengan bukti yang kecil itu.“ jawab Rahmad.


“Hm… aku tau itu.“ jawab Zul.


“Terus kamu mau gimana?“ tanya Beny.


“Aku bawa Lena sebagai bukti.“ jawab Zul.


“Jangan Zul dia licik, aku tau dia karena aku pernah sekongkol sama dia, aku saranin jangan berurusan sama dia atau masalahnya bakal lebih kompleks, dan mulai dari sekarang jangan deket dia lebih dari jarak satu meter!“ perintah Beny memperingati Zul.


“Terus gimana? cuma dia satu-satunya yang bisa jadi saksi?“ tanya Zul.


“Cari cara lain Zul, aku tau kamu pasti bisa bikin Rara percaya, mungkin dia Cuma kaget aja tadi makanya gak bisa mikir jernih, aku melarang dengan keras kalo kamu mau bawa Lena.“ jawab Beny.


“Iya Ben, makasih udah kasih saran buat aku.“ jawab Zul.


Satu masalah belum selesai, justru datang masalah yang lebih besar dan lebih mengerikan lagi, bukan cuma membuat renggang hubungan Zul dan Kejora, namun hubungannya bisa saja benar-benar berakhir.

__ADS_1


__ADS_2